
Sinar sang surya menerangi alam, menghangatkan sukma. Hembusan angin, menghantarkan kedamaian karna sejuknya.
🌹🌹🌹
Abimana dan Kirana masih duduk di sofa. Mereka menunggu Raikhan dan Alya.
Tap ...
tap ...
tap ...
Terdengar suara langkah kaki Raikhan dan Alya, yang sedang menuruni tangga. Mereka terlihat sangat mesra. Raikhan berjalan dengan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, begitu juga dengan Alya.
Raikhan dan Alya berjalan semakin mendekat ke arah kedua tamu mereka. Sepasang suami istri itu menyapa dengan senyuman yang merekah, kemudian duduk di hadapan Abimana dan Kirana.
"Ehhem, Markun dan Markonah, kalian terlihat semakin serasi," ucap Raikhan dengan tersenyum lebar.
"Hissshhh Paijo. Kalian lama beutzzz, ngapain aja sich?" tanya Kirana dengan mengerucutkan bibirnya.
"Ada dech, biasa. Olah raga pagi berdua," balas Raikhan dengan melirik istrinya.
Kirana mengerutkan kening mendengar ucapan Raikhan. Sedangkan Abimana, menahan tawa karena mengerti apa yang dimaksud oleh Raikhan, sahabatnya.
"Eh Khan, yang namanya olah raga pagi, lebih nyaman dilakukan di luar rumah, bukan di dalam kamar. Sekalian menjemur baby Alyra," ucap Kirana yang disambut gelak tawa kedua pria dan Alya.
"Dichhhh, kamu pura-pura nggak faham atau memang nggak ngerti apa yang dimaksud olah raga pagi, Markonah?" Raikhan terkekeh.
"Khan, olah raga itu melakukan gerakan-gerakan yang membuat tubuh kita terjaga kebugarannya. Sambil menghisap udara pagi yang masih segar. Kalau di dalam kamar, ngapain coba?"
"Markonah, di dalam kamar juga bisa melakukan olah raga yang membuat badan lebih bugar, bukan hanya udara yang dihisap, tapi ... ach sudahlah," balas Raikhan dengan disertai tawanya yang semakin menjadi.
"Haisssh, si Khan. Echhhh, sebentar ...." Tatapan kedua netra Kirana tertuju pada bibir Alya yang memerah. Alya mengusap bibirnya, setelah menyadari tatapan si comel, Kirana.
"Pfttttt ... hahhhhaha, mengapa setiap bertemu kalian berdua, bibir Alya merah seperti itu? Ya Allah Khan, kasihan istrimu. Duhhh, aku baru faham. Bi, sepertinya kehadiran kita di waktu yang tidak tepat." Kirana tertawa hingga keluar air mata.
Abimana pun tertawa membalas ucapan calon istrinya, "Iya Yank, sepertinya kita mengganggu kerja keras Raikhan."
"Hemmmzzz, baru nyadar ya kalian berdua?" Raikhan memutar bola mata malas. Sedangkan Alya, mengulas senyum. Wajah si wanita anggun, dipenuhi dengan rona merah, karena merasa malu.
Ijah berjalan mendekat ke arah Alya, Raikhan dan kedua tamu mereka, dengan membawa nampan, yang berisi empat cangkir teh hangat.
__ADS_1
"Silahkan diminum dulu teh hangatnya!" ucap Ijah mempersilahkan mereka berempat untuk meminum teh hangat, sembari meletakannya di atas meja.
"Makasih ya Bi Ijah," balas Kirana dengan menampakan senyuman. Mereka berempat mengambil cangkir yang berisi teh hangat dan mulai meneguknya.
"Sami-sami, Mbak Kirana. Hadiah payungnya jangan lupa!" Ijah tersenyum lebar. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya dengan nampan.
"Bi Ijah gagal mendapatkan hadiah, karena kami terlalu lama menunggu kedua tuan muda," balas Kirana disertai senyuman tipis, kedua netranya bergantian menatap Alya dan Raikhan.
"Baiklah Mbak. Lain kali, saya tidak boleh gagal mendapatkan payung yakkk, hhhehe."
"Hhhhaha, Bi Ijah ada-ada aje."
Percakapan Ijah dan Kirana, membuat geli ketiga orang yang mendengarnya.
"Bi, nitip Alyra ya! Tolong jaga inces kecil sebentar!" pinta Alya.
"Siaappp, Mbak Alya. Bi Ijah akan menjaga incess cantik," balas Ijah. Wanita paruh baya itu segera berjalan menaiki tangga, menuju kamar kedua tuannya.
🌹🌹🌹
Mereka berempat kembali bercengkrama.
"Sama-sama Ran, lain kali kalau butuh lagi bantuan chef yang bekerja di Raikhan fast food, jangan sungkan-sungkan!" balas Raikhan.
"Huum, Khan."
"Rai, Alya, kedatangan kami ke rumah ini, sebenarnya ingin memberikan undangan pernikahan, untuk kalian serta tante dan om," ucap Abimana, sembari memberikan undangan pernikahan kepada sahabatnya.
Raikhan menerima undangan itu seraya berucap, "Alhamdulillah, semoga acara pernikahan kalian diberi kemudahan dan kelancaran, aamiin."
"Aamiin, ya Allah." Abimana dan Kirana membalasnya hampir bersamaan.
"Mas Abi, Mbak Kiran, sebenarnya ada yang ingin Alya sampaikan," ucap Alya.
"Ya, ada apa Al?" tanya Abimana.
"Mas Abi, sebelumnya Alya minta maaf." Alya mengeluarkan kotak berwarna merah dari dalam paper bag.
"Mas, mungkin inilah waktu yang tepat untuk mengembalikan kedua barang Mas Abi. Alya sudah tidak mempunyai hak untuk memilikinya. Maaf, bila Alya mengembalikan cincin yang pernah Mas Abi berikan ketika lamaran dulu, beserta tasbih biru yang ditemukan oleh salah seorang polisi saat peristiwa naas itu terjadi." Alya menyerahkan kotak merah yang berisi cincin dan tasbih biru kepada Abimana. Mata Alya nampak berkaca-kaca.
Deg ....
__ADS_1
Tiba-tiba dada Abimana bagai dihantam beban yang begitu berat, hingga ia pun merasa sesak. Tangannya gemetar saat menerima kotak itu.
Kirana memahami apa yang tengah dirasakan sahabat sekaligus calon suaminya. Gadis cantik itu pun menggenggam erat tangan Abimana, seolah memberi kekuatan agar pria yang duduk disebelahnya tidak kembali rapuh.
Suasana hening ....
Rasa bersalah kembali menyelimuti hati Raikhan. Bagaimana pun juga, Alya adalah cinta pertama sahabatnya.
"Trimakasih Alya, kedua barang ini akan aku simpan. Akulah yang berhak memilikinya saat ini," ucap Kirana disertai tawa renyah, mencoba mencairkan suasana kembali.
"Iya Mbak Kiran. Alya selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian berdua," balas Alya dengan menampakan seulas senyum, meski dalam hatinya terselip rasa bersalah kepada sang mantan kekasih, Abimana.
Abimana mencoba mengatur nafasnya, berusaha menahan emosi yang sesaat bersinggah.
"Bim, maafkan atas kesalahan kami berdua," ucap Raikhan dengan lirih.
"Rai, kalian tidak bersalah. Semua sudah menjadi kehendak-Nya. Lagi pula, aku dan Kirana juga akan menikah. Aku yakin, kami akan mampu meraih bahagia," balas Abimana dengan mencoba untuk tetap tersenyum.
"Hisssh, kenapa suasananya jadi mellow sich? Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu, sekarang saatnya membuka lembaran baru. Semoga kita semua dapat meraih sakinah dan keridhoan-Nya," ucap Kirana.
"Benar apa yang dikatakan si comel calon istriku ini. Kita buka lembaran baru." Abimana mengulas senyum, sembari mengusap jilbab Kirana. Mereka berdua saling berpandangan, dan melempar senyum.
Raikhan dan Alya merasa lega melihat kedua insan yang semakin serasi. Mereka yakin, Kirana akan mampu memberikan warna baru di kehidupan pria tampan nan malang, Abimana.
🌹🌹🌹🌹
Readerssss
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like 👍
Komentar
Klik emote ❤ untuk menfavoritkan novel
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote jika berkenan mendukung karya author
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1