
Taksi sudah sampai di pekarangan rumah Amira. Setelah membayar Amira turun dari taksi dan membawa serta barang-barangnya. Dengan langkah gontai Amira berjalan menuju pintu rumahnya.
Tok.. Tok.. Tok..
Amira mengetuk pintu rumahnya, tak lama kemudian Riana membuka pintu dan terkejut melihat Amira datang dengan membawa barang-barang miliknya dengan mata yang sembab. Melihat Riana Amira spontan memeluk erat tubuh Riana dan menangis sejadi-jadinya.
"Amira!! Kamu kenapa nak?" Tanya Riana tampak cemas
"Sha.. Shaka Ma". Jawab Amira terbata-bata
"Yah sudah kamu masuk dulu nanti kamu cerita di dalam". Pintah Riana sembari membimbing Amira masuk ke dalam rumah dan mendudukkan Amira di sofa. Riana lalu bergegas menuju dapur untuk mengambil segelas air dan melewati suaminya yang tengah duduk di ruang keluarga sembari meminum teh. Tak lama Riana pun kembali melewati suaminya dengan membawa segelas air, langkah Riana terhenti ketika Adi memanggilnya.
"Ma..."
Riana menoleh lalu membalikkan badannya.
"Ada apa pa?" Tanya Riana dengan tatapan sendu.
"Untuk siapa air itu?" Tanya Adi mengerutkan dahinya.
"Untuk Amira pa.. Amira ada di ruang tamu". Jawab Riana lirih.
"Amira? Apa yang terjadi dengannya?" Tanya Adi mulai cemas.
"Ayoo pa, ikut mama". Pintah Riana kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
Riana pun berjalan menuju ruang tamu dengan di ikuti Adi.
"Ini nak minum dulu". Ucap Riana sembari memberikan segelas air untuk Amira.
Amira meraih gelas itu dan meminumnya. Setelah sudah sedikit tenang Adi mulai bertanya.
"Coba ceritakan pada kami, apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Adi dengan cemas.
Amira pun menceritakan dengan detail apa yang terjadi di antara dia dan Shaka, sembari menundukkan kepalanya dengan deraian air mata.
__ADS_1
"Sudah ku duga, ini pasti akan terjadi". Cetus Adi memandang ke sembarang arah.
"Shaka pasti sangat marah karena berpikir kita telah menipunya, Shaka sedang emosi biarkan dia tenang dulu". Ucap Adi sembari mengusap rambut putrinya.
"Nak.. Kamu tenang dulu yaa lebih baik kamu istirahat nanti kita pikirkan lagi apa yang akan kita lakukan selanjutnya. Jangan terlalu di pikirkan kalau kamu sedih nanti anakmu juga sedih". Bujuk Riana sembari mengusap lembut pundak Amira.
"Iyaa lebih baik kamu istirahat dulu, jangan terlalu di pikirkan". Sambung Adi.
Mata Amira kembali berkaca-kaca, bagaimana tidak, walau bagaimana pun Amira sudah mulai nyaman dengan kehadiran Shaka, semenjak Amira bertemu Shaka Amira sudah mulai melupakan Genta. Shaka kembali membuka luka hati Amira yang sudah mulai kering dan kembali menghadirkan trauma di hati Amira.
"Nak.. Ayo kita ke kamar". Suara Riana membuyarkan lamunan Amira.
Amira lalu mengangguk patuh. Amira beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya dengan di temani Riana. Sesampainya di kamar air mata Amira kembali menetes Amira menatap nanar isi kamar itu, Amira teringat bagaimana dulu dia menghabiskan waktu di kamar itu dengan menangisi Genta kini dia kembali di kamar itu dalam keadaan yang sama.
Riana membimbing Amira menuju ranjang, dan membaringkan Amira di atas ranjang.
"Kamu tenang ya sayang.. Kamu harus istirahat, kita pikirkan sama-sama solusinya". Bujuk Riana sembari menyelimuti Amira lalu mengusap ujung kepala Amira.
Sementara Amira hanya diam membisu menatap Riana yang sudah berlalu pergi dari kamarnya. Selang beberapa saat setelah lelah menangis akhirnya Amira terlelap.
Riana berjalan menuju ruang tamu di mana Adi berada. Riana mengusulkan Adi untuk menelpon Emely dan memberitahu Emely tentang apa yang tengah terjadi antara Amira dan Shaka. Adi kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan menelpon Emely.
"Hallo ada apa Adi?" Tanya Emely dari seberang telpon.
"Bagaimana kabar mama?" Tanya Adi basa basi.
"Kabarku baik, bagaimana dengan kalian?" Tanya Emely dengan tersenyum sumringah.
"Kami juga baik, ma sebenarnya ada yang ingin ku beritahu".
Adi pun mulai memberitahu apa yang terjadi antara Amira dan Shaka. Mendengar itu Emely langsung memutuskan untuk kembali ke indonesia besok.
SISI LAIN KEDIAMAN KELUARGA BUWANA
Shaka tengah duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya selama beberapa jam, sesekali matanya melirik ke arah bawah balkon memastikan kedatangan Amira yang kembali pulang, namun nyatanya sudah sepagi ini, Amira tidak juga kembali. Sejenak perasaan khawatirpun muncul, namun lagi-lagi logikanya terus menyangkal.
__ADS_1
Tidak.. Tidak untuk apa aku mengkhawatirkan perempuan munafik itu. Celetuk Shaka dalam hati sembari terus melamun dengan tangan yang sudah mengepal.
Tak lama ponsel Shaka pun berdering, dengan lesu Shaka melirik ponsel yang terletak di atas meja, dan terpampang nyata nama Kevin di layarnya.
"Emm ada apa?" Tanya Shaka lesuh.
"Shaka.. Kenapa hari ini kamu tidak masuk? Dan kenapa tidak memberiku kabar?"
"Untuk apa aku memberimu kabar lagi pula itukan kantorku aku mau masuk atau tidak itu terserah aku". Ketus Shaka dengan meninggikan suaranya.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau begitu marah?" Tanya Kevin begitu keheranan dengan sikap temannya itu.
Shaka tidak menjawab perkataan Kevin dan langsung mematikan sambungan teleponnya. Sikap Shaka itu sontak membuat Kevin kebingungan, Kevin sudah lama mengenal Shaka sehingga dia tau betul apa yang di rasakan Shaka saat ini, sehingga dia bergegas pergi ke rumah Shaka memastikan keadaannya. Karena setahu dia Shaka hanya sendirian di rumah karena nenek Emely belum pulang.
Beberapa saat kemudian, mobil Kevin sudah sampai di depan loby rumah Shaka. Kevin langsung turun dari mobil dengan sedikit berlari memasuki rumah Shaka. Sesampainya di kamar Shaka, Kevin begitu terkejut melihat keadaan kamar Shaka yang sangat berantakan, semua barang-barang berserakan di lantai beberapa pecahan guci dan lainnya juga jatuh berserakan di lantai kamar Shaka saat ini benar-benar kacau sedangkan Shaka tengah duduk di kursi balkon kamarnya sembari memandang ke arah jendela dan melamun. Kevin pun berpikir pasti ada yang tidak beres dengan Shaka. Kevin berjalan mendekati Shaka dan membuyarkan lamunannya.
"Kenapa keadaanmu seperti ini? Apa yang terjadi?" Tanya Kevin tampak bingung.
Shaka hanya melirik sekilas ke arah Kevin kemudian kembali memalingkan pandangannya dan menatap kembali ke arah jendela.
"Shaka, aku teman lamamu aku tentu tau apa yang tengah kau alami kalau keadaanmu seperti ini". Ucap Kevin sembari memegang pundak Shaka.
"Jadi coba ceritakan semuanya padaku mungkin aku bisa membantumu". Tambah Kevin.
Shaka menghela nafas panjang dan mulai menceritakan semuanya secara detail kepada Kevin.
"Jadi gadis yang di bawah oleh Reza malam itu, adalah istrimu?" Tanya Kevin membulatkan matanya.
Shaka hanya diam tak bergeming.
"Lalu kalau kau tidak mencintainya, kenapa kamu uring-uringan seperti ini? Apa kau mulai menyukainya?" Tanya Kevin mencoba menggoda Shaka.
Shaka hanya menatap tajam ke arah Kevin.
"Shaka kau tidak usah menyembunyikan apapun dariku, aku tau keadaanmu begini karena patah hati dulu juga kau pernah mengalami hal ini". Ucap Kevin yang membuat Shaka sontak menatapnya dengan tatapan menusuk.
__ADS_1
"Shaka, kalau menurut saranku lebih baik kau dengarkan dulu penjelasan darinya. Dia pasti melakukan ini karena suatu hal jadi coba kau dengarkan dulu penjelasannya, coba pikir tidak mungkin nenekmu menjodohkanmu dengan perempuan sembarangan pasti nenekmu sudah mencari tau asal usul Amira secara detail". Ucap Kevin mencoba membuat Shaka mengerti.
Solusi dari Kevin membuat nalar Shaka mulai berfikir dan otaknya pun mulai mencerna segala penjelasan Kevin yang di rasanya ada benarnya juga.