
Desah suara sang bayu diiringi liukan ranting-ranting, dan tarian dedaunan, menyambut kedatangan pria tampan bermata teduh beserta rombongan.
Setelah mereka menitipkan mobil kepada salah seorang warga desa, rombongan keluarga Abimana dan Kirana, melangkahkan kaki, menerobos rimbunnya pepohonan, menuju rumah Arya.
Hati Ilham berdebar-debar, ketika langkah mereka semakin mendekat ke rumah yang familiar bagi pria tampan itu. Ternyata benar dugaannya, rumah yang dimaksud Kirana adalah rumah seorang gadis berlesung pipi, Suci.
Abimana beserta rombongan menghentikan langkah, tatkala mereka sampai di depan pintu.
Rumah yang teramat sederhana, bahkan atapnya hanya dari jerami.
"Asalamu'alaikum, Pak Arya?" ucapan salam Abimana.
Setelah mengucapkan salam yang ketiga, barulah pintu itu terbuka. Nampak sesosok pria paruh baya, memakai baju koko yang sudah usang, dengan bawahan sarung, berdiri di balik pintu.
"Wa'alaikumsalam. Masya Allah, Nak Bima," Arya membalas ucapan salam Abimana. Pria paruh baya itu, memeluk Abimana dengan erat, meluapkan kerinduan pada pria tampan bermata teduh. Abimana membalas pelukan pria yang pernah menjadi malaikat tak bersayap, karena telah menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan naas, hampir satu setengah tahun yang lalu.
Perlahan mereka saling melepas pelukan.
"Monggo, silahkan masuk dulu! Mohon maaf, keadaan gubug kami beginilah adanya," ucap Arya, mempersilahkan para tamu untuk masuk ke dalam rumah.
"Trimakasih Pak Arya. Kami malah sangat mengagumi rumah Bapak, meskipun sederhana, namun terasa sangat nyaman," ucap Ilham disertai seulas senyum, membalas perkataan Arya.
Mereka pun melangkahkan kaki memasuki rumah Arya.
"Silahkan duduk dulu!" Arya mempersilahkan para tamunya, untuk duduk di atas tikar yang terbuat dari dedaunan kering.
Pria paruh baya itu, menjabat tangan para tamunya secara bergantian.
Dari dalam kamar, keluarlah seorang gadis manis berlesung pipi, Suci. Ia sangat terkejut melihat Abimana beserta para tamu yang sedang duduk di atas tikar. Tanpa sengaja, pandangan mata Suci tertuju pada seorang pria tampan yang sangat familiar, Ilham.
Ilham duduk di samping Abimana. Ketampanan kedua pria itu membuat hati Suci berdebar-debar. Seandainya harus memilih, si gadis akan teramat sulit menjatuhkan pilihan. Namun karena ia sadar, bahwa tidak akan mungkin menerima balasan dari Abimana, maka Suci pun berharap, semoga Ilham yang kelak akan menjadi imamnya.
__ADS_1
"Mbak Suci," suara Ilham terdengar lirih. Abimana dan Kirana saling berpandangan, mereka terkejut mendengar suara Ilham, memanggil nama Suci. Sungguh tidak disangka ternyata Ilham sudah mengenal Suci.
"Iya Ustadz. Mengapa Ustadz Ilham dan Mas Bima bisa datang secara bersamaan?" tanya Suci karena merasa heran.
"Ohhh, karena Bima adalah calon adik ipar saya, Mbak. Gadis yang berjilbab biru muda inilah adik saya, In shaa Allah calon istri Bima," jawab Ilham.
Deggg ....
Jantung Suci berdetak lebih kencang mendengar jawaban Ilham. Meski sudah ada setitik rasa cinta terhadap Ilham, namun rasa cintanya untuk Abimana masih saja menyeruak.
"Ternyata kamu dan Bang Ilham sudah saling mengenal, Suci?" Abimana melontarkan pertanyaan kepada Suci.
"Mmm, iya Mas. Saya dan Ustadz Ilham sudah saling mengenal, seminggu yang lalu. Ketika beliau memberikan tausiyah di masjid yang trletak tidak jauh dari rumah Pak Tama. Salam kenal dari saya, Suci. Saya putri dari Pak Arya," ucap Suci dengan mengatupkan kedua telapak tangan di dada.
"Salam kenal juga dari kami Suci," balas Kirana, yang juga mengatupkan kedua telapak tangan di dada.
Tatapan mata Hasan, Arini, Ridwan, dan Ratri tertuju pada gadis berlesung pipi. Suci yang menyadari tatapan mereka pun menundukan wajah karena malu.
"Iya Suci," balas Kirana diikuti oleh anggukan para tamu yang lain.
Suci pun berjalan ke dapur, menyiapkan minuman untuk para tamu.
Arya dan para tamu saling berbincang. Hasan beserta istri, mengucapkan rasa terimakasih mereka kepada pria paruh baya itu. Hasan berkeinginan untuk memberikan sejumlah uang kepada Arya, namun ditolak.
"Dengan apa kami harus membalas jasa Pak Arya dan Suci?" ucap Hasan, matanya nampak berkaca-kaca.
"Sudahlah Pak, tidak usah berpikir untuk membalas budi! Apa yang kami lakukan adalah suatu kewajiban kepada sesama insan. Kami hanya berperan sebagai perantara, sedangkan Allah yang sesungguhnya menolong Nak Bima."
Ucapan Arya yang sangat bijaksana menumbuhkan kekaguman bagi semua yang mendengarkan.
"Trimakasih Pak Arya, semoga kebaikan hati bapak dan Suci, mendapat balasan dari Allah," ucap Hasan dan diaminkan oleh para tamu yang lain, beserta Arya.
__ADS_1
🌹🌹🌹
Suci berjalan keluar dari dapur dengan membawa nampan yang di atasnya ada beberapa cangkir berisi teh nasgitel, panas manis dan kental.
Setelah Suci mempersilahkan para tamu untuk meminum teh buatannya, mereka pun mulai meneguk minuman tersebut.
"Teh buatan Nak Suci, sangat suegeeeer dan nasgitel," puji Arini usai meneguk minuman.
"Trimakasih Bu," balas Suci dengan menunjukan rona merah di wajah. Gadis berlesung pipi, duduk di samping Arya.
Mereka pun melanjutkan perbincangan.
"Oiya Nak Bima, gadis cantik inikah yang bernama Nak Alya?" Arya melontarkan pertanyaan, karena mengira bahwa Kirana adalah Alya. Namun di dalam hatinya dipenuhi pertanyaan, mengapa wajah calon istri Abimana tidak persis yang ada di foto. Pertanyaan itu pun sebenarnya juga tengah bersarang di hati Suci.
"Bukan Pak, calon istri saya ini bernama Kirana. Saya dan Alya ternyata tidak ditakdirkan untuk berjodoh," jawab Abimana dengan menampakan seulas senyum. Tentunya senyum ketegaran.
Arya dan Suci merasa terkejut setelah mendengar jawaban Abimana. Mereka tidak mengira, bahwa hubungan pria bermata teduh dengan Alya, ternyata telah kandas.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung ....
Trimakasih untuk para readers dan sobat author yang dengan senang hati membaca karya author. 😍🙏
Jangan lupa untuk like 👍
Komentar
Klik emote ❤ untuk favorit
Beri Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
__ADS_1
Vote untuk mendukung karya author 🙏🙏🙏😘😘😘