Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 22 Kecurigaan Shaka


__ADS_3

Shaka melihat Amira dan ibunya memasuki ruangan dokter Sarah, Shaka jadi curiga untuk apa dia ke dokter kandungan.


SISI LAIN RUANGAN DOKTER SARAH..


"Sejauh ini kandungan kamu masih sehat Amira, kamu harus menjaganya lebih ekstra lagi". Jelas dokter Sarah kepada Amira lalu mencatat hasil pemeriksaan pada buku laporan pasien.


"Benarkah dok? Apakah jenis kelaminnya sudah bisa di ketahui?" Tanya Amira dengan wajah berbinar.


"Iyaa, sejauh ini kandunganmu baik-baik saja perkembangan janinmu juga baik, detak jantungnya juga normal. Tapi jenis kelaminnya belum bisa diketahui karena usia kehamilan kamu baru 16 minggu". Ucap Dokter menjelaskan.


"Oh iyaa dok, aku juga tidak masalah laki-laki atau perempuan yang penting dia lahir sehat dan selamat". Ucap Amira sambil tersenyum.


"Iyaa.. Makanya kamu harus menjaganya dengan baik. Ini ada vitamin yang bisa membantu fungsi otak janin. Di minum 1x sehari ya". Ucap Dokter sembari memberikan vitamin itu pada Amira.


"Terimakasih yaa dok, kalau begitu kami permisi dulu". Ucap Riana pada dokter Sarah lalu bangkit dari duduknya dengan diikuti Amira yang sudah berpamitan kepada dokter lalu keluar meninggalkan ruangan itu.


Amira dan Riana pun keluar dari ruangan itu. Amira berencana untuk membawah ibunya ke restoran mewah untuk sekedar menikmati hidup. Amira baru saja mendapatkan uang dari Shaka sehingga tidak ada salahnya dia dia menggunakanya sedikit. Namun sebelum Amira pergi Amira terlebih dahulu membayar biaya administrasi, Amira pun berjalan menuju bagian administrasi.


"Permisi, saya akan membayar biaya administrasi hasil pemeriksaan kandungan saya". Ucap Amira saat berdiri di depan meja pembayaran.


"Baik nona silahkan menunggu sebentar". Jawab teller dengan ramah.


Setelah teller menjelaskan jumlah pembayarannya, Amira pun segera memberi kartu debit miliknya.


Amira pun menerima kwitansi pelunasan hasil pembayaran pemeriksaannya. Amira langsung melangkah dengan sibuk melipat kertas kwitansi dan memasukan kartu debit ke dalam tas sehingga tanpa sengaja Amira menabrak seorang pria.


"Maafkan saya tuan, saya sungguh tak sengaja". Ucap Amira sembari membungkukan badanya berulang kali.


"Kamu, kamu Amira kan?" Tanya seorang lelaki tampan tersebut.


Ya, lelaki tampan itu adalah Reza Adriansyah sahabat dekat Shaka dan kakaknya Salsa sahabat Amira. Reza juga seorang pengusaha muda yang sama kaya nya dengan Shaka. Ia juga pemilik restoran terkemuka di kota itu.


"Kak Reza?" Tanya Amira terperangah.


"Ternyata kau masih mengingatku". Jawab Reza ramah.


"Kau sedang apa di sini? Apa kau sedang sakit?" Tanya Reza menyelidik.


"Oh tidak kak saya ke sini datang menemani ibu saya". Ucap Amira beralasan.


"Kakak datang kapan? Sudah lama skali ya, ku ingat terakhir kakak keluarga negeri saat aku dan Salsa masih duduk di bangku SMP". Celetuk Amira mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Oh iyaa, saya baru saja datang kemarin". Jawab Reza tersenyum ramah.


"Oh ya kak Salsa di mana? Sudah lama juga saya tidak bertemu dengannya". Ucap Amira sambil tersenyum.


" Salsa sedang kuliah, apa kamu tidak kuliah?" Tanya Reza lagi.


Amira pun sejenak terdiam mengingat masa depannya, dia juga sangat ingin kuliah seperti Salsa namun semua tertundah karena kondisinya saat ini.


"Amira?"


"Eh maaf kak, saya permisi dulu yaa, ibu saya sudah menunggu". Ucap Amira mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Amira apakah sudah?" Tanya Riana yang menunggu di depan loby.


Sudah, ayo kita pergi ma, aku akan mengajak mama ke suatu tempat, dan yang pasti mama akan suka". Ajak Amira sambil menggandeng tangan mamanya berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.


Amira dan Riana pergi menggunakan taksi. Tak berapa lama Amira dan mamanya pun tiba, Amira membawah mamanya masuk dan duduk di meja biasa.


"Amira apa kamu yakin membawah mama ke sini? Ini restoran mewah". Tanya Riana sembari memandang kagum setiap sudut ruangan yang ada di restoran itu.


" Tidak apa-apa ma.. Kebetulan Shaka baru memberiku uang jadi aku ingin menggunakannya sedikit untuk menyenangkan mama". Ucap Amira sembari mengusap tangan mamanya.


Amira memesan beberapa menu yang menjadi best seller di tempat itu. Lalu Amira pun duduk berbincang ringan dengan mamanya.


Sementara Reza juga makan di restoran itu, ia langsung menuju ruang VIP yang telah di siapkan oleh pelayan. Reza datang ke restoran untuk mengadakan meeting, namun sebelum mengadakan meeting mereka makan siang terlebih dahulu.


Setelah Reza selesai menyelesaikan makan siangnya, Reza memberi tanda pada pelayan untuk membersihkan mejanya. Di meja VIP terdapat sekat kaca antara meja VIP dan meja biasa. Dari meja VIP bisa melihat ke meja biasa melalui sekat kaca itu.


Reza melihat ke beberapa sudut ruangan yang sudah berubah posisi saat dia datang kemarin dan tak sengaja matanya menangkap wajah cantik Amira yang duduk di meja biasa yang sedang berbincang dengan ibunya. Selesai meeting Reza berencana untuk menghampiri Amira lagi.


Makanan yang di pesan Amira sudah datang mereka menyantap makanan itu dengan lahapnya.

__ADS_1


"Makanan di sini semuanya sangat lezat, dari tampilannya saja ini terlihat mahal dan mewah". Ucap Riana di sela makannya.


"Mama benar, oleh karena itu Mama harus menikmati semua makanan di meja ini sampai habis". Ucap Amira tersenyum.


Sementara di meja VIP, Reza terus saja memperhatikan gerak gerik Amira hingga membuatnya kehilangan konsentrasi saat membahas tentang proyek barunya.


Reza pun mempercayakan jalannya meeting itu kepada asistennya sembari terus memandangi wajah Amira dari balik sekat kaca itu.


Amira tak sadar dengan keberadaan Reza.


"Baiklah tuan Reza, kami akan segera merevisi bagian yang kurang dan akan segera mengirimkannya melalui email". Ucap salah satu arsitek sembari bangkit dari duduknya.


Reza dan para arsitek pun saling berjabat tangan tanda telah usainya meeting pada hari ini. Reza pun langsung berjalan keluar dari bilik VIP dan mendekati meja biasa di mana Amira berada.


Sedangkan Amira sudah selesai makan dan berdiri di depan meja pembayaran dan membayarnya lalu kembali berjalan menuju meja di mana ibunya sedang menunggu sementara ia berjalan tiba-tiba langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya.


"Amira?" sapa Reza dengan wajah berbinar.


"Kak reza?" Jawab Amira kembali terperangah.


"Kau sedang makan di sini juga?" Tanya Reza pada Amira.


"Iyaa kak, aku ingin menyenangkan mama dengan membawah Mama makan di sini". Ucap Amira sembari tersenyum.


"Astagaa Amira kenapa kau tidak bilang padaku?" Tanya Reza memegang kedua pundak Amira.


"Memangnya kenapa kak? Apa hubungannya?" Tanya Amira bingung.


"Tentu ada hubungannya, karena aku adalah pemilik restoran ini". Ucap Reza sembari tersenyum.


Mendengar itu Amira kembali terperangah, ia membulatkan matanya dengan mulut yang mengaga begitu saja. Sementara Reza yang melihat ekspresi Amira sangat merasa lucu sekaligus gemas. Reza menatap kagum ke arah Amira ia terpesona dengan kepolosan Amira dan begitu cantik.


"Amira ekspresimu ini sangat lucu, dan membuatku gemas". Ucap Reza sembari tertawa kecil.


Amira pun tersadar dan segera menutup mulutnya yang mengaga. Amira mendadak jadi gugup Amira pun memilih undur diri lebih dulu karena ibunya sedang menunggu.


" Maaf kak, saya permisi dulu mama saya sudah menunggu". Ucap Amira membungkukan badannya.


"Baiklah". Ucap Reza tersenyum.


" Amira! Apakah itu tadi Reza? Kakaknya Salsa?". Tanya Riana menyelidik.


"Iyaa ma, dia baru pulang dari luar negeri". Jawab Amira bersemangat.


"Amira! Kamu harus jaga jarak dengan lelaki mana pun. Ingat kamu sudah menikah". Ucap Riana yang mengirah hubungan Amira dan Shaka baik-baik saja.


" Iyaa ma, Amira tau batasan kok mama tenang saja". Ucap Amira meyakinkan.


Beberapa saat kemudian Amira pun pamit pulang ke rumah Shaka.


Shaka kembali ke kantor utama, dari sepanjang jalan hingga masuk ke ruangannya pun Shaka hanya diam saja. Dia terus memikirkan Amira yang baru di lihatnya di rumah sakit tadi. Berbagai pertanyaan muncul di benaknya begitu saja.


Untuk apa dia ke dokter kandungan? kenapa dia pergi bersama mamanya? Apa yang harus di periksanya ke sana? Katanya dia hanya mau mengambil barang-barangnya di rumah tapi kenapa malah ke rumah sakit apa dia sedang membohongiku? Atau apakah dia sedang... Shaka pun menepis pikirannya itu. Pertanyaan itu terus bermunculan dalam benak Shaka. Shaka pun menyandarkan dirinya di sandaran kursi sembari memijit pelipisnya.


Tepat pukul 3 sore Amira sudah sampai di rumah, Amira pulang lalu di sambut oleh Dody sambil membungkukan badannya. Amira yang ramah ikut membungkukan badan dan membalas salam hormat Dody.


"Apa paman melihat nenek Emely?" Tanya Amira ramah pada Dody.


"Nyonya besar sedang tidur di kamarnya nona". Jawab Dody ramah.


" Baiklah" Jawab Amira tersenyum dan melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.


Sesampainya di kamar Amira membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Saat Amira hamil tubuhnya menjadi muda lelah, Amira memijit pelipisnya hingga ia tertidur lelap.


Sementara Shaka yang masih berada di kantornya beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya. Shaka yang merasa jenuh memilih pulang ke rumahnya. Dalam suasana hati yang buruk Shaka mengemudi mobil sportnya dengan kecepatan maksimal. Tak lama kemudian dia sampai di rumah. Shaka turun dari mobil yang di parkir tepat depan loby rumahnya dan meninggalkan mobilnya begitu saja.


"Parkirkan mobilku dan suru pak Ardi datang ke ruanganku. Sekarang!!" Perintah Shaka pada pak Dody sambil melemparkan kunci mobilnya ke arah Dody.


"Baik tuan muda. " Ucap Dody saat menangkap kunci mobil yang terlempar ke arahnya.


Shaka terus berjalan dengan wajah dingin memasuki rumahnya. Dia berjalan menaiki anak tangga dan menuju ruang kerjanya. Ketika sampai di pintu kamar Amira Shaka berhenti melihat ke arah pintu dengan tatapan kesalnya. Alih-alih membuka pintu Shaka lantas berjalan melewati kamar Amira begitu saja.


Saat sudah sampai di ruangannya, Shaka mendudukan dirinya di kursi kebesarannya di ruang kerja rumahnya. Tak lama kemudian suara ketukan pintu terdengar.

__ADS_1


"Masuk". Ucap Shaka datar.


"Tuan muda.. Apa tuan muda memanggil saya?" Tanya Ardi dengan wajah ketakutan.


"Coba jelaskan bagaimana bisa Amira bepergian tanpamu?" Shaka menatap tajam ke arah Pak Ardi.


"Maafkan saya tuan muda, saat saya mengantar nona muda ke rumahnya saya di suru pulang lebih dulu dan tidak menunggunya". Jelas pak Ardi gugup.


"Apa dia tidak memintamu mengantarnya ke rumah sakit?" Tanya Shaka masih dengan tatapan tajamnya.


"Tidak tuan, nona muda langsung menyuruh saya pulang setelah saya mengantarkannya ke rumah". Jawab pak Ardi menundukan kepalanya tak berani menatap wajah Shaka.


" Baiklah kali ini kau ku biarkan, tapi jangan sampai kau mengulangnya lagi, nanti apapun yang di perintahkannya padamu kau harus mengkonfirmasikan lebih dulu padaku. Ingat di sini aku bosnya". Shaka memberi peringatan dan mendadak membuat tubuh pak Ardi gemetaran.


"Baiklah tuan muda. Sekali lagi saya minta maaf". Ucap pak Ardi sembari membungkukan badannya.


Shaka tak menjawab permintaan maaf pak Ardi dia hanya diam sembari memberi kode dengan tangannya menyuruh pak Ardi keluar. Shaka semakin bingung dengan sikap Amira. Biasanya dia mau di antar pak Ardi kemanapun dia pergi, namun kini dia pergi hanya dengan mamanya. Apakah Amira sedang menyembunyikan sesuatu?


Shaka merasa penat dan memilih pergi ke ruang gym. Shaka biasanya selalu berolahraga di sore hari. Shaka membuka bajunya dan membiarkan roti sobek miliknya terpampang nyata. Ia berkutat dengan beberapa alat di ruangan itu dengan keringatnya yang sudah bercucuran.


Amira sudah terbangun dan menggeliat.


"Kenapa Aku muda sekali tertidur saat di sini? Mungkin karena kau yang sangat empuk ini". Celoteh Amira seorang diri pada ranjang empuknya itu.


Amira pun beranjak dari ranjang dan menuju balkon kamarnya. Langit sore itu benar-benar indah. Amira berdiri memegangi pembatas balkon itu sembari menikmati langit senja dan bias jingga yang begitu menawan. Matanya terus melihat ke berbagai arah hingga tak sengaja ia melihat ke arah bawah di sebelah kiri ruang gym berkaca transparan itu.


Amira bisa melihat Shaka dari balkon itu ia terperangah melihat Shaka yang sedang menaik turunkan barbel besar dengan kedua tangannya keringat bercucuran di tubuh Shaka yang tanpa baju membuat ketampanan dan kemacoannya kian meningkat.


Apakah itu suamiku? Dia sungguh sangat tampan saat seperti itu. Seharusnya aku bangga memiliki suami yang tampan dan kaya seperti dia. Tapi pernikahan ini hanya sandiwara walaupun pernikahan ini sah. Nasib baik sepertinya enggan menyapaku. Hubungan kami tidak seperti hubungan suami istri pada umumnya. Pernikahan ini membuatku selalu berbohong setiap harinya dan membuatku tertekan. Bahkan ketampanan dan kekayaannya tak bisa membuatku lebih baik skarang ini. Gerutu Amira dalam hati sembari menatap sendu ke arah Shaka.


Shaka sudah selesai berolahraga, ia lalu beranjak dari tempat gym itu dan berjalan keluar menuju rumahnya. Setelah menaiki anak tangga langkah Shaka terhenti ketika melihat Amira sedang berdiri di balkon kamarnya. Dia pun menghampiri Amira.


"Ekhem". Shaka berdehem.


Amira sontak terkejut melihat Shaka sudah ada di sampingnya.


"Tuan.. Ada apa tuan ke sini?" Tanya Amira.


"Kenapa kau bertanya? Apa aku tidak boleh ke balkon rumah ku sendiri?" Bentak Shaka sedikit meninggikan suaranya.


"Tidak usa teriak segala". Ketus Amira yang tadinya menatap Shaka dengan tatapan kagum kini berubah jadi kesal.


"Untuk apa tadi kamu ke rumah sakit green light? Dan duduk mengantri di ruang pemeriksaan kehamilan?" Tanya Shaka dengan tatapan tajamnya.


Degg..


Jantung Amira berdegup kencang..


Dari mana dia tau? Batin Amira.


"Kenapa diam? Apa kau sedang mengabaikanku?" Bentak Shaka yang masih menatap tajam ke arah Amira.


"Ah itu.. Aku... Aku.. Aku sedang pergi ke dokter kandungan akhir-akhir ini datang bulanku tidak lancar dan aku sedang mengalami masalah datang bulan makanya aku ke dokter kandungan untuk memeriksakan keadaanku". Jawab Amira sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Apa kau sedang tidak berbohong padaku?" Tanya Shaka menyelidik.


Degg..


Jantung Amira kembali berdegup, dia menelan salivanya karena saking gugupnya.


Kenapa dia masih curiga? Padahal kan aku sudah mencari alasan yang paling masuk akal. Apa jangan-jangan dia bisa membaca pikiran orang. Gerutu Amira dalam hati.


"Tidak tuan muda, saya tidak sedang berbohong, saya benar-benar hanya pergi memeriksakan datang bulanku". Celetuk Amira berbohong.


" Lalu kenapa kamu tidak membiarkan pak Ardi mengantarmu? Kenapa kau menyuruhnya pulang lebih dulu?" Tanya Shaka lagi masih menyelidik.


"Saya hanya nggak nyaman kalau kemana-mana harus di antar saya hanya ingin pergi berdua saja dengan Mama saya". Ucap Amira berusaha meyakinkan Shaka.


"Emmm... kalau saya boleh tau, tuan sedang apa di rumah sakit Green Light?" Tanya Amira penasaran.


"Itu bukan urusan kamu, lagi pula apa salahnya saya pergi ke rumah sakitku sendiri". ketus Shaka dengan tatapan dingin.


Amira terperangah suaminya ini benar-benar kaya raya tapi Amira kembali menutup mulutnya dan kembali kesal dengan sikap Shaka yang sangat kasar padanya.

__ADS_1


"Baiklah, kali ini alasanmu saya trima. Awas saja kalau sampai kau berbohong, saya akan kembali memberikanmu pelajaran". Ucap Shaka dengan senyum menyeringai.


Mendengar itu Amira seketika bergidik ngerih. Ia kembali mengingat saat Shaka melecehkannya tempo hari, dia mengalihkan pandangannya dari wajah Shaka. Sedangkan Shaka hanya tersenyum puas melihat Amira mulai takut dengan ancamannya itu.


__ADS_2