Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Perempuan Malang


__ADS_3

Arunika kembali menyapa, memberikan semangat pada seorang dokter muda nan cantik dan energik, Ayunda Kirana. Pagi ini, Kirana mempersiapkan perlengkapan yang akan dibawa dalam menjalankan tugas. Kirana mempacking semuanya dengan rapi di dalam koper yang berukuran cukup besar.


Setelah menyantap sarapan pagi bersama suami beserta ibu mertua, Kirana berangkat menuju lokasi diantar oleh Abimana.


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam, mereka telah sampai di tempat tujuan. Kirana dan Abimana keluar dari mobil, kemudian berjalan menuju ke rumah ketua RW. Pria tampan bermata teduh, dengan senang hati membawakan koper istrinya.


Sesampai di depan rumah yang dituju, mereka disambut oleh ketua RW beserta para warganya dengan senyuman ramah dan jabatan tangan.


Setelah berbincang sejenak dengan Ketua RW yang bernama Darma, Kirana mohon diri untuk mengantar suaminya hingga sampai ke mobil.


Sepasang kekasih yang akan terpisah dalam hitungan hari, melangkahkan kaki dengan bergandengan tangan.


Abimana dan Kirana menghentikan langkah ketika sampai di samping pintu mobil.


"Sayang, selamat bertugas ya. Semoga diberi kelancaran dan kemudahan dalam bertugas," ucap Abimana sembari mengecup kening istrinya.


"Aamiin Bie. Salam untuk ayah, semoga beliau segera diperbolehkan pulang," balas Kirana disertai seulas senyuman.


"Iya, Insya Allah nanti akan aku sampaikan salam dari istri comelku untuk ayah. Sering-seringlah memberi kabar ya istri comel!" Abimana menjapit hidung istrinya dengan pelan.


"Siap My Boss, hhhehe. Makasih ya Bie."


"Makasih untuk apa, Yang?"


"Makasih untuk yang semalam dan hari ini," jawab Kirana dengan menampakan wajah puppy eyes.


"Sama-sama Cinta. Aku akan merindukan wajah cantik nan imut ini." Abimana mengusap lembut pipi istrinya.


"Bie, jangan terlalu mesra bila di hadapan banyak orang! Malu Bie," cebik Kirana.


"Hhhaha, khilaf Yang. Tapi nggak masalah juga, kita kan sudah menjadi pasangan yang halal, jadi suka-suka kita dong." Abimana tersenyum lebar.


"Bie, kita juga harus menjaga norma kesopanan. Takutnya jiwa para jomblo meronta-ronta melihat kemesraan kita." Kirana terkekeh.


"Hhhhaha, iya juga yakkk.Yasudah Yang, aku pamit dulu. Mau mengantar ibu ke rumah sakit, terus lanjut ke kantor. Hari ini ada meeting dengan beberapa perusahaan yang dipimpin oleh para bos besar, Haris, Adam, Farzan, Rafi, Hamzah, Juna, Mirza, Rafa, Raka, Kay dan Kevin. Mereka berencana untuk bekerjasama dengan perusahaan software yang didirikan oleh ayah. Doakan suamimu ini ya Yang, semoga bisa menggantikan ayah yang sedang sakit, sehingga para bos besar tidak merasa ragu dan tetap bersedia untuk bekerjasama," pinta Abimana dengan menatap wajah istrinya lekat-lekat.


"Aku akan selalu mendoakanmu, Bie. Yang terpenting Hubby harus percaya diri. Jangan nerves ketika berhadapan dengan mereka!" Kirana membalas tatapan suaminya.


"Iya Sayang. Asalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam Bie," balas Kirana sembari mencium punggung tangan suaminya.


Abimana mengulas senyum dan mengusap jilbab istrinya.

__ADS_1


Abimana membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Ia pun mulai menghidupkan mesin, kemudian melajukan mobilnya dengan perlahan.


🌹🌹🌹


Siang ini, Kirana mulai menjalankan tugasnya dengan dibantu oleh beberapa perawat yang diutus oleh Dokter Zahra.


Para ibu hamil duduk mengantri untuk diperiksa kesehatannya, sekaligus diberikan vitamin beserta bantuan berupa bahan pokok dan sejumlah uang.


Tugas kemanusiaan yang sedang dilaksanakan oleh Kirana beserta para rekannya bertempat di lapangan, yang letaknya hanya beberapa meter dari rumah Darma.


"Wajah Bu Dokter cantik sekali ya," ucap salah seorang ibu hamil yang sedang diperiksa oleh Kirana.


"Alhamdulillah, semoga bukan hanya wajah namun hati saya juga cantik ya Bu," balas Kirana disertai senyuman ramah.


"Aamiin. Saya yakin suami Bu Dokter juga sangat tampan. Tapi, kalau belum punya suami, Bu Dokter menjadi istri anak saya saja."


Kirana mengerutkan keningnya, kemudian ia membalas ucapan bumil yang bernama Aning, disertai tawa, "Ya Allah, putra Ibu kan masih di dalam perut. Saya harus menunggu berapa tahun supaya bisa menikah dengannya? Keburu jadi perawan tua donk."


"Owhhh iyaya, gagal sudah mempunyai menantu seperti Bu Dokter," Aning terkekeh.


Kirana menggeleng-gelengkan kepalanya dan tertawa geli.


Setelah selesai memeriksa Aning, Kirana memeriksa seorang ibu hamil yang masih di bawah umur, perempuan itu bernama Nita. Kirana merasa prihatin ketika melihat tubuh Nita yang sangat kurus, namun perutnya buncit.


"Maaf, saya panggil Mbak Nita saja ya?"


"I-iya, Bu Dokter," jawab Nita dengan terbata-bata.


"Mbak Nita, benar usiamu masih tujuh belas tahun?"


"Benar, Bu Dokter."


"Kalau boleh tau, siapa nama suamimu dan berapa usianya?"


Tiba-tiba saja kedua netra Nita mengeluarkan buliran bening.


"Mbak Nita, mengapa malah menangis?" Kirana bertanya dengan suara yang lembut.


Nita menjawab dengan terisak, "Hiks ... hiksss, saya belum menikah."


Kirana terkejut mendengar jawaban dari Nita.


"Lalu, siapa ayah dari bayi ini?"

__ADS_1


"A-ayah angkat saya sendiri Bu Dokter, dia menodai saya," jawab Nita. Tangisnya pun semakin meledak.


JEGLER


Bagai mendengar suara petir di siang hari, Kirana semakin dibuat terkejut.


Meski sangat terkejut, Kirana mencoba menenangkan Nita dengan menepuk-nepuk punggung perempuan malang itu.


"Sudah jangan menangis lagi, okay!"


Nita hanya membalasnya dengan mengangguk.


"Mbak Nita sudah melaporkannya kepada pihak yang berwajib?"


"Sudah Bu Dokter. Ayah angkat saya sudah dipenjara. Pak Darma dibantu oleh salah satu LSM yang mendampingi saya melapor ke pihak yang berwajib, hiks ... hiks," jawab Nita dengan terisak.


Meski ikut prihatin, namun Kirana merasa lega, karena pelaku yang menghamili Nita sudah dipenjara. Apalagi, Nita didampingi oleh Ketua RW dan LSM.


"Ya Allah, bapak angkat yang berhati apa, hingga tega melakukan perbuatan hina dan terkutuk terhadap Nita. Bagaimana kamu menghadapi semua ini Nit? Semoga kelak Allah memberikan jodoh yang perfect untukmu." Kirana bermonolog di dalam hati.


🌹🌹🌹🌹


Bersambung .....


Mohon maaf, episode kali ini author revisi sedikit 🙏🙏🙏


Balai desa diganti dengan rumah ketua RW.


Kepala desa diganti dengan ketua RW atau Bapak Darma 🙏🙏 , karena Kirana bertugas di perkampungan yang letaknya di bantaran sungai, bukan di pedesaan, author khilaf karena ngetiknya sambil merem, ech 🙊🙏


Lanjut nanti atau besok ya readerssss 😘😘


Okay, jangan lupa tinggalkan like 👍


Komentar


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote jika berkenan mendukung karya author


Klik emote ❤ untuk fav novel


Trimakasih dan happy reading 😘😘😘

__ADS_1



__ADS_2