Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 120 Terkuak


__ADS_3

Kantor Utama Buwana Group…


Shaka sudah menyelesaikan pekerjaannya, kini ia duduk di kursi kejayaannya sembari memijit pelipisnya, pekerjaan hari ini cukup menguras tenaganya.


Shaka duduk bersandar sembari memejamkan mata, namun saat baru saja memejamkan mata, ide cemerlang tiba-tiba muncul dalam benaknya, ia pun kembali membuka matanya.


“Tiga hari ke depan kan tanggal merah,” batin Shaka.


Setelah berfikir sejenak, ia meraih ponselnya dan menghubungi istrinya.


“Halo,” jawab Amira dari seberang telepon.


“Sayang, bagaimana kalau besok kita jalan-jalan, tidak usah ke tempat terlalu jauh, di tempat terdekat saja,” ucap Shaka menyalurkan idenya pada Amira.


“Jalan-jalan? Ke mana?”


“Ke pantai, kamu mau?” Tanya Shaka kemudian.


“Hmmm, iya deh aku mau,”


“Baiklah, kalau begitu sebentar malam kamu siapkan keperluan yang akan kita bawah besok, kebetulan aku sudah selesai meeting, aku akan pulang sekarang,”


“Iya sayang cepat ya aku tunggu,” jawab Amira dengan manja.


“Iya, i love you istriku,”


“Love you moere,” Shaka pun mengakhiri panggilannya, dan langsung beranjak dari kantornya untuk pulang menemui istri tercintanya.


Keesokan harinya….


Kini tibalah hari dimana mereka akan berlibur ke pantai untuk sekedar menyegarkan pikiran.


Shaka terlihat berjalan di pinggir pantai menikmati angin yang menerpa tubuhnya.


Begitu pun dengan Amira, ia juga tengah berjalan di sisi lain.


Saat ini Amira terlihat sangat senang, puas berjalan-jalan di tepi pantai, kini ia tengah duduk di atas pasir pantai dan melihat pemandangan yang indah, banyak sekali pasangan yang berbahagia, mereka tampak bahagia dan tertawa.


Amira memejamkan matanya, membayangkan kalau itu dirinya dan Shaka, ia pun tersenyum.

__ADS_1


“Apa yang kamu pikirkan sayang?” Tanya Shaka yang tiba-tiba saja membuyarkan lamunan Amira, ia pun tertunduk saking malunya.


“Kamu sedang membayangkan apa?” Tanya Shaka lagi.


“Tidak,” jawab Amira singkat.


Tak lama Shaka beralih duduk di belakang Amira dan mendekap tubuhnya dari belakang, kini Amira merasakan kehangatan pelukan Shaka, mereka berpelukan sembari menatap langit-langit sore yang indah dan menyejukkan mata.


Namun di tengah keromantisan mereka, sayup-sayup suara yang begitu familiar di dengar oleh Amira, ia pun menoleh ke arah sumber suara.


“Windy,” ucap Amira dalam hati.


“Sudah beberapa kali aku katakan, jangan hubungi aku lagi, aku tidak mau lagi berurusan dengan mu,” ketus wanita itu lewat telepon.


“Dia sedang berbicara dengan siapa?” Gumam Amira dalam hati dengan pandangan yang tidak ia alihkan sedetik pun.


“Ada apa sayang?” Tanya Shaka melihat tingkah Amira yang nampak serius menatap seseorang yang ada di depan mereka.


“Ssstt,” Amira menempelkan jari telunjuknya di bibir Shaka.


Shaka pun menatap ke arah wanita yang di tatap Amira, seperti familiar, namun dia berusaha untuk mengingat-ingat.


“Jangan mengancam ku Safa, aku tidak takut lagi dengan ancaman mu, kamu pikir aku lupa dengan semua rahasia mu,” Windy tersenyum menyeringai.


Mendengar namanya di sebut Amira sontak membulatkan matanya, begitu pun dengan Shaka dia pun semakin mempertajam pendengarannya, kini tanpa Windy sadari, Amira dan Shaka ada di belakangnya dan siap mendengar semua pembicaraannya dengan Safa via telepon.


“Walau pun kejadian itu sudah cukup lama aku pasti akan membongkarnya kalau kau berani macam-macam denganku, aku tidak takut kalau sampai aku terlibat, karena aku sudah pasrah dengan hidup ku, tapi aku tidak tau bagaimana dengan mu, kau pasti akan merasa menderita jika harus tinggal di balik jeruji besi,” Windy menjeda ucapannya.


“Apa maksudnya?” Tanya Amira dalam hati dengan raut wajah bingung.


“Cepat atau lambat, Amira maupun Shaka akan tau kalau anak Amira sampai saat ini masih hidup,”


Mendengar hal itu jantung Amira bergemuruh dengan begitu cepat, lidah nya terasa keluh, matanya berkaca-kaca, kini perasaan bercampur aduk, tubuh nya gemetar, Shaka yang melihat itu mendadak khawatir, ia dengan sigap memegang kedua pundak Amira saat melihat Amira hampir terhuyung.


“Sayang, kamu tidak apa-apa kan?” Tanya Shaka nampak cemas, namun ia juga ikut terpancing emosi saat mendengar pernyataan Windy tadi.


“Tidak apa-apa, aku bisa, aku akan menghadapinya sendiri,” ucap Amira menatap tajam ke arah Windy dengan tangan mengepal.


“Tapi sayang…”

__ADS_1


Belum selesai Shaka berbicara, Amira langsung mengayunkan kakinya menghampiri Windy.


“Jadi putriku masih hidup?” Tanya Amira dengan bibir bergetar.


Windy pun tersentak hingga membulatkan matanya mendengar suara wanita yang sangat familiar, dan pada saat dia menoleh, benar saja, sang pemilik suara itu adalah Amira, saking terkejutnya tanpa sadar ponsel yang ada di tangannya jatuh begitu saja, ia menatap Shaka dan Amira bergantian, dia sangat takut dengan Shaka, setelah kejadian Shaka mengancam nya hari itu, ia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan Safa, namun takdir berkata lain, saat dia sudah mulai mau berubah, rahasia nya kini sudah diketahui Amira.


“Kenapa kau diam saja? Jawab!!” Bentak Shaka membuat Windy tersentak, tubuhnya gemetar, buliran bening kini lolos begitu saja membasahi pipi Windy.


“Katakan yang sebenarnya, kalau tidak aku akan membuat hidup mu sengsara!” Ancam Shaka yang sontak membuat Windy merendahkan tubuhnya dan berlutut di hadapan Shaka dan Amira.


“Ma… maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya di suruh, dan sekarang aku menyesali perbuatanku, aku sudah berhenti melakukan kejahatan lagi sekarang, aku tidak mau lagi di perbudak oleh Safa, Amira maafkan aku,” ucap Windy yang hampir saja memegang kaki Amira namun segera di tepis oleh Amira.


“Jadi ini perbuatan kamu dengan Safa? Katakan di mana anakku!” Pekik Amira dengan deraian air mata.


“Aku tidak tau di mana anak mu Amira, aku hanya menukar nya dengan bayi yang sudah sekarat, itu semua ku lakukan agar kau mengirah kalau bayi mu sudah meninggal, aku sungguh tidak tau di mana anakmu,” jawab Windy dengan bibir bergetar.


“Bohong!” Teriak Amira yang membuat Windy semakin tersentak.


“Aku tidak bohong, aku benar-benar tidak tau di mana anakmu Amira, maafkan aku,” ucap Windy lirih sembari menundukkan kepalanya, raut penyesalan kini menghiasi wajahnya.


“Sekarang katakan siapa nama orang tua bayi yang sudah kau tukar itu?” Tanya Shaka memelankan suaranya, sembari menahan emosi.


“Ni….ni… nilasari,” jawab Windy dengan terbata-bata.


“Kenapa kau tega pada bayi sekecil itu? Dia masih terlalu kecil, dia tidak pantas menerima dendam kalian, sekarang aku tidak tau dia ada di mana, apakah dia tidur di tempat yang layak, apakah dia makan dengan teratur, aku tidak tau sama sekali Windy!! Kenapa kau tega!!” Teriak Amira sembari menggoyang-goyangkan pundak Windy dengan keras.


“Aku tau aku salah Amira, kalian boleh menghukum aku, silahkan hukum aku, aku akan menebus kesalahanku, kalian boleh menghukum aku sesuai dengan kesalahan yang aku perbuat, maafkan aku Amira, aku janji aku tidak akan mengganggu hidup kamu lagi, setelah ini aku akan menyerahkan diri ke kantor polisi, aku akan mengakui semua kesalahanku,” ucap Windy sembari memegang kedua tangan Amira.


“Baiklah, kau tunggu di sini, sebentar lagi polisi akan datang, kau harus menerima hukuman mu,” ketus Shaka yang ternyata sudah menghubungi Kevin via sms, untuk membawa beberapa pasukan polisi ke tempat itu, untuk menangkap Windy.


Shaka berinisiatif untuk menahan Windy dan Safa untuk mempertanggung jawabkan kejahatan mereka, Windy sudah pasrah dengan nasibnya, kini dia benar-benar berubah dan ingin menebus kesalahannya, ia sudah pasrah menerima hukuman dari Shaka dan Amira, bahkan saat polisi datang dan memborgol tangannya, Windy tidak berkutik sama sekali, dia menerima begitu saja dengan lapang dada saat para polisi itu membawanya masuk ke mobil polisi.


Ternyata sebelum menangkap Windy, mereka sudah lebih dulu menangkap Safa, Safa yang saat itu sedang duduk bersantai di pinggir kolam renang rumahnya, terkejut dengan kedatangan polisi yang tiba-tiba langsung memberi surat penangkapan untuknya, berbeda halnya dengan Windy, Safa sama sekali tidak menyadari perbuatannya, di tengah ketakutannya, ia bahkan masih saja menyumpah Amira dengan tetap membawa rasa bencinya, bahkan bukan hanya pada Amira, saat ini dia juga begitu murka dengan Windy, yang sudah berani membongkar rahasianya pada Amira dan Shaka.


Berita penangkapan Safa kini terdengar sampai ke telinga Genta, namun Genta belum tau apa gerangan yang membuat Windy dan Safa tertangkap, saking sibuknya dengan kuliahnya, Genta seolah tidak mau terlalu ikut campur dengan masalah yang menimpah kedua wanita itu.


“Shaka, aku ingin mencari anak ku,” ucap Amira di sela-sela tangis nya.


Shaka menarik Amira ke dalam dekapannya dan mengusap lembut rambut panjang Amira.

__ADS_1


“Iya kita akan cari anak kita sama-sama ya, tapi kamu harus janji untuk tenang dan jangan stres, kasihan anak kita yang satunya lagi, dia pasti ikut menangis merasakan mamanya menangis,” bujuk Shaka sembari mengusap lembut perut Amira.


“Sekarang kita pulang ya, kamu harus istirahat di rumah, kamu pasti lelah,” ucap Shaka mengusap lambut air mata Amira dan langsung di angguki oleh Amira.


__ADS_2