
Swastamita mulai menampakan diri. Abimana duduk di depan tungku. Arya sengaja meletakan tungku itu di belakang rumah. Abimana termenung, terbayang oleh pria muda nan tampan dan bermata teduh, ketika ia pernah tinggal di rumah Arya selama beberapa bulan, setelah kecelakaan tragis menimpanya.
Kirana menatap Abimana dari balik pintu. Gadis cantik itu merasa bersalah atas apa yang telah ia lakukan terhadap Abimana.
Kirana berkeinginan membuatkan wedang jahe untuk pria yang sudah dijahilinya.
Si gadis cantik meminta jahe pada Suci. Kebetulan di dapur selalu tersedia rempah-rempah, terutama jahe.
Kirana mulai membakar jahe, kemudian jahe yang sudah dibakar, ia tambahkan dengan gula merah dan air panas.
Gadis cantik, berjalan mendekat ke arah Abimana, yang masih duduk di depan tungku. Ia pun duduk di samping pria tampan bermata teduh, sahabat sekaligus calon suaminya.
"Bim, diminum dulu wedang jahenya!" Kirana memberikan secangkir wedang jahe kepada Abimana. Si pria tampan menerimanya dan memberikan seulas senyum yang menawan, seraya berucap, "Iya, trimakasih, Kiran."
Abimana mulai meneguk wedang jahe buatan Kirana, seketika rasa hangat menjalar ke tubuhnya.
"Kembali kasih, Bim. Maaf ya, sudah menjahilimu," ucap Kirana dengan nada penuh penyesalan.
"Iya, Ran. Aku memaafkanmu. Sudah, jangan minta maaf terus!"
"Bim, sepertinya aku bukanlah wanita yang cocok bersanding denganmu. Keputusanmu untuk memilihku sebagai pendamping hidup, sangatlah tidak tepat. Bim, kamu berhak bahagia, dengan mendapatkan seorang wanita anggun, yang setara dengan Alya," ucap Kirana, sendu.
Abimana menatap lekat-lekat gadis yang duduk di hadapannya.
"Ran, jujur aku tidak suka dengan apa yang baru saja kamu ucapkan. Aku memilihmu, karena teramat nyaman ketika bersama si gadis comel. Atau ... mungkin kamu yang tidak bersedia menjadi pendamping hidupku?" ucap Abimana.
__ADS_1
"Bim, bukan seperti itu. Aku bersedia menjadi pendamping hidupmu, karena kenyamanan juga terasa bila kita bersama," balas Kirana.
Abimana tersenyum penuh makna, raut bahagia terlukis di wajah tampannya.
"Kiran, trimakasih. Semoga hati kita kelak ditautkan dalam ikatan cinta yang halal," pinta Abimana penuh harap. Tatapan pria tampan itu tidak beralih dari wajah cantik sahabat sekaligus calon istrinya.
"Kembali kasih Bim. Ya, semoga Allah mengabulkan. Bolehkah, aku memanggilmu Abi? Seperti ketika Alya memanggilmu." Kirana mengulas senyum.
"Hemmm, tentu boleh Sayang. Kalau sedang terlihat manis begini, ingin rasanya segera menghalalkan si gadis comel," balas Abimana dengan mencubit pelan hidung Kirana.
"Apaan sich Bi, aku jadi baper tauuuu. Ni pipiku sudah merah merona seperti kepiting rebus." Kirana menangkup pipinya dengan kedua telapak tangan.
Mereka berdua, saling melempar senyuman. Swastamita menjadi saksi kebahagiaan yang tertoreh pada lembaran kisah Abimana dan Kirana, di hari ini.
🌹🌹🌹
Seusai menjalankan ibadah sholat maghrib berjamaah, Abimana, Kirana beserta keluarga mereka, berpamitan pada Arya dan putrinya.
Kirana, Arini, dan Ratri memeluk tubuh Suci dengan penuh kasih sayang.
Begitu juga dengan Abimana, Ilham, Hasan, dan Ridwan, mereka memeluk Arya dengan erat, sembari mengucapkan salam.
Suci mencuri pandang pada calon suaminya, Ilham. Sebenarnya, gadis manis berlesung pipi tidak rela bila berpisah dengan Ilham. Menjadi calon istri seorang ustadz tampan nan soleh, merupakan suatu anugerah yang terindah bagi Suci.
"Hati-hati ya Mas!" ucap Suci, ketika melepas calon suaminya.
__ADS_1
"Iya, tunggu aku dua hari lagi. Memohonlah kepada-Nya, semoga kita dipermudah untuk menautkah hati dalam ikatan cinta yang halal!" Ilham mengulas senyuman manis.
"Iya Mas Ilham," balas Suci dengan menundukan wajah karena malu.
Perlahan pria itu pun berjalan menuju mobil, meninggalkan Suci, calon istri yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
"Memang benar, skenario Allah tertulis sangat indah. Cinta hadir secara tiba-tiba. Bahkan apa yang tidak mungkin, menjadi mungkin bila Allah sudah berkehendak. Mas Ilham, semoga hubungan kita sampai ke jannah. Aku ingin menggapai sakinah bersamamu, Mas," Suci bermonolog dalam hati. Nampak senyumnya mengembang, ketika mengingat wajah sang kekasih, Reinan Ilham.
🌹🌹🌹🌹
Ket.
Swastamita: Pemandangan indah saat matahari terbenam.
Readerssssss
Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Emote ❤ untuk favorite
Vote untuk mendukung author
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading 😘😘