Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 14 Menyetujui Keinginan Nenek


__ADS_3

Di suatu kamar..


Genta duduk diam sembari memandangi foto Amira di sosial media. Genta begitu merindukan Amira.


"Heii Amira.. Bagaimana kabar mu? Dan bagaimana kabar anak kita? Apakah dia baik-baik saja? Kalau aku hitung pasti sekarang usianya sudah 3 bulan ya? Aku masih sangat mencintaimu Amira tolong jangan marah padaku". Ucap Genta menyatakan perasaannya.


Genta pun mengambil ponselnya hendak menghubungi Amira, begitu telpon tersambung.


"Halloo.." Terdengar suara Amira dari seberang telpon.


Genta hanya diam tidak berani membuka suara.


"Hallo.." Ucap Amira lagi. Namun Genta tetap saja diam.


"Ini dengan siapa ya? Kenapa diam saja?" Tanya Amira.


Akhirnya Genta pun mematikan sambungan telponnya. Genta sengaja mengganti nomornya untuk menghindari Amira. Genta masih tidak berani bicara dengan Amira meskipun dia begitu rindu, rasa takutnya lebih besar dari rasa cintanya. Begitulah Genta yang sangat pengecut.


DI SISI LAIN RUMAH AMIRA


"Aneh, menelpon tapi tidak bersuara. Siapa ya?" Amira tampak berpikir penasaran.


"Ah mungkin nomor nyasar aja kali". Ucap Amira sembari meraih gelas berisi susu ibu hamil di sampingnya.


"Anakku sayang.. Kamu baik-baik ya di dalam, Mama janji Mama akan selalu membuatmu tersenyum. Mama akan memenuhi kebutuhan kamu walau pun hanya kita berdua. Maafkan Mama, Mama tidak bermaksud menjauhimu dari Papamu, Mama hanya kecewa dia sudah meninggalkan kita berdua di masa-masa sulit seperti ini, Mama tidak rela kalau sampai dia menemuimu". Ucap Amira sembari mengusap perutnya yang masih rata.


Drrrtt.. Drrrt.. Drrrt


Ponsel Amira berdering, tanda ada panggilan masuk.


Shaka Buwana?


"Hallooo.. ada apa tuan muda?" Tanya Amira dari seberang telpon.


"Kamu bersiap-siaplah nenekku ingin kamu menemuinya lagi, supirku akan menjemputmu di rumah".


"Ta.. Tapi.. " Belum selesai Amira berbicara Shaka sudah mematikan sambungan telponnya.


"Apa dia juga tidak belajar etika? Seenaknya mematikan telpon sebelum mendengar jawabanku". Ketus Amira sedikit kesal.


Amira pun mandi dan bersiap-siap untuk ke rumah Shaka lagi, Amira juga senang jika harus bertemu terus dengan Nyonya Emely Amira merasa jadi punya teman baru.


Sesampainya di rumah Shaka seperti biasa Amira dan Emely berbincang-bincang.

__ADS_1


"Amira sayang.. Berapa usia mu nak?" Tanya Emely memastikan karena dia ingin menikahkan Amira dan Shaka.


"Emmm.. Beberapa bulan lagi 18 tahun nek". Jawab Amira sembari menuangkan teh hangat di gelas Emely.


"Wah masih mudah sekali ya".


"Iyaa.. Saya baru lulus SMA". Ucap Amira tersenyum kikuk.


" Kamu sudah punya pacar?" Tanya Emely lagi.


Mendengar itu seketika Amira teringat Genta tatapannya berubah menjadi sendu. Tapi Amira segera menepisnya dan menjawab pertanyaan nyonya Emely.


"Belum nek.. Saya belum punya pacar". Jawab Amira menekan suaranya.


"Oh syukurlah". Ucap Emely tanpa sadar.


"Syukur kenapa nek?" Tanya Amira bingung.


Emely pun tersentak dengan responnya tadi lalu buru-buru dia menepisnya.


"Oh maksudnya syukur lah, karena lebih baik langsung menikah tidak usah lama-lama pacaran". Ucap Emely beralasan.


Emely belum mau menyampaikan niatnya itu kepada Amira sebelum dia mendapat informasi dari orang suruhannya untuk menyelediki Amira. Karena dia merasa seperti familiar dengan nama belakang Amira.


Setelah Amira pulang, Emely mendapat informasi tentang Amira dari orang suruhannya. Emely begitu terkejut ternyata Amira adalah cucu dari rekan bisnis suami nya dulu. Sehingga itu membuat Emely lebih mudah lagi untuk menikahkan Shaka dan Amira. Kakek Amira dan Kakek Shaka dulunya adalah sahabat dekat, begitupun dengan ayah Shaka dan Ayah Amira juga adalah sahabat sedari kecil. Emely masih ingat dia dan suaminya banyak membantu keluarga Wijaya. Mereka selalu kumpul bersama bahkan sering kali liburan bersama. Namun beberapa tahun kemudian Emely dan suaminya pindah ke luar negeri, semenjak itu mereka sudah tidak pernah bertemu. Tapi sebelum Emely mengunjungi rumah kedua orang tua Amira, Emely akan kembali membujuk Shaka dulu.


MALAM HARI DI RUMAH KEDIAMAN KELUARGA BUWANA


"Bagaimana Ka, apa kau sudah memikirkannya?" Tanya Emely di sela-sela makan malamnya bersama Shaka.


"Tentang apa nek?" Tanya Shaka sembari memotong sandwich miliknya.


"Tentang permintaan nenekmu yang sudah tua ini Ka". Ucap Emely sedikit menegaskan kalau umurnya sudah tidak lama lagi.


"Nek, mintalah apapun padaku, aku akan menurutinya tapi tidak dengan yang satu itu nek". Tegas Shaka yang masih menikmati sandwichnya.


" Tidakkah kau prihatin dengan keadaanku yang hanya sendiri di rumah sebesar ini dan hanya ditemani pelayan, bahkan di meja makan sebesar ini hanya ada kau dan aku. Tidak kah hatimu merasa sepi melihat keadaan ini Ka?" Tanya Emely lirih sambil berderai air mata.


Shaka hanya terdiam tak menjawab apapun, namun otaknya masih terus mencerna ucapan nenek nya itu. Sementara Emely melihat Shaka yang tak merespon ucapannya seketika menghentikan sarapannya dan hendak kembali ke kursi roda. Dengan susah payah Emely meraih kursi rodanya hingga akhirnya ia terjatuh dan kepalanya terbentur ke lantai.


"Nenek!!" Teriak Shaka saat melihat neneknya terjatuh.


"Nenek apa yang kau lakukan nek? Kenapa jadi begini?" Ucap Shaka panik saat menghampiri neneknya.

__ADS_1


Shaka segera mengangkat neneknya kembali ke kamar dan membaringkan Emely di ranjang lalu Shaka menelpon dokter pribadinya.


"Bagaimana keadaanya dok?" Tanya Shaka pada dokter yang baru selesai memeriksa Emely.


"Benturan di kepala nyonya besar lumayan keras, namun sepertinya tidak serius, hanya menyebabkan memar dan benjol". Jelas dokter


" Apa kau yakin hanya itu?" Tanya Shaka memastikan.


"Iyaa menurut hasil pemeriksaan saya begitu tuan muda, namun jika dalam 3 hari masih ada keluhan baru anda bisa membawahnya ke rumah sakit untuk di CT scan". Jawab dokter lagi.


"Saya sudah memberikan salep untuk menghilangkan nyeri dan memar di kepalanya, usahakan nyonya besar meminum obatnya hingga habis". Jelas dokter lagi.


" Terimakasih dokter". Ucap Shaka datar.


Shaka meletak kan obat di atas nakas. Shaka berdiri di dekat jendela dengan memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Menikmati sejenak pemandangan di balik jendela itu.


Shaka terus terbayang permintaan neneknya, sambil sesekali melihat ke arah Emely yang belum sadarkan diri. Dia kembali terbayang masa kecilnya yang ia habiskan bersama neneknya, Shaka bahkan sering memecahkan koleksi guci neneknya yang bernilai ratusan juta, namun sang nenek tidak pernah memarahinya. Semua apa yang di inginkan Shaka selalu nenek penuhi. Ingatan itu terus menari-nari di otaknya.


Tak lama terdengar suara lirih dari Emely.


"Nenek.. Apa nenek sudah sadar?" Tanya Shaka langsung menghampiri neneknya.


"Kenapa kau masih di sini?" Tanya nenek pada shaka.


"Aku menunggui nenek dan aku mau menemani nenek di sini". Ucap Shaka yang duduk di tepi ranjang Emely.


" Pergilah ke kamarmu. Bukankah kau memang selalu meninggalkan ku sendirian di rumah ini bersama pelayan?" Sindir Emely kepada Shaka.


Mendengar sindiran pedas yang di lemparkan sang nenek, Shaka menghela nafas panjang.


"Baiklaha nek.. Katakan apa yang bisa aku lakukan?" Tanya Shaka mencoba membujuk neneknya.


Mendengar cucunya mencoba bernegosiasi Emely pun ingin memanfaatkan situasi agar kemauannya bisa di penuhi oleh cucunya itu.


"Baiklah aku akan merasa lebih baik kalau kau menyetujui keinginan ku untuk kau menikahi Amira".


Mendengar permintaan neneknya Shaka pun terperanjat dan mengusap wajahnya.


"Nek haruskah itu?" Keluh Shaka sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.


"Hanya itu yang akan membuatku bisa berdamai denganmu". Ucap Emely lagi lalu berbaring membelakangi Shaka sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Baiklah aku mau menikahinya". Jawab Shaka lesuh kemudian kembali mengacak-acak rambutnya. Lalu Shaka keluar dari kamar neneknya dengan wajah yang terlihat bingung.

__ADS_1


Shaka pun memilih masuk ke ruang kerjanya untuk menenagkan diri. Dia kembali mempertimbangkan permintaan neneknya yang menurutnya sangat tidak masuk akal. Sambil kembali mengingat masa kecilnya bersama sang nenek.


__ADS_2