
"Ck, tenang saja. Aku akan menganggap lunas semua hutangmu, setelah memiliki tubuh Kirana."
"Tentu saja, lakukanlah sekarang! Miliki tubuhnya!"
Wajah Kirana nampak pias. Ia benar-benar merasa takut bila kehormatannya sebagai seorang istri dinodai.
"Jangan! Jangan nodai kehormatanku sebagai seorang istri! Lebih baik, kalian membunuhku saja!" pekik Kirana disertai linangan air mata.
"Tenang Sayang, aku akan melakukannya dengan penuh kelembutan." Vano sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya.
CUP
Vano mendaratkan kecupan di kening Kirana.
Cuhhh
Kirana meludahi wajah Vano dan menatap pria brengs** itu dengan tatapan jijik. Vano mengusap wajahnya disertai seringai. Kedua mata Vano menatap dengan intens wajah wanita cantik di hadapannya.
"Jangan menyentuh wajahku dengan bibir kotormu itu!" Nafas Kirana terdengar tak beraturan karena menahan amarah yang membuncah. Andai saja kedua tangannya tidak terikat, ia ingin mencakar dan menghadiahi bibir Vano dengan bogeman mentah.
Vano menarik sudut bibirnya, jemari tangan pria brengs** itu menelusuri wajah cantik Kirana kemudian mengusap bibir ranum yang seolah mengandung magnet disertai tatapan penuh nafsu.
"Aku sudah tidak sabar untuk menciu* bibir ini."
Vano mendaratkan ciuma* di bibir Kirana dan mulai merasakan sensasinya. Kirana tidak dapat mengelak karena tengkuknya dipegang oleh Vano.
Kirana menggigit kuat-kuat bibir Vano hingga mengeluarkan banyak darah.
"Awww...," pekik Vano karena rasa perih akibat gigitan Kirana.
"Baiklah Sayang, gigitanmu semakin membuatku tidak sabar untuk memilikimu seutuhnya." Vano menyeringai.
"Kak, buruan jadikan wanita singa itu milikmu! Aku sudah tidak sabar mengambil vidio kalian di atas ranjang dan mengirimkannya pada Pak Bima." Diana menarik salah satu sudut bibirnya. Kedua manik hitam wanita uler keket itu memancarkan binar kebahagiaan karena ia merasa sebentar lagi tujuannya untuk menghancurkan Kirana akan segera terlaksana.
"Baiklah adikku sayang. Aku akan segera membawanya ke ranjang." Sebelum Vano memerintahkan dua anak buahnya yang berbadan kekar untuk memindahkan Kirana ke dalam kamar, tiba-tiba terdengar suara pintu di dobrak.
BRAKKKK
"Menjauhlah dari istriku!"
Terlihat Abimana berdiri di balik pintu bersama rekan-rekannya. Abimana menatap Vano dengan tatapan ingin membunuh.
Perkelahian antara tim uler keket dan tim singa tak terelakan. Abimana mendaratkan pukulan tepat di wajah Vano berulang kali, hingga pria brengs** itu jatuh terjerembab, darah segar pun mengalir dari hidung dan bibirnya.
"Dasar brengse*, enyah kau!" teriak Abimana sambil melayangkan pukulannya kembali.
__ADS_1
BUG
Vano memekik dan merintih kesakitan tatkala bagian vitalnya dipukul oleh Abimana dengan keras.
"Pak Bima, aku akan membunuh wanita ini agar tidak ada lagi yang menghalangiku untuk mendapatkanmu." Abimana terkesiap mendengar ucapan Diana. Wanita gila itu membawa pisau belati yang siap menghujam dada Kirana.
"Jangan bunuh istriku! Jika kau melakukannya, maka aku tidak akan segan-segan menghabisimu dengan cara yang lebih menyakitkan." Abimana menatap tajam ke arah Diana dan menghentikan pukulannya terhadap Vano yang terlihat sudah lemas.
"Ck, omong kosong. Aku yakin, setelah wanita ini tiada, Pak Bima dengan mudahnya membuka hati untukku." Entah apa yang merasuki Diana hingga ia memiliki pemikiran seperti itu.
JLEB
Diana menancapkan pisau belati yang dibawanya.
"Arghhhhh..." pekik Maria yang menjadikan punggungnya sebagai perisai untuk melindungi sang putri.
"Ibu....." Kirana berteriak histeris ketika melihat pengorbanan Maria. Punggung Maria yang tertancap pisau belati mulai mengeluarkan darah segar. Dengan tersenyum, Maria memeluk erat sang putri.
Semua orang terkesiap melihatnya, tak terkecuali Diana.
Kevin dan Johan bergegas mengamankan Diana. Sedangkan Raikhan, segera menghubungi polisi.
Ilham membuka tali yang mengikat kedua tangan Kirana. Setelah ikatan tali itu terlepas, Kirana membalas pelukan Maria. Buliran bening menetes tanpa permisi dari kedua sudut netra mereka berdua.
"Ibu.... Mengapa Ibu melindungiku? Bukankah Ibu ingin membuatku hancur? Mengapa Bu? Huhuuu...."
"Ibuuuuuuu...." Tangis Kirana terdengar sangat menyayat hati. Dipeluknya tubuh sang ibu yang sudah tak bernyawa dengan erat.
Abimana tak kuasa menahan kesedihan yang mendalam tatkala melihat wanita yang dicintainya tengah dirundung kedukaan. Ia pun berjalan menghampiri sang istri.
"Sayang, bersabarlah! Ikhlaskan kepergian ibumu!" Abimana memeluk tubuh Kirana dan mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh rasa cinta.
Ilham meraih jasad Maria dari pelukan Kirana dan membaringkannya dengan perlahan.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un," ucap Ilham sembari menutup kedua netra Maria yang masih sedikit terbuka.
"Bie, mengapa semua ini terjadi kepadaku? Mengapa aku baru tau siapa ibu kandungku yang sebenarnya...? Hikksss... hiksss." Kirana terisak di pelukan suaminya.
"Sayang, ini sudah kehendak dari Allah. Sayang harus menerima semua ini dengan lapang dada!"
Tanpa menunggu waktu lama, polisi pun tiba. Vano, Diana dan anak buah mereka digiring ke luar. Polisi segera membawa mereka untuk dimasukan ke jeruji besi.
Ridwan dan Ratri tiba di lokasi hampir bersamaan dengan kedatangan para polisi. Mereka berdua bergegas menuju ke lokasi setelah mendapatkan pesan dari Ilham.
Ridwan dan Ratri terkesiap ketika melihat tubuh Maria yang sudah terbujur kaku.
__ADS_1
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Bibir Ratri gemetar ketika mengucapkannya.
Seketika ia pun menubruk tubuh Maria yang sudah tak bernyawa.
"Maria, mengapa engkau pergi dengan cara yang tragis?" Lolos sudah kristal bening dari kedua sudut netra Ratri.
"Maria, andai saja dulu ayah mertua merestuimu untuk menjadi istri kedua suamiku, pasti kehidupanmu tidak akan menyedihkan."
Kirana terkejut mendengar ucapan Ratri. Perlahan ia melepaskan pelukan Abimana dan menyeka jejak air mata dari wajah cantiknya.
"A-apa maksud Ibu? Siapa sebenarnya ayahku jika benar Tante Maria adalah ibu kandungku?"
Ratri terdiam membisu. Lidahnya serasa kelu dan bibirnya seolah terkunci. Ia tidak dapat menjawab pertanyaan Kirana.
Ridwan duduk bersimpuh di hadapan Kirana.
"Nak, maafkan ayah! Pria yang bergelimang dosa ini adalah ayah kandungmu." Suara Ridwan terdengar serak karena menahan kesedihan dan rasa sesal yang mendalam.
"Apa maksud ayah? Kata beliau, ayah dan ibu bukanlah orang tua kandungku." Kirana menatap kedua manik hitam Ridwan. Wanita cantik itu ingin mendapatkan kejelasan tentang ayah dan ibu kandungnya.
"Nak, ayah benar-benar adalah ayah kandungmu. Sedangkan Maria, dia adalah ibu kandungmu. Apa yang terjadi kepadamu dan Maria adalah akibat dari kesalahan serta kekhilafan ayah."
TES
Buliran bening itu jatuh lagi dari kedua sudut netra Kirana.
Ridwan pun mulai menceritakan apa yang telah terjadi di masa lalu.
Sejahat-jahatnya seorang ibu, tentu memiliki naluri keibuan untuk melindungi sang buah hati.
🌹🌹🌹🌹
Readersssss, apa ya yang akan diceritakan Ridwan kepada Kirana?
Terus ikuti kisah Abi dan Kiran selanjutnya!!! ❤❤❤
Jangan lupa untuk meninggalkan jejak like 👍
Beri komentar
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote atau hadiah jika berkenan mendukung karya author
Klik emote ❤ untuk favoritkan novel
__ADS_1
Trimakasih dan happy reading ❤❤❤