
Selesai makan malam, Emely, Shaka dan Amira duduk bersantai di ruang keluarga sembari meminum teh.
"Shaka, apa kalian suka dengan hiasan kamar yang aku siapkan?" Tanya Emely kepada Shaka
Shaka pun tampak bingung, dia sama skali tidak tahu menahu soal hiasan kamar yang di tanyakan neneknya itu karena kamar mereka terpisah. Dia lantas menatap Amira dengan raut wajah yang tampak bingung. Amira yang seolah mengerti dengan tatapan Shaka pun akhirnya buka suara.
"Iyaa nek, aku suka skali apalagi bunga mawar merah yang ada di bathub mereka sangat segar seperti baru di petik". Jawab Amira yang sangat bersemangat.
"Oh hahaha dia sangat suka nek, bahkan dia menghabiskan waktu untuk berendam di sana, saking nyamannya dia sampai ketiduran di bathub untung aku membangungkannya". Tambah Shaka untuk lebih meyakinkan neneknya. Amira yang mendengar perkataan Shaka yang sangat mengada-ada itu pun sontak saja menatap Shaka sembari menyipitkan matanya kesal.
"Hahaha kau begitu polos nak... Syukurlah kalau kamu suka, aku sangat senang. Lalu kamu Shaka! Kamu harus belajar bersikap lembut terhadap Amira, Amira itu skarang istri kamu, aku tidak mau lagi mendengar kamu membentak Amira seperti tadi" Ucap Emely menegaskan.
"Iyaa nek".
Gadis ini, belum juga 24 jam dia tinggal di rumah ini, dia sudah berhasil merebut hati nenekku, apa sekarang aku sudah bukan cucunya lagi?" Celetuk Shaka dalam hati sembari menyeruput tehnya.
Waktu menunjukan jam setengah 11 malam..
"Nek.. Sekarang sudah larut malam, nenek tidurlah dulu". Ucap Shaka setelah selesai menghabiskan tehnya.
"Oh iya nek, lebih baik nenek istirahat, biar ku antar ke kamar ya". Ucap Amira sembari berdiri dari duduknya dan langsung mendorong kursi roda Emely.
"Sekarang waktunya nenek beristirahat". Ucap Amira tersenyum setelah selesai membaringkan tubuh Emely.
" Amira.. Terimakasih ya kamu sudah mau menuruti permintaanku, aku yakin cepat atau lambat Shaka pasti akan berubah dan bisa menerima sebagai istrinya". Ucap Emely sembari meraih tangan Amira.
"Iyaa nek, aku juga sangat berterimakasih karena nenek sudah berbesar hati mau menerimaku dengan keadaanku seperti ini". Ucap Amira lirih lalu menundukan kepalanya.
" Kamu gadis yang baik kamu pantas bahagia aku beruntung bisa punya cucu mantu sepertimu". Ucap Emely kemudian mengusap tangan Amira.
"Yah sudah aku mau tidur dulu, kau pergilah ke kamarmu suami mu sudah menunggu". Tambah Emely kemudian memejamkan matanya.
Amira pun menyelimuti Emely, kemudian mematikan lampu kamar dan keluar dengan menutup pintu kamar Emely. Amira melihat ruang keluarga sudah kosong begitupun dengan gelas-gelas bekas minum mereka sudah tidak ada di meja. Lalu ia segera menaiki tangga untuk masuk ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Amira membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bayangan Amira akan perpisahan mereka nanti seketika membuat Amira bersedih, dia teringat wajah nenek Emely dan orang tuanya yang kecewa ketika melihat mereka berpisah. Amira sebenarnya cukup legah ketika Shaka menikahinya itu artinya anaknya bisa merasakan sosok seorang ayah, tapi mengingat pernikahan mereka yang hanya sandiwara membuat Amira berpikir bahwa tidak mungkin Shaka mau menjadi Ayah dari anaknya ini. Amira langsung menepis harapannya itu dan kembali terpikir akan orang tuanya. Amira menyetujui pernikahan ini karena permintaan nenek Emely. Wanita yang baru saja dia kenal namun sangat menyayanginya. Hal itulah yang membuat Amira tidak sampai hati menolak permintaan sang nenek. Setelah terlarut dalam pikirannta akhirnya Amira pun terlelap.
__ADS_1
Keesokan harinya..
Waktu menunjukan pukul 05.00 pagi, Amira bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan Shaka. Walaupun pernikahan mereka hanya sandiwara, Amira tetap akan bersikap baik terhadap Shaka layaknya seorang istri dan akan melayani Shaka serta menyiapkan segala keperluannya seperti istri pada umumnya. Setelah membersihkan diri, Amira keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni tangga menuju dapur untuk memasak. Sesampainya di dapur Amira mulai mengambil pisau untuk memotong bumbu rempah, tak lupa pula Amira mengambil kuali dan sendok penggorengan dan meletakannya di atas kompor.
Sementara Santi pelayan wanita di rumah Buwana sontak saja terkejut ketika melihat Amira sedang memasak.
"Nona muda, nona sedang apa?" Tanya Santi tampak gugup
"Aku sedang memasak sarapan untuk Shaka dan nenek". Jawab Amira santai.
"Tidak usa nona, nanti tuan dan nyonya besar marah, kalau melihat saya membiarkan nona memasak". Ucap Santi tampak takut.
" Tidak apa-apa Santi, lebih baik kamu kerjakan saja pekerjaan yang lain ini juga sudah hampir selesai kok". Ucap Amira lalu dengan perlahan mendorong pelan tubuh santi untuk pergi meninggalkannya sendiri.
Selesai menghidangkan sarapan di atas meja, Amira berinisiatif untuk membangunkan Shaka di kamar pribadinya. Amira lalu berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Shaka.
Sesampai nya di pintu kamar Shaka, Amira meraih gagang pintu kamar Shaka lalu membukanya perlahan, setelah pintu terbuka Amira dan Shaka terkejut, Amira sontak saja mengalihkan pandangannya dari Shaka. Amira begitu terkejut ternyata Shaka sudah bangun dan sedang ganti baju. Shaka dengan sigap meraih celana di dekatnya dan memakainya.
"Heii.. Apa kamu tidak belajar tata krama? Beranj-beraninya kau masuk ke kamar pribadiku tanpa seizinku". Bentak Shaka dengan meninggikan suaranya.
"Kamu tau, saya tidak suka dengan orang yang masuk sembarangan ke kamarku tanpa seizinku, untuk apa kamu ke sini?" Tanya Shaka dengan meninggikan suaranya.
"Ma.. Maaf tuan, saya baru selesai menyiapkan sarapan untuk tuan dan nenek lalu saya berinisiatif untuk memanggil tuan di kamar, saya hanya ingin menjalani tugas saya sebagai istri tuan, karena setahun lagi kita akan berpisah jadi saya ingin meninggalkan kesan yang baik di rumah ini". Jawab Amira gugup, dan masih menundukan pandangannya.
"Jadi, kamu mau menjadi istri yang baik untukku?" Tanya Shaka, seketika tatapan tajamnya memudar namun masih tetap sama dinginnya.
"Iyaa tuan.. Saya ingin menjadi istri yang baik untuk anda, saya ingin melayani anda dengan menyiapkan sarapan saat anda pergi bekerja dan mengurus segala keperluan anda tuan". Ucap Amira menjelaskan.
"Dan kamu ingin melayaniku?" Tanya Shaka dengan senyum menyeringai senyuman yang menurut Amira menyeramkan.
"Kenapa diam? Kamu ingin melayaniku kan? Kamu ingin menjadi istri yang sesungguhnya?" Tanya Shaka yang mulai mendekati Amira.
"Apa maksudmu?"
Shaka mendorong Amira mendekati ranjang dan masih dengan senyum seringainya ia memutar kunci perlahan. Ia pun menghempas kasar tubuh Amira hingga membuatnya terbaring di ranjang.
__ADS_1
"Aww" Amira refleks berteriak ketika tubuhnya terhempas di ranjang itu.
Amira dengan wajah ketakutan hanya bisa meringis kesakitan sembari memegangi pergelangan tangannya yang sakit akibat cengkraman tangan Shaka. Sementara Shaka yang kini berdiri di hadapan Amira dengan tatapan yang sudah sangat berapi-api.
"Ada apa denganmu? Kenapa selalu berbuat kasar padaku?" Tanya Amira lirih.
"Apa? Berbuat kasar katamu? Kini akan ku tunjukan yang lebih kasar lagi" Shaka pun mulai mendekati tubuh Amira dan mulai mencengkram kedua pipi Amira dengan tangan kokohnya.
"Shaka, tolong lepaskan aku". Ucap Amira lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kamu yang memaksaku untuk melakukan ini" Bisik Shaka dengan suara yang menyeramkan.
Kemudian Shaka pun mulai melahap bibir Amira dengan kasar, Amira pun sontak ingin memberontak namun Shaka dengan sigap mengikat kedua tangan mungil Amira dengan satu tangannya.
Amira mencoba berteriak namun Shaka terus-terusan mengunci mulut Amira dengan bibirnya. Kini air mata Amira yang sejak tadi tertahan mulai berjatuhan membasahi pipinya. Sementara Shaka sama skali tak mempedulikan hal itu, kemudian bibirnya pun langsung berpindah pada leher indah Amira. Shaka terus mengusap kasar seluruh area leher Amira dan dengan sengaja dia menghisap dengan kuat leher Amira hingga meninggalkan tanda-tanda merah di lehernya.
"Shaka lepaskan aku" Teriak Amira yang akhirnya mendorong kasar tubuh Shaka.
Hal itu membuat Shaka terdorong dan menghentikan aksi kasarnya. Amira mendorong kembali tubuh Shaka dan dengan bersimbah air mata Amira pun berlari menuju pintu namun lagi-lagi usahanya gagal karena Shaka dengan cepat kembali menahan tubuhnya.
"Mau ke mana kau? Bukan kah kau ingin menunjukan bahwa kau akan menjadi istri yang baik untukku?" Ucap Shaka lagi sembari menarik tangan Amira.
Shaka kembali menciumi kasar bibir Amira, ia pun mendorong tubuh Amira dan mendorong tubuh Amira hingga membuatnya setengah berbaring di atas ranjangnya.
"Shaka lepaskan aku! Lepaskan aku!" Amira memberontak hingga membuat ranjang Shaka yang tadinya rapi kini jadi sangat berantakan. Kini Shaka telah dikuasai oleh amarah dan gairah Ia sama skali tak menghiraukan Amira yang saat ini tengah memberontak. Alih-alih melepaskan Amira kini dia ingin membuka baju Amira secara paksa, saking kasar dan tak sabarnya, ia pun langsung merobek baju Amira dari bagian atas. Hal ini membuat bagian dada Amira yang tertutup bra terlihat sempurna. Hal itu sontak membuat Amira histeris karena dia teringat perbuatannya dengan Genta yang sampai sekarang masih membuatnya trauma. Dia tidak mau mengulang kesalahan itu lagi, terlebih dengan orang yang tidak mencintainya. Amira semakin berteriak dan menggerakan tubuh dan tangannya.
Saat itu kedua tangan Amira di kunci oleh kedua tangan Shaka, hingga membuatnya tidak bisa menolak tubuh bidang Shaka. Shaka pun membuka paksa bra Amira hingga bagian dadanya terekspos nyata. Lalu Shaka dengan bibirnya terus mengusap kasar bagian dada Amira. Kini tangan Shaka sudah sampai di perut dan semakin ke bawah, mencari kancing celana bahan Amira. Namun Amira tidak putus asa dan justru semakin menggebu-gebu menunjukan kemarahannya, Amira berusaha menghentikan tangan Shaka namun gagal Shaka berhasil membuka dan menurunkan hingga sebatas paha.
Amira kemudian berusaha menghentikan aksinya dengan menarik rambutnya keras. Berhasil. Shaka melepas ciumannya. Mereka saling menatap, kini kilat gairah telah mengurung Shaka yang masih berada di atas tubuh Amira.
"Kau benar-benar keterlaluan, berani-beraninya kau melecehkanku!!" Teriak Amira melepas cengkraman tangan Shaka sembari mendorong tubuhnya sekuat tenaga.
Amira pun bangkit meraih selimut dan menutup tubuhnya yang terbuka karena ulah Shaka.
Sejenak Shaka pun terdiam. Dia hanya emosi Amira melanggar peraturan di rumah ini dengan memasuki kamar pribadinya. Dia hanya ingin memberi pelajaran kepada Amira dengan menghukumnya seperti itu. Agar Amira berhenti melakukan hal-hal yang membuat Shaka muak.
__ADS_1