Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 20 Permintaan Nenek yang Tidak Bisa di Bantah


__ADS_3

Amira pun bangkit dan membenarkan pakaiannya, dengan membawah tangisnya Amira pun beranjak pergi melewati Shaka begitu saja dan berjalan menuju pintu memutar kunci lalu membukanya, Amira kembali terhenti dan memandang ke arah Shaka sejenak.


"Kalau aku tau akan seperti ini, aku tidak akan menandatangani perjanjian bodoh itu". Ucap Amira yang kemudian langsung pergi dari hadapan Shaka.


Sesampainya di kamar, Amira langsung masuk menuju kamar mandi. Amira membuka baju nya yang sudah robek dan membuangnya ke tempat sampah. Amira pun terduduk di bawah guyuran air dari shower, Amira mengingat kembali kejadian tadi dan mengingat kejadian dulu yang pernah dia lakukan bersama genta. Amira merasa diri nya sangat kotor karena tubuhnya sudah pernah di sentuh oleh dua orang pria di waktu yang berbedah. Amira menangis sejadi-jadinya.


"Aku akan berpisah denganya, namun aku juga sudah di sentuh olehnya. Apa nasibku akan terus seperti ini? Di permainkan lalu di tinggalkan begitu saja". Ucap Amira sesenggukan pada dirinya sendiri.


Setelah selesai menumpahkan segala kekesalannya, Amira pun beranjak dari duduknya dia kemudian membilas tubuhnya, mengambil handuk dan melilitkanya ke tubuhnya. Amira menatap nanar ke arah cermin melihat tanda merah di leher dan dadanya bekas perbuatan Shaka tadi. Amira membuka lemari dan memilih pakaian yang bisa menutupi lehernya. Setelah selesai mengganti bajunya Amira pun membaringkan tubuhnya ke ranjang dengan pikiran yang berkecamuk.


Sementara Shaka turun dari tangga menuju ruang makan di mana neneknya sedang menunggu. Melihat Shaka datang sendirian Emely pun bertanya.


"Shaka.. Kenapa hanya turun sendiri? Di mana Amira?" Tanya Emely keheranan.


"Emm.. Itu... Dia.. Oh dia sedang tidur nek". Jawab Shaka asal.


Shaka memikirkan kejadian tadi, dan mulai merasa bersalah namun Shaka sangat gengsian sehingga dia juga tidak berinisiatif untuk meminta maaf pada Amira.


Perasaan Emely mulai tidak enak, Emely lalu menyuruh pelayan untuk mengecek keadaan Amira.


Tok.. Tok.. Tok


Amira tersentak ketika mendengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Amira lalu beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju pintu dan membuka pintunya.

__ADS_1


"Maaf nona muda.. Nyonya besar sedang menunggu anda di ruang makan". Ucap pelayan itu sembari membungkukan badannya.


"Santi, katakan pada nenek kalau aku sedang tidak enak badan jadi aku belum bisa turun ke bawah untuk makan bersama, sampaikan juga permintaan maafku yaa san". Ucap Amira lesuh.


" Baik nona, nanti akan saya sampaikan kepada nyonya besar, saya permisi dulu nona". Ucap Santi berpamitan dan kembali membungkukan badannya.


Santi pun turun ke bawah menuju ruang makan dan menyampaikan apa yang di katakan Amira tadi kepada Emely.


"Apa? jadi dia sakit? Shaka, bahkan istrimu sakit saja kamu tidak tau, ke mana saja kamu semalam?" Tanya Emely sedikit kesal.


"Maaf nek, aku pikir dia tidak sakit karena dia hanya tidur saja". Ucap Shaka sedikit merasa bersalah.


"Yah sudah. Kalau begitu selesai sarapan kamu antarkan makanan ini ke kamar, dia harus makan karena dia sedang sakit". Perintah Emely.


"Tapi nek, aku kan mau ke kantor, lagi pula disini ada pelayan biarkan pelayan saja yang mengantarkannya". Ucap Shaka dengan memelas.


Shaka pun mengangguk terpaksa. Namun di sela-sela makan Shaka merasa ada yang berbeda denga rasanya, rasanya menjadi lebih lezat dari biasanya. Tidak hanya Shaka Emely pun merasakannya, dia lalu bertanya.


"Santi, siapa yang memasak makanan ini?". Tanya Emely penasaran.


"Emm... Anu nyonya.. Maaf sebelumnya nyonya saya sudah melarangnya tapi nona muda tetap memaksa untuk memasaka di dapur katanya dia ingin menghidangkan sarapan pagi untuk nyonya dan tuan muda". Ucap Santi gelagapan sembari menundukan pandangannya.


Emely dan Shaka pun saling berpandangan. Emely menatap Shaka dengan wajah berbinar.

__ADS_1


" Istrimu itu memang benar-benar serba bisa, dia tidak hanya baik dan cantik tapi dia juga pintar masak". Puji Emely pada Amira lalu tersenyum senang.


Baik dari mana? Nenek hanya tidak tau saja kepolosannya itu selalu membuatku sial, dia juga pembangkang aku begitu muak dengan semua tingkahnya. Batin Shaka mengingat kecerobohan Amira tadi yang sembarangan masuk ke dalam kamarnya di saat dia sedang ganti baju, sehingga membuatnya sangat malu sekaligus emosi karena Amira pasti sudah melihat seluruh tubuhnya. Itulah sebabnya dia melakukan hal yang sangat keterlaluan tadi kepada Amira. Ibarat kata terlanjur basah ya sudah mandi sekali. :D


Shaka tidak bisa membantah ucapan Emely, sehabis makan dia segera ke kamar Amira dengan membawah nampan berisi sarapan untuk Amira.


Shaka berjalan menuju kamar Amira, dengan perlahan dia membuka gagang pintu kamar Amira.


Cklek..


Shaka masuk ke dalam kamar Amira dan mendapati Amira sedang duduk bersandar di dekat jendela kamarnya dengan melipat kedua lututnya dan menatap ke arah jendela.


"Ekheemm.. " Shaka berdehem.


Amira pun tersentak dari lamunannya dan menghadap ke arah sumber suara, ketika melihat ada Shaka di hadapannya, Amira menurunkan kakinya perlahan dan berdiri sedikit menghindari Shaka. Amira pun tampak bingung melihat Shaka dengan membawah nampan berisi makanan di tangannya. Shaka lalu meletakkan nampan itu di atas nakas.


"Kenapa kamu menghindar seperti itu? Tenang saja aku tidak akan melakukan apapun lagi kepadamu, lagi pula aku sama skali tidak tertarik dengan tubuhmu yang jelek itu". Ketus Shaka sembari menatap Amira dari atas sampai bawah. Walau sebenarnya tubuh Amira sangatlah indah namun Shaka tidak mau mengakui itu karena saking gengsinya.


Kalau tubuhku jelek kenapa dia mau menyentuhnya tadi, dan bahkan hampir saja melahapnya seperti singa kelaparan. Ucap Amira dalam hati karena sangat kesal dengan sikap Shaka yang seenaknya menghina tubuhnya.


"Makanlah itu aku akan ke kantor, aku tidak mau berdebat panjang denganmu, membuang-buang waktu ku saja". Ketus Shaka kemudian berlalu meninggalkan kamar Amira.


"Aneh dia yang mengajak berdebat duluan, tapi dia juga yang merasa membuang-buang waktu". Ucap Amira tak kalah kesal.

__ADS_1


Amira memakan habis sarapannya karena memang Amira juga sangat lapar, namun dia tidak turun makan karena masih terbayang-bayang kejadian tadi pagi. Amira pun memutuskan dalam seharian ini dia akan berdiam diri di kamar dulu karena masih syok dengan apa yang baru saja dia alami.


Selesai makan Amira membaringkan tubuhnya di ranjang, Amira tiba-tiba teringat dengan orang tuanya, Amira berencana besok Amira akan ke rumah orang tuanya, dan meminta Mama Riana menemaninya ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Karena setelah kejadian tadi Amira khawatir dengan kandungannya dan ingin memeriksakan keadaan janin di dalam kandungannya.


__ADS_2