Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 96 Shaka Mengetahui Keberadaan Amira


__ADS_3

Shaka berjalan lesu menuju mobilnya, dan memilih untuk pulang, karena selama apapun Shaka duduk berdiam diri di situ, takkan berarti tanpa adanya Amira.


Sisi lain di sebuah rumah…


Kini jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, Genta sudah pulang ke rumahnya.


Saat ini Genta benar-benar di buat tak tenang, dia merasa begitu khawatir dengan keadaan Amira apabila terus menerus berada di Cassino itu.


Saat ini ia sedang memandangi ponselnya yang menampilkan sebuah foto, foto Amira saat bekerja di Cassino dan di ambilnya secara candid, akhirnya ia pun berdiri dan berjalan mondar mandir di kamarnya sembari mengacak-ngacak rambutnya, seraya befikir keras.


“Apa aku katakan saja pada Shaka keberadaan Amira?” Ucapnya seorang diri.


“Atau aku sembunyikan saja keberadaan Amira demi menepati janiiku padanya,” ucap Genta lagi sembari menghentikan langkahnya sembari mengecak pinggang.


“Tapi aku tidak tenang dan tidak bisa tidur nyneyak mengingat Amira yang terus-terusan berada di sana, apa lagi malam itu aku memergoki Marsel yang hampir saja melakukan hal tak senonoh padanya, biar bagaimana pun aku masih sangat mencintai Amira,” gumam Genta sembari mengusap kasar wajahnya menggunakan satu tangannya.


Setelah cukup lama berjalan mondar mandir di kamarnya, akhirnya sampai lah Genta pada keputusan akhirnya.


“Baiklah, demi kebaikan Amira aku akan memberitahukan keberadaannya pada Shaka,” tegas Genta sembari menghela nafas.


“Amira, tolong jangan marah padaku, ini demi kebaikanmu dan calon anakmu,” celetuk Genta dalam hati.


Genta pun kembali berbaring di atas ranjangnya, dan siap untuk tidur sebentar, dia sudah memutuskan, besok pagi dia akan menemui Shaka untuk memberitahukan info penting ini.


Namun baru saja menutup matanya, Genta kembali membelalakkan matanya.


“Aku lupa 2 hari ini kan aku ada ujian, yah sudah aku akan memberitahukan Shaka setelah aku selesai ujian,”


Sisi lain di sebuah Cassino…


Seminggu lebih sudah Amira menjadi sandra di tempat Dewa, semenjak kejadian Marsel yang hampir memperkosa Amira, kini Marsel semakin merasa bersalah dan mencoba meminta kesempatan pada Dewa untuk mengizinkannya mengawasi Amira lagi, ia pun berusaha memperlihatkan perhatiannya pada Amira sehingga membuat Dewa yakin dan percaya lagi pada Marsel.


Marsel berubah menjadi orang yang begitu perhatian dengan kesehatan Amira, bahkan beberapa hari terakhir ini, Dewa pun sudah tidak mengunci pintu kamar Amira dari luar, menandakan dia sudah percaya kalau Amira tidak akan kabur.


Amira pun perlahan mulai memudarkan rasa takutnya pada Marsel, hingga kini akhirnya Amira mulai berbincang ringan dengan Marsel.


Pagi ini Amira terlihat merenung di balkon lantai 3 gedung itu, balkon itu begitu luas, terdapat taman mini di sana dan sebuah ayunan, Amira duduk terayun dengan tatapannya yang kosong, kali ini wajahnya tak lagi sembah karena ia tak lagi sering menangis.


“Kau di sini?” Tiba-tiba suara parau Marsel pun terdengar.


Amira pun melirik ke sumber suara, lalu mulai menciptakan sebuah senyuman tipis dari bibirnya.


“Kau juga kenapa di sini?” Tanya Amira pelan.


“Aku ingin mengantar sarapan untukmu,” jawab Marsel.


Kemudian dari belakangnya muncul lah seorang ajudan yang sudah membawa nampan berisi makanan, buah-buahan dan susu untuk Amira.


“Letakkan di sana!” Perintah Marsel pada ajudannya, sembari menunjuk di sebuah meja yang berada di sudut balkon itu.


“Baik bos,”


Marsel pun kembali melangkah, ia duduk di sebuah kursi yang ada di dekat meja itu.


“Kemari lah, ayo sarapan bersama,” ucap Marsel, ia melirik ke arah Amira sembari menggoyangkan sekali kepalanya sebagai kode meyuruh Amira untuk datang mendekat.


Amira pun beranjak dari ayunan dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Marsel.


“Makanlah,” Marsel pun mulai menyantap makanannya dengan tenang lalu kemudian di susul oleh Amira.


Beberapa menit menyantap makanan dengan hening, akhirnya Amira mulai bersuara saat telah selesai menyantap sarapannya.


“Terima kasih sudah memperlakukanku dan calon bayiku dengan baik selama di sini, terima kasih kau sudah memenuhi asupan gizi untuknya Marsel,” ucap Amira sembari mengusap perutnya.


“Aku sudah berjanji, maka harus ditepati makanya tak perlu sungkan untuk itu,” ucap Marsel sembari mengusap ujung bibirnya sendiri dengan tisu.


“Aku boleh bertanya?”


“Katakanlah,” jawab Marsel singkat.


“Kenapa akhir-akhir ini kau selalu berbuat baik padaku?”

__ADS_1


“Kenapa bertanya seperti itu? Bukan kah harusnya itu membuatmu senang?”


“Benar, akhir-akhir ini aku jadi merasa lebih tenang menjalani hari-hariku, apapun itu alasannya, terimakasih untuk itu,” Amira pun kembali menampilkan senyuman tipis di wajah sendunya.


“Bekerjalah dengan baik, dan kau harus selalu ingat akan janjimu, maka aku akan terus berlaku baik padamu,” jawab Marsel yang kemudian mulai bangkit dari duduknya.


“Baiklah sarapanku sudah habis, aku harus pergi, habiskan susu mu, dan jangan lupa makan lah aneka buah ini, kau bisa membawanya ke kamar mu jika kau mau,” tambah Marsel dan kemudian langsung beranjak pergi.


Sepanjang langkahnya Marsel terus memegangi dadanya, entah kenapa akhir-akhir ini jantungnya sering berdetak lebih cepat saat ia melihat senyuman Amira.


“Tidak, aku tidak boleh merasakan ini padanya, seumur hidupku cukup sekali saja aku merasakan cinta, cinta yang membuat hidupku kacau dan terasa mati saat cinta itu akhirnya tak bisa ku miliki, dan itu sudah berakhir lama, takkan ada cinta lagi, yang ada hanyalah nafsu,” gumam Marsel dalam hati yang terus melangkah semakin jauh meninggalkan Amira yang masih duduk terdiam.


Dua hari kemudian…


Kini tibalah saat yang di nantikan oleh Genta, Genta sudah selesai melaksanakan ujian mata kuliahnya, kini jam sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi, dan akhirnya tibalah Genta di loby kantor utama Buwana Group.


“Permisi, apa tuan muda Shaka masuk kerja hari ini?” Tanya Genta dengan ramah pada seorang resepsionis.


“Iya mas, apa ada yang bisa saya bantu?”


“Begini, saya Genta Atmadja saya teman dekat dari tuan muda Shaka, saya ingin menyampaikan hal penting kepada tuan muda Shaka,” jelas Genta.


“Maaf sebelumnya, apa mas sudah membuat janji temu?”


“Belum, tapi ini begitu penting,”


“Maaf mas, saya tidak bisa membawa anda masuk kalau kau belum membuat janji temu,”


“Tolong, ini sungguh penting, ini menyangkut nona Amira,” bujuk Genta yang masih belum putus asa.


Resepsionis itu pun sontak mengerinyitkan dahinya saat Genta menyebutkan tentang Amira, karena seperti yang sudah diketahui, seluruh pegawai di kantor utama itu semuanya tau tentang kabar hilangnya Amira.


Akhirnya ia pun memilih menelepon Namira, sekretaris Shaka.


“Nona Namira, tolong sampaikan pada tuan muda Shaka, di sini ada seorang pria yang memaksa ingin bertemu dengan tuan muda Shaka, katanya ini menyangkut nona muda Amira,” jelas Resepsionis.


“Baik nona Namira, terima kasih,” ucapnya kemudian dan langsung menutup teleponnya.


“Mas, tunggu sebentar, anda bisa duduk menunggu di kursi tunggu,” Resepsionis itu pun menunjuk ke sebuah sofa.


*Tok tok tok*


Suara ketukan pintu ruangan pribadi Shaka.


“Masuk,” jawab Shaka ketika mendengar suara ketukan pintu.


Namira pun memutar gagang pintu dan membukanya.


“Maaf tuan muda, di loby ada seorang pria bernama Genta Atamadja ingin menemui anda,” ucap Namira sembari menundukkan kepalanya.


“Genta Atmadja? Untuk apa dia ke sini? Suru dia pergi, saya sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun,” tegas Shaka pada sekretarisnya.


“Tapi tuan,”


“Tapi apa lagi? Sudah kukatakan untuk suru dia pergi dari sini, bertemu orang lain saja aku menolak apa lagi dengan dia,” ketus Shaka melirik sejenak ke arah Namira lalu kembali mengotak-ngatik leptopnya.


“Tapi tuan, ini menyangkut nona muda Amira,” ucap Namira masih tak putus asa, karena ia tau selama ini Shaka sedang berusaha mencari Amira.


“Amira? Ya sudah suru dia ke sini!” Tegas Shaka kemudian.


Dia begitu antusias saat mendengar nama Amira, namun ia kembali mengerutkan dahinya, kenapa harus Genta yang membawa berita tentang Amira, namun lagi-lagi ia berusaha untuk tidak mempedulikan itu, yang terpenting sekarang dia bisa mengetahui keberadaan Amira.


Begitu keluar dari ruangan Shaka, Namira pun kembali menelepon Resepsionis untuk menyuruh Genta naik lantai atas menemui Shaka.


“Mari mas, saya antar ke ruangan tuan muda Shaka,” ucap Resepsionis itu.


“Baiklah ayo,” jawab Genta sembari beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti langkah pegawai Resepsionis itu menuju lift.


*Tinngg*


Tanda lif terbuka, kini lift sudah sampai di lantai atas ruangan Shaka.

__ADS_1


Pegawai Resepsionis itu mengantar Genta berjalan menuju meja Namira, sesampainya di meja Namira, pegawai Resepsionis itu pamit undur diri untuk kembali turun ke bawah melanjutkan tugasnya.


“Mari masuk mas,” ajak Namira pada Genta sembari mengetuk pintu ruangan Shaka, setelah dipersilahkan masuk, Namira dan Genta pun masuk ke ruangan Shaka.


“Permisi tuan muda, ini Genta Atmadja yang ku maksudkan tadi,” ucap Namira dengan membungkukan badannya.


“Baiklah terima kasih, kau kembali lah ke mejamu,”


“Baik tuan,” jawab Namira kembali membungkukan badan kemudian berlalu meninggalkan Shaka dan Genta di ruangan itu.


“Silahkan duduk,” ucap Shaka kemudian.


Genta pun duduk di kursi yang ada di hadapan Shaka.


“Katakan kau membawa berita apa tentang istriku?” Tanya Shaka tanpa basa basi.


Genta pun menghela nafasnya lalu mulai mengatakan semuanya pada Shaka tanpa ada yang di tutup-tutupi, mulai dari awal mula Amira di sandra oleh ayahnya, pekerjaan Amira di sana, dalang dibalik berita miring itu, dalang yang menabrak Amira dan saat dia menemukan Amira.


Mendengar itu kini tangan Shaka mulai mengepal, dia menatap tajam ke arah Genta lalu berkata.


“Jadi ayahmu dalang dari semua itu? Brengsek! Beraninya dia mau menjual istriku!” Bentak Shaka sembari berdiri dan menggebrek meja dengan keras.


“Tenang lah dulu, saya bahkan belum menceritakan semuanya,” ucap Genta dengan tenang, tanpa membuat nyalinya menciut sedikit pun.


Shaka pun kembali duduk di kursi kejayaannya dan mencoba mendengar cerita Genta selanjutnya.


“Lalu apa lagi yang kau ketahui?”


“Ini tentang Marsel, malam itu saya memergoki Marsel hampir saja memperkosa Amira, untung saja saya datang tepat waktu sehingga saya bisa menyelamatkan Amira malam itu, dan asal kau tau, Marsel dan ayahku sudah merencanakan ini semua, mereka sudah memfitnah Amira agar kau marah dan berpisah dengan Amira, tentu saja tujuannya untuk menghancurkan kalian, Amira tidak pernah tidur dengan Marsel, malam itu Marsel benar-benar sedang mabuk berat dan terkapar di jalanan, Amira menemukannya dan memapah Marsel dengan niat untuk menolongnya,” papar Genta.


“Pada saat itu ayahku menyuruh anak buahnya yang lain untuk menjemput Marsel, namun ternyata Marsel sudah diselamatkan Amira, sesampainya di hotel tempat Amira mengantar Marsel, anak buah ayahku memotret mereka dan mengirimkannya pada ayahku, ayahku yang merasa begitu familiar dnegan wajah Amira meminta fotonya sebanyak mungkin, setelah tau itu Amira awalnya ayahku tidak peduli, dan hanya membiarkan foto itu tersimpan di ponselnya, namun setelah kau dan ayahku berselisih paham waktu itu, ayahku jadi dendam pada kalian dan menggunakan foto itu untuk memfitnah Amira agar kalian bercerai,” tambahnya lagi.


Mendengar itu Shaka semakin merasa bersalah, dia merasa begitu bodoh dengan mudahnya mempercayai kata-kata Marsel begitu saja, dia pun mengusap kasar wajahnya dan memijit pelipisnya.


“Ada berita yang tak kalah penting lagi,” Genta kembali membuka suara.


Shaka pun sontak mengangkat kepalanya dan kembali mendengar cerita Genta dengan antusias.


“2 hari setelah Amira berada di tempat ayahku, Amira baru mengetahui kalau ia sedang mengandung anakmu,”


“Kau jangan berfikir yang tidak-tidak dulu, Amira benar-benar mengandung anakmu, karena selama Amira di sana, tamu-tamu ayahku tidak pernah berhasil menidurinya karena ia selalu saja kabur, namun setelah ayahku tau akan kehamilannya, ayahku tidak lagi memaksanya untuk melayani tamu-tamu ayahku,” jelas Genta panjang lebar, demi untuk meyakinkan Shaka agar Shaka tidak salah paham lagi dengan Amira.


Mendengar semua itu membuat hati Shaka semakin teriris, rasa bersalah kini jadi semakin menggunung saat mendengar Amira ternyata sedang hamil anaknya, apalagi saat itu Amira rela berkorban demi keselamatan mereka.


“Jadi Amira hamil? Yah tuhan aku begitu merasa bersalah, lalu bagaimana? Apakah dia terluka?” Tanya Shaka nampak jadi begitu cemas.


“Dia tidak terluka sama sekali karena selama di sana, aku selalu mengunjunginya dan memastikan keadaannya baik-baik saja,”


“Kau sudah tau lama tapi kenapa kau tidak segera memberitahukannya padaku? Kenapa kau juga ikut menyembunyikannya? Apakah kau berniat mau merebut Amira lagi dariku?” Ketus Shaka yang menatap tajam ke arah Genta.


“Kalau aku berniat merebut Amira, aku tidak akan repot-repot ke sini untuk memberitahukan semuanya padamu, aku pasti sudah membawa kabur Amira secara diam-diam tanpa harus memberitahukan keberadaan Amira padamu,”


“Lagi pula aku sudah berjanji padanya untuk tidak memberitahukan keberadaannya padamu, namun aku jadi tak tenang dan tak bisa tidur semenjak kejadian Marsel yang hampir saja memperkosanya, cinta Amira padamu lebih besar dia sudah tidak menyisakan perasaannya sedikit pun padaku, aku sadar akan hal itu,” jelas Genta meyakinkan Shaka.


“Alasan saja, kau tidak boleh mencintai istri orang,” tegas Shaka semakin menajamkan tatapannya pada Genta.


“Aku kan hanya mencintai, kenapa tidak boleh? Yang tidak boleh itu merusak rumah tangga orang,” jawab Genta seakan tak mau kalah.


Shaka pun membuka laci mejanya dan mengambil sebuah pistol yang sengaja ia simpan di dalam laci itu sejak lama.


“Sha Shaka, apa yang kau lakukan dengan pistol itu? Apa kau akan membunuh ayahku? Shaka tolong jangan bunuh ayahku, lakukan apa saja padanya sebagai hukuman bahkan kau bisa memenjarakannya tapi jangan bunuh ayahku bagaimana pun dia adalah orang tuaku,” Genta memohon pada Shaka.


Tanpa mempedulikan ucapan Genta, Shaka pun pergi begitu saja meninggalkan Shaka yang masih terduduk di ruangannya dengan raut wajah yang nampak panik, Genta pun kembali bersuara.


“Shaka kau mau ke mana?” Genta sontak menghentikan langkah Shaka.


“Tentu saja ingin menyelamatkan istriku!”


“Ta… tapi,”


“Kau tenanglah, aku tau apa yang harus aku lakukan, sebaiknya kau tidak usah ikut campur, oh ya satu lagi, nanti Kevin akan mengurus imbalan untukmu,” tambah Shaka lagi.

__ADS_1


“Aku tidak mengharapkan imbalan Shaka, aku memberikan informasi ini padamu bukan karena uang, asalkan kau bisa membawa Amira dengan selamat, maka itu sudah menjadi imbalan yang cukup bagiku, jawab Genta kemudian.


“Pernyataan apa ini? Kau tidak usah sok mengingatkanku, aku suaminya jadi aku tau apa yang harus ku lakukan padanya,” ujar Shaka kemudian langusng beranjak pergi dari hadapan Genta.


__ADS_2