Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 29 Terungkapnya Rahasia


__ADS_3

1 bulan kemudian...


Kini perut Amira sudah semakin besar karena usia kehamilannya sudah menginjak 6 bulan, Amira selalu memakai baju over size nya untuk menutupi kehamilannya. Amira baru selesai memeriksakan diri ke dokter dengan membawah foto hasil USG janinnya. Amira memegang foto USG itu dan mengamatinya dengan tatapan sendu, tak lama cairan bening di sudut matanya mulai jatuh membasahi pipinya. Amira begitu sedih mengingat Genta yang sudah tega meninggalkannya dan menghadapi semuanya sendiri. Sementara Shaka tiba-tiba berhenti saat melihat Amira sedang berdiri di kamarnya memandangi sebuah foto dan menangis.


Saat Amira tengah memandangi foto USG itu tiba-tiba kepala Amira terasa pusing tubuhnya lemas tak bernergi. Amira kemudian jatuh pingsan untung saja Shaka dengan sigap langsung menangkapnya sehingga Amira tidak jatuh tersungkur di lantai. Shaka kemudian menggendong Amira dan membaringkan tubuh Amira ke ranjang. Shaka tampak panik, saat Shaka hendak ke kamar untuk mengambil ponselnya untik menghubungi dokter Haeis, tiba-tiba langkah Shaka terhenti saat kakinya menginjak sesuatu. Pandangan Shaka beralih pada kakinya, Shaka lantas memindahkan kakinya dan melihat ada sebuah foto yang terbalik ada di balik kakinya, Shaka teringat Amira menangis memandangi foto itu, dengan perlahan Shaka bejongkok dan meraih foto itu lalu membalikkannya. Setelah di lihat Shaka sontak terkejut ternyata itu adalah foto USG, Shaka lalu membaca nama yang tertera di foto USG itu, "Amira Zavia Wijaya". Shaka terperanga dia begitu kaget dengan apa yang di lihatnya saat ini, Shaka lalu berbalik menatap Amira yang sedang terbaring di ranjang. Shaka mendekati ranjang itu dan meletakkan tangannya di perut Amira untuk memastikan dan ternyata memang benar Shaka merasakan perut Amira yang sudah mulai membesar Shaka semakin terkejut dia tidak tau lagi harus berkata apa. Ternyata selama ini dia menikahi wanita hamil kini tatapan Shaka berubah menjadi dingin kini amarah mulai menguasai dirinya karena Amira sudah berani membohonginya.


Shaka duduk di sofa kamar Amira untuk menungguinya, sudah setengah jam Shaka menunggu akhirnya Amira mulai membuka matanya dan mulai sadar. Amira memegangi kepalanya karena masih terasa sedikit pusing dengan susah payah Amira mencoba bangun nama dengan sigap Shaka menahan tubuhnya dan membantu Amira untuk duduk. Amira yang melihat keberadaan Shaka sontak kaget.


" Sejak kapan kau di sini?" Tanya Amira tampak bingung.


"Aku di sini sejak tadi dan aku yang mengangkatmu ke ranjang karena kamu pingsan". Jawab Shaka datar.


Tiba-tiba Amira mulai panik dia teringat dengan foto USG di tangannya yang sudah tidak ada. Amira mulai mencari foto USG itu matanya berkeliling mencari-cari.


"Apa kau mencari ini". Shaka yang sedang berdiri melempar foto USG itu ke bawah tepat di paha Amira.


Amira sontak begitu terkejut jantungnya kini berdegup kencang kemudian ia bertanya.


"Dari mana kau menemukan ini?" Tanya Amira tampak gugup.


"Tidak penting aku menemukan ini dari mana. Yang paling penting skarang kau harus menjawab pertanyaanku. Apa benar kau hamil?" Tanya Shaka dengan tatapan mengintimidasi.


Amira menatap Shaka dengan tatapan takut.


"A... Aku.. "


"Jawab!!" Teriak Shaka yang membuat Amira sontak begitu kaget.

__ADS_1


"Iyaa aku hamil". Jawab Amira yang mulai menyerah dan akan jujur dengan semuanya.


"Kenapa kau membohongiku?" Tanya Shaka lagi sembari mencengkram kuat pipi Amira.


"Maafkan aku Shaka.. Aku tidak bermaksud.."


"Apa? Kau mau mencoba membela diri? Beraninya kau menipuku". Ucap Shaka dengan nada pelan namun penuh penekanan.


" Siapa laki-laki itu?" Tanya Shaka lagi sembari menatap tajam ke arah Amira.


"Dia pacar SMA ku". Jawab Amira kemudian mulai meneteskan air matanya.


"Pacar? Ciihhh dasar kau perempuan munafik, kau bahkan menamparku saat aku meminta hak ku sebagai suamimu tapi ternyata kau sudah pernah melakukannya dengan laki-laki lain". Bentak Shaka dengan tatapan sinis.


"Maa.. Maafkan aku Shaka tolong lepaskan aku". Ucap Amira lirih.


" Kau benar-benar telah menipuku Amira". Ucap Shaka yang mulai di kuasai amarah.


"Berhenti menjelaskan apapun padaku Amira siapa nama laki-laki itu?" Tanya Shaka memicingkan matanya.


"Dia adalah Genta Atmadja, tapi dia tidak..."


"Sudah cukup kamu tidak perlu menjelaskan apapun lagi". Ucap Shaka melepas cengkraman tangannya dari pipi Amira.


"Shaka tolong dengarkan dulu penjelasanku". Amira kemudian ikut berdiri dan meraih kedua tangan Shaka.


Namun dengan cepat Shaka menepis tangan Amira hingga membuat air matanya spontan menetes.

__ADS_1


"Sudah cukup Amira!!" Bentak Shaka dengan jari telunjuknya yang dia tegakkan di hadapan Amira sebagai pertanda menyuruh Amira untuk diam.


"Aku sungguh kecewa padamu berani-beraninya kau membohongiku kau benar-benar perempuan murahan dengan memiliki anak yang tidak jelas". Ucap Shaka pelan namun berhasil menusuk hati Amira.


"Kau menuduhku perempuan murahan Shaka? Kau menghina anakku juga?" Tanya Amira dengan nada pelan namun seakan tak percaya.


"Kau sungguh menilaiku seperti itu? Tapi tidak apa-apa Shaka, tidak apa-apa kalau kau menghinaku 1000x pun tapi jangan anak ini, dia tidak tau apa-apa, cukup ayahnya yang tidak mau mengakuinya tapi jangan menambah menghinanya". Ucap Amira sembari menangis dan menatap lekat ke arah Shaka.


"Kau bahkan tidak mau mendengar penjelasanku, kau hanya terus memojokkanku dengan menuduhku seperti ini bahkan kau juga menghina anak yang ada di rahimku. Mungkin bagimu dia bukan segalanya tapi bagiku dia berharga lebih dari apapun, kau benar-benar kelewatan. Aku tidak akan memaafkanmu". Ketus Amira kemudian langsung pergi dari kamar itu.


Tangan Shaka mulai mengepal memandangi kepergian Amira, jantungnya kembali berpacu dengan cepat hingga membuat nafasnya tak terkendali. Shaka semakin di buat tak menentu hingga ia menghancurkan semua barang di dalam kamar itu.


"Arrgghh" Teriak Shaka sembari menendang kursi dan guci besar di pojok kamar itu.


Amira yang mendengar itu sama skali tak menghiraukannya, Amira terus menangis dan berjalan cepat keluar dari rumah itu.


"Nona muda.. Nona mau ke mana?" Tanya pak Dody melihat Amira melewatinya begitu saja sembari berjalan cepat menuju gerbang rumah Buwana.


Namun Amira tak bergeming dia terus berjalan sembari mengusap air matanya yang berjatuhan.


Sementara Shaka yang berdiri tegak di balkon itu hanya terdiam memandangi kepergian Amira dari atas. Saat itu pikiran Shaka sungguh kalut hingga ia pun sama skali tak berusaha mencegah kepergian Amira.


Amira melangkahkan kaki menuju halte hari sudah mulai gelap saat itu halte begitu sepi. Amira duduk termenung seorang diri menunggu taksi yang ia tak tau kapan akan datang.


"Maafkan mama sayang.. Dari awal kehadiranmu di rahim mama, mama sudah membawa mu menghadapi banyak masalah dan kesedihan yang mama yakin sangat berpengaruh bagimu. Namun mama yakin kamu kuat nak, kamu harus kuat agar kita bisa sama-sama saling menguatkan". Ucap Amira lirih sembari mengusap perut buncitnya.


Amira kembali menangis sembari menundukkan kepalanya, ucapan Shaka kembali terngiang-ngiang di telinganya hingga membuat jantungnya seolah-olah seperti di tusuk-tusuk.

__ADS_1


"Tidak demi anakku aku harus kuat, selama ini semua masalah bisa aku lewati dan aku yakin masalah ini pun akan berlalu. Aku harus pergi jauh dari Shaka agar bayang-bayangnya tak lagi mengikutiku". Ucap Amira pelan sembari mengusap air matanya.


Beberapa menit kemudian taksipun datang. Amira langsung menaiki taksi itu dan menuju rumahnya.


__ADS_2