
Shaka mengebutkan mobilnya menuju rumah Yura, saat menuju ke sana, ia pun singgah ke toko bunga dan membeli mawar putih untuk Yura. Shaka berjalan dengan cepat menuju kamar Yura . Akhirnya dengan nafas yang kembali terengah, ia pun berhenti ketika dia sudah berdiri di depan pintu kamar Yura. Shaka kembali mengatur nafasnya lalu perlahan ia pun mulai membuka pintu kamar itu dan mendapati Yura yang sedang terbaring.
"Shaka." Ucap Yura pelan dengan tatapan berbinar.
Shaka pun berjalan pelan memasuki kamar itu, dia berdiri tegak memandangi Yura yang masih tampak pucat.
"Nampaknya kau masih sakit." Ucap Shaka tersenyum tipis, sembari meletakkan bunga yang ia bawa ke atas nakas.
Shaka pun duduk di kursi samping ranjang Yura dan Yura hanya tersenyum simpul sembari terus memandangi Shaka.
"Ka, kemarilah." Ucap Yura yang terus tersenyum.
"Kemana?" Shaka terlihat bingung.
"Kemarilah, mendekat padaku." Ucap Yura sembari berusaha untuk duduk.
Shaka yang masih bingung pun berdiri dan mendekati Yura, Yura memandangi Shaka sejenak dan langsung saja memeluk Shaka dengan sangat erat. Hal itu sontak membuat mata Shaka membulat, Shaka pun terpaku tanpa membalas pelukan Yura.
"Kenapa kau jahat sekali Ka?" Tanya Yura dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Yura." Shaka mencoba melepaskan pelukan mereka.
"Biarkan seperti ini dulu Ka. Aku ingin memelukmu." Ucap Yura yang malah semakin mengeratkan pelukannya.
Shaka pun kembali terdiam dan perlahan mulai mengusap rambut Yura dengan tatapan kosong.
"Ka aku janji akan memperbaiki semuanya." Ucap Yura lirih.
Mendengar itu Shaka sontak mengerutkan dahinya, ia pun perlahan melepaskan tautan tubuh mereka sembari terus menatap Yura.
"Ka, aku tidak mau berpisah darimu lagi, pokoknya mulai sekarang tetaplah di sisiku dan teruslah jadi malaikat pelindungku, kau mengerti?" Ucap Yura yang kemudian tersenyum manis pada Shaka.
"Maksud kamu apa? Apa sakitmu semakin parah sehingga membuatmu bicara ngelantur begini?" Ucap Shaka tak mau menanggapi serius ucapan Yura.
"Shaka, aku sedang berbicara serius." Ucap Yura yang nampak kesal.
Yura melipat kedua tangannya sembari memanyunkan bibirnya. Shaka yang melihat itu tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yah sudah aku pergi kalau kau masih marah seperti ini." Ucap Shaka sembari beranjak dari duduknya.
Yura pun dengan cepat menarik peregelangan tangan Shaka dan memasang wajah sedih.
__ADS_1
"Apa kau akan pergi meninggalkanku?" Tanya Yura.
Shaka pun tersenyum dan kembali duduk di kursi.
"Wah kau membawakan ku bunga." Sembari meraih buket bunga mawar putih yang di letakkan Shaka di atas nakas.
"Indah sekali." Ucap Yura dengan wajah berbinar sembari mencium singkat bunga itu.
"Tapi kenapa kau membawakan ku mawar putih?" Tanya Yura lagi sembari mengerinyitkan dahinya.
"Kenapa begitu mempermasalahkan warnanya?"
"Karena setiap warna dari mawar itu melambangkan arti yang berbeda-beda." Jawab Yura.
"Entahlah namun yang ku tau mawar putih itu melambangkan persahabatan yang suci." Ucap Shaka sembari tersenyum.
Mendengar hal itu membuat Yura memutar bola matanya.
"Tidak usah bersandiwara lagi aku sudah tau semuanya, aku tau kalau sampai saat ini kau masih menyimpan cinta untukku setelah kita putus bertahun-tahun lamanya." Ucap Yura tersenyum sembari meletakkan bunga itu di tempat semula.
Mendengar hal itu sontak membuat Shaka cukup terkejut, ternyata Yura masih salah paham dengan perasaannya yang sebenarnya.
"Dan kenapa kau tidak memberiku mawar merah" Tanya Yura lembut sembari meraih tangan Shaka.
Seharusnya aku bahagia saat dia sudah mau kembali padaku seperti ini. Tapi entah kenapa sampai saat ini perasaanku padanya sudah hilang tak berbekas. Gumam Shaka dalam hati.
"Ka mulai hari ini, aku akan kembali padamu aku janji aku akan memperbaiki hatimu yang pernah hancur karenaku." Ucap Yura lagi.
Yura melepaskan pelukannya dan memandang Shaka dengan wajah berbinar sementara Shaka hanya diam saja sembari tersenyum kikuk.
"Oh ya Ka, ada yang ingin aku bicarakan." Tambah Yura lagi.
"Apa?"
"Sebenarnya ini menyangkut permintaanku tempo hari yang belum sempat aku minta padamu."
"Yura ada urusan yang harus aku selesaikan." Ucap Shaka mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Apa kau akan pergi sekarang?" Tanya Yura sembari mengerinyitkan dahinya.
Shaka pun hanya mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah aku tidak akan melarang jika menyangkut soal pekerjaan. Aku janji, aku tidak akan menjadi pasangan yang posesif." Jawab Yura tersenyum.
"Pasangan?" Tanya Shaka pelan.
"Ah jangan terlalu kaku begitu, yah sudah sekarang kau pergilah, yang penting aku sudah melihatmu hari ini."
Shaka pun hanya tersenyum kikuk, tak lama Shaka meninggalkan Yura. Dengan perasaan bingung, ia pun terus melangkah dengan tatapan kosong.
Shaka melajukan mobilnya sembari terus memikirkan perkataan Yura tadi, Shaka tidak mau memberikan harapan lebih karena Shaka saat ini sudah tidak ingin lagi bersama Yura, hatinya sudah tertambat pada Amira.
Aku benar-benar bingung dengan sikap Yura yang datang dan pergi dalam hidupku sesuka hatinya. Dia bahkan tidak menyadari kalau sekarang aku benar-benar sudah melupakannya. Gumam Shaka dalam hati sembari terus fokus mengemudi.
Begitu dia sembuh nanti, aku akan jujur padanya mengenai pernikahanku dengan Amira agar kesalah pahaman ini tidak akan berlanjut. Gumam Shaka lagi.
Shaka langsung mengebutkan mobilnya menuju rumah. Setelah sampai Shaka langsung ke kamar menemui Amira ketika Shaka membuka kamar ia mendapati Amira tengah tertidur di atas ranjang dengan wajah yang tertutup selimut. Shaka berjalan mendekati ranjang di mana Amira tengah terbaring. Shaka duduk di tepi ranjang dan perlahan membuka selimut yang menutupi wajahnya namun Amira langsung menepis tangan Shaka dan kembali menutup wajahnya dengan selimut.
Melihat hal itu, Shaka mengerinyitkan dahinya melihat tingkah Amira.
"Amira kamu kenapa?" Tanya Shaka tampak bingung.
Amira pun tidak menjawab dia hanya diam dan malah berbalik membelakangi Shaka. Tak putus asa Shaka berbaring di samping Amira dan memeluknya dari belakang namun Amira malah melepaskan pelukan Shaka dan beranjak dari ranjang namun ketika hendak berdiri Shaka tiba-tiba saja menarik tangan Amira dan menjatuhkan Amira dalam pelukannya. Melihat hal itu, sontak Amira membulatkan matanya terkejut dengan Shaka yang tiba-tiba saja memeluknya.
"Lepaskan aku." Ucap Amira sembari berusaha melepaskan diri, namun Shaka malah lebih mengeratkan pelukannya.
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau bicara apa yang membuat mu terus menolak saat ku sentuh."
"Kau pergi saja ke rumah wanita itu, dan peluklah dia sesuka hatimu!!" Ketus Amira menatap tajam ke arah Shaka.
Mendengar hal itu, Shaka pun tersenyum dan tampak tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Nampaknya Amira cemburu dan mengetahui dia pergi menemui Yura.
"Apa kau sedang cemburu?" Tanya Shaka sumringah sembari terus memandangi Amira yang terlihat kesal dan kini tengah menatap tajam ke arahnya.
"Apa kau gila? Mana mungkin aku cemburu!!" Ketus Amira tampak sedikit gelagapan.
"Kau pikir aku tidak tau melihat gelagat orang cemburu dan tidak. Kau tau? Saat ini kau terlihat sangat cemburu. Itu artinya kau pun sudah mencintaiku tapi masih gengsi untuk mengakuinya iya kan?" Shaka terus menggoda Amira.
Amira melepaskan pelukan Shaka padanya dan berdiri sembari menatap Shaka dengan tatapan membunuh.
"Aku tegaskan sekali lagi, aku sama sekali tidak cemburu." Ucap Amira pelan namun penuh penekanan.
Melihat hal itu Shaka hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala. Shaka pun bangun dan ikut berdiri di hadapan Amira.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kalau kau masih gengsi untuk mengakuinya, yang penting aku sudah tau kalau ternyata kau juga sudah mencintaiku dan itu terlihat jelas dari tingkahmu sekarang." Ucap Shaka tersenyum sembari mencubit pelan pipi Amira dan berlalu meninggalkan Amira yang tengah berdiri dan masih terus menatap Shaka dengan tatapan tajam.