
Sisi lain di Female Corner Boutique…
Seperti yang di ketahui, Female Corner Boutique adalah butik milik Yura, pagi ini saat jarum jam sudah menunjuk ke angka 11.00, Reza dan Yura nampak mendatangi butik Yura untuk melakukan fitting baju pengantin yang beberapa waktu lalu sempat tertunda.
Selang beberapa menit, Reza pun terlihat keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai jas berwarna putih dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di kerah kemejanya, Reza berdiri tegak di depan cermin sembari memandangi bayangan dirinya dari atas hingga bawah.
“Wah sepertinya setelan jas ini sudah sangat cocok di badan anda tuan muda, bagaimana menurutmu?” Tanya salah satu pegawai butik yang sejak tadi mendampingi Reza.
“Iya, saya sudah merasa nyaman memakainya, begini sudah cukup, tidak perlu ada yang di ubah lagi!” Tegas Reza sembari tersenyum.
“Baik tuan muda,” jawab pegawai itu sembari mengangguk dan tersenyum ramah.
Tak berapa lama di susul juga dengan Yura yang akhirnya keluar dari ruang ganti dengan sudah memakai gaun dengan di dampingi oleh tantenya adik dari ayahnya, gaun itu adalah gaun yang memang sesuai dengan keinginan Yura sendiri karena di rancang langsung oleh dirinya sendiri, gaun pernikahan yang juga berwarna putih berlengan panjang, terkesan simpel namun begitu elegan.
“Reza, setelan jas itu begitu pas untukmu,” celetuk tante Yura yang begitu di buat terpana saat melihat Reza.
“Terima kasih tante,” jawab Reza tersenyum.
Yura pun melihat itu ikut tersenyum, lalu ia mulai berjalan perlahan menghampiri Reza yang masih berdiri di depan cermin.
“Kau terlihat 1000 kali lebih tampan dari biasanya, saat mengenakan ini,” ucap Yura lembut sembari kedua tangannya meluruskan kerah jas Reza.
Reza pun tersenyum sembari menunduk sejenak.
“Lalu bagaimana dengan penampilanku?” Tanya Yura memundurkan langkahnya sembari memutarkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan di hadapan Reza.
Reza pun semakin melebarkan senyumannya sembari memandangi Yura dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Kau terlihat 1000 kali lebih cantik,” jawab Reza sembari melangkah mendekat ke arah Yura.
“Penampilanmu tak pernah mengecewakan,” tambah Reza lagi sembari membelai lembut pipi Yura.
Yura semakin di buat tersenyum oleh kata-kata pujian dari calon suaminya, kedua mata Yura kini terpaku dan mulai memandang lekat ke arah Reza.
“Rasanya masih begitu sulit di percaya, masih terasa seperti mimpi bagiku,” ucap Yura lembut.
“Kenapa begitu?” Reza pun mulai mengerinyitkan dahinya.
__ADS_1
“Bagaimana tidak, lelaki yang dulu aku gilai setengah mati, lelaki yang menolakku berkali-kali, kini berada di hadapanku sebagai calon suamiku,” jelas Yura.
Mendengar penuturan Yura membuat Reza tertunduk sembari tersenyum malu.
“Cara semesta menyatukan kita memang begitu unik, di saat aku tengah sibuk memperbaiki diriku, di saat aku tidak lagi mengejar cinta mu, namun di saat itu pula semesta membawa mu padaku dan akhirnya menyatukan kita,” tambah Yura lagi yang kini matanya mulai berkaca-kaca.
“Begitulah jodoh, dia datang tanpa di sangka-sangka, kini aku semakin yakin kalau kamu lah jodoh yang sudah di takdirkan untukku,” jawab Reza sembari memeluk hangat tubuh Yura.
Senyum Yura pun semakin berkembang, ia pun membalas pelukan hangat yang diberikan oleh calon suaminya.
“I love you so much Reza,” ucap Yura lembut sembari mengusap punggung Reza.
“I love you to,” Reza pun kembali tersenyum manis sembari mengusap lembut rambut Yura.
Melihat adegan romantis dari sepasang muda mudi itu, sontak membuat tante Yura ikut menangis karena haru.
“Kalian sungguh terlihat serasi,” ucap tante Yura sembari mengusap air matanya.
Reza dan Yura pun sontak melepas tautan tubuh mereka, sembari tersenyum lalu menghampirinya.
“Tante, kenapa tante menangis?” Tanya Yura sembari mengusap air mata tantenya.
“Jangan bersedih tan, aku dan Reza akan sering berkunjung ke rumah tante setelah menikah nanti,” Yura pun mencoba memberi pengertian pada tantenya agar bisa kembali tenang.
Tante Yura adalah adik dari ayah nya yaitu tuan Handika, tante dari Yura ini sudah puluhan tahun menikah namun belum juga dikaruniai anak padahal tantenya yang lebih dulu menikah dari pada ayahnya tuan Handika.
Yura sudah di rawat dan dibesarkan oleh tantenya dan suami dari tantenya sejak lahir, karena ibu Yura meninggal pada saat melahirkan Yura akibat perdarahan hebat, jadi wajar saja jika tantenya menangis saat melihat Yura akan meninkah karena saking dekatnya mereka.
“Tante tidak perlu cemas, bahkan nanti kami akan sering menginap di sana,” jawab Reza.
Akhirnya tante Yura pun mengangguk dan memeluk tubuh ponakan tercintanya itu.
1 minggu kemudian…
Orang tua Amira yang kini ditemani Kevin duduk di tepi jalan, mereka kembali meminta Kevin untuk mencari Amira namun lagi-lagi usaha mereka gagal.
Karena merasa begitu lelah dan putus asa, Riana pun mulai kembali menangis, sembari menenggelamkan wajahnya di balik kedua tangannya.
__ADS_1
“Dimana lagi kita harus mencarinya sekarang?” Tanya Riana sembari terus menangis.
Kevin yang terduduk di samping orang tua Amira kini hanya terdiam dan menghela nafas panjang, Adi Wijaya ayah Amira pun terlihat berusaha menenangkan ibu Amira.
Sesungguhnya saat ini Kevin tengah di padati oleh banyak kerjaan yang menumpuk, karena Shaka melimpahkan seluruh tugas padanya, namun Kevin begitu tak tega jika harus menolak permintaan orang tua Amira untuk mencari Amira meski pun pekerjaannya menggunung.
Tak terasa, sudah seminggu lebih Shaka melewati hari-hari tanpa adanya sosok Amira di sisinya, hingga membuat hatinya kian terasa hampa.
Kini Shaka belum juga pulang dari kantor padahal jarum jam sudah menunjuk di angka 00.00 tengah malam, Shaka memilih naik ke rooftop gedung kantor utama miliknya, di atap gedung itulah Shaka mulai berteriak memanggil nama Amira.
“Amiraaa, di mana kamu?” Teriak Shaka terdengar begitu menggema.
“Amiraaa aku mohon kembalilah padaku,” teriaknya lagi.
“Aku sungguh tidak bisa menjalani hari-hariku dengan bahagia Amira,” ucap Shaka lirih.
Merasa sudah cukup puas menumpahkan kesedihannya, Shaka dengan lesu akhirnya memilih berjalan menuju lift untuk turun ke loby.
Shaka kini berjalan menuju basement tempat mobilnya terparkir, dan melajukan mobilnya meninggalkan kantor utama miliknya.
Ketika melewati taman tempat dia bersama Amira dulu, ia pun segera menepikan mobilnya dan berjalan menuju taman untuk mengenang kebersamaannya bersama Amira.
Namun ketika Shaka sedang berjalan memasuki taman kota itu, tanpa sengaja dia berpapasan dengan Genta yang kebetulan juga berada di taman itu.
Genta awalnya begitu terkejut menyadari Shaka yang sedang berada di taman itu juga, namun pada saat itu Shaka tak memperdulikan keberadaan Genta, ia berjalan begitu saja melewati Genta dan duduk di bangku yang sudah disediakan di taman kota itu.
Meski pun masih mencintai Amira, namun Genta sadar akan cinta yang begitu besarnya yang dimiliki seseorang untuk Amira, ya itu adalah cinta Shaka pada Amira, terbukti dari penampilan Shaka saat ini yang tampak begitu kacau, rambutnya dibiarkan polos begitu saja tanpa ada minyak rambut seperti biasa, terlihat jelas kantung matanya yang menghitam, menandakan kalau ia begitu kurang tidur dan kelelahan.
“Ya tuhan, begitu besarnya cinta Shaka pada Amira, aku yakin dia begitu sedih karena menghilangnya Amira, apa aku beritahu saja yang sebenarnya? Tapi aku takut Amira akan marah padaku, bukankah aku sudah berjanji padanya?” Gumam Genta dalam hati yang mulai merasa bimbang.
“Tapi aku jadi tak tega pada Shaka, meski pun seharusnya Shaka menjadi rivalku karena sama-sama mencintai Amira, tapi aku tidak sampai hati melihat rumah tangga orang lain kacau seperti ini, cukup ayahku yang kejam, aku tidak mau menjadi kejam seperti ayahku,” celetuk Genta lagi yang kini jadi bingung.
“Genta, ayo kita pergi,” ajak Doni kepada Genta sembari berjalan mendahului Genta, ia baru saja selesai membeli minuman di toserba terdekat.
Bosan di taman, tak lama Shaka pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan taman begitu saja menyisakan Genta dan Doni di sana.
“Tu tunggu!” Panggil Genta refleks saat Shaka sudah pergi.
__ADS_1
“Ada apa Genta?” Tanya Doni.
“Tidak, ayo kita pergi,” ujar Genta kemudian.