
Setelah mendapatkan jawaban dari Hana, Adam menyampaikan keinginannya untuk menikahi Hana kepada Rizal dan Rahma. Rizal beserta istri, sangat bahagia mendengar apa yang telah disampaikan oleh putra mereka.
"Alhamdulillah, papa sangat berbahagia Dam, bila kamu menikahi Hana, meskipun Hana adalah adik Asti. Bagi papa dan mama bukanlah suatu masalah. Yang terpenting, kami tau bahwa Hana adalah gadis yang salehah. Insya Allah, Hana akan menuntunmu menjadi seorang pria yang saleh," ucap Rizal mantap.
"Jadi, papa dan mama merestui kami berdua?" Kedua netra Adam nampak berbinar.
"Tentu saja, Dam. Dua hari lagi kita akan melamar gadis pujaan hatimu itu. Setelah lamaran, papa berharap kalian segera mengikat janji suci. Paling tidak seminggu atau dua minggu setelah lamaran."
"Iya Pa. Adam dan Hana juga berharap demikian."
"Pa, sepertinya putra kita sudah tidak sabar untuk segera berumah tangga," timpal Rahma seraya menggoda putranya.
"Ya jelas dong Ma, apalagi Adam sudah kalah dengan adiknya. Sebentar lagi Arif akan menjadi seorang papa, sedangkan Adam masih belum menikah." Rizal terkekeh.
"Hmmm, Adam belum menikah karena belum bertemu jodoh yang tepat, Pa, Ma. Dan... baru kini Adam menemukannya. Sosok gadis yang teramat perfect di mata Adam, Hana Maulida Putri." Adam mengembangkan senyuman.
"Ehemmm, setelah menikah jangan kasih kendor Dam!" goda Rahma.
"Maksud Mama?" Adam mengerutkan sedikit keningnya.
"Jangan berhenti berikhtiyar untuk segera memberikan kami cucu!"
"Pasti Ma. Setiap hari Adam dan Hana akan berikhtiyar...." Adam tersenyum lebar. Begitu juga dengan Rizal dan Rahma.
🌹🌹🌹
Saat ini Hana tengah duduk bersama Fatimah di ruang keluarga. Mereka nampak asik menonton acara televisi, ikatan cintrong.
Fatimah merasa heran karena sedari tadi Hana tidak fokus melihat film ikatan cintrong, bahkan malah terlihat senyum-senyum sendiri.
"Ndhuk, sedang melamunkan apa? Kog kamu senyum-senyum sendiri?" Pertanyaan Fatimah membuyarkan lamunan Hana.
"Eh, itu Bu. Mmm...," Hana gelagapan sehingga malah terlihat salah tingkah.
"Hemmmm, ibu tau apa yang sedang kamu lamunkan, Han. Pasti Nak Adam, kan?" Fatimah tersenyum lebar.
"I-iya Bu," jawab Hana dengan malu-malu.
"Jangan keseringan melamunkan seorang pria yang belum menjadi suamimu, Han!" titah Fatimah.
"Iya Bu. Hana khilaf." Hana menundukkan wajahnya dengan lesu.
"Dari pada melamun, sana pergi ke rumah Mbak Shelly untuk mengambil gamis yang sudah ibu pesan untukmu!"
"Gamisnya sudah jadi ya Bu?"
__ADS_1
"Sudah Han. Tadi Mbak Shelly memberitahukannya via telepon. Beruntung ibu memesankan kamu gamis, Ndhuk. Ternyata Nak Adam akan segera melamarmu. Sehingga gamis putih yang ibu pesan, bisa kamu pakai di acara lamaran."
"Feeling seorang ibu begitu kuat ya Bu? Ibu memang seorang ibu yang terbaik. Trimakasih Ibu." Hana memeluk Fatimah dengan erat.
"Kembali kasih putriku sayang." Fatimah membalas pelukan putrinya.
Perlahan Hana dan Fatimah saling melepaskan pelukan. Hana beranjak dari tempat duduknya, kemudian bergegas pergi ke rumah Shelly untuk mengambil pesanan gamis, setelah berpamitan pada sang ibu.
.
.
Langkah Hana terhenti tatkala sampai di depan sebuah rumah kontrakan yang sederhana. Rumah kontrakan tempat tinggal Shelly dan putrinya yang masih berusia enam tahun. Hubungan Shelly dan Hana bukan hanya sekedar sebagai tetangga, namun sudah seperti saudara sendiri. Keduanya sering berbagi cerita.
Hana sangat menyayangi Tiara, putri Shelly. Hana teramat empati dengan perjalanan hidup Shelly yang dipenuhi oleh perjuangan dan air mata.
Kebetulan pintu rumah kontrakan tersebut terlihat terbuka lebar. Hana pun segera mengucap salam.
"Assalamu'alaikum, Mbak Shelly."
"Wa'alaikumsalam," balas Shelly dari dalam rumah.
Shelly segera berjalan menemui tamunya.
"Iya Mbak, trimakasih."
Shelly meraih tangan Hana. Keduanya berjalan menuju ruang tamu dengan bergandengan tangan.
"Duduklah, Dek!" titah Shelly disertai seulas senyum dan melepaskan tangannya.
"Iya Mbak." Hana beranjak duduk di karpet.
"Mbak buatkan minum dulu ya dek?"
"Nggak usah, Mbak! Hana cuma sebentar kog."
"Pasti disuruh ibu untuk mengambil pesanan gamis kan?" tebak Shelly. Ia meraih paperbag di atas meja.
"Hhhehe, iya Mbak."
Shelly duduk di sebelah Hana. " Ini Han, pesanan gamisnya." Shelly menyerahkan paperbag yang berisi gamis putih pesanan Fatimah kepada Hana.
"Trimakasih Mbak."
"Kembali kasih, adikku tersayang," balas Shelly disertai senyuman manis.
__ADS_1
"Mbak, doakan Hana ya!" pinta Hana.
"Doa apa Han?"
"Insya Allah, dua hari lagi Hana akan dilamar," jawab Hana dengan tersipu malu.
"Ahhhhh, adek kesayangan mbak Shelly ternyata sebentar lagi akan melepas masa lajangnya." Kedua netra Shelly nampak berbinar.
"Iya Mbak, insya Allah. Doakan kami ya Mbak!"
"Pasti, Hana sayang. Mbak Shelly akan berdoa yang terbaik untuk kalian, Hana dan calon imam."
"Trimakasih ya Mbak."
"Iya Hana."
"Mbak, di mana Tiara?"
"Tiara sedang bermain bersama teman-temannya, Han."
"Kasihan Tiara ya Mbak. Pasti Tiara membutuhkan kehadiran sesosok ayah." Raut wajah Hana berubah sendu.
Shelly menghela nafas kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Iya Han. Tapi Mbak yakin, Tiara gadis kecil yang tegar. Kami tidak butuh kehadiran ayah Tiara." Raut wajah Shelly diliputi mendung tatkala membayangkan masa lalunya yang kelam. Seharusnya ia tidak melakukan kesalahan dengan menyerahkan kesucian kepada pria yang belum sah menjadi suaminya.
Perjalanan hidup Shelly yang dipenuhi perjuangan dan air mata, berawal ketika ia mengandung Tiara. Ayah Shelly terkena serangan jantung setelah mengetahui bahwa sang putri tengah hamil akibat zina yang dilakukan dengan kekasihnya. Sedangkan ibunda Shelly, sudah tidak menganggap Shelly sebagai putrinya.
Shelly memutuskan tinggal di kota Jogja dan berjuang sendiri dengan bekerja di sebuah restoran. Shelly menabung sebagian uangnya untuk membeli peralatan jahit. Mungkin jika Shelly tidak melakukan kesalahan, saat ini ia sudah sukses menjadi seorang desainer.
"Mbak, siapa ayah Tiara? Dan... di mana dia sekarang?"
"Ayah Tiara adalah cinta pertama Mbak Shelly, Han. Karena terlalu cinta, Mbak menyerahkan kesucian kepadanya. Bahkan kami sudah hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Sebenarnya dia ingin bertanggung jawab, namun sang papa sangat menentang hubungan kami. Mbak Shelly memilih untuk pergi dari kehidupannya, karena tidak ingin merusak masa depan pria yang teramat mbak cintai. Sampai sekarang, mbak tidak tau di mana ayah Tiara berada." Lolos sudah air bening dari kedua sudut netra Shelly tatkala terbayang perpisahan dengan pria yang sangat dicintainya.
Hana memeluk Shelly seraya memberi ketenangan. "Mbak, yang sabar ya! Insya Allah, Mbak Shelly akan bertemu dengan ayah Tiara, entah bagaimana cara Allah akan mempertemukan dan menyatukan kalian kembali. Hana kagum pada Mbak Shelly, karena Mbak sosok wanita yang kuat dan tegar."
Shelly membalas pelukan Hana sambil terisak. Di dalam hatinya mengamini apa yang diucapkan oleh Hana. Semoga kelak Tiara bisa bertemu dengan ayah biologisnya.
🌹🌹🌹🌹
Bersambung.....
Jangan lupa tinggalkan like ya readers... Jika mempunyai vote atau kelebihan poin, bolehlah dibagikan untuk memberi semangat kepada author 😁😁😁
Trimakasih dan happy reading 😘😘😘
__ADS_1