
Mobil telah sampai di pekarangan rumah Amira, Shaka meraih seikat bunga yang ada di sebelah tempat duduknya dan turun dari mobil. Shaka berdiri sejenak didekat mobilnya sembari memandangi rumah Amira, entah kenapa Shaka mendadak gugup tidak biasanya dia seperti ini saat menemui Amira. Seperti baru pertama kali saja menemui Amira. Shaka kemudian menghadap ke arah kaca mobilnya dan melihat penampilannya sudah rapi atau belum, akhirnya dengan sigap Shaka melangkah menuju rumah Amira dengan penuh percaya diri. Setelah sampai di depan pintu rumah Amira, Shaka perlahan mengetuk pintu rumah itu dengan seikat bunga di tangan kirinya.
Tok.. Tok.. Tok
Tidak ada jawaban, Shaka mengetuk sekali lagi, masih tidak ada jawaban. Dahi Shaka mulai berkerut.
Kemana kamu Amira? Tanya Shaka dalam hati.
Akhirnya Shaka mengetuk pintu itu untuk yang ke tiga kalinya tetap tidak ada jawaban. Tak lama muncul seorang wanita paru baya dari belakang Shaka yang tak lain adalah tetangga Amira.
"Permisi, apa tuan sedang mencari Pak Adi dan Bu Riana?" Tanya wanita paru baya itu.
Shaka membalikkan badannya menghadap wanita itu.
"Iyaa, apa ibu' tau ke mana mereka hari ini?" Tanya Shaka sembari menunjuk pintu rumah Amira yang ada di belakangnya.
"Mereka sudah pergi ke luar kota 3 hari lalu" Jawab wanita itu.
"Mereka pergi ke mana ya bu'? Dan kapan mereka kembali?" Tanya Shaka mulai cemas.
"Wah kalau itu saya kurang tau tuan, setau saya 3 hari lalu mereka sekeluarga membawa banyak barang bawaan seperti mau pergi lama tuan, terus saya tanya mereka bilang mau keluar kota. Saya juga kurang tau luar kota di mana". Jelas wanita itu.
"Yah sudah terimakasih ya" Ucap Shaka sembari melangkah pergi kembali memasuki mobilnya.
Ke mana kamu Amira? Kenapa kau pergi seperti ini di saat aku sudah mulai menyadari perasaanku. Maafkan aku Amira. Batin Shaka sembari menatap lurus ke depan dengan lesu.
Sepanjang jalan Shaka terus memikirkan Amira hingga akhirnya Shaka teringat Salsa sahabat Amira dan juga adik Reza. Shaka lalu melajukan mobilnya menuju rumah Reza mungkin saja Amira di sana pikir Shaka.
Sementara Reza sedang berada di bandung untuk mengurus bisnisnya di sana. Saat ini Reza sedang menyetir mobilnya namun tak sengaja melihat seorang wanita yang begitu familiar.
"Amira" Reza terkejut melihat wanita itu ia langsung memutar balik mobilnya dan menjalankan mobilnya pelan hingga mendekati wanita itu.
Reza menurunkan kaca mobilnya untuk memastikan apa benar itu Amira atau bukan, dan setelah di pastikan ternyata benar itu Amira. Namun Reza kembali mengerutkan dahinya melihat perut Amira yang buncit. Akhirnya Reza memilih turun dari mobil dan menghampiri Amira.
"Amira".
Langkah Amira sejenak terhenti mendengar suara yang begitu familiar memanggilnya. Setelah Amira menoleh, Amira begitu terperanga ia sontak membulatkan matanya melihat siapa yang sedang berada di hadapanya itu.
"Kak Reza? Ke... Kenapa kakak bisa ada di sini?" Tanya Amira tampak terkejut.
"Aku sedang ada urusan bisnis di sini. Kebetulan aku lewat dan melihat kamu sedang berjalan makanya aku berhenti dan turun untuk menghampirimu". Jawab Reza yang masih tampak bingung.
Amira menundukkan wajahnya. Sesungguhnya dia sangat malu bertemu Reza dengan keadaannya yang seperti ini.
"Heii.. Kenapa kau terus menundukkan wajahmu? Angkat kepalamu Amira". Ucap Reza sembari memegang dagu Amira agar Amira menatapnya.
"Maaf kak, aku harus pergi". Ucap Amira menepis pelan tangan Reza dan hendak berbalik untuk pergi dari hadapan Reza.
"Amira tunggu!!" Suara Reza mengentikan langkah Amira.
"Ada apa lagi?" Tanya Amira agak ketus dengan masih membelakangi Reza.
"Kenapa kamu menghindariku seperti ini? Dan nomor mu juga sudah tidak aktif". Tanya Reza sembari mengerenyitkan dahinya.
Amira tidak menjawab pertanyaan Reza dia hendak melangkah pergi namun Reza menahannya dengan memegang pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Lepaskan aku kak Reza". Ketus Amira masih tetap membelakangi Reza.
" Berbaliklah Amira, tatap aku"
"Tidak kak". Ucap Amira singkat.
Lalu Reza memegang pundak Amira dan perlahan membalikkan badannya menghadap Reza.
"Kenapa? Apa kamu malu karena kehamilanmu saat ini? Apa lelaki itu menghamili mu sekarang?" Tanya Reza sembari menatap sendu ke arah Amira.
"Kenapa dia melakukan ini? Padahal dia sama skali tidak mencintaimu. Tapi kenapa dia memanfaatkan situasi ini". Tambah Reza mengguncang pelan tubuh Amira.
"Tidan kak.. Ini bukan ulah Shaka. Aku sudah hamil dari sebelum menikah dengan Shaka. Bahkan Shaka tidak tau soal ini karena nenek Emely meminta aku untuk merahasiakan ini dulu dari Shaka agar dia mau menerima perjodohan ini". Ucap Amira lirih.
"Apa? Jadi ini perbuatan siapa?" Tanya Reza menatap lekat ke arah Amira.
"Ini.. Ini perbuatan pacar SMA saya Genta. Aku dan Genta punya cita-cita yang besar kita berdua giat belajar sampai kita sama-sama mendapatkan juara kelas. Namun 2 bulan setelah kita pacaran kita terhanyut dengan perasaan kita masing-masing sehingga tanpa sadar kita melakukan suatu hal yang membuat aku hamil. Aku benar-benar hancur dan menyesal saat itu, aku stres, pikiranku kacau. Tapi dia justru menyuruh aku untuk menggugurkan kandungan ini. Aku sudah melakukan berbagai cara tapi tidak berhasil akhirnya dia menyuruhku untuk melakukan kur** tapi aku takut, proses nya sangat menyakitkan aku tidak berani namun dia tetap memaksa ku untuk melakukannya tapi aku tetap tidak berani. Sampai suatu hari kedua orang tuaku tau semuanya mereka begitu marah dan terpukul ketika tau semua ini, mereka bahkan sempat mendiamkan ku. Akhirnya mereka meminta Genta untuk bertanggung jawab dan mengatakan semuanya pada orang tuanya. Setelah Genta menceritakan semuanya alih-alih menyuruhnya untuk bertanggung jawab orang tuanya malah pergi membawah Genta ke London meninggalkan aku dan anak ini". Jelas Amira sembari menatap kosong ke depan.
"Aku begitu hancur dan trauma dengan keadaan ku saat itu. Untung saja aku masih bisa menyelesaikan sekolah ku. Sehingga Papa berinisiatif untuk menundah kuliah ku dulu. Mereka akan melanjutkan study ku lagi kalau aku sudah selesai melahirkan. Mereka juga mengaku untuk akan mengadopsi anak ini kalau anak ini lahir agar aku bisa fokus ke cita-citaku dulu dan menjalankan hidup ku seperti gadis yang belum menikah. Namun baru saja aku lulus, tanpa sengaja aku bertemu dengan Shaka dan neneknya lalu menjalankan pernikahan sandiwara ini. Namun sekarang Shaka sudah tau semuanya dia begitu kecewa dan marah karena telah menipunya, wajar saja dia marah aku memang seperti menipunya karena menyembunyikan semua ini darinya". Tambah Amira lagi sembari menghapus air mata nya yang sudah menetes.
Reza hanya diam dan terus mendengarkan cerita Amira dengan seksama. Reza menatap sendu ke arah Amira dan meraih tangan Amira lalu menggenggam nya.
"Amira.. Segeralah urus perceraian mu dengan Shaka. Kalau dia tidak mencintai mu dan tidak mau menerima kamu apa adanya. Biar aku yang akan menerima kamu apa adanya. Jujur saja aku sudah mencintai mu sejak lama sejak kau masih duduk di bangku SMP. Saat kau bermain ke rumah Salsa, diam-diam aku selalu menatapmu dari jauh. Selesaikan urusan mu dengan Shaka setelah itu, aku akan menikahimu". Ucap Reza sungguh-sungguh.
Medengar itu Amira menatap sendu ke arah Reza. Dia tidak menyangka Reza yang selama ini dia anggap sebagai kakak ternyata menyimpan rasa pada nya sejak lama.
"Kak Reza.. Apa benar yang kau katakan ini?" Tanya Amira tampak bingung.
"Amira.. Kamu lupa, waktu ulang tahunku dan kita dinner di restoran ku bersama Shaka dan Kevin, saat itu sebenarnya aku mau menyatakan cinta padamu, tapi semua itu gagal karena keadaanmu yang menangis entah kenapa. Dulu aku juga sempat berencana untuk menyatakan cinta padamu tapi tiba-tiba keesokan harinya Papa dan Mama ku membawah aku ke luar negeri sehingga semua niat ku untuk menyatakan cinta padamu selalu gagal. Dan sekarang ini lah saatnya aku menyatakan cinta ku". Ucap Reza meyakinkan Amira.
Amira benar-benar bingung dengan semua ini. Di sisi lain dia memang mengagumi Reza karena sikap manis Reza, tapi di sisi lain dia juga sudah terlanjur nyaman dengan Shaka. Akhir nya Amira memutuskan untuk tidak menjawab nya dulu.
"Oh yaa aku antar kamu pulang ya". Tawar Reza sembari berdiri dan menjulurkan tangannya pada Amira.
"Tidak usah kak, kau ke kantorlah dulu kau pasti saat ini sedang sibuk, jangan sampai kamu terlambat gara-gara aku".
"Tidak apa-apa, ayo aku antar... " Belum sempat Reza menyelesaikan kalimat nya tiba-tiba ponsel nya berdering.
"Hallo ada apa?" Tanya Reza kepada sekretarisnya yang sedang menelponnya.
"Pak.. Meeting akan segera di mulai. Bapak harus segera datang karena klien sedang menunggu bapak". Jawab Sekretaris Reza dari seberang telepon.
"Baik aku ke sana sekarang". Ucap Reza sembari mematikan teleponnya.
"Amira kau tidak apa-apa pulang sendiri? Maafkan aku yaa kali ini tidak bisa mengantar mu pulang".
"Tuh kan, aku bilang juga apa. Ayo ke kantor sekarang". Perintah Amira sembari tersenyum manis ke arah Reza.
"Yah sudah aku pergi dulu yaa.. Aku akan menghubungimu nanti". Ucap Reza dengan senyum merekah.
"Bukan kah kita belum bertukar nomor sebelumnya?" Tanya Amira mulai berfikir sembari memonyongkan bibirnya.
"Belum, tapi aku akan segera mendapatkan nomor baru mu segera. Tunggu saja". Ucap Reza sembari mengedipkan sebelah matanya pada Amira.
Reza pun segera naik ke dalam mobil dan mulai menjalankan mobilnya sambil sesekali melirik Amira sejenak dengan tersenyum manis. Amira pun membalas senyuman Reza sembari melambaikan tangannya. Reza segera melajukan mobilnya dengan masih menatap Amira dari kaca spion yang masih duduk memandangi kepergiannya. Reza begitu bahagia bisa bertemu lagi dengan Amira.
__ADS_1
Sisi Lain Kediaman Rumah Reza..
Tok.. Tok.. Tok
"Iyaa sebentar". Sahut Salsa dari dalam rumah sembari berjalan menuju pintu untuk membuka pintu
Tok.. Tok.. Tok
"Duh siapa sih, gak sabaran banget. Iyaaa iyaa siapa sih.." Ucap Salsa sontak menurunkan nada suaranya ketika membuka pintu dan melihat lelaki yang ada di depannya.
Shaka Buwana... Batin Salsa.
"Maaf, apa benar kau Salsa sahabat Amira?" Tanya Shaka langsung to the point
"I.. Iyaa.. Benar maaf ada apa ya kak?" Tanya Salsa gugup. Bagaimana tidak Salsa memang tampak gugup, meskipun Shaka sahabat lama kakaknya, tapi Salsa belum pernah berpapasan langsung dengan Shaka selama ini, seorang pengusaha muda terkenal dan begitu tampan.
"Apa Amira sedang berada di sini?"
"Tidak kak, sudah seminggu ini aku tidak mendengar kabar Amira. Nomor nya pun sangat susah di hubungi aku DM berkali-kali di instagram dia sama skali tidak membalasnya". Jelas Salsa yang mulai cemas.
" Yah sudah terimakasih ya". Ucap Shaka berlalu pergi meninggalkan Salsa yang masih tampak bingung.
Amira, kamu di mana sih? Dan apa yang terjadi dengan mu? Apa kamu berantem dengan Shaka lagi? Batin Salsa yang tampak cemas.
Belum sempat Shaka menaiki mobil nya, tiba-tiba Salsa memanggil nya kembali.
"Kak Shaka.. Apa kakak sudah mengecek nya ke rumah nenek nya di Bandung?" Tanya Salsa mencoba memberitahu Shaka.
"Oh iyaa.. Terimakasih ya". Ucap Shaka lagi dengan penuh harapan masuk ke dalam mobil nya. Shaka baru ingat rumah nenek Amira di Bandung sehingga Shaka berinisiatif untuk ke sana.
Sisi Lain Kediaman Keluarga Buwana..
"Dari mana saja kau Shaka?" Ketus Emely melihat Shaka yang berjalan begitu saja melewati nya.
Shaka menghentikan langkah nya sejenak.
"Aku akan ke Bandung untuk mencari Amira di sana". Jawab Shaka tak kalah ketus.
"Untuk apa? Kenapa kau terus mencarinya? Bukan kah sampai saat ini kau sama skali tidak mencintai nya? Sudah lah lebih baik kau bertemu Yura". Ucap Emely dengan tenang sembari menyeruput teh nya.
Shaka hanya diam sembari berjalan menaiki anak tangga menuju kamar pribadi nya. Langkah Shaka terhenti ketika melewati kamar Amira, Shaka mendekati kamar Amira dan perlahan membuka gagang pintu kamar Amira. Pintu kamar sudah terbuka, Shaka melihat setiap sudut ruangan di kamar itu. Baru juga seminggu Amira meninggalkan kamar ini, kamar ini sudah seperti kuburan saja. Mata Shaka menyapu seluruh isi kamar itu.
"Tuan muda. Kenapa tidak mengetuk pintu lebih dulu?"
"Ada apa tuan muda?"
"Apa kau mau aku buatkan makanan?"
Bayangan Amira di dalam kamar itu terus teringiang. Sehingga tanpa sadar Shaka mengusap air matanya.
"Amira tunggu aku, sebentar malam aku akan menjemputmu". Ucap Shaka lirih.
Tubuh Shaka terasa penat, Shaka lantas berjalan keluar dari kamar Amira dan berjalan menuju kamar pribadinya yang berada tepat di sebelah kamar Amira.
Sesampai nya di kamar, Shaka membaringkan tubuh nya ke ranjang sembari memijit pelipis nya. Sehingga tanpa sadar Shaka terlelap dengan keadaan masih memakai baju kerja nya.
__ADS_1