
“Memangnya kita mau ke mana?” Tanya Amira yang sudah berada di dalam mobil bersama Shaka.
“Nanti juga kamu akan tau,” jawab Shaka tersenyum sembari melirik istrinya.
Amira pun semakin mengerinyitkan dahinya, dia tidak tau ke mana gerangan suaminya akan membawa dirinya kali ini.
Sejak semalam, Shaka tidak memberitahu ke mana mereka akan pergi meski Amira sudah memaksanya bertanya.
Setelah setengah jam perjalanan dan melewati pohon-pohon besar serta gedung-gedung pencakar langit, kini sampailah mereka di sebuah gedung tinggi nan besar, mata Amira di buat mendelik saat memandangi gedung yang kini ada di depan matanya.
“Kenapa kamu membawa ku ke sini? Ini tempat apa? Seperti sebuah kantor, tapi kantor siapa?” Tanya Amira mengerutkan dahinya karena memang dia tidak tau menahu tentang perusahaan keluarganya dulu.
“Ini perusahaan Wijaya, perusahaan keluarga kamu, sejak puluhan tahun yang lalu, perusahaan ini sudah berhasil di dirikan oleh kakek mu, dan di lanjutkan oleh papa Adi selaku CEO menggantikan kakek mu, namun sayang perusahaan ini di rebut oleh seorang penipu yaitu Dewa Atmadja, dulu dia dan istrinya melakukan kesalahan padamu, jadi aku menghukumnya dengan cara membuat perusahaannya bangkrut,” jelas Shaka tanpa menoleh Amira dengan mata terus memandangi gedung pencakar langit itu.
“Setelah perusahaan ini bangkrut, aku mengambil alih perusahaan ini dan mengolah keuangan yang memang sudah kacau karena pengaturan keuangan Dewa Atmadja yang buruk, aku sengaja tidak memberitahukan semua ini padamu sampai perusahaan ini kembali jaya, dan sekarang perusahaannya sudah kembali beroperasi seperti dulu, itulah sebab nya aku sudah berani membawa mu ke sini dan memperlihatkannya padamu sebagai kejutan besar,” lanjutnya.
Mendengar itu Amira sontak menutup mulutnya yang sedikit menganga, ini benar-benar menjadi kejutan besar baginya, dengan mata berkaca-kaca, rasa haru yang mendera, Amira sontak saja memeluk tubuh bidang suaminya dengan hangat, beribu-ribu ucapan terima kasih dia utarakan untuk suaminya itu.
“Hei, tidak perlu berterima kasih, membahagiakan mu adalah kewajiban ku, jadi tidak perlu berterima kasih seperti ini,” jelas Shaka melonggarkan pelukannya sembari mengusap lembut air mata yang sudah lolos membasahi pipi Amira.
“Kamu benar-benar suami yang baik dan pengertian sayang, aku sangat bersyukur memiliki mu, terima kasih sudah mewarnai hari-hariku, terima kasih sudah mencintai ku dan sudah memberikan hadiah besar ini padaku aku yakin mama dan papa akan sangat bahagia jika tau semua ini, terima ka…” Amira bahkan belum menyelesaikan ucapannya, Shaka langsung saja mencium singkat bibir Amira.
“Sudah ku bilang jangan berterima kasih,”
Amira terdiam dengan wajahnya yang memerah karena tersipu malu, jantungnya seakan berdegub begitu kencang, seolah ingin keluar dari tempatnya, meski sudah bertahun-tahun menikah, perasaan Amira dan Shaka masih tetap sama, bahkan cinta mereka seakan-akan terus menggebu-gebu, seakan tidak pernah ada matinya.
“Ya sudah, ayo kita masuk,” Shaka mengulurkan tangannya untuk menggandeng Amira.
Sesampainya di dalam, sudah banyak kariyawan yang berseliweran di kantor itu, tak lama muncul lah seorang lelaki paru baya yang di utus Shaka untuk menghandle perusahaan itu, lelaki itu sudah menjadi orang kepercayaan Shaka bahkan sangat bisa di andalkan, terbukti dari kinerjanya selama 4 tahun ini yang begitu cekatan dan juga bisa menghandle semuanya sendiri, bahkan dia juga yang sudah membantu Shaka dan Kevin mengelolah keuangan di perusahaan itu hingga stabil seperti sekarang ini.
__ADS_1
“Selamat pagi tuan, nona, senang bisa bertemu anda lagi,” sapa lelaki paru baya itu sembari membungkukkan badannya memberi hormat.
“Selamat pagi pak Andre,” jawab Shaka.
“Perkenalkan ini putri dari pak Adi Wijaya selaku CEO perusahaan ini, sekaligus istri saya,”
“Salam kenal pak Andre, senang bertemu dengan anda,” ucap Amira mengulurkan tangannya pada pak Andre.
“Saya bahkan jauh lebih senang bisa bertatap muka langsung dengan putri dari CEO perusahaan ini, saya harap pak Adi Wijaya akan segera bergabung di sini dan kembali memimpin perusahaan ini seperti dulu,” ungkap Andre membalas uluran tangan Amira, lalu kembali membungkukkan badannya dan tersenyum ramah
“Papa mertua masih di rawat rumah sakit, kami baru saja dari sana, begitu papa sembuh papa akan langsung bergabung di sini dan pak Andre akan menjadi tangan kanannya,”
“Tuan muda, maaf bila saya lancang, boleh kah saya ikut tuan dan nona untuk ke rumah sakit menjenguk tuan Adi?”
“Tentu, kami akan memperkenalkan pak Andre kepada papa dan mama mertua, juga akan memberitahu kan kejutan besar ini untuk mereka,”
“Jadi, tuan Adi belum tau tentang perkembangan perusahaan ini?” Tanya Andre antusias.
“Ya sudah saya mau melihat ruang CEO, di mana ruangannya?” Tanya Shaka kemudian.
“Oh ya tuan, nona, mari ku antar ruangannya ada di lantai 30,” ujar Andre sembari menggiring Amira dan Shaka menuju lift khusus direktur.
Sesampainya di lantai 30, mereka langsung menuju ruang CEO, melewati para kariyawan yang tercengang dengan kedatangan sang CEO Buwana Group dan juga istrinya.
“Bukan kah itu tuan muda Shaka Buwana?”
“Iya benar, ayah mertuanya adalah CEO di perusahaan ini,”
“Benarkah? Apa itu artinya istrinya adalah atasan kita? Wah luar biasa ya, ternyata istri tuan muda Shaka bukan orang sembarangan,”
__ADS_1
Mendengar bisik-bisik yang santer terdengar dari kariyawan-kariyawan itu membuat Amira sedikit gugup, namun dia tidak terlalu mempedulikannya, kini mereka sudah berada di dalam ruangan CEO, ruangan itu sudah di sulap menjadi ruangan yang modern, ruangan yang cukup luas itu cukup nyaman dengan beberapa sofa yang berjejer rapi di sudut ruangan, selain itu ruangan itu juga di lengkapi dengan dinding kaca yang menyajikan view yang begitu indah, yang jika berdiri tepat di depan dinding kaca itu, sudah terlihat pemandangan beserta gedung-gedung tinggi dari atas.
“Ruangannya bagus sekali sayang,” Amira berdecak kagum menyisir seluruh sudut ruangan yang tersaji di depan matanya saat ini.
“Kamu suka?”
“Suka sekali,” jawab Amira lalu kembali memeluk tubuh suaminya.
“Nona, mau melihat ruangan yang lain?” Ujar Andre menawarkan.
Shaka dan Amira pun sama-sama mengangguk, mereka pun keluar bersama-sama dari ruangan CEO menuju ruangan lainnya, Amira juga tak henti-hentinya berdecak kagum melihat beberapa ruangan yang ada di lantai itu, Amira sampai tidak bisa melihat semua ruangan di setiap lantai karena bisa-bisa dia tidak akan pulang sampai besok.
Setelah selesai melihat sebagian ruangan di lantai 30 itu, Shaka Amira dan juga pak Andre keluar dari gedung pencakar langit itu menuju rumah sakit, kini mereka sedang berada dalam perjalanan, namun pak Andre tidak satu mobil dengan mereka karena pak Andre akan segera pulang sehabis dari rumah sakit, jarak rumah Andre dan rumah keluarga Buwana berlawanan arah, itulah sebabnya mereka tidak bersama dalam satu mobil.
Tak butuh waktu lama, kini mobil Shaka sudah terparkir sempurna di parkiran khusus rumah sakit keluarganya dengan di susul mobil Andre dari belakang.
Mereka bertiga pun sama-sama turun dari mobil dan mulai melangkah masuk ke rumah sakit itu, dengan menaiki lift menuju lantai 3, tempat di mana papa Adi Wijaya di rawat.
Akhirnya, setelah melewati meja resepsionist, lift dan koridor rumah sakit, kini mereka bertiga sudah sampai di ruang rawat ayah Amira.
Tok…tok…tok
“Masuk,” terdengar suara Riana dari dalam.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam ruang perawatan itu secara bersamaan.
“Amira, Shaka, kalian datang lagi?” Tanya Riana dengan raut wajah berbinar, namun senyuman itu seketika hilang saat ia beralih menatap Andre, Riana mengerutkan keningnya.
“Siapa yang sedang bersama kalian sekarang? Rupanya kita sedang kedatangan tamu,” ujar Riana tersenyum.
__ADS_1
“Iya, tamu sekaligus orang yang akan menjadi tangan kanan papa di perusahaan nantinya,” jawab Shaka mencoba memberi clue.