Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 83 Masalah yang Kembali Menerpa


__ADS_3

Di foto itu terlihat, Amira tengah merangkul Marsel dan berjalan memasuki loby hotel, ada juga foto yang menampilkan Amira yang sedang melakukan check in di meja resepsionis, dan ada pula foto yang menunjukan Amira mulai menaiki lift menuju kamar mereka.


Shaka yang melihat gelagat aneh Kevin mulai penasaran, dan merampas foto itu dari tangan Kevin begitu saja.


Sama hal nya dengan Kevin, Shaka tampak begitu terkejut dan lebih syok lagi melihat foto itu, wajah Amira terpampang nyata di foto itu hingga membuat Shaka membulatkan matanya.


“Apa-apaan ini?” Shaka pun menghempas kasar foto itu di dada Kevin.


“Kau mengedit foto itu? Kau sungguh ingin merusak nama baik istriku ha?” Shaka kembali mencengkram kerah kemeja Marsel dengan tatapannya yang sudah menyalah kobaran kemarahan.


“Hahahaha, kau harus terima kenyataan, lihat tanggal yang ada di foto itu, tanggalnya persis seperti tanggal di mana kau dan dia bertengkar hebat dan dia menginap di rumah Reza,” ucap Marsel.


Shaka pun kini dibuat kembali emosi, ia pun langsung memukuli Marsel lagi hingga berkali-kali, menyadari wajah Marsel sudah berlumur darah membuat Kevin mulai menghentikan amukan Shaka.


“Ka, Ka, aku mohon tenangkan dirimu, lihatlah dia hampir mati,” ucap Kevin yang berusaha menahan Shaka.


“Oh ya, tubuh istrimu sangat mulus, setiap lekukkan di tubuh polosnya membuat aku ingin melakukannya lagi dan lagi, karena hasrat ku padanya yang terkendali hahaha,”


“Lelaki brengsek!” Shaka kembali ingin menyerangnya namun Kevin menahannya.


“Ka, jangan terpancing dengannya, ku rasa dia ingin membuat mu emosi untuk mengalihkan masalah ini,” ucap Kevin.


Shaka pun terdiam, dia merampas lagi foto-foto itu dan langsung pergi begitu saja dengan membawa wajahnya yang begitu mengerikan.


Shaka mengemudikan dengan cepat mobilnya menuju hotel yang tertera tulisannya di foto itu, dengan langkah cepat dia memasuki loby hotel itu, dan langsung di sambut oleh Manajer hotel yang kebetulan saat itu sedang terduduk di loby hotel itu.

__ADS_1


“Tuan muda, hal penting apa yang membawamu datang kemari?” Tanya sang Manajer hotel yang langsung berdiri menyambut Shaka dan berjabat tangan dengannya.


“Begini Fir, aku ingin meminta bantuanmu, aku ingin melihat cctv hotel ini,” tanya Shaka yang mencoba bersikap tenang.


“Tentu bisa tuan muda,”


“Baiklah aku ingin melihat rekaman di tanggal dan di jam ini,” ucap Shaka sembari menujukan tulisan kecil yang ada di bawa foto itu namun ia menutupi foto itu dan hanya memperlihatkan tulisan tanggalnya saja.


“Baiklah tuan muda, ayo ikut,”


Sang Manajer pun langsung berjalan cepat menuju ruang kontrol.


“Tolong kalian buka rekaman cctv yang ada di tanggal dan jam ini,” ucap sang Manajer pada pegawai yang bertugas mengawasi kamera pengintai itu.


“Baik pak,” dengan cepat pegawai hotel itu mengotak ngatik komputer yang berada di depan mereka.


Deggg…


Jantung Shaka mulai berdetak hebat, rekaman cctv tidak mungkin bohong, dan tidak mungkin bisa di edit, begitulah yang ada dalam pikirannya.


“Coba perbesar ini,” ucap Shaka sembari menunjuk sebuah rekaman yang berada di meja resepsionis.


Disitu juga terlihat Amira lah yang menandatangi data dan membayar biaya check in di hotel itu.


Merasa belum puas, Shaka ingin melihat rekaman yang menunjukkan Amira berjalan memasuki kamar mereka, dan benar di situ terlihat Amira dan Marsel berjalan menyusui koridor yang ada di hotel itu hingga akhirnya mereka masuk ke dalam salah satu kamar.

__ADS_1


“Bisa kah tunjukkan cctv yang berada di dalam kamar itu?” Shaka terlihat semakin tegang.


“Mohon maaf tuan muda, kami tidak bisa memperlihatkan rekaman cctv yang berada di dalam kamar, itu sudah melanggar privasi tamu, tuan muda juga memiliki hotel bintang lima kan? Tentu tuan muda juga tau bahwa privasi dan kenyamanan tamu adalah nomor satu, tentu tuan muda mengerti akan hal itu, kami mohon maaf tuan muda, selain polisi, kami tidak bisa mengakses rekaman cctv untuk di kamar tamu tuan muda,” ucap sang Manajer.


Shaka pun menarik nafas dalam-dalam untuk kembali tenang, di tengah hati dan pikirannya yang sedang berkecamuk.


“Baiklah tidak masalah, segitu saja sudah cukup untuk membuktikan, terima kasih dan ini bonus untukmu, aku pergi sekarang,” ucap Shaka datar sembari memberi uang tips untuk pegawai pengintai kamera cctv itu.


Kini amarah Shaka semakin tak terkendali, dia begitu tak menyangka istri yang begitu ia cintai tega mengkhianatinya, dia pun melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi menuju rumah nya, kini emosinya sudah semakin berkobar, seolah sekarang sedang ada belati yang sukses menghunus jantungnya.


“Kenapa kau tega melakukan hal itu Amira? Di saat aku sudah memberikan seluruh isi hatiku untukmu, namun kenapa kau melakukan hal serendah itu dengan lelaki bajingan itu, kenapa kau harus merasa kurang denganku? Meski pun saat itu kita belum saling mencintai namun kau sudah terikat pernikahan denganku, aku tidak pernah melirik wanita lain semenjak menikahimu, tapi kenapa kau tega melakukan hal menjijikkan itu?” Celetuk Shaka dalam hati.


“Tidak, aku sungguh tidak bisa menerima ini Amira, aku begitu setia padamu, aku tidak terima jika dalam pernikahan kita adalah lelaki lain yang berani menyentuhmu dan menidurimu,” teriak Shaka sembari memukul-mukul setir kemudi nya.


Tak lama mobil yang dikemudikan Shaka tiba di kediamannya, Shaka langsung turun dan menutup begitu kasar pintu mobilnya.


Ia berjalan cepat menapaki anak tangga, dengan menatap tajam ke arah pintu kamarnya yang saat itu tertutup, tanpa mengetuk, Shaka langsung saja membuka kasar pintu kamarnya, saat itu Amira tengah terduduk termenung di kursi kamarnya.


Amira saat itu tengah menatap langit malam yang penuh bintang-bintang, membuat perasaannya sedikit tenang saat itu.


Namun Shaka yang pikiran dan batinnya sudah dikuasai amarah yang memuncak, dengan langkah panjang ia pun langsung menghampiri Amira dan menghempas kasar foto-foto yang di bawahnya di atas nakas di depan tempat Amira duduk.


“Apa maksud dari semua ini?” Bentak Shaka menatap tajam ke arah Amira.


Hal itu tentu sontak mengundang kaget bagi Amira, ia langsung tersentak dari lamunannya lalu melirik ke foto itu, mata Amira kemudian ikut membulat saat melihat foto-foto itu, dia tampak bingung dan tidak mengerti.

__ADS_1


“Ini kan pada saat aku membawa Marsel ke hotel kenapa ada yang memotonya?” Celetuk Amira pelan sembari melihat satu persatu foto-foto itu.


“Jadi kalian juga sudah saling mengenal rupanya ya?” Tanya Shaka mendengus dan semakin yakin dengan ucapan Marsel.


__ADS_2