
Malam harinya…
Amira tidak bisa tidur, memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan secara bergantian, mencoba memejamkan matanya yang sudah mengantuk, menatap dinding kamar lalu beralih ke wajah Shaka yang sudah terlelap.
Akhirnya Amira bangun lalu ke kamar mandi, tiba-tiba perutnya terasa nyeri hingga membuat ia tersandar di dinding, sekejap rasa sakit itu menghilang, lalu kembali lagi secara berulang-ulang.
Baru beberapa menit tenggelam dalam mimpi, kini Shaka terbangun karena merasa terusik, ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
Kembali menyalahkan lampu terang, ia menatap ke samping ranjang di mana Amira sedang berdiri.
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Shaka antusias.
“Perut ku sakit,” rengek Amira, tangannya tertarik ke belakang mengelus pinggangnya yang juga sakit.
Shaka menyibak selimutnya, menggiring Amira menuju sofa.
Amira merintih lagi saat rasa sakit itu datang lagi, bahkan kali ini terasa menyeruak, Shaka membuka pintu lalu menggendong tubuh Amira dan membawanya keluar, Shaka memanggil semua orang rumah yang kini masih tertidur lelap.
Santi pelayan wanita di rumah Shaka pun terjaga, ia langsung bangkit dari tidurnya dan keluar kamar, seketika ia jadi panik saat mendapati Shaka menggendong Amira yang sedang menahan sakit.
“Nona muda kenapa tuan?” Tanya Santi yang ikut terlihat gugup.
“Sepertinya mau melahirkan, aku akan membawa dia ke rumah sakit, tolong kabari yang lain,” Shaka tau betul bagaimana reaksi wanita yang akan melahirkan, karena ia sudah melihat pengalaman pertamanya menyaksikan Amira melahirkan anak pertamanya.
“Baik tuan,”
Setelah membantu Shaka membuka pintu depan dan memanggil pak Ardi, Santi langsung menghubungi seluruh keluarga termasuk orang tua Amira.
Dinginnya malam tak lagi terasa, Shaka terus mengusap perut Amira dan merengkuh nya, rintihan demi rintihan yang keluar dari mulut Amira membuat ia semakin tak tenang, meskipun ia pernah berada di posisi itu, tetap saja rasa takut itu kembali hadir menyelimuti nya.
“Ka cepat!” Pinta Amira mencengkram erat ujung baju Shaka.
“Pak Ardi, lebih cepat lagi!” Titah Shaka, ia menatap ke arah luar, dimana hanya ada kegelapan.
Ia mengecup kening Amira yang di penuhi keringat.
“Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan sampai,”
“Aku takut,” ucap Amira saat mobil memasuki gerbang rumah sakit milik mereka.
“Jangan takut, aku akan menemani mu seperti waktu itu, yakin lah kalau kamu bisa melewati semua ini,” Amira mengangguk dengan penuh keyakinan.
__ADS_1
Di ruang bersalin sudah di penuhi dengan ketegangan.
Shaka terus berada di sisi Amira saat wanita itu mengeluhkan rasa sakit yang sangat luar biasa, sesekali Amira harus mengigit bibir bawahnya demi mengurai rasa yang membuat sekujur tubuhnya lemas.
“Dokter apa bayiku tidak bisa di lahirkan sekarang?” Amira terus memohon pada tim medis untuk melakukan sesuatu.
“Sayang, tidak seperti itu, dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan anak kita,” ucap Shaka sembari menahan tawa, takut istrinya itu marah.
Amira hanya diam, menahan rasa sakit yang dirinya pun hampir tak kuat.
Air mata Shaka tak bisa di bendung lagi, ia menumpahkannya di pelukan nenek Emely, setelah beberapa jam berada di ambang ketakutan, kini ia bisa menghirup dinginnya udara menjelang pagi dengan lega, putra nya telah lahir dalam keadaan sehat, Amira pun melahirkan secara normal dan di nyatakan baik-baik saja, hanya menunggu beberapa hari untuk menjalani masa pemulihan.
Nenek Emely ikut terharu, menepuk pundak Shaka yang bergetar, sedangkan pak Adi dan ibu Riana yang baru saja datang itu tak kalah heboh menyambut cucu kedua mereka.
“Gimana keadaan Amira Ka?” Tanya Riana yang membuat Shaka menoleh.
“Dia baik-baik saja ma,”
Shaka beralih memeluk erat bu Riana dan pak Adi secara bergantian.
“Terima kasih karena papa dan mama mempercayaiku untuk menjaga Amira, dia akan selalu baik-baik saja selama berada di sampingku,”
Pak Adi dan bu Riana membalas senyuman Shaka, ia memang sudah membuktikan ucapannya, semenjak menikah sedikit pun Amira tak pernah mengalami kesulitan.
Pintu terbuka lebar, suster berjalan keluar membawa bayi mungil di tangannya, ia membawa ke depan Shaka yang berstatus ayahnya.
“Tuan boleh lihat bayi nya sebelum saya bawa lagi ke ruangan,”
Sebenarnya tadi Shaka sempat menggendong bayinya saat ia melantunkan adzan, namun seakan waktu itu tak cukup untuk mencurahkan kasih sayangnya.
Shaka langsung mendekap bayi nya yang terlelap, wajahnya terlihat teduh tanpa dosa.
“Siapa namanya?” Emely menoel pipi gembul cicitnya.
“Namanya Samudra Buwana nek,” jawab Shaka kemudian, itu memang nama yang di rencanakan saat tau jenis kelamin anaknya.
“Nama yang bagus, semoga menjadi anak yang sholeh,”
Tak ada yang mempermasalahkan itu, mereka semua setuju dengan nama yang di sematkan Shaka pada putra keduanya itu.
Setelah sekian jam menunggu, akhirnya Shaka bisa melihat putranya itu membuka mata nya yang terlihat bening.
__ADS_1
Tampan tanpa celah, mata bulat dengan hidung mancung, bibirnya ranum, wajah Samudra perpaduan antara Shaka dan Amira, menggemaskan, sesekali tangan mungilnya mengusap pipi nya hingga memerah.
Kebahagiaan menyelimutinya saat ia melihat dua orang itu berada dalam satu ranjang, dia juga berharap ada Queen di situ bergabung bersama Amira dan putranya, kehadiran Samudra melengkapi rumah tangganya bersama Amira yang berjalan menuju tahun kedua.
Queen yang baru saja tiba pun tak mau jauh dari Amira dan adiknya, ia terus bergelayut manja pada Amira yang masih nampak lemah, ia jadi terasa hampa saat jauh dari Amira.
Balita menggemaskan itu mencium bayi mungil Amira berkali-kali.
“Queen sayang dedek ya?” Imbuh Shaka membantu Amira yang nampak kesusahan untuk bergerak.
“Iya, ini dedek Queen,” ucap Queen dengan menunjuk dada Samudra.
Semua tersenyum mendengar ucapan Queen.
“Iya ini memang dedeknya Queen,” ucap Amira mencubit pelan pipi gembul balita mungil itu.
Setelah di rasa cukup lama, Yura mengajak Queen pulang, tapi Queen tidak mau, dia masih ingin bersama Amira dan Samudra.
Yura dan Reza mencoba membujuk Queen, mereka jadi tidak enak pada Amira dan Shaka, namun Queen tetap tidak mau pulang.
“Maaf ya Mir,” ucap Reza kemudian.
“Tidak apa-apa kak,”
“Sayang, ini rumah sakit, banyak penyakit, nanti kalau dedeknya sudah pulang, baru Queen main ke rumah sama dedek ya, kalau Queen sakit nanti Queen tidak bisa main sama dedek nya,” bujuk Amira sembari mengusap lembut pipi putri pertamanya itu.
Seperti biasa, hanya Amira yang bisa menaklukan Queen, anak itu pun manggut-manggut walau pun masih dengan bibir manyun, lalu mengulurkan kedua tangannya memeluk Reza.
Melihat itu lagi-lagi hati Yura sakit dan cemburu, bagaimana bisa anaknya hanya patuh dengan orang lain di banding dirinya, sudah susah payah dia membujuk Queen namun hasilnya nihil, sedangkan Amira baru sekali membujuk langsung saja ia patuhi.
3 hari kemudian…
Setelah di nyatakan sehat, hari ini Amira dan Samudra sudah di perbolehkan pulang, seluruh keluarga menyambut antusias hadirnya keluarga baru yang menggemaskan, Shaka sengaja tidak menyewa jasa baby sitter dia ingi merawat sendiri istri dan anaknya.
“Selamat datang sayang,” Shaka membuka pintu lebar-lebar, ia menggendong putra nya sendiri saat masuk rumah, terus mencium pipi gembul putra nya yang menggemaskan.
Shaka menghampiri Santi yang membantu Kevin menyeret koper.
“Kamar Samudra gimana bi’?” Tanya Shaka menatap pintu kamar yang berada di sebelah kamar mereka.
“Sudah jadi tuan, ulu-ulu tampannya,” sambung Santi mengambil alih Samudra dari tangan Shaka.
__ADS_1
Shaka menghampiri seluruh keluarganya yang berada di ruang tengah, menyuruh mereka untuk beristirahat setelah beberapa hari ini menguras tenaga menjaga Amira di rumah sakit, lalu mengajak Amira menuju kamar Samudra.