
"Kiran...." Suara Anggara menyadarkan Kirana.
"Ya Om, demi Om Anggara saya akan berusaha memafkan Diana dan Vano. Namun jika mereka mengulangi hal yang sama, saya tidak akan segan-segan menyeret mereka ke penjara."
Diana masih terisak, dihapusnya jejak air mata dengan jemari tangan.
"Tunggu pembalasanku Kiran! Aku bersumpah akan menghancurkanmu lebih dari apa yang telah engkau perbuat kepadaku," batin Diana dengan menatap tajam ke arah Kirana.
"Aku tau apa yang tersembunyi di hatimu Di. Pasti kamu akan melakukan pembalasan. Kamu teramat dendam padaku. Tatapanmu tidak mampu menyembunyikan apa yang tersimpan di dalam benakmu." Kirana bermonolog di dalam hati. Seakan ia tau apa yang sedang dipikirkan oleh Diana. Kirana pun membalas tatapan Diana, dengan tatapan ingin membunuh. Kedua wanita itu seakan mengibarkan bendera perang, singa vs uler keket.
"Ayo Di, kita pulang ke Jakarta sekarang juga! Anak buah papa sudah menyiapkan jetpri." Anggara menarik tangan putrinya.
Setelah berpamitan kepada Rizal dan Rahma, Anggara beserta putrinya melangkah meninggalkan kediaman keluarga Rizal.
"Kiran, trimakasih atas keberanianmu mengungkap siapa sebenarnya Diana. Apa jadinya jika Adam benar-benar menikah dengan wanita murahan itu." Rahma memeluk Kirana dengan erat. Deraian air mata mulai menetes membasahi wajahnya. Kirana membalas pelukan Rahma dan mengusap punggung wanita paruh baya itu dengan lembut.
"Om juga teramat berterimakasih kepadamu, Kiran. Om tidak pernah menyangka seorang putri dari keluarga terpandang, tidak dapat menjaga kehormatannya, bahkan terkesan murahan. Beruntung, Bima tipe pria setia dan tidak mudah tergoda oleh bujuk rayu iblis yang berbentuk seorang wanita cantik." Rizal berusaha mengulas senyum, meski saat ini dadanya serasa sesak setelah mengetahui bahwa wanita yang dicintai oleh sang putra ternyata sangat murahan. Ia semakin sadar bahwa bobot bibit bebet tidak dapat menjadi tolok ukur dalam membina rumah tangga.
Kedua wanita berbeda generasi itu perlahan melerai pelukan. Kirana mengulas senyum, jemari lentiknya menghapus jejak air mata yang membasahi wajah Rahma.
"Sama-sama Om, Tante. Mohon maaf jika apa yang Kiran lakukan kurang sopan dan terkesan berlebihan. Semua ini demi menyelamatkan rumah tangga Kiran dan Abi, selain itu agar Adam tau bahwa calon istrinya bukanlah wanita yang berakhlak baik. Jujur, Kiran sangat tidak suka apabila ada wanita yang menjijikan dan angkuh seperti Diana. Adam berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari Diana."
Kedua netra Rizal nampak berkaca-kaca. Suaranya terdengar berat, "Semua yang kamu lakukan sudah benar, Kiran. Semoga kelak Adam mendapatkan pengganti, seorang wanita yang lebih baik dari pada Diana."
"Aamiin Ya Allah." Kirana, Rahma dan Abimana mengamini harapan Rizal.
"Om, Tante, kami tidak bisa berlama-lama di sini. Insyaallah, lain waktu kami akan bersilaturahim." Abimana mengulas senyum.
"Baiklah Bim, sering-seringlah berkunjung ke rumah kami! Om salut kepadamu, Bima." Rizal menepuk-nepuk pundak Abimana disertai senyuman yang mengembang.
Abimana pun tersenyum. "Kalau begitu, kami permisi dulu Om, Tante. Asalamu'alaikum." Abimana meraih tangan Kirana dan menggenggamnya dengan erat.
"Wa'alaikumsalam." Rizal dan Rahma membalas ucapan salam Abimana.
Setelah berpamitan kepada Rizal dan Rahma, Abimana beserta istrinya melangkahkan kaki menuju mobil mereka.
🌹🌹🌹
Abimana melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu berusaha mengajak istrinya untuk berbincang, meski ia tau mood Kirana sedang tidak baik.
"Yang."
"Hemzzz."
"Sayang."
__ADS_1
"Hemzzz."
"I love you."
"Hemzz."
"Kog cuma hemzz balasnya?"
"Lagi nggak mood, Bie."
"Yang, makasih banget sudah datang tepat pada waktunya. Tapi aku heran, tumben Sayang datang ke kantor."
"Hemmzzz, feeling seorang istri itu kuat Bie. Tadinya aku ingin memberimu surprise dengan membawakan beberapa menu makanan dan minuman untuk makan siang bersama. Eh, nggak taunya ada uler keket." Kirana nampak sangat sebal ketika terbayang aksi gila Diana.
"Berarti ikatan batin kita sudah sangat kuat, Sayangkuuuu. Terus, makanan dan minumannya mana, Yang?" Abimana tersenyum lebar.
"Aku taruh di meja Rifky, Bie. Sudah nggak mood banget begitu melihat adegan hot nya si Diana."
Abimana mengelus jilbab istrinya dengan lembut dan satu tangannya masih memegang kemudi. "Kalau begitu, kita makan siang di luar ya Yang."
"Heem Bie, aku kirim pesan dulu ke Fabian. Mau ijin, nggak balik ke klinik. Hari ini moodku benar-benar buruk, takutnya salah menangani pasien."
"Kirim pesan ke Fabian? Kenapa nggak langsung menghubungi Dokter Zahra, Yang?"
"Hemmm, terserah Sayang."
Kirana segera mengirim pesan ke Fabian.
👧 Bian, aku nggak balik ke klinik ya. Moodku lagi ancur.
Ting, suara notif pesan ponsel Kirana.
👦 Ancur kenapa?
👧 Ketemu uler keket
👦 Jiahahhaa, ketemu uler keket bisa bikin mood ancur. Bilang aja kalau semalam masih kurang. 😜😜
👧 Hehhh, apanya yang kurang?
👦 Hishhh, berlagak nggak tau. Ok, silahkan bersenang-senang dengan Bima hari ini. Lanjutkan ikhtiyar kalian! Kalau perlu cuti seminggu, Ran. 😂
👧 Apaan sih. Beneran boleh cuti seminggu?
👦 Tentu boleh. Nanti aku bilang ke Bunda.
__ADS_1
👧 Makasih Bian. Pengertian banget sich kamu. 😍
👦 Sama-sama Kiran. Asalkan kau bahagia.😜
Kirana nampak senyum-senyum sendiri berbalas pesan dengan Fabian. Abimana merasa ada yang aneh dengan istrinya, tiba-tiba menghentikan mobilnya.
CITTT
Ponsel Kirana terjatuh. Abimana segera meraih ponsel istrinya dan membaca pesan Fabian.
"Bie, kalau ngerem tuh jangan mendadak!"
"Maaf Yang. Aku penasaran, kenapa Sayang senyum-senyum sendiri saat berbalas pesan dengan Fabian. Aku cemburu." Abimana menampakan wajahnya yang cemberut.
"Hadechhhh, masih juga cemburu dengan Bian. Baca aja dech pesannya!" Kirana mengerecutkan bibir.
"Aku sudah membacanya, Yang. Nich, aku kembalikan." Abimana meletakan ponsel di pangkuan Kirana. Ia pun kembali melajukan mobilnya.
"Yang, ingin makan apa?"
"Seafood, Bie."
"Baiklah, mau makan seafood di mana?"
"Parangtritis. Sekalian nanti kita melihat senja, Bie."
"Baiklah Yang. Pasti Sayang masih terkenang saat kita menikmati suasana malam di sana kan?"
"Iya Bie. Saat itu kita sedang patah hati dan berusaha untuk saling mengobati. Aku nggak pernah menyangka bakal sebucin ini padamu."
"Akhirnya Markonah bucin sama Markun." Abimana tergelak.
"Markun juga bucin dengan Markonah." Cebik Kirana tidak mau kalah.
Abimana melajukan mobilnya ke arah selatan menuju pantai Parangtritis. Pantai yang menjadi saksi bisu, awal kisah cinta mereka tercipta. Sahabat menjadi cinta. 💕
🌹🌹🌹🌹
Hemmmm apa ya yang akan dilakukan si uler keket untuk membalas Kirana? Terus ikuti kisah mereka selanjutnya 😍
Jangan lupa untuk meng-update aplikasi Mangatoon atau Noveltoon ya readers! Supaya tetap bisa memberi dukungan karya-karya para author yang ada di NT/ MT.
Trimakasih dan happy reading 😍😍
__ADS_1