Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Muhasabah Cinta


__ADS_3

Adam dan Shelly dipersilahkan untuk duduk berdampingan setelah penghulu tiba di kediaman Fatimah. Acara ijab qabul pun dimulai.


Dengan lancar Adam mengucapkan qabul. Kini, Adam dan Shelly telah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah.


Hana dan Shelly saling berpeluk setelah acara ijab qabul selesai. Hana berusaha menahan rasa sakit yang semakin mendera. Bulir kesedihan yang sudah terkumpul di pelupuk matanya jatuh tanpa permisi.


"Selamat ya Mbak. Semoga Mbak Shelly, Mas Adam dan Tiara bahagia," doa tulus Hana untuk Shelly, Adam dan Tiara meski hatinya kini tengah porak poranda.


"Hana, trimakasih.... Dek, bagaimana nasibmu setelah berpisah dengan Adam? Siapa yang akan menjadi imam pengganti untukmu?" Raut wajah Shelly terlihat sendu.


"Mbak Shelly tidak usah khawatir! Sang penulis skenario kehidupan sudah mengatur semua. Insya Allah, kelak Hana akan dipertemukan dengan sosok imam pengganti."


"Semoga adikku yang cantik dan berhati mulia ini segera bertemu dengan calon imam yang saleh. Atau..." Pandangan netra Shelly tertuju pada sosok pria muda berparas tampan yang sedari tadi memperhatikan Hana.


Shelly dan Hana perlahan mengurai pelukan.


"Atau apa Mbak?" tanya Hana dengan menautkan kedua alisnya. Ia seka jejak air mata yang membasahi wajahnya dengan jemari tangan.


"Atau mungkin Mas Fadhil yang akan menggantikan Adam sebagai imam?" Senyuman Shelly mengembang. Abdullah, Aisyah, Fadhil dan semua orang yang berada di ruangan ikut tersenyum, kecuali Adam. Adam belum ikhlas jika harus melepaskan Hana, wanita yang sangat dicintainya.


Hana mencebikkan bibirnya. "Ishhh Mbak Shelly, nggak usah membahas soal imam pengganti lagi! Kasihan Mas Fadhil jika berjodoh dengan Hana yang hanya seorang wanita biasa," Shelly berusaha menahan tawa mendengar ucapan Hana. Apalagi melihat Fadhil yang kini menundukkan kepala seolah tengah menyembunyikan rona merah di wajah tampannya.


"Hana, ummi memberikan restu jika Fadhil akan menikahi seorang wanita biasa," timpal Aisyah sembari melirik Fadhil.


"Hhehe, iya Ummi." Hana tersenyum nyengir. Bagi Hana ucapan Aisyah hanyalah sekedar candaan. Saat ini Hana belum memiliki perasaan cinta terhadap Fadhil, karena masih ada Adam yang bertahta di hatinya.


"Insya Allah, papa ikhlas jika kelak Hana bersanding dengan seorang pria yang lebih baik dari Adam. Maafkan Adam yang belum bisa menjadi imam terbaik untukmu, Hana!" ucap Rizal dengan tulus.


Hana mengukir senyuman dan membalas ucapan Rizal, "Pa, tidak ada yang perlu dimaafkan. Mas Adam sebenarnya adalah sosok imam yang sempurna bagi Hana. Namun, Hana harus ikhlas melepaskan Mas Adam, karena kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama."


Hening


Baik Adam maupun Hana berusaha menahan rasa sesak di dada karena kesedihan atas kandasnya cinta yang baru saja terjalin.


"Hana, Mas Adam ingin berbicara denganmu sebentar," ucap Adam dengan suaranya yang terdengar parau.


"Baiklah, Mas." Hana dan Adam beranjak dari posisi duduk. Adam meraih tangan Hana dan menggenggamnya dengan erat. Adam dan Hana berjalan menuju kamar.


.


.


Kini keduanya berdiri dengan saling berhadapan. Adam dan Hana semakin merasakan getaran ketika tubuh mereka hanya berjarak beberapa centi.


"Hana, ijinkan Mas Adam untuk memelukmu sebelum kita benar-benar berpisah!" Adam menatap wajah cantik istrinya lekat-lekat.


Hana sedikit menundukan wajah karena menghindari tatapan Adam yang membuatnya sulit untuk menguasai diri. Hana teramat takut keputusannya untuk berpisah dengan Adam akan tergoyahkan.


"Iya Mas. Hana mengijinkan Mas Adam."


Adam memeluk tubuh Hana dengan erat seraya menuangkan perasaan cintanya yang teramat besar. Hana pun membalas pelukan Adam.


Keduanya menitikkan air mata kesedihan karena jalinan cinta mereka yang tak sesuai impian.


"Hana, maafkan Mas Adam! Andai Mas Adam bisa menjaga diri dari zina, pasti semua ini tidak akan terjadi."

__ADS_1


"Mas, apa yang terjadi di antara kita sudah menjadi kehendak-Nya. Bahagiakanlah Mbak Shelly dan Tiara! Bukalah lembaran baru bersama mereka!"


"Lantas bagaimana dengan hatimu? Apa mungkin dengan perpisahan ini, Hana akan bahagia?"


"Hana percaya, Allah akan memberikan kebahagiaan kepada Hana dengan cara-Nya yang tidak pernah terduga."


Adam sedikit merenggangkan pelukan. Ia raih dagu Hana. Pandangannya tertuju pada bibir ranum Hana.


Hana yang mengerti dengan apa yang akan dilakukan oleh Adam segera mengalihkan wajahnya.


"Hana, kamu masih menjadi istriku, bolehkah Mas Adam menautkan bibir kita?"


"Maaf Mas, lebih baik jangan menautkan bibir kita! Hana takut, keputusanku akan tergoyahkan."


Adam tersenyum menyeringai. "Ohhh jadi bila bibir kita saling bertaut, keputusanmu akan tergoyahkan? Baiklah Hana, Mas Adam akan menautkan bibir kita." Adam menangkup wajah Hana dan berusaha menempelkan bibirnya.


"Jangan egois, Mas!" pekik Hana. Hana mendorong tubuh Adam hingga terhuyung ke belakang.


"Hana, aku sangat mencintaimu. Aku yakin kamu juga mencintaiku. Mengapa kita harus berpisah?" Adam sedikit meninggikan intonasi suaranya.


"Hana tidak perlu menjawab pertanyaan Mas Adam. Bukankah Hana sudah menjelaskan, mengapa kita harus berpisah? Mas, bersiaplah untuk duduk di pelaminan bersama Mbak Shelly!" Hana bergegas keluar dari kamar meninggalkan Adam yang masih berdiri mematung.


🌹🌹🌹


Adam dan Shelly sudah bersiap menuju ke hotel tempat akan dilangsungkannya acara resepsi pernikahan mereka. Tiara nampak sangat bahagia tatkala mengetahui bahwa Adam adalah papanya.


Adam meraih tubuh Tiara dan memeluknya dengan erat.


"Tiara putri papa."


"Iya sayang, papa tidak akan meninggalkan Tiara."


Perlahan Adam melepas pelukannya.


Adam, Shelly dan Tiara masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke hotel.


Hana memperhatikan mereka bertiga dari balik kaca jendela kamar sambil memegangi dadanya yang serasa nyeri. Buliran air bening membasahi wajah cantiknya.


Hana meminta Kirana untuk menceritakan semua yang telah terjadi kepada Alya dan Asti. Hana yakin, Kirana akan menceritakan semua yang terjadi dengan sangat hati-hati sehingga kedua kakaknya akan mampu menerima kenyataan pahit yang dialami oleh Hana.


.


.


Hana mengambil air wudhu. Setelah berwudhu, Hana memakai mukena dan membentangkan sajadah.


Hana duduk di atas sajadah yang terbentang sambil membaca kalam cinta dan melangitkan pinta....


🌹🌹🌹


Wahai pemilik nyawaku


Betapa lemah diriku ini


Berat ujian dari-Mu

__ADS_1


Kupasrahkan semua pada-Mu


Tuhan, baru kusadar


Indah nikmat sehat itu


Tak pandai aku bersyukur


Kini 'ku harapkan cinta-Mu


Kata-kata cinta terucap indah


Mengalir berzikir di kidung doaku


Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku


Butir-butir cinta air mataku


Teringat semua yang Kau beri untukku


Ampuni khilaf dan salah selama ini


Ya Ilahi, Muhasabah cintaku


Tuhan, kuatkan aku


Lindungiku dari putus asa


Jika ku harus mati


Pertemukan aku dengan-Mu


Kata-kata cinta terucap indah


Mengalir berzikir di kidung doaku


Sakit yang kurasa biar jadi penawar dosaku


Butir-butir cinta air mataku


Teringat semua yang Kau beri untukku


Ampuni khilaf dan salah selama ini


Ya Ilahi, Muhasabah cintaku


(MUHASABAH CINTA)


🌹🌹🌹🌹


Terimakasih untuk readers dan sobat author yang selalu mengikuti dan mendukung ICPA. Terimakasih juga untuk Kak Misshel (Shelly) author Menikahi Bos Mantan Suamiku dan Kekasihku Asisten Adikku, yang selalu memotivasi dan sahabat berbagi kisah 😇🙏🙏


Teruntuk imam yang dipilihkan Allah sebagai penerang hidupku, selamat Milad, semoga sakinah bersamamu 💓💓🙏 (haduchhh maafkan othor kali ini lebay dikit 😅)


Happy reading, jangan lupa like-nya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2