
Sepasang kekasih yang masih bergandengan tangan melangkahkan kaki mereka menuju ruangan Dokter Zain. Dokter Zain adalah seorang dokter spesialis onkologi. Dokter yang khusus menangani dan mengobati penyakit yang diakibatkan oleh kanker.
Karena sudah membuat janji sebelumnya, Adam dan Shelly langsung dipersilahkan masuk ke dalam ruangan Zain. Sebenarnya hari ini bukanlah jadwal praktek Zain. Namun demi seorang sahabat, Zain pun rela datang ke rumah sakit untuk memeriksa penyakit yang di derita oleh istri Adam.
"Assalamu'alaikum." Adam mengucapkan salam setelah membuka pintu ruangan Zain.
"Wa'alaikumsalam," balas Zain disertai senyuman yang mengembang tatkala mengetahui siapa yang datang. Zain beranjak dari posisi duduknya.
"Zain..."
"Adam... Mari silahkan masuk, Dam!" Adam melangkahkan kaki memasuki ruangan Zain diikuti oleh Shelly yang berjalan di belakangnya.
Zain dan Adam saling berpeluk singkat. Mereka berdua sudah bersahabat sejak lama. Persahabatan Zain dan Adam terjalin sejak mereka duduk di bangku SMA. Namun semenjak Adam memutuskan untuk meneruskan study ke Jerman, mereka jarang sekali berkomunikasi.
"Zain, perkenalkan ini istriku!" Adam memperkenalkan Shelly kepada Zain.
"Zain." Zain bermaksud untuk memperkenalkan dirinya. Namun setelah menyadari wajah Shelly yang sangat familiar, Zain terkesiap. Begitu juga dengan Shelly yang sangat terkejut ketika menyadari bahwa Zain sahabat Adam ternyata saudara kembarnya.
"Shelly." Mata Zain membulat sempurna, begitu pun Shelly.
"Mas Zain."
Keduanya pun saling berpeluk, menumpahkan kerinduan. Lolos sudah bulir bening dari kedua sudut netra Zain dan Shelly. Adam tertegun melihat istri dan sahabatnya saling berpeluk.
"Dek, ke mana saja kamu selama ini? Mas Zain, Aulia dan ibu sudah lama mencari keberadaanmu. Maafkan kekhilafan ibu yang sudah mengusirmu dari rumah!"
"Maaf Mas, Shelly sudah berbuat dosa besar. Kesalahan Shelly sungguh tak termaafkan. Karena Shelly, ayah mengalami serangan jantung dan pada akhirnya meninggal dunia. Wajar jika ibu sangat marah dan mengusir Shelly dari rumah." Shelly dan Zain menyeka jejak air mata di wajah mereka dengan jemari tangan.
"Dek, semua itu sudah terjadi. Kamu sepenuhnya tidak bersalah. Mas Zain yakin, jika bukan karena bujuk rayu seorang pria casanova, pasti adek mas yang lugu, tidak akan menyerahkan kesuciannya."
__ADS_1
JLEP
Ucapan Zain seperti pisau belati yang tak kasat mata menancap tepat di dada Adam.
"Mas Zain jangan menyalahkan pria itu! Shelly sangat mencintainya sehingga tidak mampu menahan hawa nafsu untuk menyatukan raga dengannya."
Zain meregangkan pelukan. Ia tatap manik hitam adiknya lekat-lekat.
"Dek, mungkinkah pria itu adalah Adam?"
Shelly mengangguk pelan. "Iya Mas," jawab Shelly dengan suaranya yang terdengar lirih.
Zain melepaskan pelukannya. Tangan Zain terkepal, netranya memerah karena api amarah.
"Bangsa*...."
BUG
"Mas, jangan sakiti suamiku!" pinta Shelly disertai buliran air bening yang mengalir deras. Ia raih tangan Zain yang bersiap melayangkan tinju untuk kedua kalinya.
"Dek, dia pria brengse* yang tega menghancurkan masa depanmu. Jika saja dia tidak menodai kesucianmu, pasti keluarga kita akan hidup bahagia. Aku benar-benar nggak menyangka Dam, kamu setega ini menghancurkan adik dari sahabatmu sendiri." Netra Zain nyalang menatap Adam. Rasa rindu terhadap sahabatnya menguap begitu saja berganti dengan amarah dan kebencian.
Adam bersimpuh di hadapan Zain. Wajah Adam yang tampan mulai basah oleh derai air mata.
"Zain, maaf. Aku benar-benar tidak tau jika Shelly adalah adikmu. Maaf, aku sudah menghancurkan masa depan Shelly dan merusak kebahagiaan keluarga kalian! Bunuh aku, jika itu mampu membuatmu bersedia untuk memaafkan dosa besar yang pernah ku perbuat! Bunuh aku, Zain!" Kepala Adam menunduk. Rasa sesal yang tengah ia rasakan semakin menjadi. Adam tidak menyangka bahwa wanita yang selama ini ia sia-siakan ternyata adalah adik dari sahabatnya sendiri.
"Mas, maafkan Adam! Dia tidak sepenuhnya bersalah. Dulu kami melakukan zina karena dilandasi oleh perasaan saling cinta. Kami sama-sama berdosa, Mas." Shelly pun duduk bersimpuh di hadapan Zain, bersebelahan dengan Adam.
"Mas, Adam sudah mempertanggung jawabkan perbuatannya. Adam menikahi Shelly dan sangat mencintai putri kami."
__ADS_1
Netra Zain membola. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Shelly rela memberikan pembelaan kepada Adam yang jelas-jelas sudah merusak masa depannya. Jika saja Adam dan Shelly tidak berbuat zina, pasti saat ini adik kembarnya sudah menjadi seorang desainer yang sukses, pikir Zain.
"Shel, seharusnya kamu tidak usah membelanya! Dia pria brengs** yang tidak patut kamu cintai."
"Mas, dia suamiku. Aku berhak membelanya. Dia bukan pria brengs** yang seperti Mas Zain kira. Bukankah Mas Zain adalah sahabat Adam? Seharusnya Mas Zain lebih mengerti dan memahami pribadi Adam dari pada Shelly. Mas, maafkanlah Adam! Allah saja Maha Pemaaf, mengapa kita yang hanya seorang manusia biasa tidak bisa memberi maaf? Bukan hanya Adam saja yang bersalah, tetapi Shelly juga bersalah."
Zain sudah tidak mampu lagi menahan bulir kesedihan yang sudah menganak di pelupuk mata. Zain tidak tega melihat wajah adiknya yang semakin pucat. Ia takut, jika Shelly terlalu lama tenggelam dalam kesedihan maka penyakitnya akan semakin parah.
"Berdirilah!" titah Zain sembari mengusap buliran bening di wajahnya. Adam dan Shelly pun berdiri. Mereka menyeka jejak air mata dengan jemari tangan.
"Mas Zain akan memberi penjelasan sedikit mengenai penyakit yang kamu derita, Dek."
Zain mempersilahkan Adam dan Shelly untuk duduk di kursi yang telah disediakan. Setelah mereka bertiga duduk, Zain mulai memberi penjelasan tentang penyakit leukemia atau biasa disebut leukimia.
"Dek, jangan terlalu risau dengan penyakit yang sedang kamu derita! Penanganan terhadap penderita kanker darah atau leukemia kini semakin baik. Dengan terapi yang rutin, penderita leukemia bisa memperpanjang usianya. Leukemia yang ganas pun bisa dijinakkan dengan terapi rutin. Terapi rutin yang dilakukan umumnya adalah kemoterapi. Di awal kemoterapi ini memberikan efek samping seperti muntah, nyeri pada sendi dan rambut rontok. Pengobatan yang lebih dini tidak hanya menyembuhkan penderita leukemia tapi kini dokter-dokter juga tengah berupaya agar si pasien bisa menjalani kehidupan seperti orang normal. Leukemia terjadi karena proses pembentukan sel darah yang tidak normal. Sel induk darah gagal terbentuk dan tidak matang tepat pada waktunya. Akibatnya, jumlahnya berlebih dan berkembang menjadi sel myeloid dan limphoid (dua tipe sel darah putih abnormal). Jika jumlah sel abnormal tersebut semakin banyak, maka fungsi sel darah putih yang tadinya hanya bertugas melindungi dan melawan infeksi, berubah menjadi sel ganas yang menyebabkan gejala yang menyimpang."
Zain menjeda ucapannya sejenak. "Dek, leukemia ada dua tipe, yaitu akut dan menahun (kronis). Leukemia akut memiliki sel-sel yang belum matang (sel blast) yang berkembang dengan cepat dan biasanya terjadi pada anak-anak. Jika tidak segera ditangani, leukemia akut ini dapat menjadi penyakit yang fatal dalam beberapa bulan. Berbeda dengan leukemia akut, leukemia menahun lebih banyak dialami oleh orang dewasa dan perkembangannya lebih lambat. Bagi penderita leukemia akut tidak usah ketakutan mendengar vonis hidup yang umumnya dikeluarkan oleh para dokter! Karena penyakit leukemia ini dapat disembuhkan, asalkan mendapat perawatan secara rutin. Contohnya Dokter Faqih, beliau mempunyai pasien yang dari kecil sudah menderita leukemia akut, namun sampai sekarang ia kuliah dan lebih dari 8 tahun menjalani perawatan. Pasien Dokter Faqih masih dapat bertahan hidup dan sehat, Dek."
"Lalu, bagaimana agar penyakit Shelly bisa disembuhkan, Zain?"
"Dam, ada berbagai jenis pengobatan bagi pasien leukemia seperti Shelly. Mulai dari kemoterapi (obat-obatan), radioterapi, stem cell dan cangkok sumsum tulang belakang, monoklonal antibodi. Untuk mendiagnosis leukemia harus dilakukan tes darah dan sumsum tulang, sehingga akan dapat diketahui organ serta jaringan mana yang mungkin terkena. Kemudian akan dites lebih lanjut untuk mengetahui adanya perubahan gen atau kromosom tertentu. Ini akan memudahkan untuk mengetahui penyebab leukemia sehingga pengobatan yang tepat pun dapat diterapkan."
Adam dan Shelly manggut-manggut, sebagai tanda bahwa mereka sudah mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh Zain.
Zain menyarankan kepada Shelly, untuk rutin melakukan pengobatan dan pengecekan kesehatannya di rumah sakit, karena hingga saat ini tidak ada yang dapat menyembuhkan penyakit leukemia tanpa bantuan medis.
🌹🌹🌹🌹
Semoga tidak bosan mengikuti ICPA karena ternyata masih bersambung.... 😅😅🙏🙏
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan klik hadiah atau beri vote jika berkenan mendukung ICPA. Boleh juga novel ini di share jika dirasa bermanfaat atau menginspirasi.
Trimakasih dan selamat membaca 💓💓💓