
“Iya aku, aku mengenalnya, jadi aku dan Marsel itu…” Amira mencoba untuk menjelaskannya namun langsung di potong oleh Shaka.
“Berhenti menjelaskan apapun padaku, yang akan ku tanyakan sekarang adalah, apa benar di dalam foto itu adalah kau?” Tanya Shaka memberatkan suaranya sembari mendekatkan wajahnya pada Amira dengan mata yang mulai ia picingkan.
“Iya, iya, itu aku, ta tapi aku…” jawab Amira dengan takut-takut sembari menundukkan kepalanya.
“Kenapa kau jadi begitu takut? Apa kau takut kalau akhir nya aku tau hubungan kalian di belakang ku, iya?” Tanya Shaka dan kembali meninggikan suaranya.
Tak ada lagi kelembutan dengan kata-katanya, yang ada hanya suara keras dengan tatapan yang membunuh.
“Shaka Buwana, kenapa kau membentakku seperti ini?” Tanya Amira lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Kau ingin menangis? Berhenti menangis Amira! Aku sudah lelah melihat kau menangis selama ini!” Ketus Shaka yang kembali berdiri tegak.
“Shaka, tolong jangan salah paham, aku bisa menjelaskan semuanya,” Amira dengan air mata yang mulai menetes berdiri dan mencoba meraih kedua tangan Shaka.
Namun dengan cepat Shaka menepis tangan Amira dengan kasar, dan membuat air mata Amira lagi lagi kembali menetes semakin deras.
“Sayang tolong dengarkan penjelasanku dulu,”
“Berhenti menjelaskan apapun Amira! Aku sungguh kecewa ternyata cintaku saja tak membuatmu cukup,” ucap Shaka sembari menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak Shaka, sayang tolong dengarkan aku dulu,” Amira mencoba mendekati Shaka namun Shaka mundur selangkah untuk menghindari Amira.
“Sekarang aku mau kau pergi dari rumah ini, aku tidak sudih kau menginjakkan kaki kotormu itu di rumahku dan di kamarku ini!” Teriak Shaka dengan suara menggelegar.
Jantung Amira mendadak berdetak begitu hebatnya melihat Shaka yang tega mengusirnya dari rumah nya sendiri.
“Kau sungguh mengusirku hanya karena sebuah foto yang belum tentu benar Shaka? Kau sungguh tidak belajar dari pengalaman, dulu berkali-kali kau selalu menghina dan menuduhku, namun kau menerima bukti bahwa semua itu tidak benar dan sekarsng kau kembali menuduhku? Bahkan dengan teganya kau mengusirku, setelah kau datang dengan baik-baik ke rumah orang tuaku untuk membawaku datang ke sini,” tanya Amira sembari menangis menatap lekat ke arah Shaka.
“Foto-foto ini memang tidak bisa membuktikan apapun,” ucap Shaka kembali meraih foto itu kemudian merobeknya di depan wajah Amira.
__ADS_1
“Namun bagaiman dengan rekaman cctv di hotel itu? Apakah rekaman cctv juga bisa dimanipulasi? Aku bahkan sudah melihat rekaman itu Amira!” Shaka berkata pelan sembari kembali berdiri tegak mendekati Amira.
“Dan di rekaman itu terlihat jelas, kau dan lelaki bajingan itu masuk ke dalam sebuah kamar!” Teriak Shaka sembari mengguncang kedua pundak Amira.
“Apa kau melihat aku dan Marsel melakukan hubungan intim? Kau melihatnya langsung? Apa kau melihat semuanya hingga akhir?” Tanya Amira sembari menepis kasar tangan Shaka yang ada di pundaknya.
Shaka pun dibuat terdiam sejenak.
“Katamu kau begitu mencintaiku, cintamu bahkan melebihi seisi dunia ini, tapi hanya karena sebuah foto dan rekaman cctv yang sepenggal itu kepercayaanmu langsung runtuh begitu saja?” Tanya Amira lirih sembari menatap Shaka dengan tatapan sendunya.
“Aku baru saja pulang dari rumah sakit, aku baru saja sembuh, di saat seperti ini seharusnya aku membutuhkanmu, namun ternyata kau pergi hanya untuk menyelidiki ini? Dan kau kembali bukan untuk menenangkanku tapi malah menuduhku seperti ini? Kau, kau sungguh keterlaluan, baiklah jika kau mengusirku, aku akan pergi dari rumah ini, dan aku pastikan aku tidak akan kembali menginjakkan kaki lagi di rumahmu ini,” ketus Amira dan kemudian langsung pergi keluar dari kamar itu.
Tangan Shaka kembali mengepal memandangi kepergian Amira, jantungnya berpacu cepat hingga membuat nafasnya tak terkendali, Shaka semakin dibuat tak menentu dia berteriak dan mengobrak ngabrik isi kamarnya.
Sementara Emely yang mendengar itu sontak tersentak dari tidurnya, dan berjalan keluar dari kamarnya.
Emely begitu terkejut melihat Amira yang sedang menangis sembari berjalan cepat menuruni anak tangga menuju pintu keluar.
“Kau mau ke mana nak?” Tanya Emely dengan lembut.
“A.. aku harus pergi nek, ma.. maafkan aku, Shaka sudah tidak menginginkan aku berada di rumah ini, aku, aku harus pergi sekarang,” jawab Amira dengan suara terbata-bata sembari menangis sesenggukkan.
“Ada apa Amira? Coba ceritakan padaku,” Emely mengusap pundak Amira.
Amira menarik nafas dalam-dalam, lalu menceritakan semua tuduhan Shaka padanya dengan detail, mendengar itu Emely pun berusaha mempercayai Amira, ia akan mencari bukti bahwa Amira tidak bersalah dan memperlihatkannya pada Shaka.
“Bagaimana bisa Shaka Buwana kini menjadi begitu bodoh dan gegabah seperti ini,” ketus Emely dengan tatapan marah.
“Tunggu sebentar,” ucap Emely sembari menggenggam tangan Amira.
“Shaka… Shaka!!” Emely memanggil Shaka yang masih berada di kamarnya.
__ADS_1
Shaka yang mendengar Emely memanggilnya, langsung beranjak keluar dari kamarnya, kini Shaka terlihat sedang menuruni anak tangga dan wajah datar berjalan menghampiri Amira dan Emely yang sedang berdiri di ruang keluarga.
“Jelaskan padaku kenapa kau begitu bodoh menuduh istrimu seperti itu?” Tanya Emely dengan tegas.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan nek,” jawab Shaka dengan tatapan dingin.
“Kenapa? Hanya dengan begitu saja kau langsung menyerah?” Tanya Emely masih dengan raut wajah penuh amarah.
“Maaf nek, Amira harus pergi Amira tidak bisa tinggal serumah dengan orang yang sudah tidak menginginkan kehadiran Amira lagi,” Ungkap Amira dengan berderai air mata.
“Tapi Amira…” Emely pun mulai menangis.
Amira pun dengan isakan tangisnya meraih tangan Emely dan memeluknya.
“Amira janji, Amira tidak akan memutuskan hubungan silaturahmi dengan nenek, sesekali Amira akan menemui nenek, maafkan Amira jika selama ini Amira banyak salah,” ucap Amira lirih dengan mata yang masih basah.
Amira melepaskan pelukan Emely lalu pergi begitu saja meninggalkan Emely dan Shaka yang masih diam mematung.
“Amira, Amira tunggu!” Teriak Emely yang tidak sanggup kehilangan Amira.
“Biarkan dia pergi nek!” Ketus Shaka yang mulai membuka suara.
Emely berbalik menatap Shaka dan menampar pipi Shaka dengan keras.
“Jadi kau mengusirnya? Kau mengusir cucu menantuku di rumahku ini? Beraninya kau Shaka!” Teriak Emely sembari memukul-mukul dada bidang Shaka.
“Baiklah, jika kau sudah merasa ini rumahmu, kau tinggalah sendiri di sini, aku juga akan pergi ke Amerika untuk meninggalkanmu,” ucap Emely sembari mengusap air matanya lalu pergi ke kamarnya untuk mengemasi barang-barang yang akan ia bawa.
Shaka yang melihat itu tentu tak mungkin diam saja, dia berusaha untuk mencegah Emely namun tak berhasil, Emely tetap bersih keras ingin pergi meninggalkan Shaka membawa rasa kecewanya pada Shaka yang tega memperlakukan Amira seperti itu.
Malam itu juga Emely pergi meninggalkan rumah mewah nya, ia sengaja melakukan hal itu agar Shaka tidak seenaknya memperlakukan Amira seperti itu, dia sangat kecewa dengan Shaka yang tidak mau mencari bukti yang detail dulu sebelum menuduh Amira, bahkan yang membuat ia semakin kecewa Shaka tega mengusir Amira dalam keadaan yang baru keluar dari rumah sakit.
__ADS_1