Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 107 Usaha Shaka Meraih Maaf Amira


__ADS_3

Mendengar bisikan itu seketika Amira membelakakan matanya, bayangan Shaka yang pernah meragukannya bahkan sampai mengusirnya kembali terbayang di benaknya, Amira pun langsung tersentak, dan seketika langsung menjauh sembari mencoba menutupi punggungnya yang terbuka dengan tangannya sendiri.


“Hentikan Shaka, jangan karena aku sering menggandeng mu selama di pesta tadi, kau bisa melakukan itu padaku,” ketus Amira menatap tajam ke arah Shaka.


Shaka pun kini terdiam dengan sikap Amira yang cepat kembali berubah.


“Hingga kini aku belum bisa melupakan semuanya, kata-katamu yang sempat meragukan ku bahkan tega mengusirku masih terngiang-ngiang jelas di telingaku, jangan kau pikir setelah aku menggandeng mu sepanjang pesta tadi, aku sudah memaafkan mu, tidak sama sekali,” tegas Amira.


“Lalu apa maksudmu menggandeng ku sepanjang pesta? Aku bahkan tidak memaksa mu melakukan itu,” tanya Shaka.


“Aku melakukan itu hanya karena ingin menjaga nama baik-baikmu di depan rekan-rekan bisnis mu, itu saja, tidak lebih,”


“Jadi begitu? Itu sama saja dengan kau masih mempedulikan ku, iya kan? Karena jika kamu membenciku, kamu akan memilih untuk mempermalukan ku di depan banyak orang, terutama rekan-rekan bisnisku, agar kau puas sudah bisa membalaskan sakit hatimu,”


Amira pun kembali terdiam sejenak.


“Kenapa kamu tidak melakukan itu? Kenapa kamu tidak memilih untuk mempermalukan ku saja? Kenapa kamu malah memilih menjaga nama baikku? Itu artinya kamu masih menganggap ku suami mu kan? Kamu masih mencintaiku kan?” Tanya Shaka sembari meraih kedua tangannya sembari kembali mendekat dan meraih kedua tangan Amira.


Amira di buat semakin gugup, ia pun tertunduk sembari melirik kesana kemari untuk mencari sebuah alasan yang tepat, namun dalam situasi seperti itu, ia malah merasa terpojok hingga ia tak bisa berkata apapun lagi.


“Aku mau ganti baju di toilet,” Amira pun menepis tangan Shaka dan masuk ke toilet begitu saja untuk mengalihkan pembicaraan yang membuat ia merasa terpojokkan.


“Kamu hanya diam tandanya kamu masih mencintaiku, kamu hanya tidak mengatakan yang sebenarnya karena kamu gengsi, kau hanya gengsi Amira,” gumam Shaka dalam hati sembari tersenyum.


Tak lama Amira keluar dari toilet dengan sudah memakai kimono satin, make up nya pun sudah tersapu bersih dari wajahnya hingga menyisakan wajah naturalnya saja.


Saat itu Shaka sedang duduk berselonjor di atas ranjang, matanya tak lekang memandangi Amira yang keluar dari toilet.


Amira yang menyadari itu hanya diam dan acuh, ia pun berbaring membelakangi Shaka dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Melihat hal itu Shaka hanya tersenyum dan ia pun ikut berbaring.


“Kamu mau tidur sekarang sayang?” Tanya Shaka dengan pelan.


Namun sama sekali tak di gubris oleh Amira, ia memilih diam dan memjamkan matanya.


Shaka tidak menyerah, malam itu ia memberanikan diri mendekati Amira dan memeluknya dari belakang sembari menciumi pundak Amira lagi.

__ADS_1


“Aku mohon jangan marah padaku seperti ini sayang, keadaan seperti ini sungguh membuatku tidak tahan,” bisik Shaka begitu lirih.


Mata Amira yang awalnya terpejam sontak membulat, ia pun menepis tangan Shaka yang melingkar di pinggangnya.


“Jangan ganggu aku, aku mau tidur,” ucap Amira datar dan kembali memejamkan matanya berharap agar Shaka tak mengganggunya lagi.


Namun nampaknya Shaka tidak peduli dengan peringatan Amira, ia justru kembali melingkarkan tangannya di pinggang Amira, bahkan sesekali tangan Shaka mulai liar menjalar menuju paha istrinya.


“Sayang aku mohon jangan seperti ini, mau sampai kapan seperti ini terus? Aku mohon maafkan aku,” ucap Shaka sembari menciumi tengkuk hingga leher Amira.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Amira kembali di buat menggeliat, bulu kuduknya pun di buat berdiri dengan keadaan detak jantungnya yang tak beraturan.


“Hentikan Shaka Buwana,” ucap Amira mulai menepis tangan Shaka yang jadi begitu liar.


“Tolong maafkan aku Amira, aku janji akan selalu mempercayaimu, jika aku kembali melakukannya kau boleh pergi dari hidupku selamanya,” bisik Shaka lagi kemudian tangannya mulai menurunkan lengan kimono Amira sehingga menampakkan pundak Amira yang jadi terlihat jelas.


Shaka dengan lembut kembali menciumi pundak Amira yang sudah terbuka, tangannya pun dengan liar ingin menuju ke arah gundukan daging milik Amira, nafas Amira terengah-engah, ingin sekali ia pasrah dan membiarkan Shaka berbuat sesukanya, namun kenapa bayang-bayang pertengakaran hebat mereka kembali terbayang di benak Amira, bayang-bayang Shaka yang meragukannya, memfitnahnya dan mengusirnya membuat nafsu Amira buyar.


“Stop Shaka Buwana, aku mohon stop,” ucap Amira lagi.


Saat itu Shaka tidak menggubris ucapan Amira dan masih saja sibuk sendiri dengan aksinya, hingga akhirnya membuat Amira semakin meradang dan menepis kasar tangan Shaka kemudian bangkit dari tidurnya.


Shaka pun sontak terkejut, dengan nafas terengah-engah Shaka pun kembali di buat tercengang dan bingung, karena ia fikir semua masalah akan berakhir malam ini, apa lagi melihat Amira yang awalnya seolah menikmati aksinya.


Tanpa berkata apapun lagi, Amira meraih bantal dan selimutnya, lalu ia pun beranjak keluar begitu saja dari kamar.


Shaka yang melihat Amira keluar dari kamar pun langsung mengejar Amira.


“Hei, kamu mau ke mana?” Tanya Shaka langsung menghentikan langkah Amira.


“Minggir, aku mau tidur di kamar lamaku,” jawab Amira sembari menepis tangan Shaka yang menahan tangannya.


Namun pintu kamar itu tidak bisa di buka karena terkunci, Shaka memang sengaja mengunci kamar itu beberapa hari yang lalu agar Amira tidak pindah ke kamar itu lagi.


“Kenapa di kunci?” Tanya Amira sembari menajamkan tatapannya pada Shaka.


“Agar kamu tidak bisa pindah di kamar ini lagi, agar kamu hanya bisa tidur dengan ku terus menerus,” jawab Shaka pelan sembari kembali menarik tangan Amira.

__ADS_1


“Baiklah aku masih bisa tidur di sofa,” ketus Amira yang langsung beralih ke ruang TV yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


“Amira, sungguh sudah sebenci inikah kamu pada diriku?” Tanya Shaka yang kembali menghentikan langkah Amira.


“Apa pintu maafmu sudah tertutup untukku? Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku yang malang ini?” Tanya Shaka dengan begitu lirih.


“Tidak mudah bagiku memaafkan kesalahan yang sudah berulang-ulang dilakukan,” jawab Amira datar.


“Begitukah? Sebegitu tidak sudihnya kamu untuk ku sentuh sehingga memilih untuk tidur di sofa?” Tanya Shaka lagi.


“Anggap saja begitu,” jawab Amira dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Mendengar jawaban dari Amira sontak membuat hati Shaka seakan teriris, rasanya begitu perih saat mengetahui Amira yang sudah tidak ingin di sentuh olehnya.


“Baiklah kalau kamu sudah tidak ingin lagi ku sentuh, aku tidak akan memakasamu untuk melakukan hal semacam itu, baiklah jika kamu tidak mau memaafkan aku, ini memang murni kesalahanku, sangat aku akui itu, dan aku mencoba mengerti kenapa kamu bersikap seperti ini, tidak apa mungkin kamu butuh waktu lebih lama lagi,” Shaka pun tersenyum lirih menahan rasa sakitnya, dan mencoba bersikap biasa saja di depan Amira.


Kemudian perlahan ia melangkah mendekati Amira, lalu tiba-tiba langsung menggendongnya begitu saja dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar.


Amira pun di buat terkejut melihat Shaka tanpa permisi menggendong tubuhnya begitu saja.


“Lepaskan! Lepaskan aku Shaka Buwana!” Teriak Amira sembari memukul-mukul dada bidang Shaka.


Shaka terus diam, ia terus melangkah menuju ranjang dan membaringkan Amira dengan pelan disana.


“Kamu tidak perlu menyiksa diri dengan tidur di sofa, kamu tidurlah dengan nyaman di sini, biar aku yang tidur di sofa,” Shaka pun kembali tersenyum lirih lalu ia melangkah keluar meninggalkan kamar.


Amira pun sontak terdiam, ia kembali tercengang melihat sikap Shaka.


Karena merasa penasaran, Amira pun kembali bangkit, dengan pelan ia kembali membuka pintu untuk mengintip ke arah ruang TV, saat itu Shaka terlihat sudah mulai menyelimuti dirinya dan berbaring di atas sofa itu.


Melihat itu ada semacam rasa bersalah, entah kenapa Amira kembali di buat tak tega saat menyaksikan suaminya rela tidur di sofa hanya demi kenyamanan untuk Amira.


“Ya tuhan apa kali ini aku sudah berkata keterlaluan padanya?” Tanya Amira dalam hati.


“Ah tidak, perkataannya yang meragukan ku dan tega mengusirku lebih kelewatan dan sangat menyakitkan,” ujar benak Amira lagi.


Amira kembali abai, dan memutuskan untuk tidur tanpa memikirkan Shaka lagi.

__ADS_1


L


__ADS_2