Istri Comel Pilihan Abi

Istri Comel Pilihan Abi
Boncabe 6 (Jangan Rindu)


__ADS_3

Suara kerinduan Sang Maha Cinta terdengar begitu merdu, menandakan bahwa sudah tiba waktunya bagi tiap hamba yang menjalankan shiyam ramadhan untuk berbuka puasa.


Keanu sudah melahap habis makanan yang ada di piringnya setelah menikmati kesegaran sup buah. Sedangkan Kirana, duduk terpaku menatap piringnya yang masih terisi nasi dan lauk pauk. Kirana menantikan suaminya yang belum juga pulang dari kantor.


"Bund, mengapa Bunda belum makan?" tanya Keanu sembari membersihkan sisa makanan di bibirnya dengan tisu.


Kirana mengulas senyum tatkala mendengar pertanyaan sang putra. Diusapnya pipi Keanu yang chubby. "Bunda belum nafsu makan bila ayah belum pulang dari kantor, Sayang."


"Bunda merindukan ayah?"


"Heem, tentu saja bunda merindukan ayah."


"Bund, kenapa saat ayah berada di rumah, Bunda tidak mau di dekati oleh ayah? Tapi ... saat ayah tidak berada di rumah, Bunda merindukan ayah. Jangan rindu lho Bund! Kata ayah, rindu itu berat."


Kirana terkekeh mendengar ucapan putranya. "Bunda tidak tau Kean. Sebenarnya bunda selalu ingin berada di dekat ayah. Mmm ... yang bilang rindu itu berat bukan ayah, tapi Dilan."


Keanu sedikit mengerutkan dahinya. "Dilan itu siapa, Bund?"


"Dilan itu teman dekatnya Milea."


"Ohhhh, berarti seperti kak Alyra dan Raina ya Bund? Mereka berdua teman dekatnya Keanu."


Uhukkk...


Kirana tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan polos Keanu.


"Loh, Bunda tersedak apa?"


"Tersedak ludah, Sayang," jawab Kirana sembari mengambil gelas yang berisi air putih di hadapannya. Ia teguk air putih hingga tandas.


"Bunda...."


"Hehem, ada apa Kean sayang?" Kirana meletakan kembali gelas yang sudah kosong di atas meja.


"Bunda masih tidak ingin berdekatan dengan ayah?" Keanu menatap wajah bundanya dengan intens. Kirana pun membalas tatapan putranya.


"Tentu saja bunda ingin berdekatan dengan ayah, Kean."


"Kalau Bunda ingin berdekatan dengan ayah, pakai masker saja, Bund! Dijamin, Bunda tidak akan muntah lagi."


Kirana tergelak mendengar saran dari putranya. Ia merasa bodoh, kenapa tidak berpikiran seperti itu.


Kirana mengusap rambut dan mencium pucuk kepala Keanu. "Trimakasih Sayang atas sarannya. Putra bunda memang cerdas dan kreatif. Kenapa ayah dan bunda tidak berpikiran seperti itu ya?"


"Bunda sihhhh, kurang kreatif. Buruan Bund, ambil maskernya sekarang! Siapa tau, sebentar lagi ayah datang."


"Hemmm, baiklah Sayang. Bunda akan mengambil masker dulu ya."


"Iya Bunda."

__ADS_1


Kirana beranjak dari posisi duduk. Ia berjalan menuju kamarnya untuk mengambil masker.


.


.


"Assalamu'alaikum." Terdengar suara salam dari luar rumah. Keanu berlari kecil dan segera membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam, Ayah ...," balas Keanu dengan menampakan senyuman yang mengembang.


Senyum terlukis indah di bibir Abimana saat melihat putranya. Abimana menggendong Keanu. Ia ciumi pipi putranya dengan penuh kasih sayang.


"Kean, di mana Bunda?"


"Bunda sedang mengambil masker, Yah."


Abimana mengerutkan sedikit dahinya. "Masker?"


"Iya Yah." Keanu mengangguk pelan.


Dalam batin Abimana bertanya-tanya, untuk apa Kirana mengambil masker.


Abimana melangkahkan kakinya menuju kamar. Sesampainya di dalam kamar, Abimana mendudukan Keanu di sofa.


"Ayah." Netra Kirana berotasi sempurna kala menyadari kedatangan suaminya. Ia pun segera memakai masker untuk menutupi indra penciumannya.


"Bun, mengapa Bunda memakai masker, hmmm?" Abimana berjalan mendekati sang istri. Tidak ada penolakan seperti biasanya dari Kirana.


Abimana tersenyum bangga. "Putra kita memang cerdas dan kreatif, Bund."


"Iya Yah."


"Kalau begitu, peluk ayah dong Bund!" Abimana merentangkan tangannya. Ia bersiap menerima pelukan dari Kirana.


Kirana pun memeluk suaminya dengan erat. Abimana membalas pelukan istrinya dengan tak kalah erat. Mereka berdua saling berpeluk menumpahkan kerinduan.


Keanu yang sadar bahwa ia tengah menjadi penonton, memilih beranjak dari posisi duduknya. Ia berjalan keluar kamar tanpa sepengetahuan ayah dan bundanya. "Hemmm, akhirnya ide cowgan ini berhasil juga. Selamat melepas kerinduan, Ayah, Bunda," batin Keanu sembari terus melangkahkan kakinya.


🌹🌹🌹


Selepas menjalankan ibadah sholat tarawih, Farhan dan keluarganya berangkat ke rumah Mishel. Seperti yang sudah direncanakan, bahwa hari ini Farhan akan meminang Mishel, wanita yang mampu merebut hatinya.


Mishel dan kedua orang tuanya pun sudah bersiap menyambut kedatangan Farhan beserta keluarganya.


Mishel dilanda kegalauan. Jujur, ia masih sangat mengharapkan Adam. Namun, sayang pria yang dicintainya, sedikit pun tidak pernah membuka hati untuk Mishel.


"Allah, bagaimana ini? Haruskah hamba terus bertahan pada perasaan yang tidak pernah mendapat sambutan atau ... menyerah dengan menerima pinangan Farhan?"


Mishel meremas jarinya. Titik-titik air bening mulai menganak di kelopak matanya. Dada Mishel serasa nyeri karena asa tak sejalan dengan kenyataan.

__ADS_1


.


.


Tiara terus saja menanyakan Mishel kepada papanya. Putri pasangan Adam dan Shelly, sangat merindukan Mishel karena sudah dua hari ini tidak bertemu dengan sosok wanita yang mampu mencuri hatinya.


"Pa, mengapa tante Mishel tidak datang ke rumah kita lagi? Tiara merindukan tante Mishel, Pa." Raut wajah Tiara nampak sendu.


Adam meraih tubuh sang putri ke dalam dekapan. Ia cium pucuk kepala Tiara dengan penuh perasaan.


"Tiara sayang, hari ini ... tante Mishel akan dipinang oleh om Farhan. Tiara harus belajar menerima kenyataan! Mungkin, tante Mishel tidak akan pernah lagi datang ke rumah ini."


DEG


Dada Tiara serasa nyeri mendengar ucapan papanya.


"Pa, Tiara tidak ingin berpisah dengan tante Mishel. Tante Mishel sudah berjanji tidak akan meninggalkan Tiara." Lolos sudah air bening dari sudut mata Tiara.


"Pa, jadikanlah tante Mishel mama untuk Tiara! Ayo Pa, kita pergi ke rumah tante Mishel dan membawanya ke rumah ini!" pinta Tiara dengan penuh harap.


"Tapi, Nak ...."


"Ayo Pa! Jangan sampai kita terlambat." Tangis Tiara semakin menjadi. Ia benar-benar takut kehilangan kasih sayang dari sosok wanita yang sudah ia anggap sebagai mamanya sendiri.


Adam mengurai dekapannya. Ia usap air bening yang membasahi wajah sang putri.


"Baiklah Sayang. Kita berangkat ke rumah tante Mishel sekarang."


Senyum terbit menghiasi bibir Tiara. Rasa bahagia membuncah di dalam hatinya.


Adam dan Tiara pun bergegas melangkahkan kaki menuju garasi.


.


.


Dengan kecepatan sedang, Adam melajukan mobilnya menembus jalanan kota Jogja di malam hari, menuju rumah Mishel.


Adam menghentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Mishel. Tetiba, hati Adam merasa sakit tatkala melihat deretan mobil mewah sudah berjajar di halaman rumah Mishel.


"Pa, ayo kita masuk ke rumah tante Mishel!" ajak Tiara dengan menampakan raut wajah bahagia.


Adam mengusap pipi putrinya dengan lembut. "Sayang, sepertinya ... kita sudah terlambat. Tante Mishel pasti sudah menerima pinangan om Farhan."


Seketika kebahagiaan yang baru dirasakan oleh Tiara menguap begitu saja. Dada Tiara seakan dihujam oleh ribuan anak panah. Pupus sudah harapan Tiara untuk menjadikan Mishel sebagai mamanya.


🌹🌹🌹🌹


Again??? 😁😁😁

__ADS_1


Tetap tinggalkan jejak like dan komen penyemangat ya readers. 💓💓💓


Trimakasih dan happy reading. Banyak cinta untuk kalian.... 💓💓💓💓💓💓💓💓


__ADS_2