Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 44 Rencana Jahat Windy


__ADS_3

Tak lama Kevin pun datang bersama pacarnya, dan langsung berdiri di tengah-tengah mereka.


"Hei, kenapa kalian saling bertatapan seperti itu? Seperti 2 sejoli yang sedang kasmaran saja". Ucap Kevin sembari memandang Shaka dan Reza secara bergantian.


Tak lama mereka pun mengalihkan pandangan mereka ke arah Kevin.


"Kevin? Jadi ini pacar baru mu?" Tanya Reza tersenyum.


"Iya, bagaimana denganmu? Apa kau hanya datang sendiri?" Tanya Kevin seperti mengejek.


"Kali ini aku tidak datang sendiri".


"Benarkah? Kau datang bersama siapa?" Tanya Kevin sembari melirik kesana kemari.


Tak lama Amira dan Yura pun datang dan beragabung bersama mereka, dengan Yura langsung menggandeng lengan Shaka dan Amira berdiri di samping Reza. Melihat itu, Kevin sontak terperangah dengan mulut menganga.


Pertunjukkan apa ini? Tanya Kevin dalam hati dengan wajah yang masih tercengang.


"Kevin kau baik-baik saja kan?" Tanya Yura sembari menepuk pelan pundak Kevin dan membuyarkan lamunan Kevin.


"Seperti pasangan yang tertukar". Gumam Kevin sembari melihat ke arah Shaka dan Amira secara bergantian.


"Kevin, kau bilang apa?" Tanya Yura lagi.


"Ah aku hanya mengatakan kalau akhirnya kita semua sudah punya pasangan". Jawab Kevin sembari tersenyum kikuk dan melirik ke arah Shaka.


Tak lama Tuan Handika pun datang, dan meminta Yura untuk memulai acaranya. Yura pun memulai acara dengan potong kue terlebih dahulu. Yura mengajak semuanya mendekati meja yang di atasnya sudah ada bolu tart yang tinggi dan mewah. Yura memberikan potongan pertama kuenya pada ayahnya dan yang ke dua tentu saja untuk Shaka. Hal itu di sambut dengan tepukan tangan yang sangat meriah dari para undangan.


Melihat itu Amira hanya diam dan tersenyum tipis.


"Are you oke?" Tanya Reza memastikan apakah Amira cemburu atau tidak.


"Iya, aku baik-baik saja". Jawab Amira sembari tersenyum.


Sementara dari kejauhan Windy mengamati Amira yang sedang berdiri dan berbincang-bincang dengan Reza. Windy datang ke pesta itu bersama teman lelakinya yang juga di undang Yura di pesta itu. Awalnya Windy tidak melihat keberadaan Amira, sampai akhirnya dia tidak sengaja melihat Amira tengah menikmati minuman di pesta itu bersama Yura. Melihat keberadaan Amira, Windy langsung menghubungi Safa, dan Safa pun menyuruh Windy untuk mengerjai Amira dan mempermalukannya di pesta itu.


Kini Windy tengah memikirkan ide yang bagus untuk mengerjai Amira, setelah berfikir sejenak Windy menemukan idenya sembari melihat ke arah lelaki yang tengah berdiri di area pesta itu sembari memandangi Amira.


Sepertinya lelaki itu tertarik dengan Amira. Batin Windy sembari tersenyum sinis dan berjalan mendekati pria itu.


"Hai, ku perhatikan sepertinya kau terus melihat ke arah gadis itu. Apa kau menyukainya?" Tanya Windy sembari menunjuk ke arah Amira menggunakan gelas yang di pegangnya.


Pria itu menatap Windy dan mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Siapa kamu?" Tanya lelaki itu memicingkan matanya.


"Kenalkan, aku Windy, aku teman dari wanita itu". Jawab Windy sembari mengulurkan tangannya.


"Bernarkah?" Tanya lelaki itu sembari membalas uluran tangan Windy.


"Iya, kalau kau mau, aku bisa membuatnya menemui mu". Ucap Windy mencoba meyakinkan.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya lelaki itu penasaran.


"Kau harus melakukan sesuatu agar dia mau menemuimu, coba kau lihat siapa yang ada di sampingnya dia tidak mungkin menemuimu dengan mudah sementara dia sedang bersama kekasihnya," ucap Windy dengan senyum liciknya.


"Lalu aku harus melakukan apa?"


"Ikut denganku," Windy berjalan dengan diikuti pria itu.


Amira dan Reza tengah duduk berbincang ringan, tak lama Amira pamit ke toilet. Amira berjalan menuju toilet dan melewati pria yang sedang berbicara dengan Windy tadi. Tak lama Amira keluar lagi dan langkahnya langsung di cegat oleh pria itu.


"Maaf tuan, saya mau lewat". Ucap Amira.


"Kau mau ke mana manis?" Goda pria itu kepada Amira sembari mencolek dagu Amira.


Amira segera menepis tangan Pria itu dengan kasar.


"Lepaskan!! Jangan kurang ajar" Tegas Amira mencoba melepaskan cengkeraman tangan pria itu.


"Ayo!!" Pria itu langsung menarik kasar tangan Amira dan membawanya ke tempat sepi.


Pria itu menarik Amira ke sudut toilet. Pria itu mencengkeram kuat tangan Amira karena Amira berusaha memberontak.


"Minum ini!!" Pria itu memaksa Amira untuk meminumnya.


Pria itu mencekoki Amira dengan wine yang sudah di campur dengan obat perangsang. Amira sudah tidak mampu lagi menolak saat wine itu sudah masuk ke dalam mulutnya. Sementara Shaka yang sedang masuk ke dalam toilet sontak terkejut melihat seorang wanita sedang di paksa minum oleh seorang lelaki. Shaka pun mendekat ke arah pria dan wanita itu, untuk mencoba menolong wanita itu. Sesampainya di dekat pria dan wanita itu, Shaka sontak membulatkan matanya saat melihat ternyata wanita itu adalah Amira.


"Lepaskan aku," Ucap Amira yang tidak putus asa untuk melawan.


"Dasar berengsek!! Menyingkir darinya!!" Bentak Shaka menarik rambut pria itu dengan kasar membuat pria itu langsung jatuh terpental ke belakang.


"Sial, siapa kau?" Ucap pria itu mencoba bangkit.


"Jadi kau tidak tau siapa aku? Baiklah mari kita berkenalan," Ketus Shaka sembari menarik kasar kerah pria itu dan meninju wajah pria itu hingga pria itu jatuh lagi ke lantai.


Melihat wajah Shaka dengan jelas, pria itu sontak terkejut dan ketakutan karena itu adalah Shaka Buwana sang penguasa di bidang bisnis. Akhirnya, pria itu memilih berdiri dan lari begitu saja dari hadapan Shaka dengan wajah ketakutan.

__ADS_1


"Pergi, dan jangan tunjukkan lagi tampangmu". Bentak Shaka.


Tak lama Reza dan Kevin pun datang. Melihat keadaan Amira, Reza langsung menghampiri Amira dan membantunya berdiri. Melihat itu, Shaka semakin tersulut emosi dan mendorong kasar tubuh Reza yang mencoba menyelamatkan Amira.


Shaka pun langsung membantu Amira berdiri. Ia membuka jasnya dan menutupi baju Amira yang sudah basah akibat tumpahan wine. Sementara Reza hanya terdiam melihat Shaka membantu Amira. Shaka langsung menggendong tubuh Amira, dan berjalan cepat melewati para tamu. Sementara Kevin yang melihat itu sontak terperangah melihat Shaka berani menggendong Amira di depan banyak orang. Shaka sudah tidak peduli lagi berapa banyak pasang mata yang sedang memandangi mereka. Shaka dengan tatapan tajam ke depan terus membawa Amira ke mobilnya.


Sesampai nya di mobil Shaka langsung membuka pintu mobil dan mendudukkan Amira di kursi depan sebelah kursinya. Shaka bergegas, masuk ke dalam mobil dan langsung mengemudikannya. Di perjalanan, Amira mulai menunjukkan gelagat aneh. Shaka yang melihat itu langsung melajukan mobilnya, kini waktu baru menunjukkan pukul 19.45 malam itu artinya ulang tahun Yura masih panjang namun Shaka sudah tidak mempedulikan hal itu lagi. Amira semakin menunjukkan keanehan, melihat itu Shaka menghubungi Kevin dan bertanya apa yang di campurkan pria itu ke dalam minuman Amira.


"Halo, Shaka ada apa?" Tanya Kevin.


"Vin, tolong kau cari tau apa yang sudah di campurkan pria itu ke minuman Amira". Perintah Shaka kepada Kevin.


"Aku menemukan bungkusan obat perangsang di lantai Ka," Jawab Kevin kemudian.


"Apa? Sial!!" Umpat Shaka sembari memukul setir mobilnya.


"Sepertinya mereka sengaja mencampur itu agar Amira dengan sukarela dapat memuaskan nafsu mereka," Ucap Kevin lagi.


"Dasar berengsek!!" Shaka menggeram.


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya?" Tanya Shaka lagi.


"Kau harus membantunya untuk melayani nafsunya,"


"Apa?"


"Saat ini Amira tengah kesulitan menahan gairahnya, karena pria itu mencampur 1 bungkus penuh obat perangsang itu,"


"Lalu aku harus bagaimana selain melayani nafsunya?" Shaka tidak mau memanfaatkan situasi dengan meniduri Amira dalam keadaan seperti ini, karena pasti Amira akan sangat marah.


"Kalau tidak, kau rendam saja dia di air dingin. Itu akan lumayan membantu," Ucap Kevin memberi saran.


"Baiklah," Ucap Shaka langsung mematikan teleponnya.


Shaka kembali melajukan mobilnya, namun dia kembali terkejut saat Amira mulai membuka 1 kancing bajunya. Shaka langsung menahan tangan Amira agar tidak melanjutkan aksinya itu.


"Sabarlah, kita akan segera sampai," Ucap Shaka menahan tangan Amira.


"Gerah," Amira mengeluh dan sudah mulai gelisah.


"Sabarlah sedikit,"


"Tolong aku, aku sangat gerah," Ucap Amira semakin gelisah.

__ADS_1


Shaka semakin melajukan mobilnya dan sampailah ia di depan lobby rumahnya. Shaka bergegas turun dari mobil, dan membuka pintu mobil Amira lalu menggendongnya masuk ke dalam rumah.


__ADS_2