
Setelah melihat Amira keluar dari toilet, tanpa pikir panjang Marsel langsung mencengkram kuat lengan Amira hingga membuat Amira meringis.
“Kau mau apa?” Tanya Amira yang mulai gemetaran dengan air mata yang sudah mengalir deras dari pipinya.
“Aku mau kamu sayang,” ucap Marsel sembari menatap Amira dari ujung rambut hingga ujung kaki, saat ini Marsel sudah tak tahan lagi, dia ingin berusaha mencoba menyentuh Amira meski dia tau Amira sedang hamil, dia sudah tidak mempedulikan hal itu lagi.
“Jangan macam-macam padaku Marsel, aku sama sekali tidak menyangka kau ternyata adalah orang suruhan Dewa, baru sekarang aku punya kesempatan untuk membicarakan ini padamu” ucap Amir lirih.
Marsel pun sejenak terdiam sembari mendengus.
“Aku sungguh tulus menolong mu saat itu, namun aku tidak menyangka ketulusan ku kau balas seperti ini,”
“Memangnya kenapa ha? Selain menangis kau bisa apa sekarang? Hahahah, apa kau ingin mengadukan ku pada suamimu? Hahaha, dia bahkan lebih percaya ucapanku dari pada kau,” jawab Marsel sembari memancarkan senyuman sinisnya.
“Dasar kau lelaki brengsek, tidak punya hati! Kau hampir saja membunuhku!” Ketus Amira yang jadi tak terkendali ia mulai melepaskan cengkraman tangan Marsel lalu kemudian memukul-mukul tubuh Marsel.
“Heh hentikan wanita bodoh!” Bentak Marsel sembari menahan lebih kuat lagi tangan Amira.
“Beraninya kau!” Marsel semakin menajamkan tatapannya pada Amira dan lebih menguatkan cengkramannya pada lengan Amira.
“Sekarang kau tak berdaya melakukan apapun,” Marsel mulai memancarkan senyuman bengisnya.
Amira pun semakin menangis, air matanya semakin jatuh bercucuran membasahi pipinya, perlahan Marsel mulai membelai lembut mulus Amira hingga menuju lengannya yang terbuka.
“Lepaskan aku!” Bentak Amira sembari menolak kasar tubuh Marsel agar menjauh darinya.
*Paaakkk*
Sebuah tamparan keras dari Amira, melayang ke sebelah pipi Marsel.
“Aku tidak sudi di sentuh olehmu!” Ketus Amira sembari menatap tajam ke Marsel, kemudian melangkah pergi dengan membawa serta air matanya.
Namun ternyata Marsel tak membiarkan Amira pergi begitu saja, ia menarik lengan Amira dan langsung ingin mencium bibir Amira.
“Aagghhh, lepaskan aku!” Teriak Amira sembari berusaha menolak-nolak tubuh Marsel agar menjauh darinya.
“Ayolah, percuma kau masih berlagak sok suci begini, karena suamimu sendiri sudah berfikir kalau kita sudah pernah tidur bersama, jadi lebih baik kita sungguh melakukannya saja, aku yakin bisa membuatmu puas,” ucap Marsel yang berusaha ingin kembali menciumi Amira.
“Tidak, tolooonng!” teriak Amira yang semakin mengeraskan suaranya.
Genta yang masih berada di sana, sontak mendengar suara teriakan, ia mulai mengerinyitkan dahinya.
“Ada apa itu?”
Genta pun dengan cepat melangkah menuju toilet.
Begitu sampai di toilet, Genta pun saat itu langsung membulatkan matanya, Genta melangkah dengan cepat menuju tempat di mana Marsel mencoba melecehkan Amira, dengan sorot mata yang begitu tajam seperti elang.
“Lepaskan aku, toloonngg!” Terdengar suara teriakan dari Amira lagi.
Marsel masih berusaha ingin menciumi area leher Amira, membuat mata Genta semakin membulat sempurna hingga seakan mengobarkan api kemarahan.
“Lepaskan dia bangsat!!” Bentak Genta yang langsung menjambak rambut Marsel dari belakang.
“Dasar bajingan!!” Bentak Genta yang kemudian langsung meninju pipi Marsel.
Akhirnya Marsel pun jatuh tersungkur ke lantai, Amira yang ketakutan pun langsung menjauh dari Marsel, tubuh Amira begitu gemetaran hingga membuatnya tersandar lemas di pojok toilet itu.
Sementara Genta terlihat terus menghajar Marsel, dengan menendang keras tubuhnya yang sudah terbaring di lantai.
__ADS_1
“Dasar lancang! Beraninya kau menyentuh nya!” Bentak Genta semakin meninggikan suaranya.
Mendengar kegaduhan itu, Dewa Atmadja pun langsung menuju ke arah sumber suara, dan kegaduhan itu ternyata berasal dari toilet, sehingga tanpa pikir panjang Dewa langsung berjalan cepat menuju toilet.
“Ada apa ini?” Tanya Dewa begitu sampai di toilet.
“Lihat anak buah kesayangnmu ini, tadi kau menjamin keselamatan Amira jika aku tidak ikut campur, tapi ini apa yang terjadi, si brengsek ini dengan lancangnya mau mencobs memperkosa Amira,” bentak Genta menatap tajam ke arah Dewa.
“Bajingan!” Dewa pun juga ikut menendang keras tubuh Marsel yang terkulai lemah di lantai.
“Uhuk, uhuukk, kenapa jadi begitu marah? Kenapa memukulku karena gadis itu?” Tanya Marsel yang mencoba untuk bangkit.
Terlihat darah segar yang kembali mengalir dari sudut bibir Marsel.
“Apa kak Dewa lupa dengan misi kita? Lalu kenapa membelanya?” Akhirnya Marsel bangkit, ia kembali berdiri sembari mengusap darah di ujung bibirnya.
“Jangan melewati batasanmu Marsel! Tidak ada yang boleh kau lakukan tanpa perintah dariku!” Bentak Dewa lagi.
“Uhuukl, uhuukk, aku hanya ingin mencicipinya saja, apa itu tidak boleh?”
“Diam kau brengsek! Jangan sekali-kali kau berharap bisa mencicipinya, seujung kuku pun kau takkan ku biarkan menyentuhnya lagi! Sekarang pergi dari sini!” Teriak Genta dengan meninggikan suaranya, seolah terdengar seperti gemuruh yang memekakkan telinga.
Marsel pun terdiam sembari memandangi wajah Genta, Dewa dan Amira bergantian, dengan perasaannya yang cukup terheran-heran.
“Tunggu apa lagi? Pergi kataku! Sebelum aku menghabisimu!” Bentak Genta lagi.
Marsel sembari memegangi perutnya yang sakit akibat tendangan keras dari Genta dan Dewa, pergi meninggalkan mereka, di depan pintu toilet sudah banyak orang-orang yang menonton, mereka begitu di buat tercengang saat melihat Dewa memukuli Marsel, yang padahal sudah menjadi orang kepercayaannya.
Kemudian Dewa melirik tajam ke arah pintu toilet, menyadari banyaknya pasang mata yang berkerumun untuk menonton aksinya barusan, membuat Dewa kembali murka.
“Apa yang kalian lihat? Bubar!!” Suara Dewa menggema hingga spontan membuat orang-orang itu lari mencicing ketakutan.
“Ayo,” akhirnya Genta menarik lembut tangan Amira dan membawanya keluar dari toilet meninggalkan Dewa yang masih diam mematung dengan tatapan tajamnya.
Dewa memang sengaja melakukan hal itu untuk memenuhi janjinya pada anaknya, kalau Amira akan baik-baik saja agar supaya Genta tidak membawah Amira pergi diam-diam dari Cassino.
Genta dan Amira menaiki lift menuju lantai 3, Genta terus diam namun dengan sorot mata yang masih begitu tajam, Amira pun terus menunduk dan ikut terdiam.
*Tinngg*
Bunyi lift yang menandakan mereka telah sampai ke lantai 3.
Genta menarik lembut tangan Amira menuju kamarnya, begitu masuk ke kamar Genta mendudukkan Amira ke atas ranjangnya.
“Apa ada yang terluka?” Tanya Genta sembari berdiri di hadapan Amira.
Amira pun menggeleng sembari terus menunduk.
Genta pun kini duduk di atas ranjang di samping Amira.
“Sudah ku duga, kau tidak akan baik-baik saja di sini, kalau aku tidak ada di sini, mungkin Marsel sudah berhasil melakukan itu padamu,” ujar Genta sembari menatap lurus ke depan.
“Tapi tadi ayahmu juga ikut menolongku, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan ku, setelah kejadian tadi pasti ayahmu tidak akan membiarkan Marsel berbuat lancang lagi padaku,” ucap Amira menatap sendu ke arah Genta.
“Tapi aku tidak yakin Amira, ayahku datang setelah mendengar kegaduhan yang telah ku buat tadi di toilet, kalau tidak, pasti dia tidak tau sama sekali,” Ucap Genta yang kini beralih menatap Amira.
Amira hanya terdiam menatap Genta yang matanya mulai berkaca-kaca.
Tak lama Genta memasukkan tangannya ke dalam saku celananya, untuk mengambil sesuatu.
__ADS_1
“Begini saja, kau pegang dan gunakanlah ponselku ini, kalau terjadi apa-apa, segera hubungi aku,” Genta menyerahkan sebuah ponsel miliknya pada Amira.
“Tapi aku takut kalau sampai ayahmu tau,” Amira mencoba menolak pemberian Genta.
“Dan lagi pula ini kan ponselmu, bagaimana aku bisa menghubungimu kalau ponselmu saja ada padaku,” Tambah Amira lagi.
“Kau tenanglah, aku masih punya 1 ponsel lagi di rumah, jadi kau bisa menghubungiku lewat nomorku yang ada di kontak itu,”
“Terima kasih banyak Genta, kali ini kau banyak membantuku,” ucap Amira lirih.
“Sesuai janjiku, aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu,” ujar Genta sembari tersenyum manis.
“Ya sudah aku pulang dulu, kau jaga diri baik-baik dan jangan lupa hubungi aku jika terjadi sesuatu,” Genta pun bediri untuk pamit sembari mengusap ujung kepala Amira.
Keesokan harinya…
Akhirnya Shaka memutuskan untuk kembali masuk kantor setelah beberapa hari batang hidungnya tak pernah kelihatan.
Shaka memaksa masuk kantor karena mengingat banyak sekali pekerjaan yang ia tinggalkan.
Dengan membawa wajah dinginnya, ia terus berjalan melewati para pegawai kantor utama tanpa mempedulikan mereka semua, meski saat itu mereka sedang memandangi ke arahnya yang saat itu nampak begitu kacau.
Shaka pun menghempas kasar tas kerjanya di atas meja, rambut yang biasanya tersisir begitu rapi, kini nampak begitu berantakan, bukan hanya itu, kini Shaka lebih sering melamun seperti ayam yang sedang sakit hingga membuatnya jadi begitu sulit untuk konsentrasi dalam hal pekerjaan.
Semangat Shaka seakan lenyap bersama dengan hilangnya Amira, tak ada senyuman, tak ada lagi hati yang berbunga-bunga, yang terlihat saat ini hanyalah raut wajah masam dan kaku, yang tersisa hanyalah rasa penyesalan dan hati yang begitu kalut.
Tak lama Kevin pun masuk ke dalam ruangan Shaka saat ia tau akhirnya Shaka mau masuk kantor setelah mendapat paksaan darinya dan nenek.
“Ah Ka, syukur lah kau mau masuk kantor hari ini, ada banyak meeting penting untuk mendiskusikan beberapa proyek baru yang harus di bangun,” ucap Kevin sembari menghampiri meja kerja Shaka.
“Bagaiamana? Apa ada kabar terkini tentang istriku?” Tanya Shaka yang terlihat lesu tanpa melirik Kevin sedikit pun.
“Maaf Ka, kalau soal itu sepertinya belum memiliki titik terang, begitu juga dengan Marsel yang keberadaannya tak bisa di lacak lagi semenjak dia berhasil kabur,” jelas Kevin dengan wajah yang begitu tegang.
*Braaakk*
“Sudah hampir seminggu lamanya aku menunggu hasil kerja kalian, namun hingga sekarang masih saja nihil! Apa kalian sudah bosan bekerja denganku?!” Bentak Shaka sembari bangkit dari duduknya dan menggebrek meja begitu keras dengan kedua tangannya.
Sejenak hal itu sontak membuat Kevin terperanjat karena kaget, namun karena Kevin sudah begitu paham bagaiman sifat Shaka, membuat nyalinya sama sekali tak menciut apalagi merasa takut.
Kevin pun mulai menatap lekat ke arah Shaka sembari memberi pengertian pada sahabat sekaligus atasannya itu.
“Ka tolong tenangkan dirimu, kau begitu mengandalkan emosi saat kehilangan Amira hingga menutupi nalar dan logikamu sendiri, tolong berfikir jernih lah sedikit, musuh mu akan bersorak gembira jika melihat keadaanmu yang kacau seperti ini,” jelas Kevin dengan tenang.
Shaka pun terdiam, dia kembali terduduk lesu sembari mengusap kasar wajahnya.
“Kau tenang saja, cepat atau lambat aku yakin Amira pasti akan di temukan, apa kau lupa, hal seperti ini pernah terjadi padamu saat kehilangan Amira tempo lalu?”
“Kali ini berbeda! Dulu Amira pergi ke rumah orang tuanya jadi aku bisa sedikit lebih tenang walau pun hatiku sangat merindukannya dan tidak bisa jauh darinya, tapi sekarang aku tidak tau dia ada di mana!” Bentak Shaka lagi.
“Aku takut jika dia kini sedang di culik oleh orang yang tempo hari telah menabraknya dan menyebarkan berita miring itu, yang aku sendiri tidak tau siapa dalang dari semua kekacauan yang menimpah keluargaku itu,” tambah Shaka lagi.
“Akhirnya kau benar-benar menyesal sekarang, setelah kau dengan teganya mengusir Amira dari rumahmu sendiri di malam yang sudah sangat larut, kau sadar, kau lah penyebab utama hilangnya istri mu, sekarang akibat kau yang tidak bisa mengendalikan emosi mu yang meledak-ledak seperti ini,” ketus Kevin.
Lagi-lagi ucapan Kevin membuat Shaka terdiam seribu bahasa, karena ia begitu menyadari, apa yang di ucapkan Kevin semuanya benar adanya.
“Ka, kau tidak bisa begini terus! Kau harus merubah sifat emosional mu itu Ka, itu sangat tidak bagus untuk kehidupan mu di masa yang akan datang, bahkan 1000 Amira pun akan pergi meninggalkan mu jika kau memiliki sifat seperti itu,” tambah Kevin lagi.
Setelah mencerna ucapan Kevin akhirnya Shaka pun mau menerima masukan dari Kevin, ia menarik nafas beberapa kali untuk membuatnya lebih tenang, Kevin pun mengajaknya ke ruang meeting untuk membahas beberapa proyek yang mereka bangun segera.
__ADS_1