
Seusai menjalankan ibadah sholat subuh dan membaca kalam cinta, Abimana, Kirana, Sindy dan Fabian berjalan-jalan menyusuri pantai.
Sindy dan Fabian, sengaja memisahkan diri dari sepasang kekasih yang membuat keduanya iri bin dengki karena selalu terlihat romantis.
Bagaimana tidak iri bin dengki? Selama berjalan menyusuri pantai, Abimana dan Kirana saling bergandengan tangan disertai canda tawa. Beberapa kali, Abimana terlihat mencium buku-buku jari istrinya dan mengusap pipi Kirana seolah mengungkapkan rasa cinta yang begitu besar. Sedangkan Sindy dan Fabian hanya bisa menelan saliva dan mengelus dada, karena mereka berdua sama-sama belum
memiliki pasangan yang halal.
.
.
Kini Abimana dan Kirana duduk di atas batu yang berukuran besar sambil melihat keelokan ciptaan-Nya, laut yang terhampar luas disertai kemerduan suara deburan ombak.
Abimana merangkul pundak sang istri, sedangkan Kirana bersandar di bahu suaminya.
"Bie, maafkan aku....!"
"Sudah berapa kali Sayang mengucapkan kata maaf, hemm?"
"Meski sudah ratusan kali pun aku tetap merasa bersalah kepadamu, Bie."
"Tanpa meminta maaf pun, aku sudah memaafkan Sayang."
"Trimakasih Bie atas ketulusan cinta dan besarnya maafmu. Aku berjanji tidak akan pergi meninggalkanmu lagi."
"Aku juga berterimakasih atas ketulusan cintamu Yang. Jangan pernah pergi dari sisiku lagi atau ...,"
"Atau apa Bie?" Kirana mengalihkan pandangannya. Kedua netranya menatap dengan intens manik mata Abimana.
"Atau aku bisa mati bila tanpa kehadiranmu di sisiku." Abimana membalas tatapan Kirana. Kedua netra mereka pun saling mengunci.
Kirana diliputi rasa bersalah dan sesal karena telah pergi meninggalkan suami yang sangat mencintainya. Kedua manik matanya nampak berkaca-kaca.
"Aku juga bisa mati Bie, bila harus pergi jauh darimu dalam waktu yang lama. Aku baru merasakan bagaimana kerinduan itu mampu membuatku nelangsa. Aku benar-benar takut kehilanganmu, Bie."
"Apapun yang terjadi, tetaplah di sisiku Yang!"
"Iya Bie." Kirana dan Abimana saling berpeluk.
"Bie, apa kabar semua makanan yang aku pesan?" Kirana tiba-tiba teringat dengan semua makanan yang dipesannya sebelum pergi meninggalkan rumah.
Perlahan Abimana merenggangkan pelukannya.
"Makanannya aku berikan ke Maemunah. Aku sebal, capek berkeliling mencari makanan yang Sayang pesan. Sesampai di rumah ternyata zonk. Orang yang pesan sudah kabur dari rumah." Raut wajah Abimana nampak kesal ketika mengingat alibi Kirana untuk pergi dengan cara memesan berbagai makanan.
"Maaf Bie. Tapi, siapa Maemunah?" Kirana sedikit mengerutkan keningnya.
"Heem, tetangga sebelah yang belum lama ini pindah dari Jakarta, Yang."
"Orangnya bagaimana Bie?"
"Orangnya cantik, ramah dan seksi...."
Kirana mencubit pinggang suaminya karena kesal.
__ADS_1
"Awww sakit Yang...." pekik Abimana sembari mengusap pinggangnya.
"Makanya jangan memuji wanita lain!" Bibir Kirana mengerucut, raut wajahnya nampak masam.
Abimana terkekeh melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan.
"Loh siapa yang memuji? Aku hanya menjawab pertanyaan Sayang?"
"Hemmmm."
"Kalau marah tambah syantik Yang." Abimana mentowel-towel pipi Kirana.
"Apaan sih Bie?"
"Asal kamu tau Yang, Maemunah sudah tua. Beliau seorang nenek yang pernah Sayang beri sembako. Cantik karena beliau seorang wanita, ramah karena sering tersenyum hingga gigi ompongnya nampak, seksi karena si nenek meski sudah tua suka memakai tanktop." Abimana tergelak.
Seketika Kirana pun ikut tertawa. "Pffftttt ... hahhahaha. Ya Allah Bie, ternyata yang Hubby maksud nenek Maemunah?"
"Yupzzzz, betul. Nenek Maemunah dengan senang hati menerima makanan yang seharusnya aku beli untuk Sayang."
"Rejeki Nenek Maemunah, Bie. Hubby...,"
"Hehemm, ada apa Yang?"
"Bie, sebenarnya aku ingin menjadikan desa W sebagai desa wisata. Sebelum pergi ke desa W, aku mengambil sejumlah uang tabunganku di bank. Rencana uang itu akan aku pergunakan untuk pembangunan jalan di desa W. Selain itu, aku ingin menanam bunga amarillis di pekarangan rumah warga, terutama yang letaknya berhadapan dengan badan jalan."
"Maksudnya, Sayang ingin menjadikan desa W seperti desa Patuk yang terkenal dengan keindahan kebun bunga amarillisnya?"
"Iyapppzz, betul Bie. Aku berkeinginan desa W juga dipenuhi dengan kebun bunga amarillis disertai spot-spot foto yang menarik. Jika desa W dijadikan desa wisata, insya Allah perekonomian para penduduknya akan menjadi lebih baik."
"Bie, pantai ini juga masih sepi pengunjung. Aku ingin menjadikan pantai ini agar lebih menarik hati para wisatawan dengan menyediakan spot-spot foto yang unik. Jika ada dana, aku berkeinginan membangun kafe yang tidak jauh dari pantai. Kafe di desain seperti kapal Titanic, dengan menyuguhkan pemandangan alam berupa laut yang terhampar luas, disertai suara deburan ombaknya dan bukit yang menghijau, sehingga akan menampilkan kesan romantis."
"Hemmm, ide yang bagus Yang. Aku akan membicarakannya dengan Raikhan, karena dia ahli dalam hal ini. Meskipun seorang mantan dokter, Raikhan mempunyai kafe di beberapa kota besar."
"Iya Bie. Jika pemasukan yang diperoleh warga semakin bertambah, maka angka kemiskinan di desa W akan berkurang."
"Betul Yang."
"Untuk pembangunan sekolah, fasilitas kesehatan dan tempat ibadah, bagaimana jika kita menggandeng Om Abraham dan Om Rizal, Bie? Mereka para pengusaha sukses, tidak ada salahnya jika sebagian harta yang mereka miliki disedekahkan untuk pembangunan desa W."
"Aku setuju Yang. Aku akan menghubungi Om Abraham dan Om Rizal setelah kita kembali ke kota. Lalu, kapan kita akan memulai pembangunan desa W?"
"Nanti akan kita bicarakan terlebih dahulu dengan kepala desa dan para warga, Bie."
"Baiklah Yang. Semoga mereka menyetujui pembangunan desa W."
"Aamiin, Bie. Aku yakin mereka akan menyetujuinya."
"Bie...."
"Ya?"
"Trimakasih ya."
"Untuk apa?" Abimana mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Untuk dukungan yang Hubby berikan."
"Itu sudah sewajarnya Yang, karena aku suamimu. Apalagi keinginan Sayang untuk membangun desa W, adalah sesuatu yang sangat mulia."
"Love you Bie..." Kirana melingkarkan tangan di pinggang Abimana dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang suami tercinta.
"Love you to Honey...." Abimana mencium pucuk kepala Kirana dan memeluknya dengan erat.
.
.
Fabian dan Sindy duduk di atas pasir, menatap hamparan laut luas. Keduanya saling berbincang.
"Bian, aku benar-benar tidak pernah menyangka bahwa Tante Maria ternyata ibu kandung Kiran."
"Aku juga, Sind. Beruntung sejak masih bayi, Kiran dirawat dan dibesarkan oleh Tante Ratri. Meski bukan ibu kandung Kiran, namun beliau sangat mencintai putrinya."
"Iya Bian. Lalu bagaimana nasib Vano dan Diana selama mendekam di penjara?"
"Entahlah. Ketika aku mengunjungi Vano, pria brengse* itu berada di sel tahanan bersama para narapidana yang menyukai sesama jenis."
Mata Sindy membulat sempurna tatkala mendengar ucapan Fabian.
"What? Vano dikelilingi oleh para gay?"
"Iya Sind."
"Pftttt ... hhahhaaha, sepertinya Vano langsung menerima karma dari perbuatan menjijikan yang ia lakukan terhadap Kiran."
"Maksudmu?" Fabian menatap dengan intens manik mata sahabatnya.
"Bisa saja kan, Vano dicium oleh para gay. Lebih parahnya lagi, jika mereka mengajak Vano bercinta. Wajah Vano sebenarnya tampan, kulitnya putih bersih, tapi sayang memiliki akhlak yang sangat buruk."
Fabian bergidik ngeri tatkala terbayang Vano si pria brengse* mendapatkan perlakuan yang mengerikan dari para narapidana yang kebetulan adalah para penyuka sesama jenis.
Apa kabar dengan Diana? Next episode semoga terjawab.... 😅😅😅
🌹🌹🌹🌹
Maaf hari ini UP nya terlambat. Maaf juga untuk sahabat author, othor Abi dan Kiran mungkin akan terlambat mengunjungi karya kalian. 😅😅🙏🙏🙏
Tetap semangati author dengan meninggalkan jejak like 👍
Komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote atau hadiah jika berkenan
Klik emote ❤ untuk fav novel
Trimakasih dan happy reading
__ADS_1