
Di sisi lain kediaman Genta
Genta tengah menonton acara televisi yang menampilkan Amira dan Shaka yang sedang berada di acara peresmian hotel Buwana Group milik mereka.
Tak cukup sampai di situ, Genta juga menyaksikan pengumuman Shaka yang menyatakan kalau Amira adalah istrinya, melihat semua itu Genta sontak mengepalkan tangannya.
Genta masih begitu cemburu dan sakit hati melihat kemesraan Amira dan pria lain, bagaimanapun Genta masih sangat mengharapkan Amira.
Sementara di sisi lain, Safa melihat Genta yang tengah terbakar cemburu saat melihat acara televisi yang menampilkan Amira.
“Bahkan sampai detik ini kamu masih begitu mencitai Amira, aku sungguh tidak terima Genta, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan hatimu termasuk jika itu harus dengan mencelakai Amira,” batin Safa sembari mengepal erat tangannya seakan tak kapok-kapoknya mengganggu Amira.
Rupanya ancaman Shaka tempo hari tidak menghentikan Safa untuk terus mengganggu Amira, padahal Amira sudah tidak bersama Genta lagi, namun Safa masih tetap benci dan cemburu padanya karena begitulah sifat Safa yang dari dulu selalu iri dan dengki terhadap semua keberuntungan Amira.
Sisi lain kediaman Reza
Kini hubungan Yura dan Reza semakin dekat, Yura dan Reza selalu bertemu, mereka sudah saling membuka hati dan mencoba melakukan pendekatan.
Seperti saat ini, Yura berkunjung ke rumah Reza untuk menemui Queen, tak hanya dekat dengan Salsa adik Reza, kini Yura juga sangat dekat dengan Queen.
“Haii aunty Yura,” sapa Salsa pada Yura yang tengah menggendong Queen di ruang tengah.
Kini Queen sudah semakin besar, usianya kini sudah menginjak 5 bulan, sekarang Queen sudah bisa duduk dalam waktu yang lama, sudah mulai bisa memegang mainannya sendiri, sudah bisa mengoceh dengan mulai menyatukan suara konsonan dan vocal dan masih banyak lagi.
Kini bayi itu sudah semakin pintar membuat setiap orang yang melihatnya semakin gemas saja.
Melihat Queen, Yura langsung mengulurkan tangannya untuk menggendong Queen dari dekapan Salsa.
Yura dan Queen terlihat begitu dekat, Yura juga terlihat begitu nyaman menggendong Queen.
Tanpa Yura sadari, Reza berdiri di belakang Salsa dan Yura hatinya menghangat melihat perhatian Yura kepada Queen.
Tak lama kemudian Reza perlahan berjalan menghampiri mereka.
__ADS_1
“Sepertinya dia mulai suka denganmu Yura,” pungkas Reza dan seketika membuat Yura berbalik arah menatap Reza yang sedang berjalan mendekatinya.
Yura menatap lekat ke arah Reza sembari tersenyum manis, yura kini merasa bersyukur melihat lelaki yang dulu ia cintai kini sudah mau membuka hati untuknya.
Meskipun Yura sempat kecewa dengan penolakan Reza dulu, namun kini Yura sudah merasa bahagia karena Reza selalu bersikap manis padanya.
“Sepertinya kalian berdua cocok menjadi ibu dan ayah untuk Queen,” celetuk Salsa mengagetkan Yura dan Reza yang saling bertatap-tatapan.
“Ah Salsa kau bisa saja, lagi pula mana mungkin kakakmu ini mau menjadikan aku sebagai istrinya,” ucap Yura secara gamblang.
“Bisa saja kok,” ungkap Reza tiba-tiba.
Mendengar hal itu Yura semakin tersipu malu, pernyataan Reza sukses membuat pipinya memerah.
Sisi lain kediaman Buwana
Setelah selesai mengadakan acara peresmian cabang Buwana Group, kini Shaka, Amira, nenek Emely dan kedua orang tua Amira tengah duduk di meja makan menyantap hidangan yang sudah disediakan, di atas meja.
“Sama-sama Adi, mama sangat senang melihat kamu dan Riana datang berkunjung ke sini dan makan bersama kami,” ucap Emely dengan senyuman.
Waktu sudah menunjukan pukul 19.30 malam, kini Amira, Shaka dan yang lainnya sudah selesai makan, mereka langsung beranjak menuju ruang keluarga untuk berbincang-bincang.
Di dalam ruang keluarga mereka berbincang-bincang tentang banyak hal, termasuk diantaranya membahas mengenai resepsi pernikahan Shaka dan Amira.
“Resepsi pernikahan?” Tanya Amira sedikit heran, karena sebenarnya dia belum siap akan hal itu, dia belum siap untuk kembali di potret banyak orang dan menjadi pusat perhatian seperti tadi, Amira masih begitu canggung dan tidak terbiasa.
“Iya kalian harus melangsungkan resepsi pernikahan, sudah saatnya kalian mempublikasikan hubungan kalian, untuk apa di tutup-tutupi lagi,” saran Emely kepada Amira dan Shaka.
“Iya sayang aku juga setuju, kita akan segera melangsungkan resepsi pernikahan, aku ingin melihat kamu di potret dengan senyum manis di hari pernikahan kita, tidak seperti saat kita menikah pertama kali, wajahmu di foto semuanya terlihat sedih dan merengut,” canda Shaka menggoda Amira.
Mama, Papa dan Nenek Emely sontak tertawa mendengar candaan Shaka tersebut.
“Awas saja kamu ya, kamu paling bisa bikin aku malu,” bisik Amira sembari mencubit perut Shaka.
__ADS_1
“Ah sayang jangan mencubit aku begitu, kamu bikin si junior bangun saja,” celetuk Shaka dengan senyum jailnya.
“Apa-apaan ini, masa dicubit saja bikin dia bangun, aneh kamu,” bisik Amira lagi.
Shaka pun tersenyum dan merangkul Amira di dalam dekapannya.
Setelah selesai membahas tentang resepsi pernikahan Amira dan Shaka, kini mereka memutuskan jadwal pelaksaannya akan dilaksanakan 1 minggu ke depan.
Waktu sudah menunjukan pukul 22.00 malam, Mama dan Papa Amira pun pamit pulang.
Nenek Emely sudah masuk ke kamar diikuti oleh Amira dan Shaka yang juga mulai masuk ke kamar mereka.
Sesampainya di kamar Amira membersihkan diri, dan mengganti pakaiannya dengan kimono berwarna hitam, Amira terlihat seksi dengan kimono yang ia kenakan.
Kemudian Amira duduk di meja rias untuk memakai skincare sedangkan Shaka duduk berselonjor di atas ranjang sembari menatap Amira.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Amira berjalan menuju ranjang untuk segera tidur, begitu naik ke atas ranjang untuk tidur tiba-tiba Shaka langsung menariknya dan menjatuhkan ke dalam dekapannya.
“Kenapa harus tidur duluan si, aku kan masih mau bermain-main denganmu,” gumam Shaka dengan mencium singkat bibir Amira.
“Shaka aku capek,” keluh Amira mulai melepaskan pelukan Shaka.
“Ayolah plis,” Shaka memelas dengan tangannya yang sudah berjalajah memasuki area sensitif Amira, sehingga tanpa aba-aba Shaka langsung saja melahap bibir Amira dan mematikan lampu, kini mereka tengah melakukan pertempuran sengit untuk memenuhi hasrat mereka yang menggebu-gebu.
Kini waktu sudah menunjukan pukul 07.00, sinar mentari pun menyapa dan menembus tirai jendela kamar mereka.
Shaka dan Amira terlihat masih tertidur lelap dengan saling memeluk di balik selimut tanpa sehelai benang pun.
Tak lama Shaka terbangun lebih dulu, Shaka menatap Amira yang kini tengah berada di dalam dekapannya.
Shaka membelai lembut rambut Amira yang sedikit menghalangi wajahnya, lalu kemudian mengecup kening Amira dengan lembut.
“I love you istriku sayang,” bisik Shaka sembari menatap wajah cantik istrinya yang walau pun tanpa polesan make up masih tetap terlihat cantik.
__ADS_1