Ibu Muda

Ibu Muda
Episode 38 Larut Dalam Kesedihan


__ADS_3

Melihat keadaan Amira, Shaka segera membopong Amira dari kursi roda dan membawah nya ke ruang nifas. Riana dan Adi yang melihat keadaan Amira sontak kaget.


"Shaka, Amira kenapa?" Tanya Adi tampak cemas.


"Nanti saya jelaskan di dalam pa". Shaka segera membawah Amira masuk ke dalam ruang nifas dan membaringkan Amira di ranjang dengan di ikuti Adi dan Riana.


"Ada apa Shaka?" Tanya Adi semakin cemas.


Shaka menghela nafas panjang dan perlahan mencoba memberitahu Adi dan Riana.


"Amira pingsan, karena mendengar penjelasan dokter tentang keadaan bayi nya pa". Jawab Shaka tampak ragu.


"Keadaan bayi nya bagaimana? Ada apa dengan bayi Amira?"


Shaka menatap ragu ke arah Adi dan Riana secara bergantian.


"Pa.. Ma.. Bayi nya.. Bayi nya.."


"Ada apa dengan bayi nya Shaka?" Tanya Riana semakin cemas.


"Bayi nya meninggal". Ucap Shaka dengan mata berkaca-kaca.


"Apa?" Riana tampak syok, dia hampir saja terjatuh namun dengan sigap Adi menahannya.


"Ma.. Pa.." Adi dan Riana serta Shaka sontak kaget dan berbalik menghadap Amira yang tengah terbaring.


"Amira sayang.." Riana segera menghampiri Amira dan mengenggam erat tangannya sembari menangis.


"Bayi ku ma.." Ucap Amira dengan bersimbah air mata.


Riana hanya mengangguk sembari menangis menatap sendu ke arah Amira.


"Aku mau melihat nya ma".


"Yah sudah ayo.. Mama ambilkan kursi roda ya". Ucap Riana segera meraih kursi roda yang sudah di ambil Shaka.


Shaka kembali memboyong Amira pindah ke kursi roda. Dengan di dorong Shaka, Amira menatap dengan tatapan kosong. Amira masih sangat syok dengan berita kematian anaknya.


Sesampainya di ruangan bayi, Amira dengan di dorong oleh Shaka mendekat ke arah tempat tidur bayi nya mulai menatap bayi nya dengan tatapan sendu. Amira sudah tidak mampu lagi berkata-kata, kini bayi yang sudah menemaninya selama 9 bulan menghadapi suka dan duka bersama kini telah terbujur kaku terbungkus kain yang menutupi wajahnya.

__ADS_1


"Shaka, izinkan aku memeluk putri ku". Pinta Amira.


Shaka lalu membuka penutup wajah bayi Amira dan menggendongnya ke pelukan Amira. Amira memeluk bayi itu dan menciumi nya berkali-kali. Air mata Amira bercucuran, Amira menangis terseduh meratapi kematian bayinya. Sementara Shaka yang melihat itu jadi tak tegah ia mengusap lembut pundak Amira untuk menenangkannya. Amira terus mendekap bayi nya dan menangisi nya. Tangisan Amira begitu pilu hingga akhir nya dokter minta izin mengambil bayi itu untuk di bersihkan.


Amira tengah duduk di depan makam anaknya sembari menatap kosong dengan bersimbah air mata. Amira masih tak menyangka dia harus kehilangan bayi yang sangat dia cintai. Amira masih sangat trauma dan depresi dengan keadaan ini. Sementara Shaka berusaha membujuk Amira dengan mengusap lembut pundak Amira, Shaka sangat cemas melihat Amira yang begitu terpukul, baru saja dia merasakan kebahagiaan dengan kelahiran bayi nya kini dia harus kehilangan bayi nya.


Sisi Lain Panti Asuhan..


Seorang wanita sedang duduk mengaji di ruang tamu panti asuhan itu. Namun tiba-tiba dia menghentikan kegiatan mengaji nya, saat mendengar suara tangisan bayi di depan pintu pantu asuhan. Dia berjalan mendekat ke arah pintu dan meraih gagang pintu itu dan perlahan membuka nya.


Ceklek..


Pintu terbuka, wanita itu sontak terkejut dengan membulat kan matanya melihat seorang bayi di letakkan begitu saja di depan pintu itu. Wanita itu yang tak lain adalah pemilik panti asuhan bergegas meraih bayi itu dan menggendong ke dalam dekapannya sembari melihat kesana kemari siapa yang sudah tegah membuang bayi ini. Sementara dari balik pagar, seorang wanita sedang berdiri memastikan yang di kira bayi nya itu sudah di ambil pemilik panti asuhan itu atau belum. Setelah memastikan bayi nya yang tak lain adalah bayi Amira sudah di tangan pemilik panti asuhan itu, dia lalu pergi meninggal kan panti asuhan itu sembari menangis.


Wanita itu sengaja membuang bayi nya karena bayi itu adalah hasil perkosaan dari seorang laki-laki yang tak bertanggung jawab namun laki-laki itu kini sudah meninggal secara tragis karena kecelakaan motor yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Wanita itu merasa tidak mampu bila dia harus merawat bayi nya sendiri hingga dia akhir nya memutuskan untuk menaruh bayi itu di panti asuhan.


Seminggu berlalu..


Amira masih terpukul dengan kematian bayi nya.


"Amira". Suara lembut Shaka menyapa telinga Amira. Amira menatap nya lagi dan menangis. Shaka memeluk Amira dan mengusap punggunya seraya menghibur.


Sudah 1 minggu ini Amira masih terpukul dengan kematian anaknya. Kesedihan Amira yang berlarut berimbas pada kehidupannya dan Shaka. Karena itu Shaka memanggil dokter pribadi mereka agar melihat kondisi Amira. Dari pintu yang terbuka lebar, dokter Haris dan Shaka sedang berbicara serius dan Shaka tampak terpukul.


Amira bersyukur saat ini Shaka sudah lebih mengerti dengannya. Shaka yang dulu sangat ketus pada nya kini terlihat sangat memperhatikannya. Sementara Amira mulai merasa menyesal karena tak bisa menjadi istri yang baik untuk Shaka. Malahan dia merasa hanya merepotkan Shaka, walau sebenar nya Shaka tak merasa di repotkan sama skali. Namun batin Shaka tersiksa melihat Amira yang tak kunjung bangkit dari kesedihan.


3 bulan kemudian..


Amira masih dengan keadaan yang sama, tengah duduk bersantai di ruang keluarga. Ponsel nya berdering tiba-tiba, Amira segera mengangkat panggilan dari Shaka.


"Hallo".


"Hallo Amira, aku ingin pergi dulu".


" Kau mau ke mana?" Tanya Amira tampak cemas.


"Aku mau ke kantor sebentar ada urusan kantor yang harus segera ku selesaikan".


" Yah sudah, kamu cepat lah pulang". Celetuk Amira lalu segera mematikan telepon. Namun seketika Amira sadar.

__ADS_1


Kenapa aku dan Shaka menggunakan telepon padahal kami sedang berada di ruangan yang sama. Batin Amira mulai sadar.


Amira sangat ingin sembuh dari trauma nya, karena trauma ini, Amira dan Shaka kini saling berjauhan. Meski demikian, Shaka selalu mengawasi Amira dari kejauhan. Pikiran Amira kalut merenungkan masalah yang menimpanya. Dia menyadari, tak seharus nya dia larut dalam kesedihan dan membuat Shaka tidak nyaman dengan hal ini.


Amira ingin seperti sedia kala, di mana ia bisa tersenyum kepada Shaka, dan bisa menikmati waktu dengannya tanpa terganggu oleh trauma mungkin itu adalah hal yang paling membahagiakan.


Jika trauma ku ini membuat ku menderita, aku lebih baik melupakannya demi Shaka! Ucap Amira dalam hati.


Kini keputusan Amira sudah bulat. Amira mulai menunggu kepulangan Shaka, Amira tampak gugup, dan mulai merangkai kata-kata yang akan dia sampaikan nanti pada Shaka.


Amira mendengar suara mesin mobil Shaka ia lalu ke balkon dan melihat Shaka dari kejauhan.


"Hallo". Ucap Amira ketika melihat Shaka sudah menerima panggilannya.


"Hallo Amira". Balas Shaka.


"Apa kau sudah pulang? Aku mendengar suara mobilmu". Ucap Amira berdusta.


"Ya aku pulang". Ucap Shaka sembari keluar dari mobil. Sementara Amira sedang berusaha memberanikan diri untuk mengatakan isi hatinya.


"Shaka, aku menyesal". Ucap Amira mulai membuka pembicaraan serius.


"Aku merasa, aku bukan lah istri yang baik". Lanjut Amira, karena terbawah suasana akhirnya Amira terisak.


" Tak apa-apa aku mengerti, kita coba cari jalan keluar nya ya". Balas Shaka. Ternyata dia sudah benar-benar berubah. Dia berubah menjadi suami yang begitu pengertian meski Amira berulang kali selalu menyusahkan nya akhir-akhir ini.


Shaka yang awal nya menghadap ke bawah akhirnya mengangkat kepalanya, namun saat mereka bertemu pandang, ia tertegun melihat Amira yang sedang meletakkan ponsel nya di telinga.


"Maafkan aku karena selalu membuat mu kesal karena kesedihan ku yang berlarut larut Shaka, terimakasih karena sudah menunggu ku dengan sabar". Ucap Amira sembari berjalan mendekati Shaka.


Sepasang mata Amira tak pernah lepas dari Shaka begitu pun dengan Shaka. Amira bisa merasakan tubuh Shaka yang membeku ketika Amira memberi pelukan. Shaka terdiam cukup lama, dan dari pandangan Amira kedua sudut mata Shaka menggenang. Shaka akhirnya membalas pelukan Amira sambil sesekali menghapus air mata yang berada di sudut matanya. Raut wajah nya begitu bahagia. Mereka sama-sama tersenyum getir dan menatap lekat satu sama lain.


"Apa kau sudah melupakan.." Amira segera memotong ucapan Shaka dengan gelengan.


"Aku mencoba bangkit dari kesedihan ku".


Shaka mengumbar senyuman manis pada Amira.


" Apa kau sudah bisa aku dekati?" Tanya Shaka berhati-hati.

__ADS_1


"Tentu saja".


Shaka diam sebentar kemudian dia mendekati Amira, dan perlahan menekan bibir nya ke bibir Amira. Amira sontak terkejut, namun akhirnya menjadi rileks. Shaka mencium bibir Amira dengan lembut, nafas Amira memburu karena kegiatan yang mereka lakukan. Namun tiba-tiba Shaka menarik kepalanya dan tanpa sadar Amira mendesah kecewa. Shaka mengangkat kepala Amira agar dia bisa memberikannya senyuman menawan lalu kembali mengecup bibir Amira.


__ADS_2