Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 54 Kemunculan Genta


__ADS_3

Salsa tampak terkejut melihat keberadaan Genta di depannya.


"Kamu sudah pulang?" Tanya Salsa dengan membulatkan matanya.


"Aku hanya dua minggu di sini, emm.. Itu tadi Amira ke sini ya?" Tanya Genta tampak ragu.


Tiba-tiba ekspresi Salsa yang tadinya terperangah berubah menjadi datar dan dingin.


"Iya, kamu ngawasin dia?" Ketus Salsa tampak benci dengan mantan pacar sahabatnya itu.


"Aku cuma lihat dia dari jauh, aku nggak berani samperin dia."


"Iya karena kamu merasa bersalah makanya kamu nggak punya keberanian buat nyamperin dia. Lagian kamu ngapain sih masih ngawasin dia?" Tanya Salsa tampak ketus.


"Aku cuma kangen sama dia Sa, kamu bisa bantu aku nggak?" Tanya Genta ragu-ragu.


"Bantu apa?"


"Kamu pertemukan aku sama dia ya. Bisa nggak?"


"Nggak bisa!!" Ketus Salsa tampak kesal.


"Kenapa?"


"Karena dia udah nikah!!" Jawab Salsa lalu hendak melangkah pergi meninggalkan Genta namun Genta mencegahnya.


"Salsa tunggu, dia nikah sama siapa?" Tanya Genta dengan mata berkaca-kaca.


"Yang pasti sama laki-laki yang bertanggung jawab dan mau nerima dia apa adanya." Ketus Salsa sedikit menyindir Genta.


Genta bagaikan di sambar petir disiang bolong. Perasaannya hancur mendengar pernyataan Salsa tentang Amira, Genta berfikir bahwa Amira akan menunggunya tapi ternyata dia salah Amira malah menikah dengan orang lain. Air mata Genta seketika menetes. Sakit hati, kecewa, menyesal semua bertumpuk jadi satu dalam hatinya. Hatinya bagai di iris sembilu perih sekali.


"Lalu bagaimana dengan anak kami?" Tanya Genta dengan nafas mulai terengah-engah.


"Kamu masih nganggap anak itu?" Tanya Salsa dengan tersenyum sinis.


"Salsa kamu jangan bicara seperti itu. Bagaimana pun itu anak aku juga."


"Kamu benar-benar mau tau keadaan anak kamu sekarang?"


"Iya Sa." Jawab Genta begitu antusias.


"Anak kamu udah nggak ada, dia udah meninggal saat baru 1 jam di lahirkan." Jelas Salsa menatap ke depan.


"Apa?" Genta tampak terkejut, kepergiannya ke London membuatnya tidak mengetahui banyak hal, dia begitu terkejut mendengar dua kenyataan pahit sekaligus.

__ADS_1


Padahal dia kembali untuk melihat keadaan Amira dan anaknya, dia ingin memeluk mereka berdua karena saking rindunya. Dia sangat menyesal, kesalahannya membuat dia mengutuk dirinya, dulu dia begitu labil sehingga tidak tau apa itu tanggung jawab dia malah mementingkan egonya dengan meninggalkan pujaan hatinya menghadapi kesulitan sendirian sampai akhirnya pujaan hatinya itu kini jatuh di tangan pemujanya yang lain. Dia lupa dengan kecantikan Amira yang apa bila dia lepaskan dengan mudah akan banyak yang mengantri untuk mendekapnya. Dia begitu hancur saat ini, namun apa yang dia rasakan saat ini tidak sebanding dengan apa yang di rasakan Amira dulu.


Kediaman Keluarga Buwana..


Shaka tengah mencari tau lelaki yang sudah menggoda Amira malam itu, dia ingin memberi pelajaran pada laki-laki itu, namun ternyata saat melihat nama ayah dari laki-laki itu, senyum Shaka seketika tersungging.


Sepertinya aku tau apa yang harus aku lakukan pada laki-laki itu. Batin Shaka sembari tersenyum sinis.


Shaka pun mengambil ponsel di saku celananya dan menelepon Kevin untuk membatalkan perjanjian kerja sama dengan ayah lelaki itu. Agar ayah lelaki itu menanyakan perihal kenapa Shaka memutuskan kontrak kerja sama dan Shaka akan mengatakan kebejatan anaknya itu.


Tak lama Amira sudah sampai di rumah, dia masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya. Namun suara Shaka menghentikan langkahnya.


"Ekhem". Shaka berdehem.


Amira terkejut dan langsung menoleh.


"Shaka!! Bikin kaget saja." Ketus Amira dengan kesal.


"Dari mana saja kamu? Kenapa baru sampai?" Tanya Shaka menyelidik.


Mendengar pertanyaan Shaka membuat Amira gelagapan, ia takut jujur yang sebenarnya tapi dia juga tidak bisa berbohong.


"Emm.. Itu.. Itu.."


"Aku, dari rumah Salsa." Jujur Amira sembari menundukkan kepalanya tidak berani menatap Shaka.


Mendengar itu Shaka mendengus kesal karena tak menyangka ternyata Amira masih saja pergi ke rumah Reza tanpa sepengetahuannya.


"Ternyata kau pergi ke rumah sih bodoh itu?" Tanya Shaka mulai kesal.


Amira hanya menunduk takut akan dimarahi Shaka dan bertindak kasar lagi seperti dulu serta menyerangnya dengan kata-kata pedas lagi. Namun, tak di sangka Shaka tidak menyerangnya, ia malah pergi meninggalkan Amira yang sedang berdiri menunduk di hadapannya. Shaka berjalan dengan keadaan wajah yang nampak jadi begitu kaku dan dingin. Ia hanya diam karena tak mampu berbuat kasar seperti dulu lagi walau dalam keadaan marah mode on, di karenakan saat ini dia sungguh sudah mencintai Amira seutuhnya.


"Shaka!!" Panggil Amira sembari mengikuti langkah Shaka.


Namun Shaka tetap diam dan terus berjalan menuju kamarnya , ia pun menutup keras pintu kamarnya hingga membuat Amira kembali terkejut dan refleks menutup matanya saat mendengar suara keras dari pintu itu.


"Kenapa dia jadi begitu marah?" Tanya Amira yang masih tercengang di depan pintu kamar.


Amira dengan penuh tanda tanya pun akhirnya turun ke lantai bawa menyiapkan makan siang untuk menyenangkan Shaka dan sebagai tanda permintaan maafnya.


Shaka lagi-lagi menutup kasar pintu kamar mandinya, dan langsung berdiri di bawa guyuran air shower.


Keterlaluan, ternyata dia masih mengunjungi Reza. Ketus Shaka dalam hati.


Selesai mandi Shaka mengganti pakaian dan hendak keluar untuk menenangkan pikiran dia ingin ke apartemen Kevin. Sementara Amira tengah sibuk mempersiapkan makan siang. Tak lama Shaka terlihat menuruni anak tangga. Amira yang saat itu tengah sibuk menghidangkan makan siang, langsung tersenyum melihat Shaka. Amira masih berusaha bersikap tenang dan tidak ingin bertengkar lagi dengan Shaka.

__ADS_1


"Shaka Buwana, lihatlah apa yang aku masak siang ini." Ucap Amira begitu sumringah dan ingin menghampiri Shaka.


Namun Shaka dengan wajah kakunya masih tak menggubris sama sekali ucapan Amira, dia bahkan tidak melirik sedikitpun ke arah Amira atau pun ke arah meja makan. Ia terus saja berjalan menuju loby nya dan langsung melajukan mobilnya begitu saja.


"Dia.. Dia sungguh mengabaikan diriku?" Tanya Amira yang masih tercengang sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Mau ke mana dia siang ini? Tanya Amira lagi dalam hati.


Amira dengan lesu kembali ke meja makan, ia duduk bertopang dagu memandangi makanan yang baru di tata rapi olehnya di atas meja.


"Amira, apa Shaka buru-buru hingga tidak makan siang dulu? Kalian baik-baik saja kan?" Tanya Emely yang juga melihat tingkah Shaka tadi.


"Entahlah nek, dia bahkan tidak bicara apa pun. Dia marah karena aku tadi ke rumah Salsa tanpa memberitahunya, padahal aku ke sana karena rindu dengan Salsa dan lagi pula di sana tidak ada Reza, karena aku tau Reza ada di rumah sakit menjaga Yura, makanya aku berani ke sana karena tidak ada Reza." Jelas Amira pada Emely.


"Astaga anak itu, rupanya dia sedang cemburu." Ucap Emely sembari tersenyum.


"Cemburu?" Tanya Amira tak menyangka seorang Shaka yang begitu arogan dingin dan kaku bisa cemburu juga. Dia pun sedikit tersenyum membayangkan wajah Shaka yang sedang cemburu.


"Iya, dia sangat mencintai kamu jadi dia cemburu." Jawab Emely dengan tersenyum.


"Amira, mulai sekarang kalau mau ke mana-mana izin dulu sama suami kamu ya." Ucap Emely dengan lembut sembari mengusap rambut Amira.


"Iya nek, maafkan aku ya." Amira menoleh ke arah Emely dan menatap nya dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa, ayo kita makan dulu."


Akhirnya Amira makan dengan tenang bersama Emely namun dia teringat untuk membagikan makanan yang begitu banyak ini pada pelayan.


"Nek boleh kah aku membagi makanan ini pada semua pelayan di sini? Dan mengajak mereka makan bersama di sini." Tanya Amira


"Tentu saja boleh, yah sudah panggil mereka." Jawab Emely tersenyum bangga melihat kemurahan hati cucu menantunya itu.


"Hei kalian semua, ayo kita makan siang bersama." Ucap Amira tersenyum.


"Ah tidak nona, kami tidak berani duduk di sini."


"Ayo tidak apa-apa temani aku dan nenek makan." Ucap Amira.


"Ayo panggil yang lain, lihat lah makanan ini terlalu banyak, akan mubazir jika tidak di makan habis." Ucap Amira lagi.


"Tapi nona.." Ucap salah satu pelayan.


"Tidak apa-apa turuti saja permintaan cucu menantuku." Kali ini Emely yang mengajak.


Akhirnya mereka setuju, mereka begitu senang mendapat perlakuan baik dari Amira dan Emely hari ini, hanya karena makan bersama di meja makan, para pelayan menganggap itu seperti pesta singkat yang membuat mereka semua senang. Sedangkan Emely tersenyum bangga melihat kebaikan cucu menantunya itu. Artinya dia tidak salah pilih pasangan untuk Shaka sehingga dia berharap pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan dan di anugerahi anak-anak yang lucu dan manis.

__ADS_1


__ADS_2