Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 138 Penjahat Amatiran


__ADS_3

“Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis?” Tanya Shaka mulai khawatir saat mendengar suara istrinya lewat telepon, yang terdengar panik.


“Queen di culik, dan sekarang mereka mengikat kaki dan tangan Samudra di kursi depan gerbang sekolah, aku terlambat menjemput mereka karena aku ke rumah sakit untuk melihat keadaan papa yang mengalami kecelakaan,” jelas Amira dengan suara bergetar.


“Apa? Tunggu aku, jangan ke mana-mana, aku akan segera menyusul ke sana!”


Shaka pun bergegas keluar dari ruangannya, melihat Shaka yang tergesa-gesa, Kevin pun bertanya.


“Ada apa Ka? Kenapa kau terlihat begitu buru-buru?”


“Kau ikutlah denganku sekarang, Queen di culik,” jawab Shaka sembari terus berjalan cepar mendahului Kevin.


Kevin yang masih dalam keadaan hati yang sangat terkejut pun mengikuti langkah Shaka dari belakang.


Mobil Shaka melesat dengan cepat sampai di depan gerbang sekolah, Shaka langsung menghampiri istri dan anaknya itu yang sama-sama sedih dan terpukul.


“Sayang, Bagaimana itu bisa terjadi?” Tanya Shaka yang kini sudah duduk di samping istrinya.


“Aku tidak tau, begitu sampai, aku sudah mendapati keadaan Samudra yang sudah terikat tali di tangan dan kakinya, Samudra melihat 2 orang pria bertubuh kekar turun dari mobil dan langsung saja membawa Queen secara paksa dan mengikat Samudra di sini,” jelas Amira dengan deraian air mata.


Shaka pun sontak di buat geram, ia mengepalkan tangannya, dia lantas meminta Kevin untuk masuk ke dalam sekolah meminta penjaga sekolah mengecek rekaman cctv yang ada di depan gerbang.


“Kamu tenang ya sayang, Kevin akan mengecek cctv di depan sekolah ini, kita akan segera menemukan Queen,” jelas Shaka mendekap tubuh Amira dan Samudra secara bersamaan.


Beberapa menit kemudian, Kevin segera menemui Shaka dan Amira di gerbang depan sekolah.


“Bagaimana Kevin? Apa kau sudah menemukan plat nomor mobil itu?” Tanya Shaka melihat Kevin yang sudah berdiri di samping mereka.


“Sudah, aku sudah mencatatnya, dan aku juga sudah tau itu mobil siapa,”


Sementara di sebuah tempat, 2 orang wanita sedang berdiri di dalam kamar memandangi Queen yang terbaring di atas ranjang dalam keadaan tak sadarkan diri efek obat bius yang di berikan 2 penculik itu pada Queen.

__ADS_1


“Akhirnya, cucuku berada bersamaku sekarang, kita akan membawanya ke Paris, menjauhkan dia dari Amira, kita mulai hidup baru di sana bersama Queen,” ujar seorang wanita paru baya yang tak lain ada Anisa.


“Tapi ma, aku takut bagaimana kalau kita ketahuan, Genta pasti akan memarahi kita, dan aku juga takut mendapat amukan dari Shaka lagi,” ucap Safa yang ternyata membantu mertuanya itu untuk melancarkan aksinya dalam menculik Queen.


Safa saat ini benar-benar tertekan, dia tidak punya pilihan lain selain mengikuti perintah mertuanya, karena ternyata jika dia tidak mematuhi perintah mertuanya, maka mertuanya akan melaporkan Safa pada Genta, karena sudah kedapatan bersama pria lain di sebuah club, 5 hari lalu.


Dan tentu saja semua itu hanya salah paham, lelaki yang bersama Safa di club waktu itu adalah teman sepupu perempuannya, kebetulan sepupunya baru pulang dari luar negeri, dia berkunjung ke club dan sudah tidak tau jalan pulang, dia meminta Safa menjemputnya, karena tidak mau sepupunya itu sampai tersesat, Safa pun menjemputnya di sebuah club, begitu sampai di depan pintu club, seorang lelaki tiba-tiba saja merangkul pinggang Safa, dan tanpa Safa sadari posisi mereka saat itu sudah diam-diam di potret orang lain yang berada tak jauh dari tempat mereka berada, sadar dirinya di rangkul pria asing, Safa pun segera mendorong tubuh pria itu dan menatap tajam pria itu.


Pria itu pun pura-pura terkejut dan juga minta maaf, karena dia pikir Safa adalah pacarnya jadi dia sontak merangkul pinggang Safa begitu saja, lalu kemudian lelaki itu pergi begitu saja meninggalkan Safa yang masih berdiri dengan tatapan membunuh menatap pria itu.


Tentu saja semua itu adalah ulah Anisa, dia sengaja mengirim orang untuk merangkul Safa dan juga memotretnya dari kejauhan untuk di jadikan umpan, agar suatu saat akan ia perlihatkan pada Genta jika Safa tidak mematuhi perintahnya.


“Kau jangan lembek Safa, kamu lupa? Kalau sampai kamu tidak mematuhi semua yang saya perintahkan, saya akan memperlihatkan foto itu pada Genta,” ancam Anisa sembari menunjuk wajah Safa dengan telunjuknya.


Safa membelalakkan matanya sembari menggeleng pelan.


“Ma tolong jangan beritahu Genta, lagi pula, itu hanya salah paham ma, aku sama sekali tidak kenal dengan pria itu,” bujuk Safa dengan raut wajah sendu.


Degg…


Seketika jantung Safa berdenyut, hatinya begitu sakit saat mendengar penuturan mertuanya itu, dia tidak tau kalau orang yang merangkul pinggangnya adalah orang suruhan Anisa, itulah sebabnya kenapa dia mati-matian meyakinkan Anisa.


“Tapi itu benar hanya salah paham, aku tidak tau siapa pria itu,” jelas Safa lagi seolah tak kan berhenti meyakinkan Anisa.


“Terserah kau saja! Yang jelas kamu harus ikuti rencana saya,”


Safa pun terdiam sejenak, rasanya berdebat dengan mertuanya itu tidak ada gunanya, akhirnya ia pasrah dan bertanya.


“Apa rencana mama?”


Mendengar pertanyaan Safa, membuat senyum sinis terbit begitu saja dari wajah Anisa.

__ADS_1


“Akhirnya anak bodoh ini mulai tunduk padaku,” gumam Anisa dalam benaknya.


“Saya mau, begitu cucu saya sadar, kau beritahu padanya kalau kita berdua lah yang sudah menyelamatkan dia dari 2 penjahat itu, dan tugasmu adalah meyakinkan Queen kalau Genta lah ayah kandungnya, kau juga harus belajar menyayangi cucu saya ini, karena jika tidak saya akan mempengaruhi Genta agar mau menceraikan kamu dan saya akan mencarikan ibu sambung yang baik untuk Queen,” cetus Anisa dengan nada ancaman.


“Baik ma,” jawab Safa singkat, akhirnya dengan terpaksa kini Safa menjadi penjahat amatiran.


“Kita urus keberangkatan kita ke luar negeri minggu depan, dan selama seminggu ini saya akan memberikan kesempatan untukmu mendekati Queen, kau harus bisa mengambil hatinya dalam waktu 1 minggu ini, dan kau jangan beritahu Genta rencana kita ini, kita juga harus bersandiwara di depan Genta,”


Safa pun hanya diam dan mengangguk tanda setuju.


Di sebuah rumah…


Dengan cepat, Shaka dan juga Kevin menerobos masuk ke dalam rumah orang tua Genta, begitu masuk rumah itu tampak kosong, tak ada satu pun penghuni di situ, tentu saja semua itu sudah di persiapkan Anisa, sembari menunggu jadwal keberangkatan mereka ke Paris, Anisa membawa Queen ke rumah Genta dan Safa dan tinggal sementara di sana, sementara saat ini Shaka mau pun Amira tidak tau di mana rumah Genta dan Safa sekarang.


“Sial, mereka sudah pergi,” gerutu Shaka mengusap kasar wajahnya.


“Ya sudah kita keluar dari sini, ayo kita pikirkan tempat mana lagi yang harus kita datangi,” ajak Kevin kemudian.


Sementara Amira yang sedang menunggu di mobil pun tampak kecewa saat melihat Shaka dan Kevin keluar dari rumah itu dengan tangan kosong, ia pun membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil dengan di susul Samudra, Amira memang hanya menunggu di mobil, karena sebelumnya Shaka sudah berpesan agar Amira di mobil saja bersama Samudra, ia tidak ingin terjadi apa-apa pada anaknya itu, mengingat mereka akan memasuki rumah seorang penjahat, ya kini keluarga Atmadja sudah bagaikan penjahat di mata mereka.


“Apa tidak ada Queen di sana?” Tanya Amira begitu Shaka dan Kevin sudah berdiri di hadapannya.


Mereka pun sama-sama menggeleng, suasana hening pun tercipta, mereka saling diam dengan pikiran masing-masing, tak lama lamunan mereka buyar saat ponsel Kevin berbunyi.


“Bagaimana?” Tanya Kevin singkat.


“Baik,” wajah Kevin yang tadinya tegang kini berubah jadi sumringah, dia pun menutup telepon dan menatap Shaka dan Amira secara bergantian.


“Ada apa Vin? Apa ada kabar baik?” Tanya Shaka antusias.


“Mereka sedang berada di rumah Safa dan Genta, ayo ikut aku, Vicko sudah mengirimkan alamat rumah mereka, kita ke sana sekarang,”

__ADS_1


__ADS_2