Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 49 Namanya Queen Edelenyi


__ADS_3

Reza masih diam terpaku memandang keluar jendela. Namun tiba-tiba dia teringat kalau hari ini dia akan ke panti asuhan untuk menjemput bayi Amira yang di kiranya adalah ponakannya. Dia sudah selesai mengurus berkas-berkas persyaratan adopsi anak. Dia segera meraih kunci mobilnya di atas nakas dan berjalan menuruni anak tangga menuju garasi dan menaiki mobilnya. Tak lupa dia membawa salah satu pelayannya untuk menggendong bayi itu selama di perjalanan. Reza melajukan mobilnya meninggalkan loby rumahnya.


Tak lama mobil pun sampai di pekarangan panti asuhan. Reza memarkir mobilnya di depan panti asuhan dan berjalan masuk ke dalam panti asuhan bersama seorang pelayan. Tak lama sampailah Reza di kamar bayi itu, Reza mendapati ibu pemilik panti asuhan tengah menggendong bayi itu sambil di susukan.


"Assalamualaikum, maaf bu' saya terlambat tadi pagi masih ada urusan yang harus saya selesaikan." Jelas Reza sembari berjalan mendekat ke arah bayi itu.


"Tidak apa-apa, dia sudah siap, sudah mandi sudah minum susu, semua baju-bajunya juga sudah saya kemasi tinggal di bawah pulang." Jawab pemilik panti asuhan itu tersenyum.


"Boleh saya menggendongnya?" Tanya Reza sembari mengulurkan tangannya hendak meraih bayi itu.


Pemilik panti asuhan itu segera memberikan bayi itu kepada Reza, dengan hati-hati Reza mangambil bayi itu dari tangan pemilik panti ke pelukannya. Bayinya tampak cantik sekali, sekilas Reza melihat bayi itu mirip Amira, namun Reza segera menepis anggapannya karena mungkin seharian ini dia terus memikirkan Amira sehingga bayi yang di gendongnya ini pun terlihat seperti Amira.


Reza menimang-nimang bayi mungil itu sebentar. Reza merasa teduh ketika melihat bayi itu.


Aku janji, aku akan menjagamu seperti seorang ayah yang selalu menjaga putrinya. Gumam Reza dalam hati sembari memandang bayi itu dengan tersenyum. Reza memang gampang dekat dengan anak kecil, sehingga wajar jika bayi itu langsung nyaman saat berada dalam dekapan Reza.


Tak lama Reza memberikan bayi itu pada pelayan, ia lalu pamit undur diri kepada pemilik panti asuhan dan berjalan keluar menuju mobilnya. Di perjalanan Reza terus memandangi bayi itu dan sesekali mengusap-usap pipi mungil bayi itu dengan jarinya. Reza yang awalnya hanya berniat ingin mengadopsi anak itu karena menggantikan tanggung jawab kakak sepupunya kini berubah menjadi benar-benar menyayangi bayi itu dengan tulus.


Mobil pun sampai di depan loby rumah Reza. Reza turun dari mobil itu dengan diikuti oleh pelayan Reza berjalan masuk ke dalam rumah. Reza menyuruh pelayan untuk meletakkan bayi itu di kamar bayi yang sudah ia persiapkan terlebih dahulu. Kamar bayi itu berdekatan dengan kamarnya.


Pelayan pun meletakkan bayi itu dengan hati-hati, setelah itu Reza menyuruh pelayan itu untuk keluar. Reza memperhatikan bayi itu dengan seksama, ia berdiri dengan tangannya di masukkan dalam saku celana. Tak lama ia sedikit membungkukkan badannya dan mencium pipi bayi itu.


"Aku akan memberimu nama Queen, Queen Edelenyi." Ucap Reza sembari tersenyum.


"Nama yang bagus." Ucap Salsa yang tiba-tiba muncul dari belakang Reza.


"Kakak, apa ini anaknya kak Roy?" Tanya Salsa dengan mata berbinar-binar.


"Iya."


"Cantik sekali, aku senang ada bayi di rumah ini, biar rumah kita jadi ramai." Cetus Salsa sumringah.


"Iya, jadi kita tidak hanya berdua saja." Jawab Reza yang juga ikut tersenyum.


"Boleh aku menggendongnya?" Tanya Salsa dengan wajah memelas.


"Hati-hati, kau masih kecil tidak biasa menggendong bayi." Ucap Reza mengingatkan.


"Aku bisa kok, bahkan sebelum ia datang aku sudah belajar di youtube bagaimana cara menggendong bayi yang baik dan benar." Celetuk Salsa mencoba meyakinkan kakaknya.


"Yah sudah, tapi hati-hati ya."


"Iya." Salsa langsung meraih bayi itu dari ranjang kecilnya dan menggendongnya.


Sementara Reza tampak cemas melihat Salsa menggendong bayi itu. Dia terus mengikuti Salsa ke mana-mana saat Salsa tengah menggendong bayi itu untuk memastikan kalau bayi itu tidak akan jatuh berada di tangan Salsa. Reza tiba-tiba berubah jadi posesif demi untuk menjaga bayi itu.


Sisi Lain Kediaman Keluarga Buwana..

__ADS_1


Shaka tengah duduk di meja makan untuk makan malam, namun sudah 10 menit dia duduk dia tidak melihat Amira turun dari tangga untuk makan bersamanya. Shaka akhirnya naik ke atas dan berjalan menuju kamar Amira untuk memastikan keadaan Amira, namun ketika masuk Shaka tidak melihat keberadaan Amira, Shaka lalu mencoba membuka kamar mandi tapi terkunci, Amira pasti di dalam kamar mandi.


Shaka berjalan menuju sofa kamar itu dan duduk menunggui Amira.


"Arrghh." Tiba-tiba Amira berteriak.


Hal itu membuat Shaka yang tengah duduk di sofa menungguinya terkejut dan berjalan menuju kamar mandi.


Tok.. Tok.. Tok..


"Amira kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Shaka tampak panik.


Namun sama sekali tidak ada jawaban dari Amira.


"Amira tolong katakan sesuatu." Ucap Shaka dengan terus mengetuk pintu kamar mandi.


Shaka terus memanggil-manggil Amira namun tidak ada jawaban. Akhirnya Shaka memutuskan untuk mengambil kunci serep dan membuka kamar mandi itu. Shaka sontak terkejut mendapati Amira sudah terduduk di lantai kamar mandi tengah meringis kesakitan dengan pakaiannya yang sudah basah. Dengan sigap Shaka langsung menggendong Amira keluar dari kamar mandi menuju ranjang, Shaka perlahan membaringkan tubuh Amira di atas ranjang dan bergegas mengambil pakaian Amira yang ada di lemari hendak menggantinya.


Shaka memandang sendu ke arah Amira, yang tengah menunduk dengan air mata yang terus menetes. Shaka duduk di tepi ranjang sembari membantu mengusap air mata Amira.


"Apa yang sakit?" Tanya Shaka lembut.


Amira hanya duduk dan memegangi pinggangnya yang sakit akibat terjatuh tadi.


"Apa pinggang mu sakit?" Tanya Shaka lagi.


"Boleh aku lihat?" Tanya Shaka sembari memandang lekat ke arah Amira.


Namun Amira buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Baiklah kalau begitu aku akan memanggil dokter agar ia memeriksanya." Ucap Shaka sembari meraih ponselnya.


"Tidak usah, ini hanya benturan kecil, nanti juga hilang sendiri." Ucap Amira namun masih meringis kesakitan.


"Tapi kamu kan.."


"Tidak apa-apa." Amira langsung memotong ucapan Shaka.


"Yah sudah, kalau begitu sini, aku akan mengganti bajumu. Bajumu basah semua." Ucap Shaka lembut sembari tangannya mulai membuka rok Amira.


"Stop." Cegah Amira sembari menahan tangan Shaka.


"Ka kau mau apa?" Tanya Amira kembali gemetaran.


"Mau membuka bajumu, aku ingin mengganti bajumu karena bajumu ini basah."


"Tidak! aku tidak ingin kau melihat seluruh tubuhku." Ucap Amira yang terlihat histeris.

__ADS_1


"Sepertinya kau melupakan sesuatu, aku ingin mengingatkanmu kembali, tapi aku tidak ingin membuatmu semakin sedih." Ucap Shaka pelan.


"Kau akan mengingatkan apa?"


"Tidak lupakan saja!" Ucap Shaka lesu, sembari bangkit dari duduknya.


"Katakan padaku." Ucap Amira menarik tangan Shaka.


"Kau benar ingin mendengarnya?" Shaka memandang lekat ke arah Amira.


Amira mengangguk pelan hingga akhirnya Shaka kembali duduk dan mendekat ke arahnya.


"Bukankah aku sudah melihatnya? Bahkan aku sudah melihat semuanya." Bisik Shaka tepat di telinga Amira.


Mata Amira membulat sempurna, ia kembali terbayang rekaman cctv yang menampilkan adegan ranjang antara dia dan Shaka kemarin malam. Jantungnya kembali berdetak tak karuan, tubuhnya kembali gemetaran, mendadak ia merasakan dadanya mulai sesak hingga membuatnya jadi terengah-engah.


"Tidak!!" Teriak Amira sembari menampar pipi Shaka.


"Argh." Shaka meringis sembari mengusap pipinya.


"Shaka aku mohon biarkan aku sendirian." Tegas Amira yang masih terengah-engah sembari membayangkan rekaman cctv itu.


"Tapi aku.."


"Plis." Ucap Amira lirih sembari kembali meneteskan air matanya.


"Baiklah, aku akan kembali lagi setelah kau sudah merasa lebih tenang." Ucap Shaka lembut dan kemudian langsung keluar dari kamarnya.


Shaka pun memilih turun untuk makan malam, ia juga menyuruh pelayan untuk mengantarkan makanan ke kamar Amira. Tak lama Emely datang dan langsung duduk di meja makan. Ia mengerutkan dahinya melihat Shaka makan malam sendirian.


"Shaka mana Amira?" Tanya Emely tampak heran.


"Amira sedang di kamar nek, dia sedang tidak enak badan."


"Hmmm.. Rasanya meja makan ini sepi sekali kalau tidak ada Amira." Ucap Emely lesu sembari mendudukkan dirinya di kursi.


"Kenapa akhir-akhir ini dia gampang sakit." Tambah Emely.


"Nenek makan saja dulu, aku sudah menyuruh pelayan mengantarkan makanan untuk Amira, nenek tidak usah cemas." Jawab Shaka kemudian menyuapkan makanan di mulutnya.


"Habis makan aku akan melihat keadaanya." Ucap Emely yang sontak membuat Shaka terkejut karena semenjak kejadian itu Amira sudah tidak mau lagi tidur dengannya. Dia takut Emely tau mereka tidur terpisah lagi. Dia takut Emely akan marah.


"Ah tidak perlu nek, habis makan Amira pasti langsung tidur karena efek obat yang di berikan pelayan jadi biarkan dia istirahat dulu, nanti kalau dia sudah mendingan baru nenek bisa melihatnya." Cegah Shaka mencoba meyakinkan neneknya.


"Yah sudah kalau begitu, besok pagi saja."


Shaka tampak legah lalu kembali melanjutkan makan malamnya. Setelah selesai makan malam dia langsung pamit pada Emely dan berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2