
Shaka berjalan cepat keluar dari Vila sedangkan Amira ikut berlari menyusulnya dengan air mata yang menetes lagi dan lagi.
"Shaka Buwana tunggu!" Teriak Amira.
Shaka menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menatap tajam ke arah Amira.
Amira pun ikut menghentikan langkahnya dan berjalan perlahan mendekati Shaka.
"Kenapa? Apa kau marah padaku, karena aku mengatakan semuanya pada Yura? Apa kau takut Yura akan memusuhimu?"
Namun Amira tanpa berkata apa pun langsung mendekati Shaka dan memeluknya dengan begitu erat.
"Maafkan aku, maafkan aku yang sempat meragukanmu." Amira menangis dan mengeratkan pelukannya.
Namun Shaka perlahan melepas pelukannya karena masih merasa kesal dan kecewa.
"Kenapa kau masih meragukan ku? Aku bahkan sudah melakukan apa pun untukmu tapi kenapa kau masih meragukan ku Amira?" Shaka menatap datar ke arah Amira.
"Maafkan aku, Yura terlihat masih begitu mengharapkan mu dan aku pikir kau belum sepenuhnya melupakan Yura yang sudah bertahun-tahun kau cintai, ku pikir tidak semudah itu kau melupan Yura itu lah sebabnya aku ingin membuktikan apa anggapanku ini benar atau tidak, jadi itu juga yang menyebabkan aku menyetujui permintaan Yura untuk berlibur bersama." Jawab Amira tertunduk lesu.
Mendengar penjelasan Amira, Shaka semakin mendengus kesal.
"Kali ini kau sungguh keterlaluan Amira, kau sudah membuatku kecewa, kau bahkan tidak mempercayaiku dan lebih mengikuti kata hatimu yang belum tentu benar adanya. Kau bahkan tidak melihat tindakan nyata yang aku lakukan padamu selama ini." Ketus Shaka.
"Iya Shaka, semua ini memang salahku, aku sungguh minta maaf." Ucap Amira lirih dan semakin menangis.
Shaka sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun, ia lalu kembali melangkah menuju mobilnya.
"Shaka Buwana kau mau ke mana?" Tanya Amira sembari terus mengikuti langkah Shaka.
"Pulang!!" Ketus Shaka yang terus melangkah menuju mobilnya.
"Aku ikut." Kata Amira.
Shaka sama sekali tidak menghiraukan ucapan Amira, ia terus melangkah masuk ke dalam mobilnya dengan Amira yang juga ikut masuk ke dalam mobilnya. Mereka pun langsung pulang.
Sisi lain di dalam Vila..
Yura begitu terpukul dengan apa yang baru di ketahuinya, dia terus menangis tersedu-sedu hingga membuatnya terduduk lesu di lantai.
Reza yang masih terdiam di ruang tengah Vila, kini perlahan melangkah mendekati Yura, ia pun berjongkok di hadapan Yura dan menatapnya lirih.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu Yura." Reza mengusap lembut pundak Yura.
Yura menatap lirih ke arah Reza dengan air mata yang tumpah ruah, Reza pun langsung menggelengkan kepalanya sembari menghapus air mata Yura membuat Yura semakin menangis dan menyandarkan kepalanya di pundak Reza.
"Kenapa ini selalu terjadi padaku?" Ucap Yura lirih.
Reza hanya diam dan terus mengusap lembut punggung Yura.
"Apa yang kurang dariku? Kenapa tidak ada sama sekali yang mengharapkan ku? Kenapa?" Yura terus menangis.
Reza sama sekali tidak menjawab pertanyaan Yura, dia merasa ikut andil karena pernah membuat Yura patah hati.
Entah berapa lama Yura terus menangis, akhirnya ia pun pingsan dan tak sadarkan diri.
"Yura, bangun!" Reza menepuk pelan pipi Yura.
"Yura aku mohon bangunlah!" Ucap Reza lagi.
Menyadari Yura yang tak kunjung sadar, Reza pun langsung mengangkatnya dan membaringkan tubuh Yura di atas ranjang kamar Vila itu.
Reza berjalan mondar mandir karena merasa kebingungan dan panik melihat keadaan Yura, di tambah lagi tidak ada kendaraan di Vila.
Kini jam sudah menunjukkan pukul 20.00 malam, Shaka terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa berkata apa pun pada Amira.
"Shaka ku mohon jangan terlalu cepat aku takut."
Namun Shaka tidak menggubrisnya, ia malah semakin melajukan mobilnya hingga akhirnya mereka sampai di rumah hanya dalam waktu 40 menit padahal waktu yang di tempuh sebenarnya lebih kurang dari satu setengah jam.
Shaka memarkirkan mobilnya kemudian turun dari mobil dengan menutup keras pintu mobil hingga membuat Amira sontak terkejut. Shaka pun terus berjalan dengan cepat memasuki rumahnya dengan di ikuti oleh Amira yang berlari menyusulnya dengan wajah sendu.
Untung saja Emely sudah tidur, sehingga Emely tidak melihat keadaan mereka yang seperti itu. Shaka terus berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya dan menutup pintu kamar dengan kasar, membuat Amira yang mengikutinya dari belakang kembali terkejut. Amira menghentikan langkahnya sejenak dengan nafas yang terengah-engah berdiri memandang ke arah pintu.
Selang beberapa menit, Amira perlahan membuka handle pintu, dan ikut masuk ke dalam kamar, namun ia tidak mendapati Shaka di kamar. Namun tak lama, terdengar suara jatuhan air dari kamar mandi, Amira jadi yakin kalau Shaka ada di dalam sana.
Shaka merasa begitu penat, ia memilih menyegarkan dirinya di bawa guyuran air shower yang hangat membasahi tubuhnya. Tak lama Amira pun ikut masuk ke dalam kamar mandi dan ikut melepaskan seluruh pakaiannya, perlahan ia berjalan mendekati Shaka dan memeluk tubuh proporsional suaminya itu dari belakang.
Shaka pun melirik sejenak lalu kembali memalingkan wajahnya dan menatap lurus ke depan.
"Ku mohon jangan seperti ini, aku benar-benar minta maaf. Aku janji, aku tidak akan menyuruhmu untuk melakukan hal konyol seperti itu lagi." Bujuk Amira dengan begitu lembut.
Shaka pun masih tidak bergeming. Namun Amira tidak mau putus asa, dia meraih spons mandi dan menuangkan sabun cair di atasnya. Lalu perlahan ia mulai menggosok lembut punggung Shaka dengan spons, ia terus mengusap seluruh bagian belakang tubuh Shaka dengan lembut, hingga akhirnya ia pindah di hadapan Shaka, dan menggosok pelan bagian depan tubuh Shaka.
__ADS_1
Shaka masih tetap diam dan sama sekali tak melirik Amira, dia terus menatap lurus ke depan.
Kenapa dia melakukan ini? Aku kan jadi tidak bisa marah lebih lama padanya kalau seperti ini, dari mana dia belajar menggoda seperti ini? Kenapa dia terlihat sudah begitu pintar menggoda sekarang? Membuat ku jadi goyah saja. Celetuk Shaka dalam hati.
"Tidak apa-apa jika kau masih marah padaku. Tapi aku takkan berhenti untuk melakukan segala cara agar kau bisa memaafkan aku, dan tidak akan cuek lagi padaku seperti ini." Ucap Amira yang kini menatap lekat ke arah Shaka sembari terus menggosok pelan tubuh Shaka.
Kini tubuh bagian atas Shaka sudah penuh dengan busa-busa, kini tinggal tubuh bagian bawahnya. Tangan Amira mulai jahil menggosok lembut tubuh bagian bawa Shaka, hal itu sontak membuat pertahanan Shaka jadi terusik, dia bahkan berulang-ulang kali menelan ludahnya sendiri.
"Stop Amira!" Ucap Shaka datar tanpa melirik Amira.
"Biarkan aku membersihkannya." Amira tersenyum tipis, pandangannya tak lekang menatap Shaka, namun tangannya yang juga semakin liar mengusap lembut area sensitif Shaka.
Kini Shaka mulai tidak bisa mengendalikan dirinya. Naluri kelelakiannya kini seakan meronta meminta ingin segera di salurkan dengan segera. Mata Shaka pun perlahan menatap lekat ke arah Amira, mata mereka saling bertemu, hingga akhirnya mata Shaka mulai liar menatap lekat bibir Amira, dan tanpa aba-aba Shaka langsung melahap bibir Amira begitu saja.
Shaka dengan begitu lembut ******* habis bibir Amira dengan begitu buas di bawah guyuran air shower. Spons yang sedari tadi di pegang Amira kini sontak terlepas dan langsung mencengkram kuat punggung Shaka.
Sudah cukup lama Shaka tidak melakukannya dengan Amira hingga membuatnya jadi begitu liar.
"Pelan-pelan saja, agar kita bisa lebih menikmatinya." Bisik Amira dengan lembut saat melepaskan tautan bibir mereka.
Shaka terdiam sejenak, nafasnya begitu terengah-engah, tak lama ia kembali mencium bibir Amira, ********** dengan perlahan dan begitu lembut, merasa tak puas dengan posisi berdiri tegak, Shaka menarik tubuh Amira dan membawahnya ke bagian wastafel tempat mencuci muka, Shaka mengangkat tubuh Amira dan mendudukkannya di atasnya. Dengan gairah yang semakin menggebu ia kembali melahap Amira, membuat Amira tak bisa diam hingga membuat seluruh benda yang ada di wastafel berhamburan di lantai.
"Aku sangat ingin melakukannya sekarang." Bisik Shaka.
"Lakukan kah sesukamu."
Akhirnya tanpa menunggu lagi, Shaka pun langsung melakukannya dengan posisi berdiri. Amira pun mendesah di dalam kamar mandi dengan keadaan tubuh Amira yang terlihat begitu berantakan akibat kebringasan Shaka.
Cermin kamar mandi yang awalnya bersih tanpa noda, kini mendadak jadi kabur akibat banyak cap tangan dari Amira atau pun gesekan dari tubuhnya.
Shaka terlihat begitu buas bak singa yang sudah seminggu tidak di beri makan, tubuh mereka pun yang tadinya basah dengan guyuran air kini mengering dengan sendirinya.
Tak puas hanya di atas wastafel, Shaka kembali mengangkat tubuh Amira dengan keadaan bibir yang masih berautan ia membawanya ke ranjang tempat yang paling nyaman untuk bercinta.
Tubuh Amira terhempas di susul dengan tubuh Shaka yang kembali menindihnya. Kini keduanya tengah di mabuk cinta hingga sama sekali tidak peduli dengan masalah mereka tadi.
"I love you sayang. Kamu milikku seutuhnya." Bisik Shaka sembari menjilati telinga Amira.
Amira terlalu fokus dengan desahannya sehingga tidak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.
Entah berapa lama mereka bergulat di atas ranjang, ranjang yang awalnya terlihat rapi, kini jadi acak-acakkan akibat pertarungan sengit yang mereka lakukan.
__ADS_1
Kini tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam, Amira dan Shaka terbaring tanpa busana di balik selimut dengan keadaan tubuh yang saling berpelukan.