
Sapaan salam dari Sang Maha Cinta terdengar begitu merdu, hingga membagunkan tiap jiwa yang merindu untuk mengadu dan merayu kepada-Nya.
"Bie, bangunlah! Sembahyang subuh Bie." Kirana mengusap rambut Abimana dengan jemari lentiknya.
Abimana berusaha membuka kedua netranya meski serasa berat.
"Iya Sayang," jawab Abimana sembari mengangkat kepalanya.
"Bie, aku juga ingin menjalankan ibadah sholat subuh."
"Mmm, aku pinjamkan mukena dulu ya Yank?"
"Iya Bie."
Abimana beranjak dari duduk kemudian menemui perawat yang berjaga untuk meminjam mukena.
Salah seorang perawat meminjamkan mukenanya dengan senang hati. Usai mengucapkan terimakasih, Abimana berwudhu terlebih dahulu sebelum menemui istrinya.
Kirana bersuci dengan cara tayamum. Usai bertayamum, Kirana mengenakan mukena dibantu oleh suaminya.
Abimana berdiri dan bersiap menjadi imam. Setelah membaca niat, ia memulai ritual ibadah sholat subuh dengan melantunkan takbiratul ihram, diikuti oleh Kirana yang hanya bisa menjalankan ibadahnya dengan cara berbaring.
Usai salam, keduanya melantunkan dzikir dan doa, dilanjutkan dengan membaca kalam cinta.
Para perawat terpana melihat mereka berdua.
"Masya Allah, adem melihat sepasang suami istri yang taat beribadah, apalagi ibadah mereka dijalankan secara berjamaah," ucap salah seorang perawat. Tatapannya tidak berpaling dari Abimana dan Kirana yang tengah melantunkan kalam cinta.
"Huum, andai suamiku seperti pria itu, pastinya bahagia dunia akherat," timpal perawat yang lain.
"Iya, andai saja. Tapi setiap insan pasti akan diuji dengan cobaan lainnya meski dianugerahi rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah," sahut perawat yang ketiga.
"Ehm ... ehm, kalian sedang membicarakan siapa?" Tiba-tiba Fabian sudah berdiri di belakang ketiga perawat yang sedang asik memperhatikan Abimana dan Kirana.
Seketika ketiganya pun menoleh dan terkejut melihat wajah dingin sang dokter.
"Ka-kami sedang membicarakan pasien dan suaminya Dok. Mereka pasangan yang mengagumkan," jawab salah seorang perawat dengan menundukan wajahnya dan tidak berani bertatapan langsung dengan Fabian.
__ADS_1
Fabian membuang nafas kasar dan berusaha menahan sesak di dada yang kembali terasa.
"Lanjutkan tugas kalian!" titah Fabian dengan menaikan intonasi suaranya.
"Ba-baik Dok. Mengapa Dokter datang sepagi ini?" tanya salah seorang perawat.
"Saya ingin memastikan kondisi pasien. Siang nanti ada operasi yang harus saya tangani," balas Fabian dengan menampakan wajah datar.
Fabian berjalan mendekati Abimana dan Kirana yang sudah selesai membaca kalam cinta.
Sebenarnya semalaman Fabian tidak pulang ke rumah, ia memutuskan untuk bermalam di mushola rumah sakit.
"Asalamu'alaikum," sapa Fabian disertai seulas senyum.
"Wa'alaikumsalam," jawab Abimana dan Kirana bersamaan.
"Bian...." Kirana terkejut melihat Fabian.
"Heem Kiran. Masih pusing?" tanya Fabian setelah berdiri tepat di samping ranjang.
"Masih, tapi tidak terlalu. Kamu bekerja di rumah sakit ini, Bian?"
"Jadi kamu sudah bertemu dengan ibumu?" tanya Kirana disertai senyuman yang mengembang.
"Alhamdulillah sudah, Ran. Meski telah mempunyai ibu sambung, aku selalu merindukan kasih sayang beliau," jawab Fabian dengan menampakan raut wajah sendu.
Abimana hanya terdiam mendengarkan percakapan sang dokter dan istrinya. Meski terselip rasa cemburu saat mendapati ada binar yang berbeda dari tatapan Fabian, saat menatap Kirana, Abimana tetap berusaha berprasangka baik terhadapnya.
"Bian, siapa nama ibu kandungmu?"
"Dokter Zahra," jawab Fabian dengan mantap.
Kirana sedikit mengerutkan keningnya.
"Dokter Zahra? Mungkinkah Dokter Zahra Zanira maksudmu, Bian?" tanya Kirana menyelidik.
"Iya, seribu buat kamu Kiran." Fabian terkekeh.
__ADS_1
"Ya Allah, berarti selama ini aku bekerja di klinik ibumu. Beneran, aku nggak nyangka Bian."
"Benarkah? Jadi kamu bekerja di klinik ibuku?" Kedua netra Fabian menampakan binar bahagia.
"Iya Bian. Sepulang dari Jakarta, aku bekerja di klinik Dokter Zahra. Oiya, kenalkan pria tampan bermata teduh inilah suamiku, Abimana." Kirana memperkenalkan Abimana kepada Fabian.
"Abimana." Abimana dan Fabian saling berjabat tangan.
"Fabian. Meski semalam sempat berbincang, namun baru sekarang kita berkenalan," ucap Fabian tanpa disertai seulas senyum.
Abimana dan Fabian melerai jabatan tangan mereka.
"Okay, karena tidak ada infeksi pasca operasi, perawat akan memindahkanmu ke ruang perawatan hari ini, Kiran. Insya Allah, kamu akan mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit selama tiga sampai dengan empat hari. Selanjutnya rutin kontrol, seminggu sekali," terang Fabian.
"Baiklah Pak Dokter, trimakasih ya," balas Kirana disertai seulas senyum.
"Sama-sama Kiran, lagi pula sudah menjadi tugasku sebagai seorang dokter untuk berusaha menyelamatkan dan merawat pasien hingga sembuh. Kalau begitu aku pamit dulu, karena nanti siang ada pasien yang mesti dioperasi."
"Iya Bian. Semoga operasi yang kamu tangani berhasil," doa Kirana dengan tulus.
"Aamiin, asalamu'alaikum." Fabian mengucapkan salam sembari berlalu dari hadapan Abimana dan Kirana.
"Wa'alaikumsalam."
🌹🌹🌹🌹
Readersss, maaf ya kalau ada typo 🙈🙏🙏
Tinggalkan jejak like 👍
Komentar boleh kritik dan saran
Klik emote ❤ untuk fav. novel
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote jika ingin mendukung karya author
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘