Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 56 Marah


__ADS_3

Shaka berjalan dengan langkah gontai menuju bed di mana Yura berbaring, saat itu Yura tengah sibuk memainkan ponselnya dengan posisi tidur miring membelakangi pintu.


"Yura." Panggil Shaka dengan suara parau.


Yura menoleh dan sontak membulatkan matanya melihat kedatangan Shaka.


"Shaka, kau datang?" Yura menyambut Shaka dengan berbinar-binar. Ia pun perlahan mulai bangun dan hendak duduk namun perutnya tiba-tiba sakit lagi sehingga ia tampak meringis.


"Yura, hati-hati." Shaka dengan sigap menahan Yura, dan mendudukkannya di atas tempat tidur.


"It's oke?" Tanya Shaka melihat Yura yang masih tampak meringis.


"Perut ku masih seperti teriris." Jawab Yura meringis sembari memegangi perutnya dan tangan yang satunya lagi meremas kecil pundak Shaka.


Tak lama, perut Yura mulai membaik, wajahnya juga sudah tampak sedikit tenang. Ia lalu membenarkan posisi duduknya dan bersandar di kepala bed rumah sakit itu.


Shaka pun mulai melepaskan tangannya dari Yura, sembari mengambil kursi di dekat bed dan mendudukkan dirinya.


"Kenapa kau baru datang sekarang? Kenapa kau tidak mengangkat telepon ku selama beberapa hari ini? Dan kenapa kau pulang cepat dari acara ulang tahunku padahal ulang tahunku belum usai. Amira juga menghilang tiba-tiba sama sepertimu entah kemana." Yura melontarkan berbagai pertanyaan dengan tatapan kosong.


"Maaf Yura, aku sibuk sehingga aku tidak punya waktu untuk menemanimu di sini." Jawab Shaka dengan tenang.


"Semenjak kau menjadi pemimpin di Buwana Group kau benar-benar sangat sibuk sehingga kau sudah tidak ada waktu lagi melindungiku seperti dulu." Ucap Yura lirih dan beralih menatap Shaka.


"Iya aku harus menghadiri meeting dengan klien-klien baru, dan aku juga sedang mempersiapkan peresmian hotel baruku." Jawab Shaka mencoba beralasan. Shaka hanya tidak ingin jujur yang sebenarnya karena permintaan Amira bukan karena apa pun kalau saja Amira tidak melarangnya, saat ini juga dia akan jujur soal pernikahannya.


"Ya sudah, aku sudah memaafkanmu, dan aku mengerti. Apa kau tidak rindu denganku? Kau bahkan tidak memelukku sama sekali." Ucap Yura sembari mengulurkan kedua tangannya sebagai isyarat ingin di peluk.


"Hahaha Yura, jangan berlebihan ini rumah sakit lagi pula kau juga sedang sakit." Shaka mencoba beralasan lagi sehingga Yura cemberut dan mengerucutkan bibirnya sembari menurunkan pandangannya.


"Kalau begitu kau ambilkan aku buah apel itu dan potongkan, aku ingin memakannya." Ucap Yura dengan manja sembari memegang pergelangan tangan Shaka.

__ADS_1


"Baiklah tunggu sebentar." Shaka meraih buah apel di atas nakas dan memotongkannya untuk Yura.


Shaka mulai mengupas apel itu dan memotongnya kecil-kecil, dan meletakkannya di dalam piring, setelah selesai di kupas dan di potong.


"Nih, makanlah." Shaka menyodorkan piring berisi apel itu ke arah Yura.


"Suapin." Ucap Yura dengan manja.


"Tapi Yura.."


"Yah sudah aku tidak mau makan." Ucap Yura dengan wajah yang di tekuk dan mengerucutkan lagi bibirnya sembari melipat kedua tangannya di dada.


"Yah sudah aku suapin. Ayo buka mulutnya." Ucap Shaka sedikit ketus.


Yura pun kembali menatap Shaka dengan sumringah dan membuka mulutnya menerima suapan dari Shaka.


"Makasih ya." Ucap Yura sembari tersenyum manis.


Sementara Amira, dari luar melihat tingkah manja Yura kepada Shaka, hatinya seperti teriris dan cemburu namun dia kembali menepis perasaan itu karena dia sendiri yang meminta Shaka menemani Yura saat itu. Akhirnya Amira memilih pergi dari tempat itu dan pulang sendirian dengan taksi.


Amira berjalan keluar dari rumah sakit menuju halte untuk menunggui taksi. Ia duduk di halte menunggu taksi sembari membayangkan kebersamaan Shaka dan Yura tadi, namun lamunannya buyar saat ia mendengar suara seseorang yang seperti familiar di telinganya.


Ia pun mengangkat wajahnya, dan sontak terperanjat saat melihat siapa laki-laki yang ada di depannya sekarang. Ia pun berdiri dari duduknya memandang tak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


"Ge.. Genta!!" Ucap Amira sedikit gelagapan.


"Amira.." Genta melangkah, mendekati Amira, memegang kedua pipinya dengan lembut dan matanya mulai berkaca-kaca.


Amira membiarkan Genta memegang kedua pipinya karena ia masih tercengang dengan kehadiran Genta yang tiba-tiba itu. Namun ia seketika tersadar saat Genta mulai memeluknya. Amira menepis tangan Genta yang hendak memeluknya, ia perlahan mundur ke belakang seoalah menghindari Genta.


"Amira.. Kenapa?" Genta tampak bingung dengan perubahan sikap Amira.

__ADS_1


Amira hanya diam, dan terus memandangi Genta dengan masih tercengang.


"Untuk apa kau ke sini?" Tanya Amira yang akhirnya membuka suara namun dengan tatapan kosong.


"Amira, kenapa kau bertanya begitu? Apa kau tidak merindukan ku?" Tanya Genta dengan mata yang basah.


"Rindu?" Pekik Amira.


"Kau masih merindukan ku? Setelah apa yang kau lakukan padaku kau masih berani bilang rindu?" Amira mulai emosi.


"Aku bingung Amira, saat itu aku benar-benar labil, aku memikirkan cita-citaku sehingga aku tidak menolak saat Papa dan Mama membawaku ke London. Tapi sekarang saat aku melihatmu lagi, aku sadar dan aku ingin bertanggung jawab Amira." Papar Genta dengan penuh keyakinan.


Kali ini dia tidak mau melepaskan Amira lagi walau pun dia tau Amira sudah menikah tapi dia yakin Amira masih mencintainya walau pun keyakinannya itu salah.


"Cita-cita? Di saat seperti itu kamu masih memikirkan cita-cita? Kamu pikir aku tidak punya cita-cita? Aku juga punya cita-cita!!" Pekik Amira tampak emosi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kamu bukan mau mengejar cita-cita kamu saat itu. Kamu cuma mau lari. Karena kamu belum siap berumah tangga iya kan?" Ucap Amira yang tampak meledak-ledak.


"Amira.."


"Diam Genta!! biar aku yang bicara dulu. Selama ini aku diam karena aku sama sekali tidak bisa menghubungimu karena kamu sudah memblokir nomorku. Sekarang biarkan aku bicara." Kali ini Amira tampak emosi.


"Kau meninggalkan aku di saat aku terpuruk dan benar-benar hancur. Kau pergi keluar negeri tanpa beban. Aku menjalani suka dukaku bersama anakku sendirian. Kau bahkan meninggalkan ku di saat aku sedang hamil dan membutuhkan sosok seorang suami di sampingku, kau meninggalkanku saat aku tengah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan, kau juga meninggalkan ku di saat perasaanku hancur karena anakku meninggal, kau meninggalkan ku di saat aku depresi karena masih tidak ikhlas melepas kepergian anakku. Dan kau tau hanya siapa yang ada denganku di saat aku terpuruk? Hanya orang tua dan suamiku. Iya suamiku, sekarang aku sudah bersuami dan aku sangat mencintainya." Jelas Amira dengan lantang walau pun hatinya sedih karena dia tidak tau masa depan rumah tangganya seperti apa.


Genta tampak tercengang mendengar semua penjelasan Amira, hatinya kembali terluka. Padahal awalnya dia masih berharap Amira masih mencintainya walau pun dia tau dari Salsa kalau Amira sudah menikah. Tapi sekarang dia mendengar kenyataan yang sebenarnya kalau Amira sudah mencintai suaminya dan sepertinya sudah tidak ada cinta lagi di mata Amira untuknya.


"Lebih baik sekarang kamu pergi dari hadapanku." Ketus Amira dengan tatapan kosong.


"Baiklah Amira, tapi kalau kamu tidak bahagia dengan suamimu maka cari aku, aku siap untuk membahagiakanmu." Ucap Genta masih mencoba berharap.


Amira tidak bergeming bahkan setelah Genta pergi dari hadapannya dia hanya diam saja tidak peduli. Saat ini dia benar-benar masih syok dengan kehadiran Genta yang tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2