Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Bidadari


__ADS_3

Semenjak resmi berpisah dengan Adam, semua tetangga ataupun teman kuliah Hana seolah memandang wanita malang itu dengan tatapan menghina. Hana berusaha untuk sabar dan ikhlas menghadapi mereka. Beruntung, Hana selalu di antar oleh Kirana ketika pergi ke kampus. Usai kuliah, Hana juga dijemput oleh Kirana. Ibunda Keanu sudah menganggap Hana sebagai adiknya sendiri. Keinginan Kirana melindungi Hana begitu besar. Abimana mengijinkan dan mendukung apa yang dilakukan oleh istrinya.


Kirana menitipkan Keanu pada Ratri sebelum mengantar Hana ke kampus. Kirana memilih mengendarai sepeda motor kesayangannya untuk mengantar atau menjemput Hana.


"Hana, Mbak Kiran tunggu di kantin. Nanti kalau sudah selesai, kirim pesan atau telepon Mbak Kiran ya!" titah Kirana sesampainya di depan kelas Hana.


"Siap Mbak. Maaf, Hana selalu merepotkan Mbak Kiran!"


"Ahhhh santai saja, Hana. Mbak Kiran tidak akan membiarkan ada pasukan gibah menghinamu."


Hana mengulas senyum. "Mbak, Hana sangat berterimakasih karena Mbak Kiran selalu menjaga Hana."


"Mbak Kiran menjaga adik cantik ini, karena sangat menyayangi Hana. Sekarang belajarlah! Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting!" Kirana mengusap jilbab Hana, menuangkan rasa kasih sayangnya terhadap wanita yang sudah dianggap sebagai adik.


.


.


"Hana...." Suara seorang pria yang sangat familiar membuat Hana terkesiap.


"Mas Adam?" pekik Hana.


"Hana, aku sangat merindukanmu," ucap Adam sambil melangkah mendekati Hana. Semenjak berpisah dengan Hana, Adam selalu berusaha menemui wanita yang masih sangat dicintainya. Namun, sebisa mungkin Hana selalu menghindari Adam, meski dalam hatinya masih terbingkai nama pria tampan itu.


"Mas Adam, lebih baik jangan menemui Hana lagi! Kita sudah tidak memiliki hubungan apapun." Hana mencoba menahan bulir kesedihan yang sudah menganak di pelupuk mata.


"Hana, aku masih mencintaimu." Kedua netra Adam nampak berkaca-kaca.


"A-aku tidak pernah menyentuh Shelly sedikitpun setelah kami menikah. Aku hanya berusaha mempertanggung jawabkan kesalahanku di masa lalu. Aku mencurahi Tiara dengan kasih sayang, namun tidak pada Shelly." Suara Adam terdengar parau.


"Mas, Mbak Shelly adalah istri sahmu. Harusnya Mas Adam mencurahinya dengan kasih sayang dan cinta."


"Ta-tapi aku sungguh tidak bisa."


"Berusahalah Mas! Aku yakin Mas Adam bisa menyayangi dan mencintai Mbak Shelly seperti dulu."


"Han, kamu masih mencintai Mas Adam kan?" tanya Adam dengan penuh harap.


"Tidak Mas. Hana sudah tidak mencintai Mas Adam. Hana mencintai pria lain." Dusta. Hana berdusta. Yang sebenarnya adalah, Hana masih mencintai Adam.


Dada Adam serasa nyeri, bagai dihujam oleh ribuan anak panah tatkala mendengar ucapan Hana.


"Ti-tidak mungkin. Kamu berkata dusta kan, Hana?" Adam menyandarkan tubuhnya yang serasa lunglai pada dinding.


"A-aku tidak berdusta, Mas. Aku mencintai seorang pria...."

__ADS_1


"Pria yang aku cintai itu kamu, Mas Adam," batin Hana.


"Hana.." Hana dan Adam menoleh ke arah asal suara.


"Mbak Kiran...."


"Kiran..."


"Adam.... Kamu menemui Hana lagi?" Kirana menatap Adam dengan intens.


"Iya Ran. Aku masih mencintai Hana," lirih Adam.


Kirana membuang nafas kasar. "Dam, terimalah kenyataan! Berpikirlah secara realistis! Kamu dan Hana sudah tidak memiliki hubungan apapun. Ada Shelly dan Tiara yang wajib kamu curahi kasih sayang serta cinta."


"Ta-tapi Ran...."


Kirana menepuk pundak Adam dan menatap manik mata pria yang kini terlihat rapuh itu. "Dam, cinta tidak harus memiliki. Aku juga pernah merasakan apa yang kamu rasakan saat ini. Bukalah lembaran baru! Cintai istri dan anakmu karena Allah! Jangan mencintai seseorang hanya berlandaskan nafsu semata! Pulanglah Dam! Peluklah istri dan anakmu, maka kamu akan merasakan kenyamanan!"


Adam menghela nafas dan menghembuskannya dengan perlahan. "Semua yang kamu ucapkan benar, Ran. Aku akan berusaha mencintai istri dan anakku karena Allah. Lagi pula, Hana sudah tidak mencintaiku." Raut wajah Adam nampak sendu.


"Berbahagialah dengan pria yang kamu cintai, Hana Maulida Putri!" Adam melangkah pergi tanpa berucap salam.


"Mas Adam...," lirih Hana.


Lolos sudah bulir kesedihan yang sedari tadi ia tahan. Tubuh Hana bergetar hebat.


Kirana memeluk dan mengusap-usap punggung Hana. "Yang kuat Sayang! Berusahalah untuk tabah dan ikhlas menerima takdir Allah, Hana!"


🌹🌹🌹


Suara kerinduan dari Sang Maha Cinta terdengar begitu merdu, memanggil para hamba untuk segera datang menyembah-Nya.


Seperti biasa, Hana menjalankan ibadah sholat maghrib berjamaah di masjid, meski jamaah putri seolah menatap hina dirinya. Hana berusaha untuk berlapang dada.


Seusai menjalankan sholat dan melangitkan pinta, Hana segera beranjak dari posisi duduknya. Ia langkahkan kaki menuju pintu keluar masjid.


"Cihhhh, ada janda bersegel. Hati-hati lho ibu-ibu! Lindungi suami kita dari janda muda itu!" sindir Karmi alias Bu Tejo, ketika berpapasan dengan Hana di depan masjid.


"Iya lho ibu-ibu, mana ada perjaka yang mau dengan wanita itu. Cihh, amit-amit... Jangan sampai putraku berjodoh dengan janda," timpal Sani. Karmi dan Sani memandang Hana dengan tatapan jijik.


Hana hanya dapat mengelus dada mendengar ocehan mereka. Meski hatinya teramat sakit, Hana berusaha sabar.


"Ehem, Assalamu'alaikum." Hana, Karmi, Sani dan ibu-ibu yang sedang berdiri di depan masjid menoleh ke arah asal suara. Seketika mereka membalas ucapan salam.


"Wa'alaikumsalam...."

__ADS_1


"Ibu-ibu, mulai saat ini jangan menghina calon istri saya lagi!" Hana dan semua jamaah putri yang mendengar ucapan Fadhil terkesiap. Bahkan mulut Karmi dan Sani membentuk huruf O. Kedua netra mereka membulat sempurna.


"Tapi Hana...."


Fadhil memotong ucapan Karmi. "Hana adalah bidadari yang dikirim Allah untuk mendampingi saya. Lagi pula, Hana bukanlah seorang janda." Fadhil mengukir senyuman di bibirnya.


"Ohh no...." Sani menutup mulutnya yang menganga dengan telapak tangan.


"Mari Hana, Mas Fadhil antar pulang!"


Hana menundukkan wajahnya. "Iya Mas."


Fadhil dan Hana melangkah pergi meninggalkan sekelompok ibu-ibu ahli gibah.


.


.


"Maaf Mas, apa maksud ucapan Mas Fadhil tadi?" Hana melontarkan pertanyaan pada Fadhil namun tetap menjaga pandangannya.


"Insya Allah dalam waktu dekat ini, Mas Fadhil akan melamarmu, Hana," ucap Fadhil dengan sungguh-sungguh.


"Ta-tapi, Hana hanyalah seorang wanita hina, Mas."


Fadhil mengulas senyuman. "Kamu bukanlah wanita hina, Hana. Bahkan, kamu adalah sosok wanita yang berhati mulia. Aku kagum padamu, Hana Maulida Putri."


Hati Hana tergetar mendengar ucapan Fadhil. Ada rasa yang tak biasa menyelimuti relung rasa, hingga bibir Hana tidak mampu untuk berucap.


"Alhamdulillah, kita sudah sampai. Salam untuk ibu ya, Hana!" Fadhil dan Hana menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah Fatimah.


"Insya Allah, nanti saya sampaikan Mas. Syukron, Mas Fadhil."


"Afwan, Hana. Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumsalam, Mas Fadhil. Hana titip salam untuk ustadz dan ummi!"


"Insya Allah, nanti Mas Fadhil sampaikan." Fadhil mengukir senyum di bibirnya kemudian melangkah pergi meninggalkan Hana yang masih berdiri terpaku.


🌹🌹🌹🌹


Ehemmmm, Fadhil gerceppp 😁😁😁 Semoga mereka benar-benar berjodoh ya readers... 😇😇😇


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan jika berkenan memberikan vote untuk mendukung karya author yang masih seperti remahan kuaci ini... hehehe. 😁😁😁


Trimakasih dan selamat membaca 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2