
Abimana dan Kirana, memutuskan untuk tidak menghadiri acara resepsi pernikahan Adam dan Shelly. Mereka empati dengan keadaan Hana saat ini. Gadis yang malang, berusaha tegar meski hatinya tengah porak poranda.
Raikhan, Alya, Arif dan Asti, juga tidak ikut menghadiri acara resepsi pernikahan tersebut. Mereka memilih untuk tetap tinggal di rumah Fatimah, menemani dan berusaha menguatkan Hana.
Saat ini mereka duduk di atas tikar bersama Hana dan Fatimah. Hana yang tegar, berusaha menyembunyikan kesedihannya di depan Alya dan Asti yang kini tengah mengandung.
"Hana, maafkan Mbak Asti ya! Jika saja Mbak Asti tidak mendukung Mas Adam untuk menikahimu, pasti semua ini tidak akan terjadi." Raut wajah Asti nampak sendu. Semenjak mengetahui bahwa Hana dan Adam akan segera berpisah, Asti menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyesal telah mendukung niatan Adam untuk menikahi Hana.
Hana menggenggam tangan Asti dengan erat. Ia berusaha mengukir senyum, meski sebenarnya teramat sulit. "Mbak Asti yang Hana sayangi, berhentilah untuk menyalahkan diri sendiri! Kasihan dedek bayi yang masih ada di dalam perut. Lagi pula, Hana masih bisa tersenyum meski akan segera berpisah dengan Mas Adam. Hana malah bersyukur, Mas Adam menikahi Mbak Shelly. Hana ikhlas menerima ujian cinta dari Allah. Insya Allah, perpisahan adalah jalan terbaik untuk Hana dan Mas Adam."
"Tapi Dek, bagaimana jika semua orang memandang dirimu hina?" Bulir kesedihan yang sedari tadi menganak di kelopak mata Asti, kini jatuh juga.
Hana menatap manik mata Asti. Ia usap bulir air bening yang membasahi wajah cantik kakaknya. "Mbak, Hana tidak akan mempersoalkan pandangan mereka terhadap Hana. Biarkan semua orang memandang hina, asalkan Allah tetap menyayangi Hana," ucap Hana dengan tegar.
"Apa yang dikatakan oleh Hana benar, As. Insya Allah dengan melewati ujian cinta ini, kelak Hana akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki. Kebahagiaan karena bertemu dengan cinta sejati," sahut Kirana seraya menghibur Asti agar berhenti menyalahkan diri sendiri.
Alya mengulas senyum. "Mbak Alya juga pernah merasakan rasa sakit karena kehilangan cinta, Dek. Alhamdulillah, Mas Raikhan hadir mengobati rasa sakit itu dengan ketulusan cintanya." Raikhan mencium kening Alya setelah mendengar ucapan yang membuat hatinya menghangat.
"Hampir semua orang pernah didera rasa sakit karena pupusnya cinta. Tuch Mas Bima juga pernah mengalaminya, gara-gara Mbak Alya dinikahi Mas Rai. Tapi... ada satu orang yang sepertinya tidak pernah mengalami patah hati karena cinta." Raikhan melirik Kirana.
Kirana mencebikkan bibirnya. "Haishhh apaan sih Jo, main lirik-lirik akuh?"
"Benerkan orang yang tidak pernah di dera rasa sakit karena cinta itu kamu, Markonah?" Raikhan menyunggingkan senyum.
"Hemmmm, kamu memang sahabat yang tidak pernah peka, Paijo. Siapa bilang aku tidak pernah di dera rasa sakit karena pupusnya cinta?"
"Oya? Setauku, kamu hanya menjalin cinta dengan Bima. Bukannya Bima tidak pernah membuatmu patah hati?" Raikhan menautkan kedua alisnya.
Abimana, Arif, Alya, Asti, Hana dan Fatimah tertawa geli melihat Paijo (Raikhan) dan Markonah (Kirana) yang kini tengah berperang mulut.
"Dasar pria nggak peka, aku pernah patah hati karena kam ... kam ... Ahhh sudahlah. Masa lalu biarlah berlalu, yang terpenting sekarang aku sudah menemukan cinta sejati. Abimana Surya Saputra." Kirana menatap manik mata Abimana disertai senyuman yang mengembang.
__ADS_1
"Benar apa kata istriku. Masa lalu biarlah berlalu. Toh kita sudah bahagia dengan kekasih pilihan Allah. Insya Allah till janah." Abimana membalas tatapan Kirana. Ia kecup sekilas bibir ranum istrinya.
"Haduuuchhhhh, kalian menodai mata Hana," pekik Raikhan sambil menutupi salah satu matanya dengan telapak tangan.
Abimana dan Kirana terkekeh-kekeh. "Maaf Han, Mas Abi suka khilaf."
"Ahhh, tidak apa-apa Mas Abi. Hana ngerti kog, Mas Abi suka khilaf kalau berada di dekat Mbak Kiran." Hana merasa geli dengan apa yang dilakukan oleh Abimana. Seolah kesedihan yang tengah ia rasakan menguap begitu saja.
"Oya, katanya kamu pernah patah hati karena kam .... Maksudnya siapa, Markonah?" Raikhan masih penasaran dengan maksud ucapan Kirana.
"Owhhhh, rupanya kamu kepo ya? Kam, maksudku kambing," jawab Kirana asal. Seketika semua tertawa geli mendengar celotehan Kirana.
"Pfffttt .... hahhhaha, dokter obgyn naksir kambing." Raikhan tertawa sambil memegangi perutnya.
Bibir Kirana mengerucut. "Puas kalian menertawakanku."
"Haduchhh, Markonah ada-ada saja. Bim, istrimu pernah naksir kambing. Aku malah jadi penasaran dengan wajah kambing yang ditaksir oleh istrimu."
"Kalau kamu penasaran, becerminlah Rai! Nah, wajah kambingnya akan nampak," jawab Abimana dengan santai.
"Maybe yes, maybe no." Abimana tersenyum lebar.
Tawa mereka terhenti saat mendengar suara tangisan Keanu.
"Hana, Mbak Kiran numpang menyus** di kamarmu boleh?" Kirana beranjak dari posisi duduknya sembari mengusap-usap punggung Keanu dengan pelan.
"Boleh Mbak. Langsung saja masuk ke kamar Hana! Pintunya tidak dikunci kog."
"Ok, trimakasih Hana."
"Sama-sama, Mbak Kiran," balas Hana disertai seulas senyum.
__ADS_1
Abimana beranjak dari posisi duduknya.
"Aku temani ya Bund?"
"Baiklah Bie." Abimana dan Kirana melangkahkan kaki menuju kamar Hana.
.
.
Kirana dan Abimana duduk di tepi ranjang. Kirana segera membuka kancing bajunya dan mulai menyus** Keanu.
"Bund, kasihan Hana ya? Takdir cinta memang tidak bisa di tebak. Semoga kelak Hana mendapatkan sosok imam pengganti yang lebih sempurna dari pada Adam." Abimana mencium pucuk kepala istrinya yang sedang menyus** putra mereka.
"Iya Bie. Semoga kisah cinta Hana seperti kita. Meski awalnya diuji dengan rasa sakit yang teramat sangat karena cinta, namun berakhir dengan bahagia. Insya Allah till janah." Kirana mengulas senyum, jemari tangannya mengusap dengan lembut pipi Keanu yang masih asik menikmati asi.
"Aamiin yaa Allah. Jangan pernah pergi dari sisiku, Bunda!" Abimana menaruh dagunya di bahu Kirana.
"Iya Bie. Hubby juga jangan pernah pergi dari sisiku! Aku ingin menua bersamamu."
Abimana menciumi wajah Kirana, mengungkapkan rasa cintanya yang teramat besar.
"Tentu Bunda. Aku memilihmu karena sang maha cinta menyatukan kita dalam cinta yang indah." Kedua netra Abimana dan Kirana saling menatap, bibir mereka terhias oleh senyum kebahagiaan.
"Maha suci Allah yang telah menciptakan semuanya berpasang-pasangan, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh Bumi dan dari diri mereka sendiri, maupun dari apa yang tidak mereka ketahui."
🌹🌹🌹🌹
Episode kali ini semoga bisa mengobati kerinduan readers terhadap pasangan so sweet ABI-KIRAN 😅😅😅
Trimakasih kepada readers dan sobat author yang selalu mengikuti ICPA. 😘😘
__ADS_1
Jangan lupa meninggalkan jejak like untuk menyemangati author. 😍😍
Selamat membaca ❤❤❤❤