
Mentari menyapa dengan sinarnya yang cerah, hingga nampaklah kegagahan Gunung Merapi. Mobil yang dikendarai oleh Abimana melaju dengan perlahan, karena Kirana ingin menikmati pemandangan yang tersuguh di dusun Sleman dan tentu saja teramat memanjakan mata.
"Sayang tidak takut terlambat sampai ke klinik?"
"Tentu tidak Bie, lagi pula sudah hampir sampai. Semalam tidurmu nyenyak sekali Bie, pasti karena tidur di ranjang yang biasa kamu ompolin sewaktu kecil kan?" Kirana terkekeh. Semalam mereka berdua menginap di rumah kedua orang tua Abimana.
Abimana tertawa mendengar celotehan istrinya. Ia pun mengacak jilbab Kirana dengan gemas dan satu tangannya masih memegang setir mobil.
"Hhhaha, Sayang tau aja kalau dulu suami tampanmu ini sering ngompol."
"Hemmzzz ya taulah, karena kebanyakan anak kecil kan suka ngompol, Bie." Kirana memutar bola mata malas.
Abimana menghentikan mobilnya ketika sampai di depan pintu gerbang klinik Dokter Zahra.
"Bie, nanti siang ada meeting?"
"Nggak ada, Yang."
"Mmm, baiklah kalau begitu. Aku kerja dulu ya Bie. Asalamu'alaikum." Kirana mencium punggung tangan suaminya.
"Wa'alaikumsalam, Sayang."
CUP
Abimana mengecup kening istrinya dengan penuh perasaan.
"Bie, jaga hatimu untukku ya!"
"Pasti. Sayang juga, jaga hatimu untuk pria tampan ini!" Abimana mengerlingkan mata.
"Hisshh, pagi-pagi sudah kambuh pedenya Bie." Kirana mengerucutkan bibirnya. Ia pun segera melepas seatbelt kemudian membuka pintu dan keluar dari dalam mobil.
"Selamat bekerja istri comel," ucap Abimana sebelum menutup pintu mobil.
"Iya, selamat bekerja juga Markun." Kirana terkekeh.
Setelah Abimana melajukan mobilnya kembali, Kirana mulai melangkahkan kaki memasuki pintu gerbang klinik Dokter Zahra.
Kirana nampak senyum-senyum membayangkan kejahilan Abimana setiap malam. "Hadehhh Markun, benar-benar nggak nyangka, si Markonah bakal sebucin ini padamu."
BRUKK
Kirana menabrak punggung seorang pria berbadan tegap yang sedang berjalan di depannya.
"Awwww..." rintih Kirana.
Pria yang ditabrak oleh Kirana, seketika membalikan badan.
"Hemmmzzz ternyata si comel. Kalau jalan bisa fokus nggak sih?? Ehemmmm pasti sedang membayangkan yang tidak-tidak kan? Hayooo, semalam berapa ronde?" canda Fabian disertai tawa.
"Iya Bian, maaf. Pria jomblo sepertimu nggak boleh menanyakan berapa ronde, takutnya jiwamu meronta-ronta, Mandra... Hhhaha." Kirana tergelak.
"Ya dech, kalau kita melanjutkan obrolan yang nggak berfaedah ini, pasti kamu akan terlambat, Bu Dokter Ayunda Kirana," cebik Fabian.
"Upss, oiya."
Kirana dan Fabian mulai melangkahkan kaki mereka kembali memasuki Klinik Dokter Zahra sembari berbincang.
"Bian, tumben kamu datang ke klinik?"
"Iya Ran, bunda berharap agar putranya ini bersedia membantu beliau. Insyaallah kami akan memperluas bangunan klinik, Ran."
"Woooowww amazing. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran Bian," doa Kirana dengan tulus.
__ADS_1
"Aamiin, trimakasih atas doamu Sob."
"Sama-sama Bian."
"Kirannnnn...." Seseorang memanggil Kirana. Seketika dokter cantik itu pun menoleh ke asal suara.
"Sindyyyy...."
Kirana dan Sindy pun saling berpeluk.
"Tumben kamu ke Jogja Sind. Janjian sama Babang Fabian yakk?" Kirana tersenyum lebar.
"Achhh nggak juga. Aku hanya ingin menemuimu, Sob. Aku mau pamit," ucap Sindy dengan raut wajah sendu. Kirana dan Sindy pun perlahan melerai pelukan mereka.
"Hehhh mau pamit ke mana lagi? Baru bertemu, kog malah langsung pamit."
"Betul tuch kata Kiran. Ngapain kamu tiba-tiba datang lantas pergi lagi?" sahut Fabian dengan menatap Sindy lekat-lekat.
"Aku akan bertugas di Desa W, Bian.... Makanya, aku menyempatkan diri datang ke Jogja untuk menemui Kiran. Besok pagi aku akan berangkat."
DEG
Tiba-tiba dada Kirana terasa sesak tatkala mendengar bahwa sahabatnya akan pergi ke desa W. Desa yang belum terjamah oleh berbagai fasilitas. Seperti belum adanya fasilitas kesehatan yang memadai, sekolah yang hanya berupa gubug, tempat ibadah yang hanya ada satu dan bangunannya sudah tua, serta kondisi perekonomian warganya yang kurang baik.
Kirana hanya bisa menghela nafas berat.
"Padahal, aku masih sangat merindukanmu Sind," ucap Kirana dengan lirih.
"Aku juga, Kiran. Insya Allah kita akan bertemu kembali," balas Sindy. Kedua netranya nampak berkaca-kaca.
"Selamat bertugas, Sob. Sering-seringlah mengirim kabar!" Kedua manik hitam Kirana pun nampak berkaca-kaca.
Fabian terpaku melihat kedua sahabatnya. Mereka dua wanita yang sangat baik dan mempunyai karakter yang menarik. Fabian, Kirana dan Sindy bersahabat sejak mereka kuliah.
πΉπΉπΉ
"Hahhh, sudah siap semua. Maaf ya Bie, karena aku nggak pandai memasak, makanya pesan gofoo*. Hubby pasti terkejut karena istri cantiknya ini datang ke kantor tanpa memberi tau terlebih dahulu. Semoga kedatanganku menjadi surprise untukmu ya Bie," Kirana tersenyum membayangkan ekspresi suaminya ketika ia datang dengan tiba-tiba.
Setelah meninggalkan pesan kepada salah seorang perawat, Kirana pun segera memesan taxi online.
πΉπΉπΉ
Di Perusahaan Surya Group
"Pak, maaf ada tamu yang sedang mencari anda."
"Siapa Ky?"
"Seorang wanita, parasnya sangat cantik."
"Wanita berparas cantik, siapa namanya?" Abimana mengernyitkan keningnya.
"Diana, Pak."
"Untuk apa dia ke mari?"
"Katanya ada keperluan urgent, Pak."
Abimana membuang nafas kasar.
"Suruh dia masuk! Jangan lupa untuk memantau cctv yang ada di ruangan ini, selama Diana berada di ruangan saya!"
"Baik Pak."
__ADS_1
Rifky segera keluar dari ruangan Abimana dan mempersilahkan Diana untuk masuk ke dalam. Diana pun berjalan memasuki ruangan dengan langkah kemayu bak model. Wajah cantik, kulit putih dan mulus, dengan pakaiannya yang mengumbar aurat serta menunjukan belahan, sehingga membuat mata para pria terpana. Ditambah bawahan yang dikenakan sangat ketat dan mini. Sungguh teramat menggoda iman.
"Ehemmm, selamat siang mantan dosen tercinta." Suara Diana disertai desahan yang menggoda.
Abimana acuh dan mengalihkan pandangannya dari Diana.
"Ada perlu apa kamu datang ke kantorku?"
"Pak Bima tentu tau apa tujuan saya datang ke mari. Saya sangat merindukan Pak Bima."
Diana mendaratkan pantatnya di atas meja kerja Abimana dan menatap intens pria tampan yang sedang duduk di hadapannya.
"Seharusnya kamu malu dengan ucapanmu, Di. Sudah ada Adam yang mencintaimu. Aku juga sudah punya istri. Seorang wanita yang sangat menjaga kesucian hanya untuk suaminya."
"Ckk, kita bisa menjalin hubungan di belakang mereka. Saya akan memberikan pelayanan di ranjang melebihi istri Pak Bima." Diana semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Abimana. Seketika Abimana bangkit dari duduknya.
"Cepat pergi dari sini, Di! Jangan pernah mencoba untuk menemuiku lagi!" titah Abimana dengan meninggikan intonasi suaranya.
Diana beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Bukannya keluar dari ruangan, wanita uler keket itu malah menutup pintu rapat-rapat.
"Sebentar lagi Pak Bima akan menjadi milik saya seutuhnya." Diana dengan cekatan membuka pakainnya di hadapan Abimana.
"Kamu benar-benar gila Di."
"Sejak dulu saya gila karena Pak Bima."
"Cepat tutup auratmu dan buka pintunya!"
Diana tertawa dan berjalan semakin mendekat ke arah Abimana.
"Pak, mari bercinta dengan saya!"
Abimana berusaha menghindar dari Diana. Pria tampan itu meraih gagang pintu dan akan membukanya.
"Hah, jika Pak Bima membuka pintu itu, maka semua karyawan akan mengira Bapak telah berbuat asusila terhadap saya. Apalagi saya hanya mengenakan pakaian dalam."
"Aku tidak takut dengan apa yang akan mereka pikirkan, karena ada rekaman cctv sebagai bukti."
"Oya? Tapi saya tidak akan pernah menyerah Pak."
"Terserah, dasar wanita gila."
Abimana segera meraih gagang pintu dan dengan kasar membukanya.
BRAKK
Abimana terkesiap ketika mendapati seorang wanita berjilbab sudah berdiri di hadapannya.
"Sayang...."
πΉπΉπΉπΉ
Ehem, apa yang akan terjadi pada Abimana dan Kirana, ya readers? Apakah kirana akan salah faham terhadap suaminya? Atau, jiwa bar-barnya akan kambuh??? Terus ikuti kisah cinta mereka yakk πππ
Jangan lupa like π
Beri komentar
Vote jika berkenan
Rate 5 βββββ
Emote β€ untuk fav novel
__ADS_1
Trimakasih dan happy readingβ€β€β€