
Pagi Hari di Kediaman Keluarga Buwana..
Seperti biasa di pagi hari pelayan sedang sibuk menyiapkan sarapan. Emely pun keluar dari kamarnya dan kembali duduk.
Tak lama Shaka dengan sudah berpakaian rapi terlihat menuruni anak tangga dan berjalan melewati neneknya begitu saja. Ia terus berjalan tanpa melirik ke arah Emely sedikit pun.
"Shaka Buwana!!" Ketus Emely.
Langkah Shaka pun sejenak terhenti.
"Sejak malam kau tidak makan, ayo sarapan dulu". Ucap Emely datar.
"Tidak nek, aku tidak lapar, aku harus buru-buru ke kantor". Ucap Shaka tak kalah datar lalu kembali melangkah kan kakinya.
"Shaka Buwana!! Apa hanya karena seorang wanita membuatmu berani membantahku sekarang?" Emely mulai meninggikan suaranya.
Mendengar itu Shaka membuang nafas kasar kembali ke meja makan, dan duduk dihadapan neneknya dengan wajah yang dingin. Dia mulai membalikkan piringnya dan makan begitu saja.
"Mulai saat ini, anggaplah pernikahanmu dengan wanita itu tidak pernah terjadi, aku akan segera mengurus perceraian kalian" Ketus Emely dengan tenang sembari mengunyah makanannya.
Mendengar hal itu sontak membuat Shaka meletakkan dengan kasar sendok dan garpu kembali ke piringnya.
"Aku sungguh bingung dengan sikap nenek. Dulu nenek menginginkan pernikahan kami, sehingga walau pun aku menolak nenek tetap memaksaku untuk menikahinya. Sekarang aku sudah menikah dengannya nenek malah ingin aku bercerai dengannya". Ketus Shaka yang ikut meninggikan suaranya.
"Justru sekarang aku mulai memikirkan perasaan mu, bukan kah kau tidak mencintai wanita itu? Itu lah sebabnya cerai adalah jalan terbaik untuk kalian berdua". Jelas Emely dengan begitu tenang.
Mendengar itu Shaka hanya bisa diam dan hanya bisa mendengus.
"Lagi pula, aku mulai berfikir. Wanita seperti itu tidak pantas dengan mu. Aku mendapat kabar kalau mantan pacar mu Yura sudah kembali dari Paris. Aku akan mengatur pertemuan dengan keluarganya. Dulu dia meninggalkan mu juga hanya karena mengikuti orang tuanya yang pindah ke sana. Bukan kah dulu kau sangat mengharap kan dia kembali? Jika begitu menikah lah dengannya saja". Ucap Emely lagi sembari mengunyah makanannya.
Mendengar ucapan neneknya kali ini benar-benar membuat Shaka kesal.
"Sudah cukup nek!" Ketus Shaka sembari berdiri dari duduknya, tangannya menghentak meja dengan tatapan yang tajam, dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Emely.
__ADS_1
Sementara Emely masih saja diam dan terus mengunyah makanannya dengan tenang sembari memandangi kepergian cucunya.
Kini hari-hari Shaka benar-benar hampa, Shaka kembali berubah menjadi orang yang dingin setelah akhir-akhir ini senyuman yang sering muncul kini pudar kembali. Di kantor dia juga terus marah-marah saat ada pegawai yang membuat kesalahan walau sekecil apapun. Dia juga sering melewatkan makan malam bersama neneknya. Setiap hari Shaka terus memikirkan Amira, namun lagi-lagi kebohongan Amira yang menyayat hati terus terngiang-ngiang di benaknya.
Kenapa ketika berbicara masalah hati dan perasaan aku selalu tak beruntung? Gumam Shaka dalam hati dengan tatapan yang kosong.
1 minggu kemudian..
Amira dan orang tuanya mengunjungi neneknya di bandung. Amira sengaja mengajak kedua orang tuanya ke bandung untuk berlibur di sana agar Amira bisa melupakan Shaka.
Sementara Shaka, semenjak kepergian Amira ia kebanyakan melamun dan berdiam diri. Seperti sekarang ia terus melamun di ruangannya. Dan tak lama Kevin pun muncul di ruangannya.
"Ka, ada laporan gaji para pegawai untuk kau tanda tangani kau periksalah dulu" Ucap Kevin memberikan sebuah map pada Shaka.
"Jika kau sudah memastikan semuanya sesuai, kau bisa langsung menanda tanganinya". Tambah Kevin lagi saat Shaka meraihnya.
Alih-alih memeriksa nominalnya terlebih dahulu, Shaka langsung menanda tanganinya dengan wajah yang datar.
"Ka.. Kau yakin tidak memeriksanya dulu?" Tanya Kevin sedikit bingung.
Kevin mulai cemas dengan keadaan Shaka saat ini.
"Shaka.. Apa kau masih menganggapku temanmu?" Tanya Kevin yang kemudian duduk di hadapan Shaka.
Shaka memandang Kevin sejenak.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Ketus Shaka.
"Kalau kau masih menganggap aku temanmu, coba kau dengarkan saran dariku". Jawab Kevin.
Shaka diam sejenak, ia kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari matanya mulai memandang kosong langit-langit ruangannya.
"Sudah seminggu aku tidak mendengar kabar dari Amira, hal ini benar-benar membuat aku tersiksa". Ucap Shaka lirih yang akhirnya kembali membuka suaranya.
__ADS_1
"Apa itu artinya kau sudah mencintainya? Apa kau sadar jika kau sudah mencintainya". Tanya Kevin yang kali ini memandang Shaka serius.
" Kau benar, aku bahkan sudah menyadarinya sejak lama". Jawab Shaka datar.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Temui lah dia dan nyatakan perasaanmu ini padanya". Ucap Kevin yang langsung sumringah.
"Percuma vin, Nenek sudah tidak menyukainya semenjak tau kehamilannya". Ucap Shaka dengan lesu.
"Shaka.. Aku tau nenekmu begitu menyukai Amira dan apa kau lupa kalau Amira adalah cucu dari sahabat baik nenekmu dia pasti mau menerima Amira apa adanya. Lagi pula aku yakin pasti kalau nenekmu tau kalau kau sudah mencintai Amira dia pasti akan menerima Amira lagi. Aku yakin Amira punya alasan yang jelas kenapa dia melakukan semua ini, dan aku yakin Amira adalah gadis baik-baik aku yakin,i apa yang terjadi padanya saat ini karena ia khilaf dan pasti ini semua sangat berat untuk Amira, dan apa kau lupa siapa dirimu?" Kevin mendekatkan wajahnya ke arah Shaka sembari memainkan alisnya.
"Apa maksud mu? Apa kau pikir aku amnesia sehingga lupa siapa diriku?" Ketus Shaka yang tak mengerti ucapan Kevin.
"Lagi pula aku juga tidak tau apakah Amira juga mencintaiku atau tidak". Tambah Shaka lagi.
"Hei!! kau adalah seorang Shaka Buwana! Sang penguasa, kau sudah menghadapi berbagai type manusia di muka bumi ini, kau juga bisa menaklukan segala macam situasi. Kau itu adalah Shaka Buwana yang tak pernah takut dengan apapun di dunia ini. Jadi jangan biarkan seorang wanita mungil membuat nyali mu ciut begitu saja, apa kata dunia kalau kau tidak bisa menaklukan seorang wanita". Jelas Kevin sembari tersenyum penuh percaya diri.
Shaka pun kembali terdiam, dia mulai mencerna ucapan Kevin yang ada betulnya juga.
"Kau benar, aku selalu mengalahkan musuh hingga membuat mereka segan padaku. Bagaimana mungkin aku menghadapi seorang wanita saja tidak bisa". Ucap Shaka seakan tengah berfikir.
"Nah tunggu apa lagi? Pergilah dan nyatakan perasaanmu padanya". Ucap Kevin.
"Jadi menurutmu aku harus mengungkapkan perasaanku padanya?" Tanya Shaka yang juga mendekatkan wajahnya ke Kevin dengan tatapan yang serius.
"Tentu lah.. Ini lah saatnya Ka". Jawab Kevin kembali meyakinkan Shaka.
"Baiklah.." Ucap Shaka yang kembali bersemangat dan berdiri dari duduknya.
"Aku seorang Shaka Buwana aku pasti bisa membawanya kembali, terima kasih Vin, kau memang yang terbaik". Ucap Shaka sembari menepuk-nepuk pelan pipi Kevin.
Sesudah itu, Shaka dengan semangat yang kembali berkobar pergi meninggalkan Kevin yang masih tercengang memegangi pipinya bekas di tepuk-tepuk lembut oleh Shaka.
"Ada apa dengannya? Kenapa tadi dia terlihat begitu bernafsu padaku" Tanya Kevin bergidik ngerih.
__ADS_1
Shaka melajukan mobilnya menuju rumah Amira. Dia berhenti tepat di toko bunga dan turun untuk membeli seikat bunga untuk Amira. Setelah selesai membeli bunga, Shaka kembali melajukan mobilnya. Sepanjang jalan Shaka terus membayangkan dirinya akan menyatakan cinta pada Amira sembari memberi seikat bunga yang begitu cantik dan segar.
Tunggu aku Amira, aku akan menyatakan cintaku pada mu dan akan membawa mu pulang ke rumah. Tidak peduli nenek tidak menyukaimu tidak peduli dengan keadaanmu sekarang. Yang jelas aku sudah tidak bisa lagi berpisah darimu. Ucap Shaka dalam hati dengan wajah berbinar-binar.