Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Mendaki Gunung Lawu


__ADS_3

Selepas menjalankan sholat subuh, Abimana dan Kirana bersiap untuk melakukan pendakian ke Gunung Lawu. Meski berat hati, Ridwan dan Ratri mengijinkan mereka berdua untuk mendaki gunung yang memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl).


Pagi itu, terlihat banyak para pendaki dan para peziarah yang berkunjung ke Gunung Lawu.


Gunung yang sangat digemari oleh para pendaki ternyata juga menjadi tempat favorit bagi para peziarah, karena di gunung inilah terdapat petilasan Raja Terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V moksa, tepatnya berada di Hargo Dalem.


Abimana dan Kirana memulai perjalanan dari situs cagar budaya Candi Cetho.


"Bie, masih ingatkah saat kita mendaki Gunung Lawu bersama Raikhan dan Fahrie?" tanya Kirana dengan menampakan binar kebahagiaan, karena keinginannya untuk mendaki Gunung Lawu akhirnya terpenuhi.


"Tentu masih ingat Yank. Saat itu kita masih kelas tiga SMA. Sayang yang paling bersemangat mendaki gunung ini," balas Abimana disertai senyuman yang mengembang.


Saat ini mereka berdua melewati padang savana yang begitu indah. Kedua netra Kirana semakin memancarkan kebahagiaan.


"Masya Allah, menakjubkan sekali Bie," ucap Kirana karena takjub. Kedua netranya terbelalak.


"Hemzz, iya Yank. Maha Besar Allah, atas segala penciptaan-Nya." Abimana mengukir senyuman di bibir indahnya. Pria tampan itu ikut merasakan kebahagiaan istri tercinta.


Setelah melakukan registrasi, kedua insan berjalan menyusuri jalan tanjakan yang rapi. Kemudian mereka melewati sebuah sungai kecil dengan kejernihan airnya. Tak jauh dari sungai itu, terdapat bangunan purba yang dikenal dengan nama Candi Kethek. Candi tua berbentuk seperti piramida, dikelilingi pohon-pohon yang sangat rindang.


Kirana mengusap peluh yang mulai menetes dengan jemari tangan, begitu juga dengan Abimana. Trek menanjak yang konsisten mulai menjadi akrab. Tumbuhan di sisi kiri dan kanan juga setia menemani. Sampailah mereka pada pintu hutan, pohon-pohon yang terlihat semakin banyak dan menjulang tinggi.


Mereka berdua masih bersemangat melanjutkan perjalanan. Rasa lelah seolah sirna ketika melihat beberapa tumbuhan dan bunga yang menghiasi jalur pendakian.


Setelah menikmati rimbunnya tumbuhan dan pepohonan, kedua insan menemui sebuah lembah dengan rumput-rumput gunung yang mulai mendominasi jalur. Ribuan pohon cemara gunung berjejer rapi di sisi kanan dan kiri jalan.

__ADS_1


Suara gesekan antara ranting dan daun pohon dengan pohon lainnya, terdengar sangat merdu, bagai nyanyian alam yang mengiringi langkah perjalanan sepasang kekasih, menuju ke puncak gunung.


Sampailah mereka pada sabana yang sangat luas. Padang rumput dengan latar belakang bukit-bukit yang ditumbuhi cemara gunung.


Setelah area tersebut terlewati, mereka berdua melihat suatu tempat yang dikenal dengan pasar Dieng. Konon tempat ini merupakan pasar yang tak kasat mata. Kontur datarannya cukup kering namun tetap sejuk dengan beberapa tumbuhan yang menghiasi hamparan luas dengan batu kerikil dan lempeng-lempeng batu.


Ketika sampai di dekat warung Mbok Yem, Kirana berkeinginan untuk mampir terlebih dahulu mengisi perutnya dan melaksanakan ibadah sholat.


"Bie, kita mampir ke warung Mbok Yem dulu ya!" ajak Kirana. Tangannya mengusap perut yang sedang bernyanyi riang.


"Okey Yank. Pasti Sayang laper kan?" Abimana terkekeh karena mendengar suara nyanyian perut istrinya.


"Huum Bie. Aku laper," balas Kirana dengan wajahnya yang bersemu merah.


Abimana dan Kirana mampir di warung Mbok Yem. Mereka memesan nasi pecel dua pincuk dan teh hangat gula batu, setelah mendaratkan pantat di atas kursi.


"Trimakasih, Bu," ucap Kirana disertai seulas senyum.


"Sami-sami, Mbak," balas karyawan tersebut, yang kemudian berjalan meninggalkan Abimana dan Kirana.


Mereka berdua makan dengan sangat lahap. Setelah menghabiskan nasi pecel, mereka meneguk teh hangat gula batu yang berasa nasgitel, panas legi dan kentel.


Kini perut Kirana tidak lagi bernyanyi dengan suara cemprengnya, karena sudah terisi penuh.


Setelah membayar pecel dan teh hangat, Abimana dan Kirana mampir untuk menjalankan ibadah sholat. Usai menjalankan sholat, mereka pun melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


Tanpa terasa, setelah melalui perjalanan yang cukup lama, mereka sampai juga di puncak. Ya, Puncak Hargo Dumilah. Puncak yang merupakan titik tertinggi dari Gunung Lawu.


Kedua insan berdiri dengan tegak. Meski lelah, namun seolah tak terasakan, karena mereka telah berhasil mencapai puncak Gunung Lawu. Mereka berdua mampu menakhlukan rintangan yang menghadang.


Seperti kisah cinta mereka kelak, yang dipenuhi dengan segala ujian yang merintang. Namun, sepasang kekasih, Abimana dan Kirana berusaha saling menguatkan untuk mencapai puncak kebahagiaan, sakinah bersama.


🌹🌹🌹🌹


Readersss


Yuksss mendaki gunung???? Eitsss sabar dulu, tunggu virus corona lenyap dari muka bumi ini. 😌😌😌


Terimakasih tetap setia mengikuti kisah Abi dan Kiran. 😍😍🙏🙏


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like 👍


Komentar


Klik emote ❤ untuk favoritkan novel


Berikan rate 5 ❤⭐⭐⭐⭐⭐


Vote jika berkenan mendukung karya author


Trimakasih dan happy reading 😘😘😘

__ADS_1


Cover ganti



__ADS_2