
Shaka menerobos jalanan dengan kecepatan tinggi, di pikirannya saat ini dia ingin cepat sampai di rumah untuk menemui Amira dan menjelaskan semuanya, dia tidak ingin Amira terus menerus salah paham padanya.
Shaka melangkah lebar memasuki rumah, menghampiri pak Dody yang sedang berdiri di ambang pintu menyambut kedatangannya.
“Pak Dody apa nona Amira sudah sampai?” Tanya Shaka antusias tanpa menghentikan langkahnya.
“Belum tuan,”
“Maksud kamu?” Tanya Shaka memastikan.
“Nona muda belum pulang tuan,”
Pernyataan Dody membuat Shaka terbelalak, pasalnya mereka keluar berselisih lebih lama, dan seharusnya Amira pun sudah tiba lebih dulu.
Amira menumpahkan air matanya, mengurai semua rasa yang bergejolak membuatnya harus berlari untuk menenangkan pikiran sejenak, Amira merasakan hancur yang berkeping-keping bagaikan abu, perlakuan Shaka terasa meremas dadanya hingga sesak, tak menyangka ia menyaksikan suaminya di pelukan orang lain, selain sakit hati, ia menganggap itu seperti penghinaan bagi dirinya, yang berstatus sebagai seorang istri.
Kini Salsa dan Yura sedang berada di samping Amira, Yura mengusap lembut punggungnya berusaha menenangkan Amira, ya Amira saat ini sedang berada di kamar Salsa.
Setelah melihat kejadian tadi, Amira memutuskan untuk ikut bersama Yura dan Reza ke rumah mereka, dia belum ingin pulang ke rumah karena hati nya yang rapuh belum siap bertemu dengan Shaka saat ini.
Amira menyandarkan dirinya di sandaran dinding dan menjambak rambutnya.
Yura dan Salsa yang melihat itu sontak menghentikan tangan Amira yang menjambak rambutnya.
“Mir jangan seperti ini dong, ingat kamu sedang hamil, jangan melakukan hal yang akan memicu stres kamu,” Salsa mencoba mengingatkan Amira.
“Kenapa kamu lakukan itu Shaka?” Gumam Amira dalam hati.
Tak lama suara ketukan pintu menggema, Amira hanya menoleh sekilas, hatinya saat ini masih kelabu dan tak ingin bertemu dengan siapa pun, takut kalau tak bisa mengontrol emosi dan meluapkan amarahnya.
“Amira buka pintunya!” Suara berat itu menembus gendang telinga, namun Amira tak berniat ingin membuka.
__ADS_1
Sedangkan Salsa yang hendak berjalan ke arah pintu sontak menghentikan langkahnya karena Amira mencegahnya.
“Mir..” Yura memegang tangan Amira meyakinkan dia agar memberikan kesempatan pada Shaka.
“Jangan datang ke sini kalau kamu hanya akan menyakiti ku lagi, cukup sampai di sini!”
Amira menutup telinganya dengan kedua tangannya berharap suara itu tak lagi mengusiknya.
“Mir kamu harus bicara dengan Shaka, aku akan menceritakan sedikit tentang Viona,” cetus Yura kemudian.
Mendengar itu Amira mengangkat kepalanya menatap Yura, seakan ingin mendengar cerita Yura.
“Jadi Viona itu adalah sahabat kami bertiga saat kami masih duduk di bangku sekolah, Shaka itu orangnya setia, dulu waktu aku dan Shaka masih bersama, Viona sering mengejar cinta Shaka dan bahkan menyatakan cinta pada Shaka di acara kelulusan sekolah, tapi Shaka menolaknya, Shaka hanya menganggap Viona sebagai sahabatnya, selain itu alasan Shaka menolaknya karena Shaka mencintaiku, Viona juga sudah baik pada Shaka, dia banyak membantu Shaka bahkan pernah mendonorkan darahnya pada nenek Emely saat nenek Emely di rawat di rumah sakit,” papar Yura berusaha meyakinkan Amira.
“Shaka itu orang yang setia, saat denganku saja dia setia, apa lagi dengan kamu wanita yang amat sangat dia cintai, bahkan cintanya pada mu melebihi cintanya pada ku dulu, jadi berikan dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya pada mu, ketampanan dan kesuksesan Shaka membuat banyak wanita menggilainya, termasuk Viona Clara yang notabenenya seorang artis ternama” tambah Yura lagi.
Mendengar itu Amira sejenak terdiam, dia mencerna ucapan Yura dan mencoba percaya, namun dia tidak akan luluh begitu saja mengingat semalam Shaka pergi menemui Viona dan minum bersama di club, dia masih menuntut penjelasan Shaka soal itu.
Setelah Shaka melihat Yura dan juga Salsa yang berjalan menuju pintu, Shaka kembali menutup pintu itu dan berdiri tegak di depan pintu menuggu Yura dan Salsa keluar.
Saat Yura dan Salsa keluar, mereka mendapati Shaka yang sedang berdiri di balik pintu, Yura pun menepuk pelan pundak Shaka sembari memberi kode pada Shaka untuk masuk menemui Amira di dalam.
Shaka pun mengucapkan terima kasih pada Yura dan beranjak masuk ke dalam kamar menghampiri Amira yang sedang duduk di dekat jendela kamar itu.
Amira melirik sejenak ke arah Shaka, lalu melongos memalingkan pandangannya lagi ke arah jendela.
“Mau apa kamu ke sini?” Suara khas ketus Amira meluncur.
Tak ada jawaban, namun dentuman sepatu di lantai semakin mendekat, berhenti tepat di belakang Amira.
“Aku minta maaf dengan kejadian tadi,” ucap Shaka dengan suara berat, tangannya bergerak menyentuh pundak Amira, namun di tepis oleh Amira dengan kasar.
__ADS_1
Shaka duduk di belakang Amira, menatap punggung istrinya yang bergetar pelan.
“Mengucap maaf itu mudah, setiap orang yang mempunyai kesalahan, pasti dia akan bilang seperti itu, dan kemudian mengulanginya lagi, kalau kamu lelah dengan sikap keras ku ini saat marah, silahkan ajukan perceraian,”
Shaka merengkuh tubuh Amira, takut, itu yang ia rasakan, kehilangan Amira justru sangat mengerikan baginya dari pada kehilangan semua hartanya, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk bercerai, dan mengulang kehidupan baru untuk yang kedua kalinya.
Buliran bening lolos dari pelupuk mata Shaka yang tak sanggup di bendungnya, ia sudah menyakiti Amira lagi, dan tak ingin menggores luka di hati istrinya untuk yang kedua kali.
Tidak ada penolakan, Amira sudah lelah untuk mengusir dan meminta Shaka untuk pergi.
“Apa yang harus aku lakukan, katakan!” Pinta Shaka dengan bibir bergetar.
“Tinggalkan aku, kamu berhak bersama perempuan yang mencintai kamu, bukan wanita yang keras kepala seperti aku,”
Amira mengucap tanpa ragu, ia tidak ingin membelenggu seseorang untuk tetap berada di dekatnya dan mencintainya, ia membentengi diri sendiri sebelum berlanjut lebih menyakitkan lagi.
“Tidak tidak, jangan berkata seperti itu, aku tidak akan pernah meninggalkan mu, aku sangat mencintaimu,”
“Tapi aku sudah lelah berurusan dengan masalah, aku ingin hidup dengan tenang, kamu sudah banyak menyakiti hatiku, sekarang katakan siapa perempuan tadi?” Tanya Amira di sela-sela tangisnya.
“Namanya Viona Clara, dia teman sekolah ku dulu,” jawab Shaka jujur.
Amira memalingkan tubuh hingga mereka saling tatap, menatap manik mata suaminya.
“Kalau hanya teman, kenapa ada lipstik di jaket kamu? Dan aku juga mencium parfum perempuan di tubuh kamu,”
Shaka mengingat-ingat dengan kejadian semalam, otaknya berhenti seketika saat mengingat Viona yang jatuh di belakangnya.
“Semalam dia hampir jatuh, mungkin lipstiknya menempel di bajuku, demi Allah aku tidak pernah menciumnya, dan pelukan tadi itu mendadak, aku tak bisa menghindar lagi, percayalah sayang, aku tidak ada perasaan apapun padanya,”
Shaka mengucap panjang lebar, meyakinkan Amira untuk percaya dengan kejujurannya.
__ADS_1
Amira kembali terisak, menyandarkan kepala di dinding, meresapi setiap kalimat Shaka yang masuk akal.