
Waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi, seperti biasa, setelah kepergian Shaka ke kantor, Amira selalu menemani anak-anaknya bermain di taman samping rumah, Queen dan Samudra bermain lempar bola, Samudra melempar bolanya terlalu jauh.
“Ade’ kenapa bolanya terlalu jauh, kakak kan susah ngambilnya,” gerutu Queen pada adiknya.
Samudra hanya tertawa sembari menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Maaf ya kak, ade’ aja yang ambil ya?” Tawar Samudra mengalah pada kakak perempuannya.
“Nggak usah deh, kakak aja yang ambil,”
Queen pun berlari mengambil bolanya yang terpental cukup jauh, bahkan sampai ke luar gerbang.
Namun pada saat ia sudah mengambil bolanya dan hendak kembali, tiba-tiba langkahnya terhenti.
“Queen,”
Mendengar namanya di panggil, Queen pun menoleh ke arah sumber suara, ia menatap heran sosok yang sedang berdiri di belakangnya itu, dengan dahi mengkerut, Queen melangkah perlahan mendekati pria itu.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Genta, ia mensejajarkan dirinya dengan bocah 5 tahun itu, Genta memegang kedua pundak anaknya dan menatap Queen dengan seksama, setelah besar, wajah Queen sudah semakin jelas sangat mirip Genta, dia seperti melihat dirinya dalam versi perempuan.
Genta begitu terharu, matanya pun berkaca-kaca, inikah anak yang sudah dia telantarkan semenjak dari dalam kandungan? Begitulah isi hati Genta saat ini.
Genta pun sontak memeluk Queen dengan erat, ini pertemuan pertamanya dengan Queen, dan ini kali pertama ia memeluk hangat anaknya.
“Om siapa?” Tanya Queen tiba-tiba, membuat Genta sontak melonggarkan pelukannya, Genta menatap tak percaya pada putrinya itu.
“Kenapa dia tidak mengenalku? Apa Amira tidak mengatakan siapa sebenarnya ayah kandunganya?” Gumam Genta dalam hati.
“Om adalah papa kandung mu,” jawab Genta mencoba membuka kebenaran di depan Queen.
__ADS_1
Anak itu sontak menjauhkan dirinya dari Genta, ia mundur selangkah sembari menggelengkan kepalanya.
“Tidak, papa Queen cuma satu, yaitu papa Shaka bukan om,” ucap Queen membuat Genta bak di sambar petir, anak kandungnya tidak mengakuinya, hati Genta bagai diiris sembilu.
“Tidak nak, kamu anak papa,” ucap Genta mulai berdiri dan melangkah mendekati Queen, namun anak itu malah jadi ketakutan.
“Tidaaakkk!” Pekik Queen histeris.
“Jangan membuat dia takut,” ucap pemilik suara berat dari belakang mereka.
“Papaaa,” Queen berlari memeluk Shaka dan bersembunyi di belakang Shaka, ia mengira Genta adalah orang asing yang mengaku-ngaku sebagai papanya.
“Tidak apa-apa, ada papa di sini,” ucap Shaka menunduk memandang Queen sembari mengusap kepalanya.
“Ada apa ini?” Tanya Amira kemudian, dia baru datang mengecek Queen karena dia merasa Queen sudah lumayan lama di luar mengambil bolanya, dia khawatir jadi dia datang menyusul.
“Sayang, kamu ke mama sekarang ya,” ucap Shaka yang langsung di angguki oleh Queen.
“Jangan datang tiba-tiba seperti ini dan mengaku sebagai ayah Queen, tindakan mu itu sudah membuat dia kaget dan takut,” ucap Shaka dengan tenang, sembari melangkahkan kakinya dengan santai mendekati Genta.
“Tapi dia anakku,” ungkap Genta dengan mata berkaca-kaca.
Shaka memberi kode pada Amira agar membawap Queen masuk, Amira pun menganggukinya dan membawa masuk putrinya.
“Kenapa dia begitu ketakutan dan memandang aku sebagai orang asing? Kenapa kalian tidak mengatakan yang sebenarnya? Aku ayah biologisnya Shaka!” Bentak Genta lalu menarik kerah kemeja Shaka.
“Lepaskan tanganmu itu!” Pekik Genta tak kalah tegas, ia melepas cengkraman tangan Genta dari kerah kemejanya, dan mendorong Genta menjauh darinya.
“Jangan berani-berani berbuat kasar padaku, karena aku akan membalasnya lebih sakit lagi,” tegas Shaka mencengkram kerah kemeja Genta sembari menunjuk wajah Genta dengan tatapan membunuh.
__ADS_1
“Lagi pula selama ini Queen hanya menganggap aku lah ayah kandungnya, dan itu wajar karena semenjak dia dalam kandungan sampai detik ini, aku yang bertanggung jawab padanya dan memberi kasih sayang yang tidak pernah kau berikan padanya,” ucap Shaka tenang, sembari merapikan kemejanya.
“Asal kau tau, semua ini salahmu, kau sudah meninggalkan Amira dan anaknya, di saat Amira terlunta-lunta mengharap kasih sayang dan perhatian seorang suami, saat dia sedang mengandung dan melahirkan, yang mendampingi Amira siapa? Aku yang mendampingi dia, bahkan di saat Queen butuh makan dan minum, aku yang menafkahinya, memberikan semua yang ia butuhkan, aku sudah mencurahkan seluruh kasih sayangku padanya, jadi jangan menyesal kalau saat dia besar nanti, dia hanya akan menyayangiku sebagai ayahnya, bukan kamu!” Tegas Shaka dengan suara pelan namun penuh penekanan, lalu setelah itu ia berlalu meninggalkan Genta.
Genta terdiam seribu bahasa, ia pun duduk bersimpuh dengan tatapan kosong, cairan bening membasahi netranya, bagaimana tidak, semua yang di katakan Shaka ada benarnya.
Kamar Queen…
Ceklek..
Shaka membuka pintu kamar kedua anaknya, begitu masuk, Shaka mendapati 3 malaikat yang begitu berharga dalam hidupnya, Samudra sedang tidur, mata Shaka tertuju pada Queen yang sedang duduk sembari menyandarkan kepalanya di bahu Amira dengan raut wajah sedih.
“Kayaknya lagi ada yang sedih,”
Shaka duduk di samping Queen, bocah itu mendongakkan kepalanya menatap Shaka, yang sudah mengulurkan tangannya ke arah Queen.
Queen pun memeluk Shaka, Shaka mengusap air mata putrinya yang sudah membanjiri pipi imutnya.
“Kenapa menangis?”
“Sebenarnya papa Queen itu siapa? Kenapa banyak yang mengaku papanya Queen, dulu papa Reza, lalu kemudian papa Shaka dan sekarang om tadi,”
“Sayang, dengar mama ya,” ucap Amira meraih dagu putrinya itu menghadap padanya.
“Papa Queen saat ini adalah papa Shaka, nanti kalau Queen sudah mengerti, mama akan menceritakan semuanya secara detail pada Queen, untuk saat ini, mama belum menceritakannya karena Queen masih terlalu kecil untuk memahami semua ini,” jelas Amira dengan lembut pada putrinya itu, lalu beralih menatap Shaka yang sedang tersenyum padanya.
Amira berkata seperti itu karena ia tidak ingin anaknya bingung, jadi ia merahasiakan hal besar itu pada Queen, sampai dia dewasa nanti.
“Ma… Queen tidak mau kalau harus berpisah dengan papa dan mama lagi, dulu Queen sudah terpisah dari mama Yura dan Papa Reza, sekarang Queen tidak mau lagi terpisah dari mama Amira dan papa Shaka, Queen sayang kalian,” ucap Queen menatap papa dan mamanya secara bergantian.
__ADS_1
“Queen, dengar papa, ini rumah terakhir yang akan Queen tinggali, Queen adalah anak papa dan mama, jadi Queen tidak akan pergi ke mana-mana, papa dan mama juga tidak ingin kehilangan Queen, kasih sayang papa dan mama sama Queen tidak akan pernah berkurang sampai kapan pun itu,” jelas Shaka sembari merengkuh tubuh mungil anaknya.