Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 93 Bertemu Amira


__ADS_3

Kini Genta dan teman-temannya sedang asik mengobrol, namun setelah lumayan lama mengobrol, Genta pun terus teringat Amira dan pamit sebentar ke toilet.


“Eh aku ke toilet dulu sebentar ya,” ucap Genta pada teman-temannya.


“Ya sudah, tapi jangan lama-lama,”


“Iya,” jawab Genta.


Dan setelah itu, dengan cepat Genta pun terus melangkah menuju lift untuk ke lantai 1, Genta melewati kerumunan orang-orang yang memadati tempat itu, akhirnya Genta berhasil sampai ke tempat di mana Amira tengah terduduk bersama para tamu judi yang ada.


Dengan cepat Genta menarik tangan Amira, membuat Amira sontak terperanjat melihat tangannya di tarik seseorang, sama halnya dengan Genta, mata Amira ikut membulat sempurna saat menyadari orang yang menarik tangannya adalah Genta.


“Genta,” ucap Amira yang terlihat begitu terperangah.


“Amira, kenapa kau ada di sini? Ayo ikut aku, aku perlu bicara denganmu,” bisik Genta.


“Ada apa?” Tanya tamu Amira kemudian.


“Maaf tuan, saya anak dari Dewa Atmadja, kebetulan Amira ini adalah sepupu saya, saya mau meminjam dia sebentar ada hal yang sangat penting yang mau saya sampaikan,” jawab Genta pada tamu Amira.


“Oh jadi kau putra Dewa Atmadja? Baiklah tapi setelah itu bawa dia kembali ke sini, pekerjaannya belum selesai, ok?”


“Baik, tenang saja tuan,” jawab Genta dengan ramah kemudian langsung menarik tangan Amira untuk membawanya ke belakang.


“Amira, apa yang terjadi? Shaka mengumumkan ke seluruh pegawai Green Light dan seluruh kota ini jika kau menghilang, kenapa kau justru berada di tempat ayahku dan malah bekerja di sini?” Tanya Genta yang nampak begitu kebingungan.


Amira dengan tatapan sendu, perlahan mulai duduk di bangku dekat kolam renang yang sudah di sediakan khusus di taman belakang Cassino itu, karena dia tidak boleh terlalu lama berdiri, Amira pun mulai menceritakan semuanya pada Genta, kecuali masalah rumah tangganya, hal itu tidak ia ceritakan pada Genta karena bagaimana pun Shaka masih suaminya, ia tidak ingin menyebarkan masalah buruk yang menimpah pernikahannya kepada siapa pun, apa lagi kepada mantan kekasihnya.


“Astaga Amira, pekerjaan ini tidak pantas untukmu, aku tidak rela jika kau bekerja di sini, kenapa kau menyerahkan diri begitu saja kepada ayahku? Ayahku sekarang sudah berubah menjadi orang yang kejam dan semakin tempramen, aku akan berbicara dengan ayahku,” ujar Genta nampak begitu geram.


“Percuma, semua sudah terlanjur Genta, aku tidak bisa pergi ke mana-mana lagi, ayahmu mengancam ku, aku tidak mau kehilangan anggota keluarga ku, biarlah mungkin ini sudah jadi jalan hidupku, mungkin aku sudah di takdirkan untuk bekerja menjadi wanita malam, dan lagi pula kau tidak akan mampu melawan kuasa ayahmu, bukankah dulu kau pergi meninggalkan aku karena kau berada di bawah kendali ayahmu?” Ucap Amira sedikit memberi sindiran.


Mendengar itu Genta terdiam sejenak, dia jadi teringat kesalahan besarnya pada Amira dulu yang tega meninggalkan Amira dan anaknya demi menuruti ego ayahnya.

__ADS_1


“Pulang lah Amira, setidaknya kau jangan ada di sini, ini tempat berbahaya untukmu dan calon anakmu,” ujar Genta kemudian.


“Suamimu begitu khawatir denganmu, dia bahkan rela memberi imbalan yang fantastis bagi siapa saja yang berhasil menemukanmu, Amira aku tau kalau aku dulu banyak melakukan kesalahan padamu, akulah penyebab awal mula kekejaman ayahku padamu saat ini, oleh karena itu aku mau menebus kesalahanku dengan membawamu keluar dari sini, untuk bahagia bersama Shaka,” ucap Genta dengan hati yang sakit, bagaimana tidak, mau tidak mau dia harus merelakan Amira bahagia bersama Shaka, karena ia sadar, kebahagiaan Amira sekarang adalah Shaka, bukan dia.


Mendengar itu Amira jadi terkejut memandang Genta, perlahan ia kembali berdiri dan melangkah mendekati Genta.


“Shaka masih mencariku? Apa dia masih menganggapku sebagai istrinya? Tidak tidak, percuma saja, sekalipun Shaka masih mencintaiku, aku tetap tidak bisa meninggalkan tempat ini karena aku tidak mau Dewa Atmadja mengusik ketenangan keluarga ku,” batin Amira dengan wajah sendu.


“Benarkah kau mau menebus kesalahanmu?”


“Tentu Amira,”


“Kalau begitu, tebuslah dengan berjanji satu hal padaku,”


“Berjanji apa?” Tanya Genta mengerutkan dahinya.


“Genta, berjanjilah kepadaku, berjanjilah kau akan menyembunyikan ini semua, berjanjilah kalau kau tidak akan memberitahu kepada siapapun jika kau bertemu denganku di sini, aku mohon berjanjilah Genta, ayahmu tidak main-main dengan ucapannya, dia akan meneror keluargaku jika ada yang menyelamatkan aku,” Amira meraih kedua tangan Genta sembari menangis.


Genta jadi tak tega melihat Amira menangis seperti itu, sejenak Genta pun terdiam dan memandang lirih wajah Amira.


Namun dengan cepat Genta menahan kedua lengan Amira, agar ia kembali berdiri tegak.


“Baiklah aku berjanji aku akan merahasiakan ini semua, aku takkan bilang ke siapapun kalau aku bertemu kamu di sini, berhentilah menangis, kasihan calon bayimu,” jawab Genta yang jadi nampak lesu.


“Terima kasih banyak Genta, kau sudah mau menuruti keinginanku,”


“Jika mengikuti keinginan hatiku, aku ingin sekali menjerit meminta pertolonganmu agar kau menyelamatkan aku dari tempat terkutuk ini, tapi ini sudah bukan tentang keinginan hati lagi, tapi tentang keselamatan orang-orang yang ku sayangi,” gumam Amira dalam hati.


Setelah merasa cukup lega, Amira pun pamit untuk kembali menemani tamu nya.


“Amira, harusnya dengan adanya aku di sini, kau bisa memanfaatkan aku untuk mengajak mu pergi dari sini secara diam-diam,” ujar Genta.


“Ya, aku tau tapi seperti yang aku katakan padamu, aku pergi karena ancaman ayahmu yang tak main-main, di waktu yang tak terduga, aku di tabrak hingga hampir saja meninggal Genta, apa kuasa Shaka saat itu bisa menghentikan saat orang suruhan ayahmu menabrakku? Tidak! Itulah yang aku takutkan ke depannya jika aku kabur dari sini, aku tidak mau melihat ayahmu murka lagi dan menghabisi satu persatu orang-orang yang ku sayang, biarlah aku di sini,” jelas Amira dengan begitu lirih.

__ADS_1


Genta pun akhirnya hanya mampu mengangguk lesu, merasa sudah cukup lama meninggalkan tamunya, akhirnya Amira pun mengajak Genta ke depan.


“Amira tunggu!” Ucap Genta menahan tangan Amira saat Amira kembali melangkah ke arah tamunya.


Langkah Amira terhenti dan beralih menatap Genta kemudian perlahan melepaskan genggaman tangan Genta.


“Maaf,” ujar Genta setelah sadar akan sikap Amira yang tidak ingin ia sentuh.


“Berhati-hatilah, jaga dirimu maupun calon bayimu,” ucap Genta lembut.


“Aku akan sering-sering ke sini untuk menengokmu,” tambah Genta lagi.


“Tidak usah, aku takut ayahmu tau dan berpikiran yang tidak-tidak tentang kita dan dia semakin murka,” jawab Amira kemudian.


“Tidak apa-apa jika kau ingin kembali berteman dengan Genta, selagi kalian tidak lagi memiliki hubungan apa-apa, saya tidak akan melarang, lagi pula saya tau betul Amira, kau wanita yang setia dengan suamimu, tidak mungkin kau akan mengkhianatinya kan?” Ujar seseorang yang tiba-tiba saja muncul di belakang mereka.


Amira dan Genta pun sama-sama terkejut ketika mereka memandang ke arah sang pemilik suara, pemilik suara itu tak lain adalah Dewa Atmadja.


Melihat keberadaan Dewa, Genta pun berjalan melangkah mendekati Dewa Atmadja.


“Pa, kenapa papa harus berbuat seperti ini? Kenapa papa menyandera Amira di sini dan mengancam dia untuk mencelakakan keluarganya jika dia berusaha kabur dari sini, kenapa papa begitu kejam? Genta tidak menyangka papa jadi orang sekejam ini,” tegas Genta kepada Dewa Atmadja.


“Ini bukanlah urusanmu Genta, kau jangan ikut campur, ingat kalau sampai kau ikut campur aku jamin aku tidak segan-segan akan mencelakakan Amira dan calon anaknya, kau tidak akan bisa mengentikanku karena yang selalu berada dengan Amira tiap saat adalah aku,” ancam Dewa pada anaknya.


“Pa tolong jangan lakukan itu pa, aku mohon jangan celakai Amira dan calon anaknya,” Genta memohon pada Dewa Atmadja.


“Dia akan baik-baik saja selama kau tidak ikut campur,”


“Genta, sudahlah kau jangan membantah ayahmu, biarkan aku di sini, aku akan baik-baik saja,” ucap Amira mencoba menengahi.


“Ayolah nak, kita ke depan, tamu mu sudah lama menunggu,” ajak Dewa sembari menatap sinis ke arah Genta yang saat itu sedang menatap tajam kepadanya.


Amira pun akhirnya tersenyum tipis sembari mengangguk, lalu kemudian mereka pun kembali melangkah dan Amira kembali duduk di samping tamu mereka masing-masing.

__ADS_1


Tak terasa malam semakin larut dan pekat, jarum jam sudah menunjuk ke arah angka 03.00 dini hari, para tamu satu persatu sudah pergi meninggalkan gedung Cassino, tamu yang sejak tadi di temani oleh Amira akhirnya juga pergi, dan kini hanya menyisakan beberapa meja judi saja yang terisi.


Amira lalu berjalan menuju toilet, melihat hal itu pun Marsel berjalan menyusul Amira ke toilet, beberapa saat menunggu di depan toilet akhirnya Amira pun keluar dan langsung di buat terkejut dengan keberadaan Marsel yang sudah berdiri tegak di hadapannya, dengan tersenyum menyeringai.


__ADS_2