
Menulislah sesuai kata hati!! Entah bagaimana wujud tulisan itu, setidaknya mampu melepaskan riak-riak kepedihan yang pernah terasa.
-Ayu widia-
Malam semakin larut, rintik gerimis mulai membasahi bumi. Desah angin malam, menghantarkan kidung kedukaan, mengiringi jeritan hati karena takut kehilangan.
Abimana, Ilham, Raikhan beserta keluarga mereka, masih duduk di luar ruangan transisi dengan tanpa bersuara. Suasana pun terasa hening.
Arini menatap putranya yang sedari tadi terlihat murung sembari sesekali mengusap buliran air bening dengan jemari tangan.
Arini menggeser duduknya hingga berdekatan dengan putra tercinta.
"Bim, dari tadi kamu belum makan dan minum. Makanlah roti ini, Putra Ibu yang tampan!" Arini menyodorkan roti sobek dan sebotol air mineral yang ia beli di mini market.
"Bima sama sekali tidak merasa haus dan lapar Bu. Lagi pula, Kiran juga belum makan dan minum dari tadi," balas Abimana dengan suaranya yang terdengar serak.
"Bima, jangan seperti ini! Kalau kamu tidak mau makan dan minum, istrimu akan merasa sedih jika mengetahuinya. Bim, makanlah agar tubuhmu kuat dan tidak mudah sakit!" bujuk Arini sembari menyuapi roti sobek ke mulut putra tercinta.
Abimana membuka mulutnya meski dengan terpaksa. Ia pun mengunyah roti yang terasa sangat pahit dilidahnya. Kemudian, Abimana meneguk air mineral. Kesegaran air mineral yang ia teguk, berasa sangat hambar.
Semua mata menatap wajah Abimana dengan dipenuhi rasa empati.
"Bim, kami pulang dulu ya," ucap Shela yang sudah berdiri di hadapan Abimana.
"Iya Tante," balas Abimana singkat.
Shela menepuk-nepuk pundak Abimana dengan pelan.
"Yang sabar Bim, yakinlah Insya Allah istrimu akan segera pulih! Tante beserta keluarga akan selalu mendoakan Kirana."
"Aamiin, trimakasih Te."
"Bro, aku dan Alya juga pamit. Kasihan Alyra, dari tadi dititipkan pada Bi Ijah. Kamu yang kuat dan sabar ya!" Raikhan juga menepuk-nepuk pundak Abimana dengan pelan, seraya memberikan kekuatan kepada sahabatnya.
__ADS_1
"Iya Rai. Makasih ya, karena sudah banyak membantuku."
"Santai saja Bim. Kita kan sudah seperti saudara. Jika kamu membutuhkan kami, jangan sungkan untuk langsung menghubungiku."
"Baiklah Rai."
"Mas Abi, tetap semangat dan jangan terlihat rapuh ketika Mbak Kirana sadar! Bagaimanapun juga, istri Mas Abi membutuhkan dorongan semangat serta kekuatan dalam menghadapi ujian ini Mas," ucap Alya yang juga ikut merasakan empati.
"Iya Al, aku akan berusaha," jawab Abimana tanpa disertai senyuman, karena ia merasa saat ini sangat sukar untuk tersenyum meskipun hanya seulas.
Raikhan, Alya, Shela, Abraham melangkahkan kaki melewati lorong-lorong rumah sakit menuju pintu keluar, setelah berpamitan serta mengucapkan salam kepada Abimana dan Ilham beserta keluarga.
🌹🌹🌹
Di dalam ruangan transisi, Fabian memeriksa kondisi Kirana, yang ternyata tidak mengalami infeksi pasca operasi.
"Alhamdulillah Ran, tinggal pemulihan. Berjuanglah sahabatku yang comel!" Fabian tersenyum menatap wajah sahabatnya. Dokter muda nan tampan, teramat bersyukur karena operasi yang ditanganinya berhasil.
Fabian segera melepas genggaman tangannya karena terkejut tatkala mendengar suara Kirana memanggil-manggil sang suami meski kedua netranya masih terpejam.
"Hubby, Hubby, aku takut ...."
Fabian segera menyuruh salah seorang perawat untuk memanggil Abimana.
"Sus, tolong panggilkan suami pasien untuk masuk ke dalam ruangan ini! Sepertinya, pasien membutuhkan kehadiran suaminya."
"Baik Dok." Perawat tersebut segera membuka pintu dan mempersilahkan Abimana untuk masuk ke dalam ruangan transisi.
Abimana beranjak dari duduknya kemudian melangkahkan kaki memasuki ruangan transisi. Sedangkan Ilham, Suci, Ratri, Ridwan, Hasan dan Arini, masih setia menunggu di luar ruangan.
Ilham meminta Suci, Ridwan, Ratri dan kedua orang tua Abimana untuk pulang terlebih dahulu, agar mereka bisa beristirahat. Sebenarnya mereka belum berkenan untuk pulang, namun karena Ilham memaksa, maka mereka pun menuruti permintaan Ilham.
Di dalam ruang transisi, Abimana duduk di samping istri tercinta. Pria tampan bermata teduh semakin bersedih melihat kondisi istrinya yang terbaring tidak berdaya dengan balutan perban di kepala dan selang infus yang dipasang di tangannya.
__ADS_1
Abimana meraih tangan Kirana dan mencium buku-buku jari wanita yang teramat ia cintai.
"Bangunlah Sayang! Hatiku remuk redam melihat keadaan Sayang seperti ini."
"Hubby, Hubby ...." Abimana terkejut mendengar suara istrinya yang terdengar lirih, namun kedua netranya masih terpejam.
Abimana mengusap pipi istrinya dengan lembut. Ia pun mencium kening Kirana dengan penuh perasaan.
Kedua netra Kirana mulai bergerak-gerak dan perlahan wanita cantik itu pun membuka kedua matanya.
"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar." Abimana mengulas senyum. Raut wajahnya terlukis kebahagiaan.
"Bie, apa yang terjadi padaku? Mengapa aku berada di ruangan seperti ini?" tanya Kirana sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
"Sayang berada di ruangan ini karena usai menjalani operasi. Yang, kamu teramat hebat. Rela mengorbankan nyawa demi nyawa yang lain. Kamu memang bidadari surga yang dikirim Allah sebagai anugerah cinta terindah untuk seorang hamba yang jauh dari kata sempurna. Aku sangat mencintaimu Ayunda Kirana," ucap Abimana dengan mencoba tegar dan tersenyum di hadapan sang istri.
🌹🌹🌹🌹
Segini dulu ya readersss, author sedang mengalami kesulitan untuk menuangkan imajinasi melalui tulisan. 😅😅🙏🙏
Jangan lupa like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote jika ingin mendukung karya author
Klik emote ❤ untuk fav novel
Trimakasih kepada para readers dan sobat author yang sudah berkenan memberikan point untuk vote 😇🙏
__ADS_1