
Tak lama Queen pun tertidur dalam buaian Amira, dengan perlahan Amira mulai menidurkan Queen di atas tempat tidur sembari mengusap lembut rambut bayi itu yang baru tumbuh sedikit.
“Amira, apa kau tidak lelah?” Tanya Yura menghampiri Amira dan duduk di tepi ranjang Queen.
“Tidak, aku malah sangat senang bisa menenangkan dia, lihat lah sekarang dia sudah tertidur lelap,” jawab Amira dengan tersenyum.
Sebenarnya saat ini dia sangat lelah, karena dia dan Shaka baru saja pulang dari rumah sakit yang jarak nya cukup jauh dari rumah mereka, tapi entah kenapa, demi Queen dia rela menyempatkan diri untuk datang menenangkan anak itu, penat yang di rasakan Amira seakan hilang saat ia melihat wajah mungil bayi itu.
“Mungkin dia rindu pada nona Amira,” ucap Sitti sembari menatap sayang ke arah Queen.
Mendengar itu lagi-lagi Yura sedikit merasakan panas di hatinya, tapi dia segera menepis perasaannya itu, dia tidak boleh cemburu pada Amira, akhirnya ia berfikir untuk membiarkan Amira merawat dan membesarkan Queen bersama-sama, dia tidak boleh egois, ini semua demi Queen, bagaiamana pun Queen sudah sangat dekat dengan Amira di karenakan Amira yang lebih dulu mengenal Queen dari pada dirinya, kini Yura mulai berusaha untuk berlapang dada.
Tak lama setelah melihat Queen sudah cukup tenang, Amira dan Shaka pun pamit pulang.
“Yura, kami pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa dengan Queen, kau boleh menghubungi Amira untuk datang ke sini menemui Queen,” ucap Shaka setelah berada di teras rumah Reza.
“Iya, terima kasih banyak Amira, Shaka, kalian sudah menyempatkan diri untuk ke sini, kalau tidak karena Amira, aku tidak tau lagi harus mengatasi Queen dengan cara apa, bayi itu hanya bisa tenang kalau Amira yang menenangkannya, maaf ya Mir sudah merepotkan,” imbuh Yura dengan rasa tak enak hati.
“Ah tidak, sekali lagi, aku sangat senang bisa datang ke sini untuk membantu menenangkan Queen, lagi pula bayi itu sudah aku anggap seperti anak ku sendiri, jadi tidak perlu sungkan,” jawab Amira sembari memegang pelan pundak Yura.
Tak lama Amira dan Shaka pun pergi meninggalkan rumah Reza, sepanjang jalan Amira terus saja diam dan memandang ke arah luar jendela mobil.
“Sayang, kenapa diam?” Tanya Shaka menyadari sikap Amira yang terus diam setelah pulang dari rumah Reza.
Amira pun menoleh ke arah Shaka.
“Ka, bagaimana kalau kita minta izin kak Reza dan Yura untuk membawa Queen ke rumah kita, aku jadi tak tenang setelah meninggalkan anak itu, bagaimana kalau dia menangis lagi,” ucap Amira lirih.
“Tapi sayang, Queen kan anak Reza dan Yura, semenjak menikah mereka sudah menganggap Queen seperti anak sendiri, aku tidak yakin kalau mereka mengizinkannya,” tukas Shaka meraih tangan Amira dengan sebelah tangannya.
Amira pun kembali diam, ia menghela nafas dan bersandar pasrah di kursi mobilnya.
6 Bulan Kemudian…
Selama 6 bulan belakangan, keluarga Buwana hidup begitu rukun dan tentram, Shaka juga selalu mengantar Amira untuk berkunjung ke rumah Yura dan Reza hanya demi menemui Queen.
Begitu juga dengan Marsel, saat ini ia dan semua anggotanya termasuk Dewa sedang menjalani hukuman di penjara, namun karena kebijakan dari Shaka, akhirnya Marsel mendapat hukuman yang lebih ringan dari yang lainnya dan cepat keluar dari tahanan jika ia berkelakuan baik selama menjalani masa hukuman, usaha Cassino milik Dewa juga sementara telah di alihkan ke salah satu bos mafia yang juga memiliki saham di situ.
Kehamilan Amira sudah memasuki trimester ke tiga, perut Amira yang awalnya masih terlihat begitu rata, kini mulai melendung, bahkan Amira pun mulai sering merasakan sesak pada perutnya saat ia baru selesai makan, atau pun saat sedang memakai celana.
Nafsu makan Amira pun kian hari kian bertambah, begitu juga dengan sikap Amira yang semakin hari semakin manja, ia bahkan berubah jadi sosok yang agresif dan sedikit lebih posesif pada suaminya, bahkan sekarang ia jadi lumayan sering menuntut Shaka melakukan hal yang di luar nalar.
Seperti siang ini, Amira dan Shaka sedang makan siang di luar bersama.
“Sayang,” panggil Amira sembari mengguit lengan Shaka.
“Ada apa sayang?” Tanya Shaka lembut dan beralih menatap Amira.
“Tiba-tiba aku menginginkan sesuatu,” ucap Amira dengan begitu manja.
Melihat itu, Shaka dengan lembut mengusap pipi Amira.
“Katakan, apa yang kamu inginkan?” Tanya Shaka lembut.
“Apa kamu akan menurutinya?” Amira dengan wajah berbinar sontak memegang lengan Shaka dengan penuh harapan.
“Apapun yang kau minta, selagi aku bisa, aku pasti akan menurutinya sayang,”
“Benarkah?”
“Tentu, tapi tolong, jangan meminta hal yang di luar nalar,”
Mendengar itu, Amira pun langsung melepaskan pegangannya pada lengan Shaka dan menampilkan bibirnya yang manyun.
“Benar kan kamu tidak ingin menuruti permintaan ku,” ucap Amira yang langsung menampilkan raut wajah masam.
“Astaga sayang, bu bukan begitu,”
“Hu hu hu, anak ku lihat lah bagaimana papa mu tidak menuruti keinginan kita sayang, hu hu hu,” Amira terus menangis seperti anak kecil sembari mengusap-usap perutnya.
__ADS_1
Melihat Amira yang tiba-tiba menangis sontak membuat orang-orang yang juga makan di situ menoleh ke arah mereka, mereka memandang Amira dengan raut wajah kebingungan.
“Apa yang tuan lakukan pada nona itu? Kenapa dia menangis?” Tanya salah satu ibu-ibu yang kebetulan duduk di dekat meja Amira dan Shaka, perempuan paruh baya itu tidak tega melihat keadaan Amira yang sedang hamil besar menangis seperti itu.
“A.. aku tidak melakukan apa pun, sungguh,” jawab Shaka yang juga ikut kebingungan.
“Anak ku yang malang, kasihan sekali kita berdua, saat menginginkan sesuatu, tapi papa mu sama sekali tidak mau menurutinya, hu hu hu,” Amira semakin mengeraskan suara tangisannya.
“Sayang, kenapa kamu menangis? Kamu bahkan belum menyebutkan apa yang kamu inginkan? Kenapa berbicara seperti itu pada calon anak kita?” Keluh Shaka berusaha menenangkan Amira.
“Tuan, istri anda sedang mengandung dan mengidam, tuan tidak boleh menolak keinginannya, karena jika tuan tidak menuruti semua yang di inginkan istri anda, nanti anak kalian jadi suka mengences dan ileran,” ucap ibu yang tadi yang kini berada di samping Amira dan mengusap pelan kedua pundak Amira membantu menenangkan Amira.
“Oh anak ku sayang, kasihan sekali kamu nak, jadi nanti kamu akan mengences karena papa mu tidak mau berkorban,”
“Ba.. baik lah sayang, aku akan menuruti apa pun yang kamu minta, tapi tolong berhenti lah menangis,”
“Kamu yakin akan melakukan apa pun dan tidak akan menolak?” Shaka sontak terdiam.
“Iya, aku yakin,” jawab Shaka pasrah.
“Ah baik lah,” Amira pun kembali sumringah.
“Sekarang katakan lah apa yang kamu inginkan sayang?” Tanya Shaka dengan lesu.
“Saat ini aku ingin kamu memakan jagung bakar yang ada di depan itu,” ucap Amira tersenyum.
“Haaaaahhh?” Shaka pun di buat terbelalak saat mendengar permintaan Amira.
Bagaimana tidak, selama ini Shaka sangat anti dengan jagung, dia tidak pernah memakannya karena memiliki trauma tertentu dengan makanan itu, tapi kali ini istri nya meminta dia memakan itu, dia jadi bingung harus bagaimana.
“Oh jadi itu yang nona inginkan? Tuan ikuti saja apa yang nona ini mau, demi kebaikan calon anak kalian, ya sudah kalau begitu saya ke meja saya dulu ya,” ucap ibu yang tadi dan di angguki Amira.
“Terima kasih ya bu,” ucap Amira.
“Sama-sama,”
“Ja.. jadi kamu meminta ku makan makanan itu?” Tanya Shaka yang jadi terbata-bata.
“Ta… tapi sayang, tidak ada kah permintaan yang sedikit lebih normal?”
“Tidak ada, itu lah yang saat ini calon anak kita inginkan, entah kenapa, rasanya aku begitu puas melihat mu makan jagung,” Amira tau Shaka tidak suka makan jagung, tapi entah kenapa saat ini dia ingin sekali melihat suaminya memakan itu.
“Sepertinya sebentar lagi, aku akan benar-benar gila,” celetuk Shaka sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Apa katamu?”
“Ti… tidak sayang, aku, aku, baiklah aku akan menuruti permintaan kalian berdua,” jawab Shaka yang memasang senyum keterpaksaan di hadapan istrinya.
“Ah kamu manis sekali sayang, aku jadi semakin cinta,” ucap Amira kegirangan sembari mencubit gemas pipi suaminya.
“Iya, kamu jadi semakin cinta, sementara aku jadi semakin gila,” gumam Shaka dalam hati sembari memancarkan senyuman lirih.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi sekarang,” Amira dengan semangat mulai bangkit dari duduk nya sembari menarik tangan Shaka.
“Mau kemana sayang?”
“Makan jagung,” Amira pun kembali menarik paksa tangan Shaka.
“Ta.. tapi sayang harus kah hari ini?”
“Harus hari ini, ayo lah sayaanng,”
Akhirnya Shaka pun hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan konyol istrinya, yang sungguh di luar nalar baginya.
Dengan membawa wajah masamnya, Shaka dan Amira berjalan ke depan menuju tempat penjual jagung.
“Permisi mas, aku mau pesan 5 jagung bakar,”
Mendengar Amira memesan 5 jagung bakar membuat mata Shaka sontak membulat, jangan kan 5 bahkan 1 butir jagung saja tidak pernah ia makan apa lagi 5.
__ADS_1
“Sayang, apa itu tidak terlalu banyak?” Tanya Shaka dengan raut wajah waswas.
“Memang nya kenapa? Kamu tidak mau?” Tanya Amira mulai menampilkan wajah sedih.
“Ti.. tidak sayang, bukan begitu, baiklah aku mau,” jawab Shaka yang kembali jadi lesu.
Amira pun tersenyum senang dan meminta penjual jagung itu untuk membakar 5 tongkol jagung untuk suaminya.
Tak lama jagung yang Amira pesan sudah jadi, kini 5 buah jagung itu sudah ada di depan mata Shaka, melihat itu Shaka bergidik ngerih, ternyata Shaka memliki rasa jijik dengan jagung dari ia kecil, ia bahkan tidak sanggup menceritakan pengalaman buruknya itu karena dia sudah berusaha melupakannya, intinya dia jijik dengan makanan itu.
Akhirnya dengan rasa jijik Shaka dengan perlahan mulai mengigiti satu persatu butir jagung itu, dengan wajah memerah dia mengunyah jagung itu dengan hidung yang mengkerut, alis nya ikut turun sembari menggigiti makanan itu dengan ekspresi jijik.
Namun baru 3 butir jagung yang ia makan, Shaka sudah tidak bisa manahannya lagi, ia merasa mual dan menjauh dari tempat penjualan jagung bakar itu dan tanpa sengaja memuntahkan isi perut nya, Shaka begitu jijik padahal jagung yang ia makan baru 3 butir dari 1 tongkol jagung yang ada.
Melihat itu Amira jadi tidak tega, ternyata Shaka benar-benar tidak bisa memakan jagung, tapi entah kenapa hati nya berkata seolah ingin Shaka memakannya, tapi kali ini Amira tidak memaksa Shaka lagi, dia pun berjalan menghampiri Shaka yang sedang muntah dan menyodorkan 1 gelas air putih untuk Shaka, tak lupa ia juga mengurut lembut tengkuk Shaka untuk meredakan muntah nya.
“Sayang, maaf ya, aku hanya ingin menuruti keinginan hati ku yang begitu menggebu, aku tidak tau kalau efek nya bisa sampai seperti ini,” ucap Amira dengan rasa bersalah.
Setelah habis memuntahkan isi perut nya, akhirnya Shaka pun meraih minuman yang ada di tangan Amira dan meneguknya, setelah merasa cukup lega, Shaka mengajak Amira untuk masuk ke mobil, tak lupa ia membayar jagung yang sudah di bakar itu pada bapak penjual jagung, lalu pergi begitu saja.
“Tuan, jagung nya?” Tanya bapak penjual jagung itu.
“Buat bapak saja semua,”
Bapak itu diam saja menyaksikan Shaka yang tidak suka makan jagung, sedari tadi ia melihat Shaka muntah setelah makan jagung bakar darinya.
Sepanjang jalan Shaka hanya diam saja membuat Amira semakin merasa bersalah, Amira pun meraih tangan Shaka ke dalam genggaman tangannya.
“Sekali lagi maaf kan aku, aku benar-benar tidak tau kalau bisa sampai seperti ini,” imbuh Amira di penuhi rasa bersalah.
“Tidak apa sayang, aku mengerti, aku bisa memenuhi semua permintaan mu termasuk yang satu itu, walau dengan susah payah aku tetap akan berusaha untuk mengabulkannya,” tukas Shaka kemudian.
“Aku benar-benar kagum pada mu,” ucap Amira.
Shaka langsung menatap Amira dan memancarkan senyuman manis padanya.
“Entah kebaikan apa yang tuhan berikan pada ku, sehingga tuhan mengirimkan seorang suami yang mengangumkan seperti kamu,” ungkap Amira kembali memandangi wajah suaminya dengan kagum.
“Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Andai kamu tau berapa banyak wanita di luar sana yang mengagumi suami mu ini,”
Amira pun menyandarkan kepalanya di pundak nyaman suaminya.
Tak lama ponsel Amira berdering, menampilkan nama Salsa di layar ponsel Amira.
Amira pun menekan tombol hijau di ponsel nya.
“Halo, ada apa ya Sa?”
“Amira, aku mau mengundang mu untuk hadir di acara ulang tahun Queen besok,” ucap Salsa dari balik telepon.
“Queen ulang tahun?” Tanya Amira yang sontak terkejut dengan hari ulang tahun Queen yang sama dengan hari kelahiran anak nya yang di anggapnya sudah meninggal.
“Iya Mir, besok dia berulang tahun genap 1 tahun, memang nya kenapa Mir? Kenapa kamu terkejut?” Tanya Salsa mengerutkan dahinya.
“Iya Sa, tiba-tiba saja aku teringat dengan anak ku, hari kelahirannya sama dengan Queen, tapi mungkin itu hanya kebetulan saja, baik lah aku akan datang besok,”
Salsa tampak heran dengan penjelasan Amira, kenapa bisa kebetulan begitu, namun akhirnya Salsa pun mengakhiri sambungan telepon setelah pamit pada Amira.
“Kenapa sayang? Queen ulang tahun?” Tanya Shaka seolah sudah tau percakapan Amira dan Salsa tadi.
“Iya, tapi ulang tahunnya…”
“Sama dengan ulang tahun anak kita?” Shaka memotong ucapan Amira, dan kemudian di angguki Amira.
“Mungkin hanya kebetulan saja sayang,” ucap Shaka lalu menghentikan mobilnya di depan toko mainan anak-anak.
“Kenapa berhenti di sini?” Tanya Amira dengan raut wajah bingung.
“Besok Queen ulang tahun, kita harus membeli hadiah,” ucap Shaka kemudian turun lebih dulu dari mobil lalu membuka kan pintu mobil untuk Amira.
__ADS_1
Mereka pun memasuki toko mainan itu dan membelikan 1 mainan mahal untuk Queen, tak lupa mainan itu mereka bungkus dalam sebuah kadow besar sesuai dengan ukuran mainan yang akan Amira dan Shaka berikan, tak lupa pula Amira meminta karyawan toko itu untuk menuliskan ucapan ulang tahun dengan nama dia dan Shaka di atas kertas itu.