
Sepanjang jalan Amira terus saja bersandar manja di pundak Shaka, tak lupa sebuah senyuman selalu ia tampilkan sebagai tanda jika ia tengah merasa senang.
“Terima kasih suamiku, kau sanggup menahan emosi mu saat berhadapan dengan Marsel, bahkan kamu rela mengurangi masa tahanannya, sekali lagi terima kasih,” ucap Amira dengan lembut sembari mencium pipi Shaka.
“Apa aku hanya mendapatkan ciuman di pipi sebagai ucapan terima kasih?” Kali ini Shaka menatap Amira dengan tatapan yang berbeda.
“Lalu apa lagi? Apa kau ingin meminta hadiah?” Tanya Amira yang mulai mengerinyitkan dahi.
“Aku ingin lebih,” bisik Shaka sembari memasang wajah genit pada Amira.
“Astaga, kita sedang di tengah jalan, menyetirlah dengan baik,” ucap Amira dan kemudian kembali duduk dengan tegak.
“Berarti kalau sedang tidak berada di tengah jalan kamu mau memberiku lebih?”
“Perjalanan menuju rumah masih cukup jauh,” jawab Amira tanpa melirik ke arah Shaka sembari menahan senyumnya.
“Kita tidak perlu menunggu sampai di rumah untuk bisa melakukannya sayang,” ucap Shaka kembali tersenyum.
“Ma, maksudmu?” Tanya Amira mendadak jadi gugup.
Shaka pun hanya diam dan terus tersenyum, tak lama tiba lah mereka di sebuah jalanan yang cukup sepi, di sisi jalan sebelah kiri hanya di penuhi oleh kebun karet, sementara di sisi jalan sebelah kanan ada sungai yang begitu lebar dan panjang.
“Ini kita dimana? Sepertinya tadi tidak lewat sini,” Amira nampaknya mulai kebingungan.
Akhirnya Shaka pun menghentikan mobilnya saat mobilnya sedikit ia masukkan ke dalam hutan karet itu, lalu ia semakin tersenyum dan mulai mendekati Amira.
“Ka, kamu mau apa?” Amira pun di buat semakin gugup dan salah tingkah.
“Kita bisa melakukannya disini sayang,” bisik Shaka lagi.
“Apa kamu sudah gila melakukannya disini,”
Namun Shaka sama sekali tidak menggubris, ia langsung saja mencium Amira, Shaka dengan sebelah tangannya mulai memencet tombol yang ada di sisi kiri kursi mobil Amira, dengan perlahan sandaran kursi Amira pun mulai turun hingga membuat Amira terbaring, kebetulan kaca mobil Shaka telah di lapisi sebuah kaca film yang sangat tebal hingga takkan terlihat dari luar, hal itu membuat Shaka semakin leluasa menerkam istrinya, membuat Amira tak mampu lagi menolak.
Beberapa saat saling memangsa, kini tanpa mereka sadari mobil yang mereka tumpangi itu pun mulai bergoyang-goyang sesuai hentakan yang di berikan Shaka pada Amira, hingga membuat Amira terus menggeliat.
******* Amira semakin tak terbendung saat Shaka semakin mengencangkan hentakannya, hingga akhirnya mereka pun sampai pada puncak permainan mereka.
“Huh huh huh,” deru nafas Shaka yang terengah-engah begitu terdengar di telinga Amira.
__ADS_1
“Maafkan aku sayang, aku tidak bisa menahannya sampai kita tiba di rumah,”
“Dasar mesum,” ketus Amira sembari memperbaiki kancing bajunya.
Shaka pun hanya tersenyum geli sembari kembali memakai bajunya.
“Kamu juga menikmatinya kan?” Tanya Shaka lembut sembari membantu memasangkan sabuk pengaman untuk Amira karena tadi sabuk pengaman itu ia lepas agar lebih leluasa.
“Kamu nampaknya sudah menjadi semakin liar sayang,” bisik Shaka sembari mengedipkan sebelah matanya.
“Tidak, aku tidak seperti itu,” Amira mencoba mengelak.
“Tidak? Lalu bagaimana dengan ini?” Ucap Shaka sembari menunjukkan bercak-bercak merah yang ada di leher dan dadanya.
“Lihatlah semua tanda merah ini sayang, kamu bahkan sudah semakin buas melebihi aku,” Shaka terus menggoda Amira hingga membuat pipi Amira jadi memerah karena malu.
Saking malu nya dan tidak bisa berkata apapun, Amira mengalihkan pandangannya menghadap ke arah luar jendela mobil.
“Sudah, aku tidak mau dengar lagi dan aku tidak mau lihat, ayo kita pulang saja,” ucap Amira mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
“Baiklah ratu ku,” Shaka pun kembali tersenyum dan kembali menjalankan mobilnya.
“Tapi terus saja seperti itu sayang, aku sangat menyukainya jika kamu liar seperti itu,” ucap Shaka lagi yang kembali menggodanya.
“Iya, iya, nanti kita lanjutkan di rumah lagi ya,”
“Lanjut katamu?” Amira seketika langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Shaka.
“Memangnya kenapa? Kamu tidak mau? Kamu harus tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan tadi terhadap tubuh ku, apa kamu tidak ingin bertanggung jawab dan membuangku begitu saja sayang?” Shaka terus saja menggoda Amira hingga membuat Amira kesal.
“Tidak mau aku capek,” sergah Amira sembari menutup telinganya sambil menahan senyumnya.
Sisi Lain Kediaman Rumah Reza…
Di sebuah kamar, terdengar suara tangisan Queen yang begitu menggema memenuhi ruang kamar itu, Siti salah satu baby sitter yang bertugas menjaga Queen di rumah Reza sedang kewalahan berusaha untuk menenangkan bayi itu, namun sudah sejam lebih baby sitter paruh baya itu menenangkan Queen namun Queen tak kunjung diam, entah kenapa bayi itu menangis seharian, padahal dia tidak sedang sakit.
Siti terus berusaha menenangkan Queen dengan berbagai cara, namun bayi itu tetap saja meraung-raung di dalam pelukan Siti.
Sementara Amira yang sedang berada di rumahnya tiba-tiba saja teringat dengan Queen, saat itu Amira baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk Marsel, ia sudah selesai membersihkan diri, namun pada saat ia sedang berdiri melamun di balkon kamarnya menikmati pemandangan sore hari, tiba-tiba saja hati nya bergetar, bayangan wajah bayi itu kini menghiasi benaknya.
__ADS_1
Shaka yang baru saja keluar dari walk in closet melihat Amira yang tengah berdiri mematung di balkon kamar mereka, ia pun berjalan menghampiri Amira.
“Sayang,” panggil Shaka sembari mengusap-usap lembut kedua lengan Amira dari belakang, membuyarkan lamunan Amira.
“Emmm,” jawab Amira dan beralih melirik Shaka, kini mereka sudah berdiri berhadap-hadapan.
“Ada apa?” Tanya Shaka sembari mengusap pelan pipi Amira.
“Shaka, boleh kah aku mengantar ku ke tempat Salsa? Aku ingin sekali bertemu dengan Queen, entah kenapa hatiku mendadak tidak tenang saat mengingat anak itu,” pintah Amira pada suaminya.
“Apa kamu tidak lelah? Kita baru saja menempuh perjalanan yang cukup jauh,”
“Tidak, lagi pula rumah Salsa kan lumayan dekat, aku ingin sekali bertemu Queen, aku tidak akan tenang sebelum aku bisa melihatnya,” imbuh Amira menatap sendu.
“Baiklah, ayo kita ke rumah Reza sekarang,” ucap Shaka kemudian.
Dengan wajah sumringah, Amira pun segera mengajak Shaka untuk pergi menemui Queen.
Amira turun dari mobil begitu sampai di rumah Reza, dengan semangat ia melangkah menuju pintu rumah Reza dan mengetuknya dengan segera.
Tak lama pintu rumah Reza di buka oleh salah satu pelayan di rumah mereka.
“Selamat sore nona Amira,” sapa sang pelayan.
“Sore, apa boleh saya masuk?” Tanya Shaka dengan ramah.
“Silahkan nona Amira, tuan Shaka,” jawab Pelayan itu sembari membungkukan badannya memberi hormat.
“Terima kasih, oh ya bi’ apa Queen ada di kamarnya? Saya mau bertemu Queen,”
“Ada nona, tapi dari tadi saya mendengar non Queen sedang menangis, baby sitter juga sudah berusaha menenangkannya tapi dia tidak bisa diam, kami tidak tau lagi harus bagaimana nona,” jelas pelayan itu.
Mendengar itu Amira pun bergegas naik ke lantai atas menuju kamar Queen, begitu sampai, Amira mendapati Yura yang baru saja pulang dari butik nya tengah kewalahan menenangkan Queen, namun bayi itu juga tetap menangis.
“Ra, boleh saya mencoba menenangkannya?” Tanya Amira meminta izin Yura, sembari mengulurkan tangannya.
Tanpa basa basi, Yura pun langsung menyerahkan Queen pada Amira, dan benar saja, tangisan Queen langsung terhenti saat berada dalam dekapan Amira.
Shaka yang melihat itu semakin heran, ada ikatan batin apa antara Amira dan Queen, bukan hanya Shaka saja, bahkan baby sitter dan Yura pun ikut tercengang menyaksikan Queen yang seakan begitu tenang dalam dekapan Amira, bahkan dia yang sudah sangat dekat dengan Queen pun tidak bisa menenangkan Queen segampang itu, namun Amira yang tidak tinggal tiap hari dengan bayi itu langsung bisa membuatnya tenang seketika.
__ADS_1
Sejenak ada rasa sakit menyeruak ke dalam hati Yura melihat kedekatan Amira dan Queen, bagaimana tidak, kini Yura sudah sangat menyayangi anak itu, namun dia tidak bisa membuat Queen nyaman dan tenang seperti halnya ia berada dekat Amira.
“Dia terus saja menangis saat aku mendekapnya, bahkan aku tidak bisa menenangkannya setelah sudah mencoba berbagai cara, namun Amira, baru saja datang dan hanya memeluknya begitu saja sudah bisa membuat dia tenang,” gumam Yura dalam hati.