
Mentari menyapa dengan kehangatan sinarnya, diiringi hembusan sang bayu, memberikan kesejukan dan kedamaian bagi jiwa.
Kirana nampak duduk di bangku taman menyaksikan dua insan kesayangannya sedang bermain bola. Tentu saja mereka adalah Abimana Surya Saputra dan Keanu Putra Abimanyu.
Kirana menyesap teh hangat dari cangkir berwarna putih dengan ukiran berbentuk bunga mawar. Nampak senyuman terhias di bibir ranumnya tatkala melihat kekompakan Abimana dan Keanu. Dalam hatinya berucap syukur atas anugerah cinta terindah dariNya.
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi disertai oleh ucapan salam. Kirana beranjak dari posisi duduknya kemudian mengayunkan kaki menuju pintu rumah.
Ia pun membalas salam dan perlahan membuka pintu.
CEKLEK
Kirana terkesiap, kedua netranya membulat sempurna saat melihat tamu yang datang. Ternyata seseorang yang teramat ia benci.
"Va-Vano?"
Vano mengulas senyum. "Iya Ran, ini aku. Vano."
Wajah Kirana seketika berubah pias. Tubuhnya terhuyung. Ia benar-benar syok tatkala melihat pria yang pernah berusaha menodainya. Kirana mengatur nafas dan mencekal gagang pintu dengan kuat untuk menahan tubuhnya yang serasa akan limbung. Mengetahui tubuh Kirana akan limbung, Vano pun bergegas memegangi lengan Kirana.
"Kiran, kamu kenapa?" Raut wajah Vano nampak cemas melihat wajah Kirana yang tiba-tiba berubah pias.
Kirana menepis tangan Vano. "Singkirkan tangan kotormu itu! Pergi dari sini! Jangan ganggu kehidupanku lagi!" titah Kirana dengan meninggikan intonasi suaranya.
Tetiba Vano duduk bersimpuh di hadapan Kirana diikuti oleh Halimah yang sedari tadi berdiri di belakang suaminya.
"Kiran, maafkan aku! Maafkan atas segala salah serta dosaku! A-aku benar-benar menyesal." Lolos sudah buliran bening yang keluar dari sudut netra Vano.
Kirana merasa jijik tatkala melihat wajah tampan Vano. Terbayang olehnya kejadian beberapa tahun silam yang menorehkan luka di hati dan meninggalkan trauma. Pelecehan yang dilakukan oleh Vano terhadapnya. Vano mencium kening serta bibir Kirana dengan penuh nafsu. Bahkan suara deru nafas penuh gaira* dapat Kirana rasakan dari indra penciuman Vano. Satu kancing kemeja Kirana pun berhasil Vano lepas saat itu.
Kata maaf bahkan hukuman di dalam penjara seolah tidak setimpal dengan apa yang telah dilakukan oleh Vano terhadap Kirana.
Derai air mata mulai membasahi wajah cantik Kirana. "Pergi dari rumah ini! Aku sungguh tidak ingin melihat wajahmu lagi. Pergi....!" Suara Kirana terdengar menyayat hati.
Tanpa mereka sadari, Abimana dan Keanu sudah berdiri di belakang Kirana. Abimana segera mendekap tubuh Kirana yang terlihat rapuh.
__ADS_1
"Kean, masuk ke kamar dulu ya Sayang! Ayah dan bunda sedang kedatangan tamu," titah Abimana dengan memelankan suaranya.
Keanu menganggukkan kepala. "Iya Ayah." Keanu pun berjalan menuju kamarnya.
"Ada maksud apa kalian datang ke rumah kami, hah? Apa tidak puas menghancurkan kehidupan istriku?" Suara Abimana terdengar lantang. Netranya memerah karena api amarah.
Masih dengan posisi duduk bersimpuh, Vano menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Abimana. "Bim, kedatangan kami ke rumah ini, karena ingin meminta maaf kepada Kiran. Aku sangat menyesal, Bim. Hidupku tidak tenang bila belum mendapatkan ampunan dari Kiran."
"Ran, maafkan aku! Aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Meski ...," suara Vano tercekat. Ingin rasanya Vano mengungkap perasaan cinta yang masih bersemi di dalam hati, namun ia urungkan. Vano sadar bahwa perasaan cintanya pada Kirana, sampai kapan pun pasti tidak akan terbalaskan karena Kirana hanya mencintai Abimana. Sedangkan Vano sendiri sudah memperistri Halimah, seorang gadis manis nan salehah.
"Meski apa?" Abimana meninggikan intonasi suaranya.
"Meski ... kata maaf dan hukuman yang aku jalani selama ini di dalam penjara tidak mampu menebus salah serta dosaku." Vano berusaha mengelak, suaranya terdengar lirih. Ia usap wajahnya yang basah oleh air bening dengan jemari tangan.
Hening....
Abimana nampak berpikir sejenak. Ia mulai percaya bahwa apa yang diucapkan oleh Vano tulus dari dalam hati.
"Bund, beri maaflah Vano! Sepertinya ia tulus meminta maaf." Abimana sedikit meregangkan dekapannya. Ia seka jejak air mata di wajah cantik Kirana.
"Mbak Kiran, maafkan kesalahan dan dosa yang telah diperbuat oleh suami saya! Percayalah kepada Mas Vano, bahwa ia tidak akan lagi mengganggu kehidupan Mbak Kiran!" Halimah yang sedari tadi hanya terdiam, kini mulai bersuara.
Hening....
βDan tidaklah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan, sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang. Maka, maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik.β (QS AL Hijr:85)
βJadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS Al A'rof:199)
Hati Kirana melunak tatkala Abimana membacakan ayat-ayat yang mampu menggetarkan jiwanya.
Bibir Kirana gemetar saat akan berucap. "A-aku memaafkanmu, Vano. Berdirilah dan segera pergi dari hadapanku! Aku sungguh masih belum bisa melupakan perbuatanmu."
"Benarkah, kamu sudah memberikan maaf untuk pendosa ini Kiran?" Vano menatap wajah cantik wanita yang masih dicintainya.
Kirana mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Iya, Van. Aku sudah memaafkanmu. Berjanjilah untuk tidak menggangguku lagi! Perlakukan istrimu dengan baik! Curahilah ia dengan cinta dan kasih sayangmu!"
__ADS_1
Senyuman terlukis indah di bibir Vano tatkala mendengar ucapan Kirana. "Trimakasih Kiran. Trimakasih.... Aku berjanji tidak akan mengganggu hidupmu lagi. Aku juga berjanji akan memperlakukan Halimah dengan baik. Aku akan berusaha menjadi seorang suami yang terbaik untuk istriku."
Vano dan Halimah beranjak dari posisi duduk. Mereka berdiri kemudian pamit undur diri.
"Kiran, Bima, trimakasih atas maaf yang telah diberikan kepadaku. Kami pamit undur diri. Semoga rumah tangga kalian selalu sakinah, mawadah, warohmah."
"Aamiin... Doa yang sama untuk kalian. Semoga rumah tangga kalian sakinah, mawadah, warohmah," balas Abimana tanpa disertai seulas senyum pun.
"Aamiin, yaa Allah. Assalamu'alaikum, Kiran, Bima."
"Wa'alaikumsalam...," balas Abimana dan Kirana. Seusai mengucapkan salam, Vano dan Halimah melangkah pergi meninggalkan rumah Abimana.
Setelah kepergian Vano dan Halimah, Abimana memapah istrinya. Mereka berjalan menuju kamar.
πΉπΉπΉ
Sesampainya di kediaman Anggara, Vano berjalan menuju kamar, diikuti oleh Halimah.
Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Vano meraih tubuh Halimah dan menggendongnya ala bridal style. Ia baringkan tubuh mungil Halimah di atas ranjang.
"Mah, mulai saat ini aku akan memberikanmu nafkah batin," bisik Vano sembari menghujani wajah Halimah dengan kecupan.
Blussss
Rona merah tercetak jelas di wajah Halimah. Ia tersenyum hingga nampaklah lesung pipi yang menambah manis wajahnya. Bukan hanya manis, wajah Halimah terlihat cantik kala menampakkan lesung pipinya.
Tetiba jantung Halimah berdegup sangat kencang saat bibir Vano menyapu lehernya. Sentuhan tangan Vano membuat tubuh Halimah seakan melayang ke nirwana.
Mentari nampak malu-malu menyaksikan kedua insan yang tengah tenggelam ke dalam asmaraloka. Suara desah sang bayu mengiringi nyanyian sepasang kekasih mereguk kenikmatan surga dunia.
πΉπΉπΉπΉ
Masih bersambung, belum end.... πππ
Bagi readers yang menantikan ICPA end, harap bersabar yakkk...!!! Sebenarnya masih ada konflik yang harus dituntaskan, tapi... mungkin akan sedikit author skip atau percepat sebelum Ramadhan tiba.
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak like dan klik hadiah atau vote jika berkenan mendukung ICPA. Novel ini boleh di share jika dirasa menginspirasi atau bermanfaat bagi pembacanya.
Trimakasih dan selamat membaca πππ