Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Penyatuan Raga


__ADS_3

Rembulan tersenyum malu-malu kala melihat sepasang pengantin baru yang tengah bercengkrama di dalam kamar. Cahayanya menyelinap melalui celah-celah jendela.


Hana Maulida Putri, duduk di depan cermin seraya melepas jilbab yang menutupi rambut hitamnya.


"Masya Allah, cantik sekali istriku," puji Fadhil tatkala melihat rambut Hana yang hitam tergerai. Fadhil berdiri di belakang Hana yang nampak tertunduk malu. Ia kecup pucuk kepala istrinya dengan penuh perasaan.


"Emmmm... Hana ingin dipanggil Sayang, Humaira, Habibati, Yaa Zawjatii' atau Ummi?" Fadhil sedikit membungkukkan badan, kemudian memeluk Hana dari belakang dan menaruh dagunya di atas bahu sang istri.


Jantung Hana berdegup sangat kencang, rona merah terlukis semakin jelas di wajah cantiknya tatkala mendapat perlakuan yang so sweet dari Fadhil.


"Terserah Mas Fadhil saja," jawab Hana dengan malu-malu.


Fadhil mencium pipi istrinya yang nampak kemerah-merahan.


"Mmmm, baiklah. Mas Fadhil akan memanggil Hana, Humaira." Fadhil mengukir senyum di bibirnya sembari melihat pantulan wajah cantik sang istri pada cermin.


"Humaira?" Hana menautkan alisnya.


"Hehem. Terinspirasi dari Baginda Rasul,Β HumairaΒ adalah sebutan sayang untuk istri beliau, Aisyah.Β Humaira bermakna kemerah-merahan. Seperti pipi istriku yang memerah saat tersipu malu." Fadhil kembali mencium pipi istrinya.


Aaaaahhhhh... Seolah Hana tidak mampu lagi menahan debaran di dalam dada karena ucapan Fadhil.


Meski Hana merasa belum mencintai Fadhil, nyatanya jantung Hana berdegup kencang, pipinya menampakan rona merah tatkala Fadhil berucap atau memperlakukannya dengan so sweet.


"Humaira, yuk kita berwudhu dulu! Sudah terdengar suara adzan isya," ajak Fadhil sembari meraih tangan istrinya.


"I-iya Mas." Hana beranjak dari posisi duduknya. Fadhil dan Hana berjalan menuju kamar mandi dengan bergandengan tangan.


.


.


Dua insan yang telah disatukan oleh Sang Maha Cinta, tengah tenggelam dalam kekhusyukan beribadah. Mereka bersujud seraya melantunkan ayat-ayat cinta.


Seusai salam, Fadhil dan Hana melangitkan pinta, memohon agar mereka diberi hati yang istiqomah. Keduanya juga memohon agar rumah tangga mereka sakinah mawadah warohmah.


Fadhil membalikkan badannya hingga menghadap Hana. Ia kecup kening sang istri sebagai ungkapan rasa kasih sayang dan cintanya yang tulus. Seketika rasa hangat menjalar di seluruh tubuh Hana. Ada perasaan yang belum teraba. Perasaan Hana terhadap Fadhil.


Hana meraih tangan Fadhil. Ia cium punggung tangan pria yang kini menjadi imamnya.


"Humaira, mulai saat ini jangan bersedih lagi ya!" Fadhil meraih tubuh Hana dan memeluknya dengan erat. Hana merasa nyaman kala berada dalam pelukan Fadhil.


"Allah, trimakasih karena Engkau memberikan seorang imam pengganti yang begitu sempurna. Entah dengan apa lagi, hamba harus bersyukur kepada-Mu? Wahai Sang Pemilik Hati, satukan hati kami dalam ikatan cinta yang indah," batin Hana. Hana melingkarkan tangannya hingga memeluk Fadhil.


"Humaira, kita baca kalam cinta bersama yuk!"


"Iya Mas."

__ADS_1


Perlahan mereka berdua saling melepaskan pelukan.


Fadhil dan Hana membuka lembaran mushaf kemudian mulai membaca kalam cinta.


"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


Suara Fadhil dan Hana terdengar begitu merdu hingga menggetarkan siapa saja bila mendengarnya.


.


.


Seusai membaca kalam cinta, Fadhil dan Hana menaruh mushaf di atas nakas. Fadhil membantu Hana melepas mukenanya.


Setelah melipat sajadah dan menaruhnya di almari, Fadhil dan Hana duduk di tepi ranjang.


"Hana Maulida Putri istriku, bolehkah Mas Fadhil meminta hak sebagai seorang suami?" Fadhil menggenggam erat tangan Hana. Dipandanginya wajah cantik Hana dengan tatapan penuh cinta.


Rona merah nampak jelas terlukis di wajah Hana. Degup jantungnya semakin tak beraturan.


"I-iya Mas," jawab Hana dengan bibir gemetar.


Fadhil menarik kedua sudut bibirnya hingga nampaklah senyuman yang menawan. Fadhil mencium pucuk kepala Hana dengan mata terpejam dan melantunkan doa sebelum bersenggama.


Kedua netra Hana pun terpejam meresapi sentuhan cinta suaminya.


Setelah melepaskan pagutan bibir, Fadhil mendorong tubuh istrinya dengan pelan hingga terbaring di atas ranjang. Ia kecup mesra wajah cantik wanita yang kini halal disentuhnya.


Seolah, alam pun bertasbih menyaksikan dua insan yang kini tengah mereguk kenikmatan surga dunia, atas ijin dan ridho-Nya.


🌹🌹🌹


Desahan suara sang bayu menghantarkan kidung cinta dari Illahi, membangunkan jiwa yang tengah terbuai oleh mimpi.


.


Kirana mulai membuka kedua kelopak matanya disertai lantunan doa ketika bangun tidur seraya berucap syukur atas nikmat hidup yang masih diberi.


Kirana menatap lekat-lekat wajah pria tampan yang selalu menghiasi hari-harinya. Jemari tangannya mengusap pipi Abimana dengan lembut.


"Bie, bangun! Ayo sholat malam!" bisik Kirana tepat di telinga suaminya. Perlahan netra Abimana pun terbuka tatkala mendengar suara lembut wanita yang sangat dicintai. Bibirnya terhias oleh senyuman khas yang menawan.


"Iya, Bunda. Beri suami tampanmu ini kecupan penyemangat agar nyawaku segera terkumpul, Bund!" pinta Abimana.


Bibir Kirana mencebik. "Ishhhh, Hubby. Modus."


Abimana terkekeh. "Modus apa sih Bund? Kan hanya minta kecupan tidak lebih."

__ADS_1


"Hemmm baiklah Bie. Tapi segeralah bangun kemudian berwudhu! Kita tunaikan sholat malam sebelum Keanu terbangun." Kirana mengecup pipi suaminya dengan mesra.


"Bunda ingin sholat malam juga?" tanya Abimana menggoda.


"Hissshhhh, yaiyalah Bie." Bibir Kirana mengerucut.


Abimana tertawa geli melihat wajah istrinya yang nampak menggemaskan. "Bund, memangnya Bunda sedang dilema memilih siapa? Kambing atau sapi ya?"


"Heh Bie, sholat malam bukan berarti diniatkan untuk istikharah." Kirana menjapit hidung suaminya hingga memerah.


"Aduduh ... sakit Bund," rintih Abimana sambil mengusap-usap hidung mancungnya.


Kirana memutar bola mata jengah. "Makanya jangan bercanda di waktu yang tidak tepat!"


CUP


Abimana mengecup bibir istrinya.


"I love you, Ayunda Kirana." Kirana sedikit terkejut mendapat serangan tiba-tiba dari Abimana.


"Hemmm, I love you to Abimana Surya Saputra."


Abimana dan Kirana beranjak dari posisi berbaring. Mereka mengambil air wudhu untuk mensucikan diri.


.


.


Usai berwudhu, mereka membentangkan sajadah. Kirana memakai mukena kemudian berdiri di belakang sebagai makmum.


"Allohu Akbar." Lantunan takbir dari bibir Abimana terdengar begitu menggetarkan saat memulai ritual sholat malam.


🌹🌹🌹


Fadhil nampak menyunggingkan senyum tatkala melihat wajah cantik istrinya yang menyiratkan kelelahan karena penyatuan raga semalam. Dikecupnya pipi sang istri yang masih tertidur pulas dengan lembut.


Fadhil meraba sprei yang ternoda. Bercak merah pada sprei sebagai penanda bahwa ia telah mengambil apa yang selama ini dijaga oleh Hana. Fadhil kembali tersenyum kala terbayang pengalaman pertama yang memberi kenikmatan bagi jiwa. Penyatuan raga yang bernilai ibadah.


🌹🌹🌹🌹


Ehemmm, author meminta maaf jika ada readers yang kurang berkenan Hana dan Adam berpisah, karena kisah mereka hanya berada di negeri halu dan semoga tidak ada di real life. πŸ˜…πŸ˜…πŸ™πŸ™πŸ™


Trimakasih bagi readers dan sobat author yang selalu setia mengikuti ICPA. Semoga apa yang author tulis dapat bermanfaat bagi para pembaca. Boleh di share jika merasa bahwa novel ini menginspirasi. πŸ’“πŸ’“πŸ™πŸ™


Jangan lupa tinggalkan like dan beri dukungan untuk ICPA dengan klik hadiah atau vote (jika berkenan).


Selamat membaca 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2